Mencoba Memperbaiki Diri

Kertas Hitam Putih


hati yang fitrah ini semakin lama akan semakin hitam pekat jika terus menerus kita menorehkan noda dosa diatasnya

***

Kertas Hitam Putih
-Bayu Gautama-

Di suatu kelas, guru agama di sekolah itu meminta murid-muridnya untuk mengeluarkan dua lembar kertas berwarna hitam dan putih, sesuai dengan perintahnya kemarin agar mereka membawa kertas tersebut. Tidak lupa, para murid juga sudah menyiapkan pensil warna yang juga berwarna hitam dan putih.

Kemudian guru tersebut meminta murid-muridnya untuk menuliskan kesalahan-kesalahan yang pernah mereka lakukan dari yang terkecil hingga terbesar diatas kertas putih dengan menggunakan pensil hitam. Sedangkan pada kertas hitam, para murid diminta untuk menuliskan hal-hal baik yang pernah mereka kerjakan dengan menggunakan pensil berwarna putih.

Satu jam berselang, para murid hampir selesai menuntaskan tugasnya menuliskan semua kesalahan di kertas putih dengan menggunakan pensil warna hitam. Bahkan karena terlalu banyaknya kesalahan yang diperbuat, mereka tidak lagi menemukan ruang kosong di kertas putihnya. Namun guru itu memaksa para murid untuk memanfaatkan ruang sekecil apapun yang masih tersisa di kertas itu untuk menuliskannya, walaupun harus dengan tulisan-tulisan yang kecil dan tak terlihat.

Hingga hasilnya, semua kertas putih ditangan murid-murid itu berubah menjadi hitam. Hampir tak ada celah seruaspun dikertas itu, bahkan sebagian murid mengaku masih banyak kesalahan yang belum ditulis di situ.

Setelah itu, guru meminta murid-murid itu untuk mengerjakan tugas berikutnya, yakni menuliskan kebaikan-kebaikan di atas kertas hitam menggunakan pensil putih. Dalam waktu satu jam, nampak mereka merasa kesulitan membuat kertas hitam itu terwarnai dengan coretan-coretan kebaikan berwarna putih. Satu kebaikan yang mereka tulis, membuat mereka tersenyum karena bisa memutihkan kertas hitam itu sedikit demi sedikit.

Namun hingga waktu yang ditentukan selesai, mereka murung, karena kertas hitam itu masih tetap dominan warna hitam. Teramat sedikit warna putih diatasnya, bahkan tak sampai separuh kertas hitam itu terisi. Tak jarang pula ada murid-murid yang malu karena hanya beberapa coretan putih saja menghias kertas hitamnya.

Saudaraku, hati yang fitrah ini semakin lama akan semakin hitam pekat jika terus menerus kita menorehkan noda dosa diatasnya. Saking hitamnya hati ini, kesalahan demi kesalahan berikutnya akan semakin memekatkan warna hitam itu, hingga nyaris tak ada lagi salah dan dosa yang bisa terdeteksi dan tersensor dalam hati, karena cahaya dalam hati ini tak lagi bersinar.

Hanya ada satu cara untuk kembali membersihkan hati itu agar kembali fitrah, yakni dengan memperbanyak kebaikan. Dengan itu, cahaya hati yang redup perlahan akan kembali bersinar, memancarkan cahaya putih kemilau dari dalam hati yang menenangkan jiwa.

Teruslah berbuat kebaikan, agar tak ada lagi warna hitam dalam hati ini, dan yang terpenting, kita takkan malu menghadap Allah dengan wajah dan hati yang penuh sinar putih kesucian. Wallahu A’lam

NB: Ditulis ulang dari buku OASE JIWA. Truly, Deeply, Sincerely (Jernih, Sederhana, dan Mengharukan), Taufiq Ismail Hal.2-4

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s