Mencoba Memperbaiki Diri

Menjadi Khairul Ummat


Umat Islam dituntut untuk tampil menjadi khairul ummat (umat terbaik). Umat yang membawa rahmatan lil’alamin (rahmat untuk seluruh alam). Hal ini memang logis, pertama mengingat ajaran Islam yang paling sempurna, Allah menyatakan, “Alyauma akmaltu lakum diinakum,” Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu. (Qs. Almaidah [5]:3). Tidak ada agama diluar Islam yang mempunyai konsep pembagian harta pusaka, Islam ada dengan faraidlnya, itu menunjukkan lengkap.

Kedua, jika mengukur hukum, pasti hukum Allah yang paling bijak. Allah menyatakan, “Afa hukmal jaahiliyyati yabghuun, waman ahsanu minallahi hukman liqaumi yuuqinuun,” Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi oang-orang yang yakin? (Qs. Al-Maidah [5]:50). Tidak ada hukum yang paling sempurna, yang paling bijak dan paling bagus kecuali undang-undang Allah. Ini juga memang wajar mengingat Allah yang menciptakan manusia, Allah juga yang membuat aturan untuk manusia, pasti pas dan cocok.

Ketiga, jika mengukur hidayah, hidayah Nabi yang paling sempurna, “Fainna khairal hadyi hadyu Muhammad,” Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad. Bukan saja sekedar memberikan petunjuk tapi langsung memiliki uswah hasanah, keteladanan yang sempurna.

Keempat, jika mengukur manusianya diciptakan fieahsani taqwim, dalam bentuk postur tubuh yang paling sempurna.

Jadi wajar, logis, realistis jika umat Islam dituntut menjadi khairul ummat, mengingat ajaran agama yang paling sempurna, hukum Allah paling bijak, petunjuk Nabi paling baik, dan manusia itu sendiri diciptakan fieahsani taqwim.

Kenyataannya sekarang seolah umat Islam dimarjinalkan, tersisihkan. Baik di pentas dunia maupun tingkat nasional. Ditingkat dunia, negara-negara Islam bisa dipermainkan oleh Amerika atau negara-negara lain. Umat Islam bisa diusir oleh Yahudi seperti di Palestina dan juga tempat-tempat yang lainnya. Apalagi ekonomi, politik, sosial dan yang lainnya bisa dipermainkan oleh mereka diluar Islam. Bahkan terkadang di negeri kita juga menjadi cemoohan; yang korupsi, yang sering berdusta, yang jorok, yang bodoh adalah umat Islam, yang mestinya tampil khairul ummat.

Seorang professor Inggris yang masuk Islam karena mempelajari buku-buku tentang Islam ketika melihat kondisi umat Islam yang jauh dari teorinya dia berkesan beruntung saya lebih tahu dulu Islam daripada tahu umat Islamnya.

Inilah yang harus menjadikan renungan kita semua, mengapa umat Islam tidak tampil sebagai khairul ummat. Almaraghi mendefinisikan ummat itu ialah al-Jamaah, kelompok, golongan, kumpulan yang terdiri dari beberapa individu, punya ikatan, aturan dan ketentuan dan punya kesatuan dan persatuan dimana gerak langkahnya bagaikan gerak anggota badan dalam tubuh manusia, itulah yang disebut ummat. Jadi jika tadi disebut umat Islam yang menipu, korupsi sebetulnya bukan umat Islam tapi orang Islam. Umat itu adalah orang yang terdidik, terbina, terpimpin.

