Mencoba Memperbaiki Diri

Memahami dan Berinteraksi dengan Al-Quran


Sebelumnya telah kita bahas tentang bagaimana pandangan Nabi saw dan para ulama salaf -para sahabat dan para tabi’in- terhadap Al-Qur’an. Yang mana hal itu semua tidak bisa dilakukan kecuali karena interaksi mereka yang intens dan diiringi pemahaman mereka yang mendalam, sehingga dapat memberikan pandangan yang begitu terhadap Al-Qur’an.

Karena itu pada kesempatan ini dan kesempatan selanjutnya akan kita bahas tentang nama dan karakteristik Al-Qur’an dan bagaimana kiat kita untuk bisa sukses berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Di dalam Al-Quran Al-Karim banyak disebutkan beberapa nama dan karakteristik Kitabullah (Al-Quran Al-Karim), dan dalam ayat-ayatnya disebutkan juga beberapa sifat dan keistimewaan secara gamblang akan kitab ini; sehingga dapat memberikan pengaruh  yang baik terhadap individu dan sosial, memperlihatkan fenomena-fenomena kemuliaan yang mendalam seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya serta para tabi’in dalam berinteraksi dengan Al-Quran, membawa mereka pada kehidupan yang bersih dibawah naungannya…

Sebelum membaca dan mentadabburkan Al-Quran, maka kita mesti mengetahui dan memahami lebih dahulu sifat-sifat dan karakteristik-karakteristik, serta keistimewaan Al-Qur’an, menelaah lebih cermat saat berada dihadapan ayat-ayat yang diungkapkan, mehidupkan dengan segala kemampuan dan perasaan  seakan seluruh detik kehidupan kita diserahkan untuknya…

Sesungguhnya Allah SWT mengajarkan kepada kita melalui firman-Nya yang Mulia untuk selalu memperhatikan kehidupan yang penuh berkah di dalamnya, mengarungi kehidupan yang tentram saat berada di bawah naungannya. Karena itu, Allah SWT memaparkan kepada kita beberapa nama-nama, sifat-sifat, karakteristik dan keistimewaan Al-Quran, sehingga kita bisa menerimanya dengan penuh kesadaran, pemahaman, dan optimisme, guna mengenal lebih dekat akan karakteristik, misi, peranan dan risalah Al-Quran itu sendiri. Karena tidak ada seorangpun yang lebih tahu kalam Allah kecuali Allah SWT itu sendiri. Dan karunia Allah atas kita adalah diberikannya pengenalan terhadap Al-Quran, yang merupakan kenikmatan yang terbesar dan sangat berharga, sebagai Rahmat yang tak terkira sehingga kita seharusnya menerimanya dengan menghadapkan wajah kepada Allah dengan pujian dan syukur, ikhlas dan cinta. Menerima secara penuh akan kitab-Nya dengan tadabbur, perasaan, komitmen dan aplikasi. Agar kita dapat merasakan nikmatnya hidup melalui keragaman corak dan fenomena.

Dalam pembahasan ini akan coba kami hadirkan beberapa nama-nama Al-Quran dan karakteristiknya, keistimewaan dan sifat-sifatnya, keutamaan-keuatamaan dan nilai-nilai positif yang terkandung dalam Al-Qur’am, sebgaimana yang termaktub dalam nash-nash dan ayat-ayatnya.

1. Al-Quran

Adapun nama yang pertama yang kita kenal terhadap kitabullah adalah Al-Qur’an, bahkan nama inilah yang banyak disebut dalam ayat-ayat-Nya, sehingga nama ini merupakan nama yang paling masyhur dan dikenal, Allah SWT telah mengkhususkan kitab-Nya yang diturunkan kepada Rasulullah saw dengan nama ini, dan bahkan tidak diberikan kepada kitab-kitab samawiyah sebelumnya.

Dan kalimat “Al-Quran” berasal dari akar kata “Al-Qiraah” (sebagaimana yang telah disepakati oleh para ulama di bidangnya), dan telah menjadi ciri khusus atas kitab yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw, sehingga menjadi ilmu tersendiri.

Imam Ar-Ragib al-asfahani dalam kitabnya “Mufrodatul Quran” menyebutkan pendapat salah seorang ulama “kitab ini disebut “Al-Quran” dihadapan kitab-kitab Allah yang lainnya karena merupakan kumpulan dari intisari kitab-kitab tersebut bahkan merupakan rangkuman dari berbagai macam ilmu” sebagaimana yang telah disebutkan dalam firman Allah SWT : “-Dengan Al-Quran”- menjelaskan segala sesuatu”. (Yusuf : 111) [1]

Dipilihnya nama kitabullah dengan Al-Quran –sebagai nama unggulan dan nama tersendiri- memberikan gambaran yang gamblang akan kewajiban, keistimewaan dan keunggulan umat Islam – sebagai pemelihara Al-Quran akan eksistensinya di tengah umat yang disekitarnya- karena tidak ada yang boleh mengambil sesuatu untuk menjadi manhajul hayah (sistem hidup) selain dari Al-Quran Al-Karim.

Allah menceritakan kronologi awal diturunkannya Al-Quran; yaitu pada bulan Ramadlan Al-Mubarak, dengan Firman-Nya “Bulan Ramadlan adalah bulan di dalamnya diturunkan Al-Quran pemberi petunjuk untuk manusia, pemberi penjelasan akan hidayah itu dan Al-Furqon –pembeda antara yang haq dan bathil-”. (Al-baqoroh :  185)

Allah berfirman dalam mensifati Al-Quran : “Qof..Demi Al-Quran yang Mulia” (Qaf : 1) “Shad. Demi Al-Quran yang memberi peringatan” (Shad : 1) begitupun Al-Quran disifatkan dengan kitab berbahasa arab yang nyata –fasih- di dalam Firman Allah : “Kitab yang telah dirincikanm ayat-ayatnya, Al-Quran yang berbahasa arab untuk kaum yang mengetahui”. (Fushilat : 3)

Allah menetapkan bahwa Al-Quran adalah kitab yang mudah diingat –dihapal- bagi siapa yang ingin mengingat dan mengahapalnya, dan bagi siapa yang berinteraksi dengannya dengan hati yang hidup dan terbuka- Alalh SWT berfirman : “Sungguh Kami telah jadikan Al-Quran mudah diingat, maka adakah orang yang mengingatnya”. (Al-Qomar : 17)

Sebagaimana pula Allah menjelaskan bahwa dalam Al-Quran telah disebutkan dari setiap sesuatu permisalan agar manusia mau berfikir atau mengingatnya namun mereka lalai dari permisalan ini bahkan ada yang membangkang darinya, dan memilih hidup dalam kebimbangan, kufur dan linglung. Allah berfirman : “Sungguh telah berikan untuk manusia didalam Al-Quran permisalan dari sesuatu, maka kebanyakan manusia enggan sehingga mereka menjadi kufur” (Al-Isra : 89)

Allah mengajarkan kepada kita bahwa mereka -orang-orang kafir- tidak suka mendengar bacaan Al-Quran, dan setiap Rasulullah saw membaca Al-Quran maka penghalang yang tinggi dan tirai yang tebal menutupi antaranya dan orang-orang kafir, hijab ini diumpamakan dalam tutup yang terletak didalam hati, mulut dan telinga, sehingga tidak bisa menghayati dan mentadabburkan kalam Allah. Karena itu mereka akan berpaling dari orang yang membaca kalamullah, pergi dan lari darinya, Allah SWT berfirman : “Dan jika Engkau membacakan Al-Quran kepada mereka, Kami jadikan antaramu dan orang-oran gyang tidak beriman hijab diakhirat. Dan Kami jadikan hati mereka tertutup dari memahami Al-Quran, telinga mereka tuli. Dan jika engkau ingatkan Tuhanmu kepada mereka dalam Al-Quran maka mereka akan berpaling dan meniggalkan kamu jauh-jauh.” (Al-Isra : 45-46)

Allah juga menyeru kepada kita untuk bersemangat dalam membaca Al-Quran, selalu siap dengan persiapan khusus, menghadapkan wajah kepada Allah, memohon perlindungan kepada-Nya dari godaan syetan, agar doa ini menjadi wasilah suatu kemudahan dalam mentadabburkan Al-Quran, Allah berfirman : “Maka jika engkau hendak membaca Al-Quran, mohonlah perlindungan dari godaan syetan yang terkutuk”. (An-Nahl : 98)

Allah juga meminta kepada kita untuk memliki adab yang baik terhadap Al-Quran, saat kita mendengar alunan ayat yang dibaca, maka kita wajib mendengar dengan sepenuh jiwa, membuka pintu-pintu hati agar dapat memiliki hubungan dan interaksi yang baik dengannya. Bedakan antara mendengar dan mendengarkan, karena mendengar hanyalah sekedar sampainya suara ke telinga, namun kadangkala hanya sekedar mendengar tanpa disengaja. Adapun mendengarkan berarti mengikut sertakan indra dan seluruh pensendian –anggota tubuh- yang lain seperti telinga untuk berinteraksi, tadabbur, talaqqi dan konsentrasi. Allah SWT berfirman : “Maka jika dibacakan Al-Quran maka dengarkanlah bacaan itu dan diamlah –heninglah- agar kalian mendapat Rahmat”. (Al-A’raf : 204).

