Mencoba Memperbaiki Diri

Untuk Para Da’i Penyeru Anti Pornografi dan Pornoaksi


Pekerjaan Amar Ma’ruf Nahi Munkar bukanlah pekerjaan yang mudah. Sangat banyak rintangannya. Banyak yang tidak suka dinasehati untuk berbuat kebaikan. Dan jauh lebih banyak lagi yang tidak suka perbuatan buruknya dilarang. Maka jadilah orang-orang itu memusuhi perbuatan amar ma’ruf nahi munkar, dan terlebih lagi memusuhi yang pelakunya.

“Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.” QS Al-A’raf : 7

Ayat di atas mengutip kata-kata pamungkas dari orang-orang yang memusuhi amar ma’ruf nahi munkar. Nah, kalau disamakan dengan zaman sekarang, istilahnya orang-orang yang menyerukan amar ma’ruf nahi munkar itu diejek atau dituduh dengan kata “MUNAFIK”. Begitulah kata mereka yang tidak senang kemaksiatannya digugat.

Masalahnya kadang mereka membuktikan dengan tokoh-tokoh yang mahsyur sebagai da’I yang terbukti melakukan perbuatan keji yang sering da’i tersebut larang dalam ceramah-ceramahnya. Berbekal nama-nama itu, orang yang tidak senang kepada dakwah menyerang semua juru dakwah dengan kata “MUNAFIK”.

Saat ini kejahatan yang membuat pelakunya paling gerah untuk digugat adalah kejahatan p0rn0grafi dan p0rn0aksi. Dan yang paling sering mengumbar kata-kata “MUNAFIK” itu adalah para pelaku kejahatan ini. Seharusnya, tuduhan mereka itu menjadi peringatan bagi kita yang concern terhadap p0rn0grafi.

Berikut rambu-rambu yang mesti diperhatikan oleh penyeru anti p0rn0grafi dan p0rn0aksi.

– Ibda’ binafsika wad’u ghoiruka.

Artinya kira-kira: Mulai lah dari dirimu sendiri, dan serulah orang lain. Kaidah dalam dakwah ini menekankan agar kita memulai terlebih dahulu amal soleh yang kita kerjakan, dan untuk kemudian kita seru orang lain agar mengerjakan amal tersebut. Orang yang tidak menghiraukan kaidah ini, mendapat murka dari Allah SWT.

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” Ash-Shaff 2 & 3.

Selain itu, ada pepatah mengatakan, Faaqidisy-syai’ laa yu’thiih (Orang yang tidak memiliki sesuatu, tidak akan bisa memberikannya). Kaitannya dalam dakwah bukan hanya dalam masalah apakah penyerunya memiliki ilmu yang bisa ditransfer kepada orang lain atau bukan, tapi juga apakah penyerunya memiliki kebiasaan suatu amal atau tidak. Apakah orang tersebut memiliki imunitas dari p0rn0grafi dan p0rn0aksi atau tidak. Kalau tidak, rasanya sulit membuat orang lain mengikutinya apabila ia sendiri gandrung kepada p0rn0grafi dan p0rn0aksi.

Rambu pertama ini adalah rambu dasar yang harus dipatuhi oleh seluruh penyeru dakwah. Dan agar orang-orang yang memusuhi penyeruan anti p0rn0grafi tidak lagi memiliki tambahan bukti orang-orang yang dibilang munafik, maka setiap penyeru anti p0rn0grafi harus mematuhi kaidah ini.

– Hindari Hal Yang Mendekati Zina.

Rambu ini merupakan lanjutan dari rambu pertama. P0rn0grafi dan p0rn0aksi itu adalah aktivitas perzinahan.

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi saw. Sabdanya : “Nasib anak Adam mengenai zina telah ditetapkan. Tidak mustahil dia pernah melakukannya. Dua mata, zinanya memandang. Dua telinga, zinanya mendengar. Lidah, zinanya berkata. Tangan zinanya memegang. Kaki, zinanya melangkah. Hati, zinanya ingin dan rindu, sedangkan faraj (kemaluan) hanya mengikuti dan tidak mengikuti.” (Hadis Shahih Muslim No. 2282)

Maka setiap orang yang menyerukan penolakan anti p0rn0grafi dan p0rn0aksi haruslah menghindari setiap bentuk zina. Bahkan harus menghindari hal-hal yang mendekati zina.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” Al-Isra 32.