Untuk menjadi khairul ummat tentu saja individu-individunya harus terdiri dari orang-orang yang baik (khairunnas). Kumpulan orang-orang yang baik akan melahirkan khairul ummat. Persoalannya sekarang bagaimana membina agar tiap orang Islam menjadi khairunnas. Dalam hal ini banyak kriteria yang disampaikan oleh Nabi bagaimana ciri khairunnas. Pertama, Nabi menyatakan dalam salah satu haditsnya, “Man yuridillahu bihi khairan yufaqqihhu fieddin,” Barang siapa yang Allah menghendaki seseorang untuk menjadi orang baik pasti Allah akan memberikan paham dalam urusan agama. Dengan demikian untuk meraih orang terbaik kuncinya hendaknya tafaquh fieddin, paham dalam agama, paham akan Alquran, bagaimana agama Islam itu.

Umat Islam kadang masih belum bisa membedakan mana agama dan budaya, ayat dan filsafat, ra’yu dan wahyu, hadits Nabi dan tradisi masih bercampur baur karena tidak tafaquh, tidak paham dalam agama. Itu diantara kuncinya mengerti dalam agama. Tentu saja bukan mengerti seperti halnya kyai atau ulama menguasai kitab-kitab kuning tapi minimalnya umat Islam mempunyai semangat untuk belajar menambah ilmu, menjadikan Alquran sebagai kurikulum kehidupannya. Setiap hari dia penasaran untuk membaca dan mempelajari Alquran. Itulah ciri yufaqqihhu fieddin, ciri orang yang paham dalam agama.

Kedua, Nabi memberikan ciri khairunnas dengan sabdanya, “Khairukum man ta’allamal quran wa’allamahu,” Sebaik-baik orang diantara kamu ialah mereka yang rajin belajar dan siap untuk mengajarkan Alquran. Bukan saja rajin belajar tapi siap untuk mengajarkan kembali kepada orang lain. Itulah tuntutan menjadi khairunnas, sebaik-baik orang.

Ternyata umat Islam kita mungkin masih jauh pemerataan, pengetahuan pesan-pesan Alquran. Di zaman Nabi jika hadir mustami’ dihadapan Nabi -katakanlah seratus orang- Nabi langsung menuntut, “Liyuballigh assyahid minkumul ghaibah,” Sampaikan lagi oleh kamu yang hadir sekarang kepada saudara-saudara kamu yang tidak sempat hadir hari ini. Hari ini seratus mustami’ besok menjadi seratus muballigh. Demikian pemerataan di zaman Nabi. Mungkin ada rasa pesimis dalam hati kita, “Mana mungkin orang seperti saya dipercaya untuk menyampaikan quran dan hadits, saya bukan kyai, bukan muballigh, bukan da’i.” Nabi tidak seperti itu, Nabi memberikan harapan, “Rubba muballaghin au’a min syahid,” Banyak mereka yang menerima dari tangan kedua lebih sadar dibandingkan yang menerima dari tangan pertama. Jangan kecil hati, karena banyak orang yang hanya menerima dari tangan kedua, tangan ketiga justru mereka lebih sadar seperti menerima dari tangan pertama.

Yang harus kita programkan sekarang, bagaimana upaya belajar dan mengajarkan Alquran. Jika terprogram dengan baik dalam setahun saja buta huruf Alquran akan hilang jika orang-orang yang sudah bisa Alquran siap mengajarkan kepada yang lain. Tentu saja bukan hanya sekedar belajar dan mengajarkan Alquran dalam arti baca saja, tentu juga dengan terjemah dan maksudnya. Insya Allah umat Islam tidak akan kehilangan pedoman jika menguasai Alquran.

Itulah diantara cara meraih khairul ummat; pribadi-pribadinya harus menjadi khairunnas. Kunci yang pertama yaitu memahami agama. Yang kedua rajin belajar dan mengajarkan Alquran. Dan banyak lagi ciri lainnya yang diungkapkan Nabi untuk mejadi khairul ummat.

Mudah-mudahan kita selaku umat Islam dapat terus meningkatkan kualitasnya untuk menjadi khairul ummat, menjadi umat yang rahmatan lil ‘alamin, rahmat untuk seluruh alam.[]

*Ringkasan Khutbah Jum’at.
Khatib: Kh. Aceng Zakaria

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s