Allah juga menjelaskan pengaruh yang sangat besar akan tunduknya gunung yang besar –saat diberikan amanah kepadanya- dan berinteraksi dengannya, menampakkan fenomena yang sangat dahsyat dan menakjubkan, Allah berfirman : “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah, dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir”. (Al-Hasyr : 21) dan Firman-Nya : “Dan sekiranya ada suatu bacaan )kitab suci) yang dengan bacaan itu gunun-gunung dapat digoncangkan atau bumi menjadi terbelah atau oleh karenaya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara (tentu Al-Quran itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah”. (Ar-Ra’ad : 31)

Allah telah memerintahkan kepada kita untuk mentadabburkan Al-Quran, bersimpuh di hadapannya untuk menelaah ayat-ayat-Nya, mengkaji akan wahyu-wahyu-Nya, arahan-arahan-nya, nilai-nilai dan hakekat-hakekat-nya, sehingga mampu menghilangkan penyakit yang ada pada dua telapak tangan yang dapat menjadi penghalang antara kita dengan tadabbur ini, menghilangkan penyakit yang selalu mengganjal kita saat ingin mengamalkannya, sehingga sirna penyakit tersebut atau hilang secara keseluruhan yaitu tertutupnya hati yang sering menjadi penghalang masuknya cahaya hidayah, kebaikan dan kehidupan, adapun penutup itu adalah syahwat, maksiat dan cinta kepada dunia; sehingga hati sibuk dengan itu semua dan tidak ada tempat yang cukup untuk bisa mentadabbutkan, mendapat hidayah dan cahaya iman. Allah berfirman : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci ?”. (Muhammad : 24)

Allah memberi petunjuk agar kita menjadikan tadabbur sebagai wasilah (sarana) bukan tujuan, tidak sambil melakukan pekerjaan dan sibuk karenanya; sesuai dengan tujuan yang didambakan, yaitu bertambahnya Iman, tisqoh dan  yakin terhadap Kalamullah, memperhatikan rangkaian kalimat-kalimatnya, hubungan kesesuaian, dan memahami misi dan tujuannya serta menemukan hakekat-hakekat dan ketentuan-ketantuannya. Allah SWT berfirman : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya “. (An-Nisa : 83)

Allah telah menganugrahkan kepada kita dengan memberikan kabar bahwa jika kita berinteraksi, membaca dan mentadabburkan Al-Quran, akan mendapatkan hidayah yang dapat membimbing ke jalan yang lurus, cahaya yang  menerangi, obat yang ampuh. Karena Al-Quran adalah hidayah untuk individu dan jamaah, cahaya bagi seluruh aspek kehiduoan baik individu dan sosial, obat bagi segala penyakit umat. Allah berfirman : “Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepda (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal soleh behwa bagi mereka ada pahala yang besar” (Al-Isra : 9) dan Firman Allah “Dan Kami turunkan Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepda orang-orang yang zalim selain kerugian” (Al-Isra : 82)

Maha Benar Allah ketika mensifati kitab-Nya dengan sifat bijaksana, yaitu sifat yang agung yang tidak diberikan kepada siapapun kecuali orang yang berakal !! kita diharapkan dapat berinteraksi dengan Al-Quran sesuai dengan kehendak Allah, hidup di bawah naungannya yang sesuai dengan manhaj –sistem- Allah, kita telaah sebagian sisi hikmah dalam Al-Quran yang agung dan mulia ! Allah berfirman : “Yasin, Demi Al-Quran yang memiliki hikmah”. (Yasin : 1-2)

Allah mencela orang-orang kafir yang membagi-bagi Al-Quran, memberikan sifatnya secara bathil –guna menghalangi manusia untuk beriman kepada Al-Quran- mereka berkata : sihir, sya’ir, dukun –mantera-…, celaan ini diberikan kepada Yahudi dan Nasrani yang membagi-bagi kitab-kitab samawiyah beberapa bagian, mereka beriman kepada sebagiannya dan mengingkari sebagian lainnya, karena menuruti hawa nafsu mereka. Kita juga berpendapat bahwa celaan tersebut juga ditujukan kepada orang-orang beriman yang membagi-bagi dan memilah-milah Al-Quran, mengambil sebagian dan membuang yang lainnya, menampakkan sebagian dan menyembunyikan sebagian lainnya, beriman kepada satu bidang dan mengingkari sebagian lainnya !! Allah berfirman : “Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (kitab Allah).  (Yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al-Quran terbagi-bagi”. (Al-Hijr : 90-91) makna : “’dilin disini adalah membagi-bagi, kadang mereka berkata dukun –mantera, kadang dongengan orang dahulu dan lain-lainnya seperti yang mereka sifatkan. [2]

Allah mendokumentasikan pengaduan Rasulullah saw kepada Tuhannya tentang orang-orang kafir yang menentang Al-Quran dan acuh terhadapnya. Allah berfirman : “Dan Rasulullah saw berkata : “Ya Tuhanku Sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran sesuatu yang diacuhkan”. (Al-Furqon : 30)

Bahkan Allah juga mendokumentasikan akan uslub-cara- dari orang-orang kafir dalam menghadapi Al-Quran; berusaha memerangi dan memusuhi, usaha yang begitu gencar dengan mengerahkan segala potensi, berusaha meredupkan cahaya Al-Qur’an dan menguasainya. Sungguh sangat jauh, sungguh sangat hina, apa yang mereka usahakan dan mereka lakukan !! sesungghnya mereka pindah dari cara yang buruk yang mengisyaratkan akan kekalahan mereka secara internal di hadapan Al-Quran, tekanan jiwa dan pengakuan mereka dihadapan hakekat-hakekatnya –yang terpelihara dan terjaga- dengan kelemahan mereka dalam mengahadapinya dan kegagalan memerangi Al-Qur’an. Mereka meminta kepada para umat yang tertipu dan terpedaya serta lalai agar tidak mendengar bacaan Al-Quran dengan seksama, dan menggantinya sebagai sebuah permainan, teriakan, kebisingan, sekedar alat komunikasi, tarik suara secara berlebihan, kelalaian dan main-main, keangkuhan, suara cempreng dan lain-lain. Allah berfirman : “Dan berkata orang-orang kafir : “Janganlah kalian mendengarkan dan menyimak ayat-ayat Al-Quran ini, dan batalkanlah –hukum-hukumnya agar kalian dapat menga;ahkan mereka” (Fushilat : 26)

2. Al-Kitab

Al-kitab merupakan nama kedua dari Al-Quran Al-karim, nama ini juga banyak disebutkan dalam ayat-ayatnya, selalu diulang dalam surat-suratnya, dan merupakan nama kedua yang terkenal setelah Al-Quran serta sering disebutkan, Al-Kitab merupakan kata yang berarti tertulis, huruf-huruf, kalimat dan ayat-ayatnya terangkai dalam bentuk tulisan dan khot yang rapi…

Dan diantara nama kalamullah yang banyak dikenal adalah dengan dua nama ini Al-Quran dan Al-Kitab, yang berarti penyatuan dan kumpulan, karena Al-Quran berasal dari akar kata “Al-Qiraah” dan “Al-Qaraah” –sebagaimana yang dikatakan oleh Ar-Ragib dalam Mufrodatnya- “yang berarti kumpulan huruf-huruf dan kalimat-kalimat sebagiannya dengan sebagian lain dalam bacaan” [1], sedangkan kata “Al-Kitab” berasal dari akar kata “Al-Kitabah” yang berarti kumpulan huruf-huruf sebagiannya dengan sebagian lain dalam bentuk tulisan…demikian juga dikatakan kumpulan sebagiannya dengan sebagian lain dalam bentuk lafadz. Maka asal kata “Al-Kitabah” adalah susunan dalam bentuk tulisan, namun dipinjam dalam bentuk yang lain yang karena itu kalamullah dinamakan –walaupun tidak tertulis- dengan “kitaban” [2].

Adapun hikmah lain dinamakannya kalamullah dengan dua nama ini : Al-Quran dan Al-ki tab, sebagaimana  yang disebutkan oleh DR. Muhammad Abdullah Darraz dalam bukunya “An-nabaul Adzim” yang ringkasannya adalah : “Bahwa Allah SWT menginginkan dari pemberian dua nama ini untuk merealisasikan penggabungan yang erat terhadap firman-firmannya, mengisyaratkan akan terpeliharanya secara sempurna dan mutlak pada setiap surat, ayat-ayatnya, kalimat-kalimatnya dan huruf-hurufnya, sehingga tidak memberikan kebimbangan terhadap diri seorang muslim walaupun hanya sedikit sehingga timbul pertentangan, penyimpangan atau penghapusan dan pengurangan darinya…karena itu Al-Quran benar-benar terpelihara dengan dua cara yang kongkret yang keduanya merupakan cara yang efektif dalam menghafal dan memelihara, yaitu “Al-Qiraah”  bacaan dan “Al-Kitabah” tulisan; Maka tidak diterima Al-Quran yang dibaca kalau tidak sesuai dengan mushaf Utsmani yang telah ditulis dan disepakti oleh ijma ulama, dan tidak diterima tulisan ayat-ayat Al-Quran kalau tidak sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya tentang Al-Quran, mereka membaca –talaqqi- dihadapan beliau, dan Rasulullah membacakan Al-Quran dihadapan mereka”… [3].

Kitab yang telah Allah turunkan kepada Rasulullah saw adalah merupakan kebenaran yang mutlak tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai hidayah bagi orang-orang yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah SWT :

الم . ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Alif Lam Mim, itulah Al-Kitab yang tidak ada keraguan didalamnya, pemberi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa…” (Al-Baqoroh : 1-2)

Merupakan kitab yang mengandung hikmah sebagaimana Al-Quran juga mengandung hikmah :

الر تِلْكَ آَيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ

“Alif Lam Ra, inilah Ayat-ayat Al-kitab yang mengandung hikmah” (Yunus : 1)

Ayat-ayatnya merupakan hukum yang pasti kemudian diberikan penjelasan, dijabarkan dan diterangkan, lalu diberikan kepada manusia untuk diimani oleh mereka

الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آَيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

“Alif Lam Ra. Inilah dustur Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu”. (Hud : 1)

Allah SWT dan Rasul-Nya saw mengabarkan bahwa telah diturunkan kepadanya Al-Quran untuk mengelurakan manusia dari kegelapan kepada cahaya, dari kedzaliman kufur menuju cahaya iman, dan kitabullah merupakan satu-satunya wasilah –sarana- untuk mengelurkannya dari kegelapan, dan tidak sarana lain selainnya kecuali hanya hayalan, prasangka dan dongengan belaka dan bahkan tidak akan menambah iman kecuali kegelapan.

