Mencoba Memperbaiki Diri

Apa yang Harus Dirayakan, Kenapa Harus Gembira? Tahun Baru?


Dalam beberapa jam kedepan, akan ada keramaian yang rutin dan semarak di dunia ini. Yups, sebuah perayaan tahunan memperingati pergantian tahun masehi.

Perayaan besar-besaran di semua negara, di hampir segala tempat dengan beragam hiburan dalam waktu yang sama. Dan hanya dalam waktu itu saja.

tahun

Musik, tarian, kembang api, terompet, sudah dapat dipastikan menjadi bagian dari acara. Jutaan orang di dunia ini akan terlibat dalam perayaan tersebut, tak terbayang berapa banyak uang yang dihabiskan dalam waktu satu malam tersebut.

Ada juga beberapa orang yang tidak berhura-hura, berpesta-pesta, atau bergembira secara berlebihan pada hari itu. Mereka lebih memilih melakukan evaluasi terhadap apa-apa yang telah mereka lakukan pada tahun itu diakhir tahun.

Coba menilai ulang, pencapaian-pencapaian yang telah diraih, coba menghitung-hitung pelajaran hidup yang telah dilalui selama setahun ini dan membangun rencana untuk tahun depan.

Kenapa sih mesti ada sebegitunya perayaan terhadap pergantian tahun?
Merayakan sesuatu?

Dalam kamus seorang muslim, hari perayaan yang terbaik adalah ketika idul fitri, idul adha, dan hari jumat.

Dari Nabi saw., beliau bersabda: dua bulan yang terdapat hari raya, harinya tidak berkurang; hari raya Ramadhan dan bulan Zulhijah (HR Bukhari Muslim)

Dari Thariq bin Syihad bahwa orang-orang Yahudi berkata kepada Umar: Sesungguhnya kamu sekalian membaca suatu ayat yang andaikata diturunkan kepada kami, niscaya hari itu kami jadikan hari raya. Umar berkata: aku tahu dimana dan di hari apa ayat itu diturunkan serta di mana Rasulullah saw berada ketika ayat itu diturunkan. Ayat tersebut diturunkan di Arafah saat Rasulullah saw sedang wukuf di Arafah. Sufyan berkata: aku ragu-ragu apakah hari itu Jumat atau bukan. Ayat tersebut adalah “Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (HR Bukhari Muslim)

Jadi jelas kan dimana hari raya kita, hari dimana kita bergembira, memakai pakaian baru, dan bersuka cita.

Lalu, bagaimana jika tahun baru masehi kita jadikan perayaan sebagai bentuk pencapaian-pencapain kita selama setahun? Bukankan itu suatu hal yang boleh-boleh saja, jika kita mau sedikit merayakan kesuksesan dan pencapaian kita?

Perayaan itu tidak harus berupa hura-hura, bahkan kalau kita mau berpikir jernih, terlalu banyak uang yang dihamburkan tuk sebuah perayaan yang bernama perayaan dalam kerangka tahun baru, yang itu semua lebih banyak kesia-siaanya, terkadang kita mendengar berita tentang pembuatan pesta kembang api yang biayanya bisa mencapai jutaan rupiah, padahal disisi lain jalan, ratusan ribu rakyat berada dalam kondisi kelaparan dan kesusahan.

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Israa’: 27)

Lalu dengan berkaca kepada kondisi Indonesia yang sedang banyak dilanda bencana dan kesulitan, apakah kita masih mau membiarkan kita menari-nari sedang saudara kita sedang dalam kesusahan.

Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah beriman kepadaku seseorang yang tidur pada malam hari dengan keadaan perut kenyang sementara tetangganya kelaparan di sebelahnya dan dia mengetahui hal tersebut.” (HR. Thabrani).

Kalau melihat konteks hadits tersebut, kita tidak dianggap beriman kepada nabi Muhammad saw jika mengabaikan kesusahan tetangganya, dan dengan tidak beriman kepada nabi, berarti kita pun tidak dianggap beriman kepada Allah swt. Apalagi jika kita sampai menari diatas tangis tetangganya?

DR Yusuf Qarhadhawi menyatakan bahwa dunia ini bagaikan kampung kecil, karena majunya teknologi yang ada. Maka sayapun berpendapat bahwa sekarang, makna tetangga itu bisa menjadi luas, meskipun hadits menyatakan bahwa tetangga itu radius 40 rumah ke kanan, 40 rumah ke kiri, 40 rumah ke depan, dan 40 rumah kebelakang.

Dan seharusnya, bentuk syukur yang terbaik itu adalah ketika kita malah berbagi karena mendapatkan kegembiraan. Kaab bin Malik, salah seoarang sahabat yang terkena boikot pengacuhan selama 40 hari kaum muslimin karena tidak mengikuti perang Tabuk, ketika mendengar berita turunnya ayat yang menandakan pengampunan Allah terhadapnya, langsung memberikan baju yang ia pakai pada pemberi kabar gembira tersebut, bahkan karena itu adalah baju satu-satunya, beliau harus meminjam baju supaya bisa menghadap Rasulullah saw.

Jadi sebagai salah satu bentuk syukur atas pencapaian selama setahun, seharusnya kita malah menjadi pribadi yang dermawan dengan banyak berbagi terhadap sesama, apalagi di akhir tahun, kita menjadi semakin jelas besarnya pencapaian selama setahun.

Catatan terakhir dari tulisan ini adalah, sebaiknya, evaluasi atau muhasabah seorang muslim itu dilakukan dengan basis waktu harian, karena sesungguhnya kita telah beramal selama sehari dan juga sangatlah mungkin, berbuat dosa dalam waktu harian, beramal dalam waktu harian, dan bisa jadi meninggal sewaktu-waktu, tanpa sempat kita mengevaluasi diri.

“Hisablah dirimu, sebelum engkau dihisab”

Semoga Allah menyelamatkan kita dari kesia-siaan… (amin)

31 Desember 2007 – Oleh: Syamsul Arifin (ipin4u)*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s