Jadi, janganlah penyeru anti p0rn0grafi dan p0rn0aksi itu malah gemar menonton foto/video p0rn0, yang mengakibatkan ia jatuh pada zina mata. Jangan mengumbar pembicaraan – sekalipun bercanda – yang bertemakan hal-hal yang p0rn0, yang menyebabkan ia jatuh pada zina lidah. Bahkan ikut mendengarkan hal-hal p0rn0 pun, ia telah jatuh pada zina telinga. Dan tangan dan kakinya, jangan pula berbuat aktifitas yang disebut p0rn0aksi.

– Ghodul Bashor.

Menundukkan pandangan dari memandang lawan jenis adalah tuntunan Islam. Jadi, bukan saja p0rn0grafi dan p0rn0aksi yang dilarang untuk dilihat. “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”” An-Nuur : 30. Juga lihat ayat ke-31.

Ghodul bashar atau menundukkan pandangan adalah sebuah aktifitas menghindari zina. Karena pandangan adalah pendahuluan dari perbuatan zina.

Kondisi du’at (penyeru dakwah) biasanya dijadikan barometer bagi kondisi lingkungannya. Ada ungkapan yang mengatakan, “Kalau da’inya saja sholatnya di rumah, gimana umatnya? Pada gak sholat kali.”. Dan ungkapan serupa yang bisalah disebut turunan dari pepatah “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”

Maka seorang penyeru anti p0rn0grafi dan p0rn0aksi harus menjaga perangainya agar tidak jatuh kedalam dosa-dosa kecil seperti memandang lawan jenis, agar umat yang disayanginya tidak jatuh kepada hal yang lebih besar lagi. Yaitu menikmat p0rn0grafi.

– Menjaga Adab Dalam Pergaulan Antar Lawan Jenis.

P0rn0aksi adalah sebuah aksi yang menerabas adab dalam pergaulan lawan jenis. Seorang penyeru anti p0rn0grafi dan p0rn0aksi memang haram untuk melakukan aktifitas p0rn0aksi. Tapi lebih dari itu, ia juga dituntut untuk memberikan teladan dalam bergaul yang benar antar lawan jenis.

Antara lain tuntunan Islam dalam pergaulan ialah menghindari berdua-duaan dengan non muhrim, tidak lemah lembut yang berlebih-lebihan dalam berdialog dengan lawan jenis, dan tetap ghodul bashor.

Yang paling penting harus dijaga adalah, jangan sampai pacaran. Karena aktifitas pacaran itu melabrak banyak rambu yang telah Allah tetapkan dalam pergaulan. Bila du’atnya saja pacaran, mungkin umatnya akan terbiasa berzina.

– Menjaga Aurat.

Sering orang mempertanyakan batasan p0rn0grafi. Kalau ada undang-undang yang melarang p0rn0grafi, maka orang-orang yang ingin menghambat peraturan itu akan menghalang-halanginya dengan mengatakan bahwa batasannya tidak jelas.

Islam telah terlebih dahulu mengatur batasan tersebut. Bagi muslim, bila telah mencapai kondisi mukallaf atau dengan kata lain baligh, maka ia wajib menutup auratnya untuk tidak dipertontonkan kepada orang lain.

Seorang du’at yang menyeru kepada anti p0rn0grafi, haruslah yang pertama dalam memberikan ketauladanan sikap yang benar. Bila ia menyeru anti p0rn0grafi, tapi ia sendiri membuka auratnya, khawatirnya Allah akan menuntutnya sesuai surat Ash-Shaff : 2 & 3 di atas.

Mungkin itu beberapa hal yang harus diperhatikan bagi penyeru anti p0rn0grafi dan p0rn0aksi. Itu semua menyangkut pertolongan Allah atas seruannya. Karena maksiat itu menghijab pertolongan Allah SWT. Kalau ada koreksi dan tambahan, saya sangat senang sekali.

Allahu’alam bish-showab.

andaleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s