Allah SWT berfirman :

الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“Alif Lam Ra. Inilah kitab yang Kami turunkan kepadamu –Muhammad saw- agar kamu dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dengan izin Tuhan mereka menuju jalan  Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. (Ibrahim : 1)

Diberitahukan bahwa telah diturunkan kepadanya peringatan dan Al-Kitab sebagi pemberi penjelasan terhadap segala sesuatu dan merincikannya, dan dengan penjelasan ini tampak hidayah –petunjuk- rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin.

Allah SWT berfirman :

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan telah Kami turunkan kepadamu Al-Kitab pemberi penjelasan terhadap segala sesuatu, petunjuk rahmat dan kabar gembira untuk keum muslimin (An-Nahl : 89)

dan firman Allah SWT :

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan telah Kami turunkan kepadamu -Al-Quran- pemberi peringatan agar dapat kamu beri penjelasan kepada manusia atas apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka mau berfikir”. (An-Nahl : 44)

Bahkan Allah SWT meringkas akan tujuan diturunkannya Al-Kitab selain sebagai pemberi penjelasan, disamping itu Rasulullah saw dituntut untuk melaksanakan dakwah dan menyampaikannya…

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

”Dan tidaklah Kami turunkan Al-Kitab kecuali untuk memberi penjelasan kepada mereka yang selalu berselisih didalamnya, pemberi petunjuk, rahmat beri kaum yang beriman”. (An-Nahl : 64).

Disebutkan dalam 3 ayat yang mulia diatas dalam satu surat –yaitu surat An-Nahl- menejalskan tujuan diturunkan Al-Kitab yaitu untuk menjelaskan dan memberikan penjelasan, memerintahkan kepada Rasulullah saw untuk menyampaikan, sehingga hal ini menunjukkan secara khusus akan masalah ini serta menunjukkan akan satu-satunya surat yang membicarakan hal tersebut –yaitu sebagai surat ni’mat, karena adakah ni’mat yang lebih baik dari ni’mat hidayah dan petunjuk yang memberi penjelasan yang terkandung dalam Al-Quran-…sebagaimana menjelaskan akan sighat ayat-ayat yang mulia dengan menggunakan penjelasan Al-Quran dalam bentuk umum kepada manusia seluruhnya, dan dikhususkan lagi di dalamnya dengan memberikan rahmat, petunjuk dan kabar gembira kepada kaum muslimin saja, karena ketiga hal tersebut sangat berkaitan dengan iman, dan tidak akan didapati jika iman tidak dimiliki.

Allah SWT memrintahkan kepada Rasul-Nya untuk memberikan penjelasan, menyampaikan dan memberikan peringatan kepada manusia dan tidak dibolehkan memberikan keringanan atau kesempitan sedikitpun dalam menerapkannya, karena hal tersebut akan menjadi penghalang baginya dalam melaksanakan kewajiban ini, sehingga tidak ada keluh kesah di dalamnya walaupun umat manusia menentangnya dan membuat kejutan terhadap apa yang mereka tidak duga !!! kenapa Rasulullah saw merasa berat padahal beliau tidak pernah mendapatkan hakekat, nilai-nilai, adat, timbangan, prinsip-prinsip dan arahan-arahan dari manusia, namun semua itu berasal dari Tuhan manusia, dan cukuplah Allah SWT yang menjadi saksi, menjadi pendamping bersamanya, menolongnya, meneguhkan hatinya dan memberinya ganjaran atas segala perbuatannya…

Allah SWT berfirman :

المص. كِتَابٌ أُنْزِلَ إِلَيْكَ فَلَا يَكُنْ فِي صَدْرِكَ حَرَجٌ مِنْهُ لِتُنْذِرَ بِهِ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

“Alif Lam Mim Shad. Inilah Al-Kitab yang diturunkan kepadamu, maka jangan hatimu menjadi sempit karenanya, agar kamu dapat memberi peringatan dan pelajaran untuk orang-orang  yang beriman”. (Al-A’raf : 1-2)

Allah mengabarkan kepada Rasul-Nya saw akan tugas ini, dengan diturunkan kepadanya Al-Kitab sehingga memiliki eksistensi dan misi, dan membuat kehidupan lebih cerah dengannya, menampakkan pengaruh-pengaruhnya dan memetik buahnya, demikianlah –Al-Kitab- yang memiliki hikmah diantara manusia dengan benar..

Allah SWT berfirman :

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا

“Sesungguhnya Kami telah menurukan Al-Kitab kepadamu dengan benar, agar kamu dapat menentukan hukum diantara manusia dengan apa-apa yang Allah berikan kepadamu…”. (An-Nisa : 105)

Allah SWT juga menjelaskan kepada kita sarana yang terkait dengan Al-Kitab al-haq agar dapat merealisasikan eksistensinya secara amali, menjelaskan bahwa yang haq adalah haq sedangkan yang bathil adalah bathil, menuntun umat manusia kepada al-haq, sebagai sarana yang kuat kepada untuk dapat dijaga dan dipelihara, yang dapat menggerakkan pembela kemanusiaan bagi yang menegakkannya dan melaksanakan hukum-hukumnya. tanpa kekuatan ini maka kebenaran hanya sekedar teori jauh dan dari amal di alam realita, lalu berubah menjadi kebenaran yang sia-sia, yang hanya dilakukan oleh para pengecut dan diminimalisir oleh kaum yang lemah, serta diajauhi oleh mereka yang benci !!

Allah SWT berfirman :

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sungguh Kami telah mengutus para Rasul Kami dengan jelas. Dan Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan Mizan –Timbangan- agar dapat menegakkan keadilan diantara manusia, dan Kami juga menurunkan besi, yang didalamnya terdapat mudlorat yang besar dan manfaat untuk manusia, dan agar Allah dapat mengetahui siapa yang menolong-Nya dan para Rasul-Nya dengan ghaib, Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Pekasa”. (Al-Hadid : 25).

Al-Quran juga mengisyaratkan akan kewajiban Rasulullah saw untuk mengajarkan umat manusia akan Kitabullah, karena di dalamnya terdapat kisah dakwah nabi Ibrahim, Isma’il AS semenjak zaman yang lampau, Allah memerintahkan kepada keduanya untuk berdoa kepada Allah SWT agar dibangkitkan  di tengah umat manusia seorang Rasul yang menmbawa kebaikan, kesucian, cahaya dan petunjuk…

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

”Ya Tuhan kami, bangkitkanlah ditengah-tengah mereka seorang Rasul dari golongan mereka  yang mebecakan ayat-ayat-Mu kepada mereka, mengajarkan Al-Kitab dan hikmah dan mensucikan jiwa mereka, sesungguhnya Engkau Maha Perkasalagi Maha Bijaksana”. (Al-Baqoroh : 129).

Allah SWT mengabarkan kepada kita bahwasannya Dia mengabulkan doa dua nabi yang soleh, sebagimana Firman-Nya :

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آَيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

“Sebagaimana Kami telah mengutus ditengah-tengah kalian seorang Rasul dari golongan kalian untuk membacakan kepada kalian ayat-ayat Kami, mensucikan kalian dan mengajarkan Al-Kitab dan hikmah serta mengajarkan apa yang kalian belaum ketahui”. (Al-Baqoroh : 151).

Allah juga berfirman menjelaskan akan karunia Rabbaniyah atas kita dengan dibangkitkannya seorang nabi saw, yang mengeluarkan umat ini dengan izin Tuhannya dari kedzaliman kepada cahaya ilahi, dari kesesatan kepada petunjuk, dari kematian kepada kehidupan :

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Sungguh Allah telah memberikan karunia atas orang-orang beriman saat Allah membangkitkan di tengah mereka seorang Rasul dari golongan mereka, membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya dan mensucikan mereka, mengajarkan Al-Kitab dan Hikmah, padahal mereka sebelumnya berada dalam sesat yang nyata”. ( Ali Imron : 164)

Kita sebutkan dalam surat Al-Jumuah yang berkaitan dengan hal diatas, berbicara akan hubungan tema surat dan karakteristiknya yang unik, Allah berfirman :

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dialah –Allah- yang membangkitkan ditengah umat yang ummi seorang Rasul dari golongan mereka membacakan ayat-ayat-Nya mensucikan jiwa mereka dan mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah, padahal mereka sebelumnya dalam keadaan sesat yang nyata”. (Al-Jumuah : 2)

Kita perhatikan sighot 3 ayat diatas yang menarik ditelaah, memiliki arahan tarbawiyah yang dalam, seakan dengan 3 ayat ini menunjukkan akan manhaj tarbawi yang baik dan lurus, menyeru kepada para guru, duat, penasehat dan pendidik saat ini, para pembuat konsep dan system pendidikan dan buku-buku ilmiyah untuk meneliti kembali akan isyarat quraniyah ini dengan tinjauan pendidikan…yaitu urutan pendidikan dan pengajaran yang diarahkan oleh Rasulullah saw yang menggunakan “Athof’ dengan huruf “al-waw” mengutamakan atsar (pengaruh) dari membuat bangunan, pendahuluan atas tema, benih dan pohon atas buah dan dahan, muqaddimah atas natijah –hasil-, kita ambil dari sini “athof fiil mudhori” dalam firman-Nya : “Membacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya….dan mensucikan mereka…dan mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah..” yang demikian merupakan 3 fase yang berjenjang dan beriringan dan urutan : pertama membaca Al-Quran sebagai pendahuluan, pengisian, persiapan dan mobilisator, kemudian membersihkan jiwa dan mensucikannya dari penyakit, kotoran, kekurangan dan dosa-dosa, dan terkakhir baru memberikan pengajaran yang dapat mencerahkan dan memberikan wawasan.

