Mencoba Memperbaiki Diri

Jika Setiap Kata Diminta Pertanggungjawabannya


Jika suatu hari kita disuruh menghitung berapa jumlah kata atau kalimat yang sudah kita ucapkan sejak kecil sampai sekarang dan apa saja kalimat itu, maka saya yakin takkan mungkin kita bisa melakukannya. Bagaimana tidak, jangankan sejak lahir, sejak bangun tidur sampai tidur saja kadang-kadang kita lupa sudah berapa kalimat yang keluar dari mulut kita. Mulai sejak pagi sebelum dan setelah Shubuh bersama keluarga atau kawan sekos, sebelum berangkat sekolah, kuliah atau bekerja, ketika di kendaraan umum bersama kenalan atau kawan, ketika di kantor bersama rekan kerja atau atasan, ketika di pasar bersama penjual atau bersama pembeli, ketika di kampus atau di sekolah, ketika pulang kerja bersama tetangga, ketika di rumah kembali bersama keluarga dan masih banyak lagi percakapan-percakapan yang kita lakukan dalam sehari.

Tak terasa hari-hari berlalu begitu saja melayang bersama kalimat-kalimat yang telah kita ucapkan, baik yang kita sadari maupun tidak. Namun benarkah kalimat-kalimat yang kita ucapkan itu melayang begitu saja seperti asap yang membumbung tingi ke angkasa lalu menghilang? Terlalu naif jika kita berpikiran seperti itu.

Beberapa waktu lalu saya melakukan chatting bersama dengan kawan-kawan lama yang dahulu satu pondok pesantren di Aliyah. Sebelumnya, kami sudah menentukan waktunya sehingga kawan-kawan yang ingin ikut bergabung bisa mempersiapkan diri. Ketika itu kami baru lulus dari pesantren. Sebagian kawan ada yang melanjutkan studi di berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, dalam negeri maupun luar negeri. Kami semua berkumpul dalam satu waktu yang telah disepakati, lalu berbincang-bincang dengan seru. Masing-masing di antara kami menceritakan pengalamannya setelah lulus dari pesantren. Ada yang sudah diterima di perguruan tinggi bergengsi, ada yang masih mencari-cari peluang beasiswa ke luar negeri, ada yang melanjutkan lagi ke pesantren lain, ada yang mengabdi di pesantren kami, beragam pengalaman dan kisah-kisah menarik dituangkan dalam satu forum konferensi di dunia maya yang bernama Yahoo! Messenger. Di samping ngobrol di konferensi ada pula yang berdiskusi maupun konsultasi secara privat. Intinya kami semua menceritakan pengalaman masing-masing selama lulus dari pesantren.

Setelah dirasa cukup, saya memohon diri kepada seluruh peserta forum karena suatu urusan. Namun sebelum saya log out, saya menyimpan semua percakapan tersebut dalam sebuah file. Sesampai di rumah, saya baca-baca lagi sambil tersenyum sendiri. Kemudian terlintas sesuatu di benak saya, jika percakapan kami tadi yang hanya beberapa jam saja dapat terekam dengan baik dan sempurna tanpa tertinggal sedikitpun di sebuah file kecil yang berukuran tak lebih dari satu megabyte, lalu bagaimana dengan catatan yang dimiliki oleh Malaikat Raqib dan Atid yang setiap hari mencatat ucapan dan perbuatan kita tanpa terlewat sedikit pun.

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas (Raqib) yang selalu hadir (Atid).” (QS. Qaaf: 18).

Ketika itu saya tersadar sekaligus bertambah yakin bahwa Hari Perhitungan adalah suatu keniscayaan yang pasti akan datang. Tak mungkin ucapan-ucapan yang selama ini keluar dari mulut saya menghilang begitu saja ditelan waktu. Pasti ada sidang pertanggungjawaban yang menuntut setiap orang mempertanggungjawabkan semua yang pernah ia ucapkan ketika di dunia.

Kata-kata yang pernah menorehkan luka di hati seseorang, baik kita sadari maupun tidak, pasti akan diminta pertanggungjawaban. Guyonan-guyonan ringan namun tanpa kita sadari telah membuat orang lain tersinggung dan sakit hati pasti akan diminta pertanggungjawabannya. Obrolan-obrolan kita yang tak terasa telah menyeret kita kepada Ghibah pasti akan diminta pertanggungjawabannya.

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas (Raqib) yang selalu hadir (Atid).” (QS. Qaaf: 18).

Lalu pertanyaannya, sudah berapa banyak kata-kata yang keluar dari mulut kita yang tanpa kita sadari telah meninggalkan luka di hati orang lain. Sudah berapa banyak lidah kita ini menyakiti orang lain. Berapa banyak zikir kita dalam sehari jika dibandingkan dengan kemaksiatan kita. Sudah berapa banyak kita terpeleset dalam sebuah dosa tanpa kita sadari. Sudah berapa banyak kita meninggalkan catatan-catatan merah dalam rapor hidup kita dengan perasaan ringan.

Apakah semua itu akan berlalu begitu saja tanpa ada sidang pertanggungjawaban? Tentu kita semua telah tahu apa jawabannya.

Husain – Damaskus, 13 July 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s