Praktek ini merupakan hasil keberkahan dari pohon keimanan dan kebersihan jiwa, hasil yang dicapai dari pendahuluan pengajaran yang benar, sebagai hidayah, rahmat, kebaikan dan kebahagiaan bagi para guru, untuk umat dan manusia sekitar mereka…

Allah mensifatkan Kitab-Nya dengan Al-Barakahi, dan menyeru kita untuk memiliki sifat-sifat ini, menapaki ragam keberkahan Al-Quran yang menyeluruh dan universal. Keberkahan tidak bermakna  biasa dan dikenal kaum muslimin –walaupun hal tersebut tidak bisa dinafikan dalam Al-Quran yaitu memberi al-barokah- namun yang dimaksud dari Al-barokah dari segi Al-Quran -sebagaimana yang diungkapkan oleh Ar-Rogib Al-Asfahani dalam kitabnya “Al-Mufrodat”- adalah : “Al-barokah adalah kebaikan ilahi yang menyeluruh pada segala hal, dinamakan hal tersebut seperti tetapnya air dalam kolam, dan “al-Mubarok” adalah didalamnya terdapat kebaikan, seperti firman-Nya

لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Inilah –kitab- yang memberi peringatan, keberkahan yang telah Kami turunkan”. (Al-Anbiya : 50

sebagai peringatan akan banyaknya kebaiakn ilahi..” sampai kepada ungkapan : “…selama kebaikan ilahi mengeluarkan sesuatu yang tidak dapat dirasakan,- yang tidak terhitung dan tidak terbatas, maka dikatakan segala sesuatu yang datang darinya merupakan tambahan yang tidak terasa adalah keberkahan dan didalamnya barakah…” [4]

Maka Kitabullah yang mulia ini memberikan keberkahan dengan segala aspek dan ragamnya, memunculkan penomena keberkahan dan wacana-wacannya, dasar-dasar dan cabang-cabangnya…

Allah berfrman :

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا

“Dan inilah Kitab yang telah Kami turunkan sebagai pemberi berkah, pemberi kebenaran dari hadapannya, dan untuk m emberikan peringatan Ummul Qora dan penduduk sekitarnya…” (Al-An’am : 92)

Dan Firman Allah :

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan inillah Al-Kitab yang telah Kami turunkan, maka ikutilah dan bertaqwalah agar kalian mendapat rahmat”. (Al-An’am : 155)

Dan Firman Allah :

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Kitab yang telah Kami Turunkan kepadamu memberikan barokah, agar mereka mau mentadabburkan ayat-ayt-Nya dan menjadi ingatan bagi ulul albab”. (Shad : 29)

Dalam Al-Quran terdapat ayat yang mulia yang membagi umat Islam tiga golongan ketika berinteraksi dengan Al-Quran, padahal mereka telah diwariskan Al-Quran –kitabullah-, namun mereka tidak berada dalam satu tingkatan  dalam menerima warisan ini, mereka tidak dalam satu tingkatan dalam mengemban amanah ini –warisan  yang mulia-, harta yang berharga, dan barokah yang luas; maka diantara mereka ada yang mendzlalimi diri mereka sendiri dalam berinteraksi dengan kitabullah sehingga mereka kurang dalam menunaikan kewajiban dan selalu melanggar kesalahan, dan diantara mereka ada yang pertengahan, tidak ingin meningkatkan ketaatannya dari kemaksiatan dan sebaliknya, adapun golongan ketiga adalah yang mendapat kemenangan yaitu yang berlomba dalam mengamalkan kebajikan, meningkatkan ketaatan, serta banyak melakukan kebaikan-kebaikan.

Allah berfirman :

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.  Yang demikian itu adalah karunia yang sangat besar”. (Fathir : 32).

______________________________________

[1]. Mufrodat al-Qur’an, hal. 402

[2]. Mufrodat al-Qur’an, hal. 423

[3]. Lihat:  An-Nabaul Adzim

[4]. Mufrodat al-Qur’an, hal. 44

Pada pembahasan sebelumnya telah kami sebutkan nama-nama lain dari Al-Qur’an; Al-Qur’an dan Al-Kitab. Dan pada kesempatan ini kita membahas nama-nama lain dari Al-Qur’an, dan merupakan pembahasan terakhir -insya Allah- tentang nama-nama Al-Qur’an:

3. Ad-dzikru (Keagungan)

Allah SWT berfirman : “Shad. Demi Al-Quran yang mempunyai keagungan”. (Shad : 1-2) dan Firman Allah : “Dan Kami turunkan  kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” (An-Nahl : 44).

Dalam Al-Quran kata “Adz-Dzikru Al-Majid –Keagungan yang mulia” ditujukan kepada umat Islam, karena sebelumnya Al-Quran diingkari dengan pengingkaran yang keras,  hidup dan mati tidak dirasakan oleh seorangpun. Kemudian Al-Quran meninggikan kedudukannya dan menempatkan ke tempat yang mulia, menyelamatkan kehidupan manusia, dan menjadikannya sebagai pemimpin dan panutan, menjadi pusat guru/pembimbing, penasehat dan pelindung. Dan umat –umat islam- ini tidak dikenal kecuali karena komitmen dengan nasehat robbani, muncul dengannya dan menonjol dari sisinya. Allah berfirman : “Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan. Maka apakah kamu tidak memahaminya”. (Al-Anbiya : 10) dan Firman Allah : “Dan sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab” (Az-Zukhruf : 44)

“Adz-Dzikru” yang membawa berkah ini tidak akan memberikan faedah darinya kecuali bagi siapa yang memiliki hati yang hidup dan bergerak, sehingga keagungan Rabbani menyatu dengan hati dengan iman, hidup akan berjalan bersama Al-Quran menuju hati hinnga mampu menghidupkannya lebih bergairah. Akan tampak karakteristik kehidupan Qurani pada gerak-geriknya, dan tampak melalui prilaku yang menjadi buah yang matang baginya di tengah realita kehidupan. Allah berfirman : “Dan Kami tidak mengajarkan Sya’ir kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al-Quran  itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi peringatan. Supaya dia –Muhammad- memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup –hatinya- dan supaya pastilah –ketetapan – azab terhadap orang-orang kafir”. (Yasin : 69-70)

4. Ar-Ruh

Allah berfirman : “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu – Al-Quran- dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Al-Kitab – Al-Quran- dan tidak pula mengetahui apakah iman itu. Tetapi Kami menjadikan Al-Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki diantar hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya benar-benar memberi petunjuk kepada jalan  yang lurus”. (Asy-Syura : 52) kita ambil ayat ini berdasarkan hakekatnya, dan kita ambil karakteristik ini berdasarkan lahirnya. Karena Ruh yang sebenarnya hidup adalah kehidupan itu sendiri. Manusia dianggap mati diantara mayit yang lainnya, maka akan mati hatinya, begitupan perasaan dan panca indranya. Namun kemudian, akan hidup kembali bersama ruh Qura’ni yang menghidupkan, dengan ruh ini akan terbuka hatinya, indranya dan eksistensinya, sehingga dapat bergerak di dalam hatinya suatu kehidupan. Maha benar Allah yang telah berfirman : “Dan apakah orang yang sudah mati dia Kami hidupkan dan Kami berikan dengan cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan oran gyang kafir itu memandang baik apa yang mereka kerjakan”. (Al-An’am : 122)

5. An-Nur (Cahaya)

Al-Quran merupakan cahaya yang menyinari hati orang yang beriman yang hidup dengan keimanan, menyinari kehidupannya hingga hidup menjadi cerah baginya, menyinari di bawah langit umat ini hingga menjadi sinar  yang menerangi, memberi kebahagiaan, petunjuk dan kebaikan, menyinari umat manusia hingga dapat mengenal asalnya dan memberi petunjuk pada jalannya –jika hanya menginginkan jalan yang lurus-. Allah berfirman : “Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadasmu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang ) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridloan-Nya ke jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka kejalan yang lurus”. (Al-Maidah : 15-16) dan Firman Allah : “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa  yang kamu kerjakan”. (At-Taghobun:8)

6. Al-Furqan (Pembeda antara yang haq dan bathil)

Dengan Al-Quran seseorang dapat membedakan antara yang haq dan bathil, antara petunjuk dan kesesatan, antara cahaya dan kegelapan, di dalamnya terdapat satu-satunya kebenaran, hidayah dan cahaya, selainnya adalah bathil, sesat dan gelap…Allah berfirman : “Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Quran ) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil. Sebelum (Al-Quran ), menjadi petunjuk   bagi manusia. dan Dia menurunkan Al-Furqon”. (Ali Imron : 3-4) dan Firman-Nya : “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqon (Al-Quran) kepada hamba-Nya agar dia mengambil peringatan kepada seluruh alam”. (Al-Furqon : 1)

7. Al-Burhan (Bukti yang Nyata)

Al-Quran adalah bukti yang datang dari Allah untuk hamba-hamba-Nya, memberikan dengannya hujjah atas mereka, menampakkan darinya dalil-dalil yang jelas dan kuat terhadap tema-tema, nilai-nilai dan hakekat-hakekatnya baik dalam hal akidah dan kehidupan. Dan setiap orang yang berinteraksi dengan dalil-dalil Al-Quran dalam kemudahannya dan kegamblangannya, disertai dengan interaksi hati dan akal, lalu dihubungkan dengan dalil-dalil dan bukti-bukti serta neraca yang diberikan, ditentukan dan dibangun oleh akal manusia. Bagi siapa yang melakukan itu semua akan dapat memahami sebagian sisi dari bukti Al-Quran, kemudahan dan kegamblangannya. Allah berfirman : “Wahai sekalian manusia telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari Tuhan kalian, dan Kami turunkan kepada kelian Cahaya yang nyata..Maka bagi siapa yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepadanya maka kelak akan dimasukkan ke dalam rahmat yang datang dari-Nya dan karunia, dan diberikan petunjuk kejalan yang lurus”. (An-Nisa : 174-175)

8. Mauidzhah (Nasehat) dan Syifa (Penyembuh), Petunjuk dan Rahmat bagi orang-orang yang beriman

Allah berfirman : “Wahai manusia, telah datang kepadamu (Al-Quran ) Pemberi nasehat dari Tuhanmu, penyembuh dari apa yang ada didadamu, petunjuk dan Rahmat untuk orang-orang yang beriman”. (Yunus : 57)

Al-Quran adalah nasehat dari Allah, apakah ada nasehat yang lebih baik selain nasehat rabbaniyah? adakah ada nasihat  yang lebih diterima oleh hati dan dlomir daripada nasihat yang terdapat dalam Al-Qur’an? Sesungguhnya nasehat-nasehat manusia walaupun memiliki balaghoh pengaruh yang tinggi, akan lemah berhadapan dengan nasehat Quraniyah atau mendekat darinya. Sekiranya para duat, pemberi nasehat menggunakan nasehat Quraniyah dan mengajarkan kepada umat Islam dengannya, maka akan lebih cepat merasuk ke dalam hati dan memberikan pengaruh kepada prilaku mereka serta memberikan kebaikan pada kehidupan mereka. Jika ada hati yang tidak mau menerima nasehat Quraniyah maka sebenarnya hatinya telah mati sehingga tidak bisa dimanfaatkan kembali.

Nasehat Quraniyah akan melahirkan penyembuh di dalam dada, menyelesaikan apa yang ada di dalam hati dari berbagai penyakit, kotoran dan najis, untuk dikembalikan kepada asalnya, malakukan aktivitas sesuai dengan fitrahnya seperti yang telah Allah tetapkan fitrah tersebut kepada manusia, dan Al-Quran mampu –dengan seizin Allah- menyembuhkan dada dan hati dari berbagai penyakit materi dan jiwa, penyakit syubhat dan syahwat, penyakit mengikuti hawa  nafsu dan penyimpangan, penyakit keraguan dan syirik, penyakit jiwa, penyakit panca indra dan anggota badan lainnya, penyakit politik, ekonomi, akhlak, masyarakat, kehidupan dan kebudayaan.

Dengan pemahaman yang luas dan universal ini, maka kita wajib memperhatikan akan kesembuhan hati, menerimanya dengan lapang dada dan teliti, tidak melemahkan kita atas berbagai penyakit. Maha Benar Allah dengan Firman-Nya : “Dan Kami menurunkan Al-Quran yang terdapat di dalamnya Syifa (Penyembuh) dan Rahmat untuk orang-orang yang beriman”. (Al-Isra : 82).

Dalam ayat dijelaskan bahwa nasehat pada suatu penyakit, kesembuhan Al-Quran untuk umat manusia secara keseluruhan, sebagaimana tahmat dan hidayah-Nya dikhususkan untuk orang-orang yang beriman, karena iman merupakan syarat utama untuk mendapatkan hidayah dan rahmat tersebut.

9. Bashair tahdi (Cahaya Hidayah)

Allah berfirman : “Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu) maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu) maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku Muhammad sekali-kali bukanlah pemeliharamu”. (Al-An’am : 104) Allah juga berfirman : “Inilah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, pemberi petunjuk dan Rahmat bagi kaum yan gberiman”. (Al-A’raf : 203) Allah berfirman : inilah bukti-bukti yang nyata untuk manusia petunjuk dan rahmat bagi kaum  yang yakin”. (Al-Jatsiah : 20)

Dan inilah bukti-bukti Al-Quran; Pemberi petunjuk yang diberikan kepada manusia seluruhnya, namun bukti ini tidak bisa difahami kecuali dengan hati yang hidup, sehingga dirinya memiliki semangatan dalam berinteraksi dengannya, dan petunjuk dengannya dan memberi hidayah atas asasnya. Sesungguhnya setiap tubuh memiliki mata yang digunakan untuk melihat, hati memliki bashair yang dapat menerima petunjuk. Mata adalah bagian dari badan sedangkan bashair adalah hati, jika badan dan anggota tubuhnya tidak rusak maka manusia bisa hidup tanpanya, namun jika hati yang rusak maka ia akan buta dan tidak bermanfaat setelahnya kebaikan-kebaikan. Maha Benar Allah dalam Firman-Nya : “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang didalam dada”. (Al-Hajj : 46)

Bashoir Quraniyah yang memberi petunjuk ini dapat diterima oleh hati yang beriman dapat membuka jendela-jendela dan celah-celahnya sehingga imannya, petunjuk, istiqomah dan keyakinannya terus bertambah, adapun hati yang keras dan kufur, maka akan tertutup pintunya di hadapan bukti-bukti ini, tdak ada yang dapat menutupnya selainnya, dan akan tetap tertutup. Maka bagaimanakah hidayah akan masuk ke dalamnya, kecuali akan bertambah kekufuran, najis, kegelapan dan buta. Allah SWT berfirman : “Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata : “Siapakah diantar kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini ?” Adapun orang-orang yang beriman , maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang didal hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir”. (At-Taubah : 124-125)

Kita tutup pembicaraan tentang karakteristik, nama-nama, sifat-sifat, pengaruh-pengaruh dan nilai-nilainya dengan ayat ini yang  menjelaskan tabiat Al-Quran, kehidupan yang produktif dan kegairahan orang-orang beriman dengannya saat mendengar ayat-ayat Al-Quran, menggerakkan hati orang-orang yang beriman, jeli, lemah lembut, pengaruh yang berurutan dari itu semua akan tampak atas anggota badan dan kulit, kemudian hasil dari ini semua adalah petunjuk robbani yang dijadikan sebagai buah keberkahan yang telah matang dari pohon Quraniyah yang kekal. Allah berfirman : “Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air dibumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan,kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Maka apakah orang-orang yanr dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu h atinya untuk mengingat Allah. Merek aitu dalam kesesatan yang nyata. Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetear karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.d an barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya”. (Az-Zumar : 21-23)

Agar bacaan Al-Quran kita berkualitas dan bermanfaat, dan dapat memberikan nilai dan ganjaran dari hasil tadabbur kepadanya, serta memberikan pengaruh positif dan istiqomah kepadanya, sehingga dapat mengamalkannya seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya serta para salafus salih, maka selayaknya memperhatikan terlebih dahulu beberapa adab dan etika yang mesti dijalani dan komitmen dengan aturan-aturannya; baik sebelum atau saat membaca Al-Qur’an.

Sebagian ulama banyak memberikan masukan tentang adab-adab dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, yang mana hal tersebut mereka dapati dari hadits-hadits Rasulullah saw dan sirah –sejarah- para sahabat, begitupun yang mereka dapati dari hasil interaksi mereka dengan Al-Qur’an, dan pengalaman mereka yang berharga dalam mentadabburkan Al-Qur’an.

Para ulama yang menyusun cara membaca Al-Quran, juga menjabarkan beberapa adab-adab dan sesuatu yang dibolehkan dalam membaca Al-Qur’an dan memberikan peringatan dari hal-hal yang makruh. Dan diantara ulama terkenal yang mempunyai pehatian terhadap adab-adab ini adalah Hujjatul Islam; Abu Hamid Al-Ghozali. Beliau berkata dalam kitabnya “Ihya Ulumuddin”; ada sepuluh adab dalam membaca Al-Quran untuk bisa dijadikan amalan zhahiri, dan sepuluh lainnya sebagai amalan bathini yang harus diterapkan oleh pembaca Al-Qur’an.

Dan diantara ulama lainnya, Imam An-Nawawi yang menyusun kitab yang begitu indah dan bermanfaat yaitu “At-Tibyan Fi Adabi Hamlatil Quran” ; dalam dua bab; lima dan enam beliau mengkhususkan pembahasan tentang adab-adab membaca Al-Quran

Begitupan Imam Suyuthi menyebutkan apa yang disebutkan Imam Al-Ghozali dan An-Nawawi tentang Adab-adab membaca Al-Quran, sehingga beliau dapat menyusun kitab yang berjudul : ”Al-Itqon fi Ulumul Quran” bebrapa bagian dari adab-adab membaca.

Adapun Adab-adab dalam membaca Al-Qur’an adalah sebagai berikut :

1. Memilih waktu yang cocok untuk membaca Al-Quran, dan seperti yang Allah telah tampakkan kepada para hamba-Nya, sehingga turun di dalamnya Limpahan Rahmat, adapun waktu  yang cocok adalah sepertiga terakhir di waktu malam hari yaitu waktu sahur, kemudian yang lainnya pada siang hari.

2. Memilih tempat yang cocok seperti masjid sebagai salah satu dari rumah Allah, atau di pojokan dari bagaian rumahnya yang sengaja disediakan untuk ibadah, sehingga terhidar dari halangan-halangan, kesibukan-kesibukan lain dan suara gaduh, hendaknya menjauh dari kebisingan, teriakan dan pembicaraan tentang dunia, permainan dan canda anak-anak. Dan sangat baik jika membacanya di tengah kebun yang rindang, atau dekat pohon bunga yang harum dan pemandangan-pemandangan yang menyegarkan. Boleh juga membaca Al-Quran di tengah kegaduhan dan keramaian seakan ia ingin memperlihatkan kepada yang lainnya, atau sambil jalan di jalan raya, atau saat mengendarai mobil atau kendaraan lainnya, walaupun tadabbur dalam kondisi demikian sangat sedikit.

3. Memilih tempat duduk yang cocok, keadaan yang khusus dan perkumpulan orang-orang saleh sehingga ia dapat merasakan kehadiran Allah. Dan sehingga dapat membangkitakan ubudiyahnya kepada Allah, menampakkan ketundukan dan kerendahan hatinya. Jalsah  yang paling baik bagi pembaca Al-Quran adalah : menghadap kiblat, sambil duduk seperti saat orang melakukan duduk tahiyat dalam shoalt –guna menampakkan jalsah ubudiyah- dan jika merasa letih dari jalsah ini, maka tetap diusahakan dengan posisi lain yang cocok dan menghadap kiblat. Dan ia berhak menentukan jalsah ini semaunya sehingga menampakan akan penghormatannya terhadap Al-Quran, kerendahan hati dan ketundukannya kepada Allah.

4. Suci lahiriyah; yaitu harus suci dari junub –hadats besar-, dan bagi wanita harus suci lebih dahulu dari junub, haid dan nifas, dan diutamakan juga suci dari hadats kecil yaitu dengan selalu dalam keadaan berwudlu, agar dapat merasakan pertemuan dengan Allah. Boleh juga membaca Al-Quran –baik untuk ibadah, manghafal atau belajar dan mengajar- tanpa harus berwudlu, karena tidak ada dalil dari Al-Quran yang menegaskan akan hal itu, begitupun dari hadits-hadits Nabi yang shohih tidak mensyaratkan demikian. Para ulama juga memberikan fatwa bagi seorang wanita yang punya gairah belajar dan mengajar –guru atau murid- dalam membaca Al-Quran untuk belajar dan mengajar walaupun dalam keadaan haid atau nifas atas dasar darurat”.

5. Mensucikan sarana-sarana digunakan untuk membaca Al-Quran, membersihkan hal-hal yang berhubungan dengan kemaksiatan, dosa dan kemungkaran, karena kebersihan dan kesucian tempat merupakan syarat mendapatkan manfaat ! bagaimana seseorang bisa baik membaca dan membersihkan, mentadabburkan dan memahaminya dengan mata yang berhadapan dengan kotoran ? atau dengan telinga yang dikotori suara kemungkaran dan seruling syetan ? atau dengan lisan yang berlumuran dengan najis ghibah, namimah –adu domba-, dusta, olok-olok, penghinaan, dan pelecehan ? bagaimana mungkin seseorang bisa berinteraksi padahal hatinya terkunci, tertutup, terdapat tembok penghalang dari syubhat-syubhat, syahwat, kecendrungan berbuat maksiat dan kemungkaran, mendekati perbuatan tercela dan haram, dirusak oleh penyakit dan amal riya, ujub dan takabbur ?

Al-Quran seperti air hujan, hujan tidak akan memberi pengaruh pada bumi yang tandus dan bebatuan, tidak bisa hinggap diatasnya kecuali debu-debu yang beterbangan, demikian juga Al-Quran harus turun pada lingkungan yang baik agar dapat berinteraksi dengannya, memberi pengaruh dengannya dan hidup di bawah naungannya, yaitu panca indra dan hati.

6. Menghadirkan niat saat membaca Al-Qur’an, ikhlas karena Allah dan menjauhkan diri dari keinginan duniawi, agar dapat memperoleh ganjaran dalam membaca, mengamalkan dan beribadah dengannya, karena setiap amal bergantung pada niatnya, dan Allah Maha Kaya tidak butuh akan kemusyrikan dan agar juga mendapat memahami Al-Quran dengan baik. Karena Ilmu, pemahaman dan tadabbur merupakan ni’mat dari Allah dan Rahmat-Nya, sedangkan Rahmat Allah tidak bisa bercampur dengan kemaksiatan, kedustaan dan kemungkaran !!

7. Mengembalikan jiwa kepada Allah dan berlindung dengan-Nya, memohon naungan-Nya, menerimanya dengan penuh keridhaan, atau seperti orang yang tenggelam memohon pertolongan, berlepas diri dari setiap daya dan upaya, atau ilmu dan akal, pemahaman dan kecerdasan, berkeyakinan dengan penuh bahwa semua itu tidak bermanfaat jika Allah tidak menganugrahkan kepadanya ilmu dan pengetahuan.

8. Membaca isti’adzah dan basmalah, sebagaimana Firman Allah : “Maka jika engkau akan membaca Al-Quran mohonlah perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk yaitu dengan membaca “Audzubillah minassyaitanirrajim”. (An-Nahl : 98) menghidupkan makna “Istiadzah”, mentadabburkannya, mengakuinya dengan jujur dalam melafadzkannya, agar terealisasi makna istiadzah secara mutlak kepada Allah, agar Allah memberikan perlindungan kepadanya dari tipu daya syetan sebagai janji Allah kepada orang mu’min jika membaca Istiadzah –baik manusia maupun jin- sehingga dia akan dilindungi dan dijauhkan darinya : “Dan apabila kamu membaca Al-Quran niscaya Kami  adakan antara kamu dan orang-orang yang beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Quran, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya”. (Al-Isra : 45-46)

Adapun Basmalah merupakan bacaan pertama saat ingin membaca Al-Quran pada setiap surat -kecuali surat baraah- dan boleh juga dibaca saat memulai bacaan dipertengahan surat, atau dipotongan ayat, jika saat membaca Al-Quran terhenti sejenak lalu ingin memulainya kembali. Membaca Al-Quran merupakan pintu memohon barokah dan memulai dengan menyebut nama Allah, mengharap limpahan-Nya, kebekahan-Nya dan Rahmat-Nya.

9. Mengosongkan diri dari kesibukan dan dari menyelesaikan hajat lainnya, seseorang yang membaca Al-Qur’an hendaknya –saat membaca- tidak dalam keadaan lapar, dahaga dan dalam keadaan bimbang dan cemas, dalam keadaan dingin yang dahsyat atau panas yang menyiksa, duduk di depan televisi, matanya membaca Al-Quran sedangkan telinganya mendengarkan televisi, atau sambil menunggu makanan sedangkan jiwanya dan perasaannya sibuk menerima hidangan tersebut.

10. menghadirkan akal dan fikiran saat membaca Al-Quran dan memfokuskannya kepada Al-Quran saja, menghayalkan akan ayat-ayat yang dibaca, mencegahnya dari keterlantaran dan mengawang-awang dari fenomena-fenomena kehidupan, menggunakan segala celah pengetahuan, sarana tadabbur, perangkat talaqqi dalam jiwa dan perasaan, indra, akal, hati dan khayalan. Memfokuskan diri hanya kepada Al-Quran saja.

11.  Menghadirkan kekhusyuan yang laik menuju Kitabullah, saat membacanya, berusaha mendapatkan pengaruh positif dan interaksi, memperhatikan sebagain tauladan orang-orang yang khusyu dan merasuk saat membaca Al-Quran dari orang-orang salih.

12.  menangis saat membaca, khususnya pada ayat-ayat tentang azab, atau tentang hari kiamat, yaitu saat melintasi ayat tentang peristiwa hari kiamat dan hari akhir, fenomena dan ketakutan yang akan terjadi didalamnya. Memperhatikan kekurangan dalam melaksanakan hak-hak dan berlebihan akan larangan Allah. Jika tidak bisa menangis maka usahakanlah berpura-pura menangis dan jika tidak mempu juga untuk menangis begitupun pura-pura menangis maka usakanlah untuk menangis dalam diri sendiri yaitu dalam hati.

13.  mengagungkan Allah Yang telah menurunkan Al-Quran, merasakan akan kemuliaan-Nya, limpahan karunia dan rahmat-Nya, yang telah memerintahkan kepada hamba-Nya yang lemah. Pengagungan ini merupakan seruan –secara global- untuk mengagunkan Firman-firman-Nya, menerimanya untuk bisa berinteraksi, bertadabbur, bertarbiyah dan berkomitmen dengannya. Seakan dengan pengagungan kepada Allah dan dan Firman-Nya maka si pembaca komitmen dengan adab-adab tilawah lainnya dan menghadirkannya. Dan sarana yang paling penting untuk tilawah adalah dengan bekal yang besar dari nilai-nilai, hakikat-hakikat, pelajaran-pelajaran dan petunjuk-petunjuknya.

14.  Berhenti sejenak pada ayat-ayat yang dianggap perlu untuk ditadabburkan, memahami maknanya dan mengenal hakikat-hakikat yang terkandung di dalamnya, memperhatikan ilmu dan pengetahuan, pelajaran-pelajaran dan petunjuk-petunjuknya. Karena hal tersebut merupakan tujuan dari membaca Al-Quran, dan tidak akan bermanfaat tilawah jika tidak diiringi tadabbur ? tidak melahirkan pemahaman ? dan tidak memberikan kebaikan ?

15.  Hanyut dan terpengaruh dengan ayat-ayat yang sesuai dengan tema dan alurnya, bergenbira saat membaca ayat-ayat yang berkenaan dengan kabar gembira, harapan dan cita-cita, sedih dan menangis saat mendapatkan ayat tentang peringatan, ancaman dan kecaman, senang ketika membaca ayat-ayat tentang ni’mat, takut dan khawatir saat melintasi ayat tentang azab, merenungi diri saat menemui ayat berkenaan dengan sifat-sifat orang beriman agar berusaha melengkapi diri dari kekurangan. Dan ayat-ayat tentang sifat orang-orang kafir agar berusaha untuk menghindar dan menjauhinya. Membuka seluruh indranya ketika membaca ayat tentang perintah, kewajiban –taklif- rabbani  untuk bisa diamalkan, dan terhadap larangan dan hal-hal yang haram agar bisa dijauhkan.

Jika membaca ayat tentang kenikmatan dia berharap kepada Allah menjadi pemiliknya, jika membaca ayat tentang azab memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhi darinya, dan menjawab terhadap pertanyaan-pertanyaan Al-Quran, mengamalkan segala perintah dn taklif –kewajiban, berlepas diri dari kekufuran dan sifat-sifatnya, pakewuh terhadap orang –orang beriman dan menjadikan mereka sebagai pemimpin.

16.  Pembaca hendaknya merasa bahwa dirinyalah seakan yang diajak bicara –objek- dari ayat yang dibacanya, dia yang diberikan atas taklifat –kewajiban-, menghidupkan perasaan ini, mencari hasil-hasil dan pengaruhnya terhadap dirinya dan persendiannya. Karena itu, boleh berhenti lama saat berhadapan dengan ayat tentang apa yang di minta dan dilarang. Berhenti sejenak saat membaca ayat yang berbunyi : “Wahai orang-orang yang beriman” “Wahai sekalian manusia” “Wahai manusia” membuka celah-celah hatinya untuk dapat menerima, berinteraksi dan memenuhi panggilan, karena setelah seruan tersebut bisa berupa perintah yang harus dilaksanakan atau larangan tentang yang harus dijauhi, atau celaan yang harus diperhatikan atau peringatan yang harus dijadikan pelajaran, atau taujih –arahan- menuju kebaikan dan hidayah yang harus diraih segera.

17.  Menghindarkan diri dari tembok  yang dapat menghalangi untuk memahami dan mentadabburkan Al-Quran, seperti bertolak belakangnya adab dan kaedah seperti  yang telah disebutkan sebelumnya, karena jika terjadi pencampuaran dengan yang bertentangan maka muncul hijab yang dapat menutupi antara si pembaca dan Al-Quran itu sendiri, penutup tirai yang tebal yang dapat menutupi cahaya Al-Quran dan petunjuknya.

18.  Bagi yang mendengar dan mentadabburkan Al-Quran terhadap bacaan orang lain atau di dengar melalui radio atau kaset rekaman, hendaknya juga memperhatikan etika dan adab-adab yang telah disebutkan, lebih giat lagi untuk mendengarkannya, berdiam diri, tadabbur dan talaqqi, jangan membuka kedua telinga saja namun juga membuka segala celah-celahnya seperti talaqqi, interaksi di dalam dirinya, baik indra dan perasaan, khusyu’ dalam mendengarkannya, terutama yang terkait dengan arahan Rabbani yang lurus sesuai dengan Firman Allah SWT : “Dan Apabila dibacakan ayat-ayat Al-Quran maka dengarkanlah dan diamlah agar kalian dirahmati”. (Al-A’rof : 204)

Mentadabburkan  Al-Quran merupakan kewajiban dan berinteraksi dengannya merupakan dharuri -keharusan –, sedangkan hidup di bawah naungannya merupakan keni’matan yang tidak dapat dimiliki kecuali orang yang dapat merasakannya, keni’matan yang memberikan keberkahan hidup, mengangkat dan mensucikannya. Hal ini tidak akan dirasakan kecuali bagi siapa  yang benar-benar hidup dibawah naungannya, merasakan berbagai keni’matan yang bisa dirasakan, mengambil dari pengaruh-pengaruhnya dari hal-hal  yang dapat diraih, mendapatkan darinya kelembutan, kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, kenyamanan dan kelapangan. [1]

Disini kami ingin memberikan kepada pembaca yang budiman ungkapan-ungkapan yang baik dan bermutu tentang pengalaman nyata yang dilakukan oleh seorang pemikir muslim kontemporer Asy-Syahid Sayyid Qutb yang terekam dalam kitabnya Fi Dzilali Al-Quran, kami akan meringkas ungkapan-ungkapan tersebut sesuai dengan kebutuhan zaman dan dapat memberikan penerangan bagi para pembaca jalan yang benar dalam rangka mentadabburkan Al-Quran dan memahaminya, menelaah teori yang benar dalam berinteraksi dengan Al-Quran, beraktivitas dan hidup di bawah naungannya.

Teori ini harus diketahui oleh kaum muslimin, agar mereka dapat memahami kunci pergerakan dalam membuka rahasia-rahasia pergerakan Al-Quran yang sangat berharga. Kami menyerukan seperti yang telah diserukan oleh guru kita Ustadz Sayyid Qutb, dengan teori yang baru dalam memahami, mentadabburkan dan menafsirkan Al-Quran, yaitu teori Tafsir al-haraki “Tafsir Pergerakan” yang oleh Ustadz Sayyid Qutb dianggap sebagai puncak dan pemberi penjelasan akan dasar-dasarnya, peletak madrasah “tafsir pergerakan” yang menjadikan Al-Quran hidup dengan nyata dan memberi pengaruh positif bagi kaum muslimin kontemporer. Yang mana Allah telah menganugrahkan kepadanya kunci yang fundamental “kunci pergerakan” yang dapat membuka rahasia-rahasia Al-Quran, yang ingin dihadirkan dalam kitabnya Fi Dzilal Al-Quran. [2]

Sesungguhnya masalah ini –dalam memahami petunjuk-petunjuk Al-Quran dan sentuhan-sentuhannya- bukanlah terletak dalam memahami lafazh-lafazh dan kalimat-kalimatnya, dan bukan pada tafsir Al-Qur’an – sebgaimana yang kita sangka !- . Namun masalahnya adalah kesiapan jiwa dengan menghadirkan perasaan, indra dan pengalaman : persis seperti kesiapan perasaan, indra dan pengalaman saat diturunkannya Al-Quran, yang selalui menyertai kehidupan jamaah muslimah yang bergelut dalam peperangan, bergelut dalam jihad; jihadun nafs –jihad melawan hawa nafsu-, dan jihadun nas –jihad melawan manusia-; jihad melawan nafsu angkara dan jihad melawan musuh; Dengan melakukan usaha dan pengorbanan, takut dan harap, kuat dan lemah, jatuh dan bangkit; Dalam lingkungan kota Mekkah yang keras dan saat da’wah berkembang; dalam kondisi minoritas dan lemah serta asing di tengah-tengah umat yang kafir; di tengah lingkungan yang terkucil dan terkepung, lapar dan sakit, tertekan dan terusir, dan terembargo –terputus- dari berbagai sarana kecuali hanya mengharap dari Allah. Atau di tengah dan lingkungan Madinah : lingkungan pergerakan pertama bagi masyarakat muslim yang berada dan menghadapi antara tipu daya, kemunafikan, penuh kedisiplinan dan kebebasan menunaikan perintah Allah; suasana perang Badar, perang Uhud dan perang Khondaq serta perjanjian Hudaibiyah. Pada suasana “Al-Fath” (kemenanagan), saat perang Hunain, perang Tabuk. Pada saat pertumbuhan umat Islam yang pesat, perkembangan sistem kemasyarakatan yang cepat dan persatuan yang hidup antara perasaan, kemaslahatan dan prinsip dalam memuliakan pergerakan dan dalam naungan sistem.

Dalam suasana seperti itu semua ayat-ayat Al-Quran diturunkan, sehingga memberi kehidupan yang baik dan faktual; melalui kalimat-kalimat yang penuh hikmah, ungkapan-ungkapan yang penuh pelajaran,petunjuk-petunjuk yang penuh berkah serta sentuhan-sentuhannya yang penuh dengan kelembutan.

Dalam suasana seperti itu dan dalam menyertai awal pergerakan pelaksanaan kehidupan Islam yang baru; Al-Quran diturunkan dengan membawa kandungan ayat yang membukakan hati yang tertutup dan melembutkan jiwa yang keras, dan memberi petunjuk pribadi yang sesat; memberikan rahasia-rahasianya, menebarkan keharuman, dan membimbing kepada petunjuk dan cahaya” [3]

Dari paargraf diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa pokok utama yang harus kita jadikan pegangan dalam menafisrkan Al-Quran dan mentadabburkannya adalah sebagai berikut :

1. Membekali diri dengan persiapan perasaan, pengetahuan –indra- dan pengalaman dalam memahami nash-nash Al-Quran dan merasakan sentuhan-sentuhannya.

2. Mempokuskan diri –dengan instink, perasaan dan indranya- pada suasana dan lingkungan saat diturunkannya Al-Quran, baik lingkungan di Mekkah atau di Madinah, agar dapat menemukan jejak rahasia dan pengaruh Al-Quran dalam memberikan petunjuk kepada generasi salaf.

3. Memperhatikan sikap para sahabat –lingkungan Mekkah dan Madinah- dengan memahami dan berinteraksi dengan Al-Quran serta kehidupan mereka bersama Al-Quran.

4. Menenliti beberapa tujuan utama Al-Quran, metode aktual pergerakan yang di celupkan terhadap kehidupan umat Islam, serta diturunkannya Al-Quran secara realita; dengan sungguh-sungguh, sadar dan giat.

5. Mengamalkannya dan menerapkannya dalam kehidupan da’wah dalam jihad; seperti halnya yang diterapkan oleh para sahabat –khususnya pada periode “Mekkah”- dan pergerakan teoritis jihad bersama Al-Quran, mensibukkan diri, perasaan dan angoota tubuh lainnya dengan Al-Qur’an, dan memahami kondisi jiwa yang berat saat dan siksaan diterima saat menerapkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

6. Menerima Al-Quran dengan sepenuh hati, sehingga didapati darinya jawaban yang nyata dan obat penyembuh dari segala permasalahan yang dihadapi dan penyakit yang diderita; baik jiwa, ruh dan jasad serta akal fikiran.

Jika kita pindahkan perhatian kita kepada “Fi Dzilal Al-Quran” untuk membahas ungkapan-ungkapan yang menjelaskan teori pergerakan dalam mentadabburkan dan menafsirkan Al-Quran. Maka akan kita dapatkan banyak sekali hal-hal yang terkait dengan kenikmatan hidup bersama Al-Qur’an.

Ustadz Sayyid Qutb menyeru kepada kita untuk hidup di bawah naungan Al-Quran –sebagaimana ia hidup di dalamnya- untuk menemukan rahasia, tabiat dan kunci-kuncinya.

Hidup di bawah naungan Al-Quran, bukan berari mempelajari Al-Quran dan membacanya serta menelaah ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya.  Namun yang dimaksud disini adalah hidup di bawah naungna Al-Quran: Manusia berada di bawah naungannya; dalam berbagai suasana dan kondisi; dalam bergerak, saat lelah, saat bertarung, dan saat sedih serta saat bergembira dan senang. Seperti yang terjadi pada masa awal turunnya Al-Quran..!! ;Hidup dengannya dalam menghadapi kejahiliaan yang menggejala dipermukaan bumi saat ini; dalam hatinya, niatnya dan geraknya; terpatri dalam jiwanya yang selalu bergelora akan ruh Islam; dalam jiwa umat manusia dan dalam kehidupannya dan kehidupan seluruh manusia juga.

Hidup yang berhadapan dengan kejahiliaan; dengan berbagai penomena-fenomenanya, tindak-tanduknya dan adat istiadatnya; dengan seluruh geraknya dan tekanan yang dilancarkannya, bahkan -jika perlu- perang dengannya sebagai usaha untuk mempertahankan aqidah rabbaniyah, sistem rabbani, segala methode dan gerak yang bermanhaj robbani.

Inilah lingkungan Al-Quran yang mungkin manusia bisa hidup di dalamnya, merasakan kenikmatan hidup di dalamnya, karena dengan lingkungan demikianlah Al-Quran turun, sebagaimana dalam lingkungan begitu pula Al-Quran diamalkan. Bagi siapa yang tidak mau menjalani kehidupan seperti itu, maka dirinya akan jauh dan terkucil dari hidayah Al-Quran, walaupun mereka tenggelam dalam mempelajarinya, membacanya dan menelaah ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya.

Usaha yang mesti kita kobarkan untuk membangun jembatan antara orang-orang yang mukhlis dan Al-Quran bukanlah tujuan kecuali setelah melintasi jembatan tersebut hingga sampai pada satu tempat lain dan berusaha menghidupkan lingkungan Al-Quran secara baik; dengan amal dan pergerakan. Hingga pada saatnya nanti mereka akan merasakan keberadaan Al-Quran; menikmati kenikmatan yang telah Allah anugrahkan kepada siapa yang Dia kehendaki. [4]

Dan menunjukkan kepada kita cara yang terbaik dalam membaca, mentadabburkan, dan mendapatkan rahasia-rahasia dan kandungan Al-Quran, beliau berkata : “Sesungguhnya Al-Quran harus dibaca, para generasi umat islam hendaknya menelaahnya dengan penuh kesadaran. Harus ditadabburi bahwasannya Al-Quran memiliki arahan-arahan yang hidup, selalu diturunkan hingga hari ini guna memberikan solusi pada masalah yang terjadi saat ini dan menyinari jalan menuju masa depan yang gemilang. Bukan hanya sekedar ayat dibaca dengan merdu dan indah, atau sekedar dokumentasi akan hakekat peristiwa yang terjadi pada masa lampau.

Kita tidak akan bisa mengambil manfaat dari Al-Quran ini sampai kita mendapatkan darinya arahan-arahan tentang kehidupan realita kita pada saat ini dan mendatang, sebagaimana yang telah didapati oleh para generasi islam pertama, saat mereka mengambil dan mengamalkan arahan-arahan dan petunjuk-petunjuk Al-Quran dalam kehidupan mereka. Saat kita membaca Al-Quran dengan penuh penghayatan, maka kita akan dapati apa yang kita inginkan; Kita akan dapati keajaiban yang tidak terbetik dalam jiwa kita yang pelupa ! kita juga akan dapati kalimat-kalimatnya yang teratur, ungkapan-ungkapannya yang indah, dan petunjuk-petunjuknya yang hidup, mengalir dan bergerak serta mengarahkan menuju petunjuk jalan yang lurus” [5]

Disebutkan –dalam pembukaan surat Ali Imron sebagai surat peperangan dan pergerakan- tentang kenikmatan hidup dengan Al-Quran dan syarat-syarat untuk mencapai dan meraihnya. Akan tampak disana kerugian yang mendalam antara kita dan Al-Quran jika kita tidak berusaha mengamalkannya secara baik, menghadirkan dalam persepsi kita bahwa Al-Quran ini diberikan kepada umat yang giat dan punya kesemangatan hidup, memiliki eksistensi diri dengan baik, dan menghadapi berbagai peristiwa-peristiwa yang menimpa dalam kehidupn umat ini.

Akan tampak disana dinding pemisah yang sangat tinggi antara jiwa kita dan Al-Quran, selama kita membacanya atau mendengarnya seakan ia hanya sekedar bacaan ibadah saja dan tidak memiliki hubungan denga realita kehidupan manusia saat ini.

Mukjizat Al-Quran yang mengagumkan meliputi, saat dia diturunkan guna menghadapi realita tertentu dan umat tertentu, pada masa dari masa-masa sejarah yang tertentu, khususnya umat ini yang berada dalam menghadapi perang  yang sangat besar yang berusaha mengubah sejarah ini dan sejarah umat manusia seluruhnya. Namun –besamaan dengan ini- Al-Quran diperlakukan, dihadirkan dan dimiliki hanya untuk menghadapi kehidupan modern saja, seakan-akan dia diturunkan pada saat menanggulangi jamaah Islam pada permasalahan yang sedang berlangsung, dalam peperangan yang terjadi dengan jahiliyah disekitarnya.

Agar kita dapat meraih kekuatan yang dimiliki Al-Quran, mendapatkan hakekat yang terdapat di dalamnya dari kehidupan yang menyeluruh, meraih petunjuk yang tersimpan untuk jamaah muslimah pada setiap generasi. Maka selayaknya kita harus menghadirkan persepsi kita seperti generasi Islam pertama saat diturunkan kepada mereka Al-Quran pertama kali sehingga mereka bergerak dalam realita kehidupan mereka secara nyata.

Dengan teori ini kita akan dapat melihat kehidupan yang bergerak di tengah kehidupan generasi Islam pertama, dan begitupun dengan kehidupan kita saat ini; kita  merasakan bahwa Al-Qur’an akan selalu bersama kita saat ini dan nanti –masa mendatang-, dan Al-Qur’an bukan hanya sekedar bacaan saja yang jauh dari kehidupan nyata yang terbatas. [6]

“Bahwa nash-nash Al-Quran tidak akan dapat difahami dengan baik hanya melalui pemahaman dari petunjuk-petunjuk secara bayan dan bahasa saja, namun yang pertama kali -dan sebelum yang lainnya- yang harus dilakukan adalah dengan merasakan kehidupan dalam suasana sejarah pergerakan dan dalam realita positif, dan menghubungkannya dengan realita kehidupan nyata. Karena Al-Qur’an tidak akan terbuka rahasianya hanya melalui pandangan yang jauh ini kecuali dalam wujud persesuaian realita sejarah, sehingga akan tampak sentuhan-sentuhannya yang kontinyu, objektivitasnya yang terus menerus. Namun bagi siapa yang bergerak dengan ajarannya saja,  yaitu mereka yang hanya membahas nash-nash Al-Quran dari segi bahasa dan bayan saja, maka hanya akan mendapat luarnya saja, sementara bagian dalamnya jauh dari hatinya. [7]

Sesungguhnya Al-Quran memiliki tabiat pergerakan dan misi yang nyata, hidup dan bergerak, dari sini berarti Al-Quran  tidak akan bisa dirasakan dan dinikmati dengan baik kecuali bagi siapa yang bergerak secara benar dan pasti dalam realita kehidupannya. Beliau berkata : “sesungguhnya Al-Qur’an tidak bisa dirasakan kecuali yang turun dan bergelut dalam kancah peperangan ini, bergerak seperti yang terjadi sebelumnya saat pertama kali diturunkan Al-Quran. Sedangkan mereka Mempelajari Al-Quran dari segi bayan atau sekedar seninya saja, maka tidak akan dapat memiliki hakekat kebenaran sedikitpun darinya hanya sekedar duduk-duduk, berdiam diri dan merasa tenang, namun jauh dari kancah pertempuran dan jauh dari pergerakan.

Bahwa hakekat Al-Quran ini, selamanya tidak akan dapat direngkuh oleh orang-orang yang malas; dan bahwa rahasia yang terkandung didalamnya tidak akan muncul bagi siapa yang terpengaruh dengan ketentraman dan ketenangan beribadah kepada selain Allah, bergaul untuk thogut-thogut musuh Allah dan umat Islam. [8]

Bahwa pengertian diatas dikuatkan dengan pernyataan lainnya : “Demikianlah Al-Quran akan terus bergerak pada hari ini dan esok –masa mendatang- dalam memunculkan kebangkitan Islam, menggerakannya dalam jalan da’wah yang terprogram”.

Gerakan ini tentunya butuh kepada Al-Quran  yang memberikan ilham dan wahyu. Ilham dalam manhaj haraki, konsep dan langkah-langkahnya, sedangkan wahyu mengarahkan konsep dan langkah tersebut jika dibutuhkan, dan memberi kekuatan batin terhadap apa yang akan dihadapi di penghujung jalan.

Al-Quran –dalam persepsi ini- tidak hanya sekedar ayat-ayat yang dibaca untuk meminta berkah, namun didalamnya berlimpahan kehidupan yang selalu turun atas jamaah muslimah yang bergerak bersamanya, mengikuti arahan-arahannya, dan mengharap ganjaran dan janji Allah SWT.

Inilah yang kami maksud bahwa Al-Quran tidak akan terbuka rahasia-rahasianya kecuali bagi golongan muslim yang berinteraksi dengannya untuk merealisasikan petunjuk-petunjuknya di alam realita, bukan bagi mereka yang hanya sekedar membacanya untuk meminta berkah ! bukan bagi mereka yang membacanya hanya untuk belajar seni dan keilmuan, dan juga bukan bagi mereka yang hanya mempelajari dan membahas dalam bidang bayan saja !

Mereka semua sama sekali tidak akan mendapatkan dari Al-Quran sesuatu apapun, karena Al-Quran tidak diturunkan bukan untuk sekedar dipelajari dan dijadikan mata pelajaran namun sebagai pelajaran pergerakan dan taujih –pemberi petunjuk dan arahan-.” [9]

Karena itu, bersegeralah memperbaiki pemahaman Al-Quran dan mentadabburkannya, berinteraksi dengannya seputar teori pergerakan, menggunakan kunci-kunci yang memberi petunjuk dalam berinteraksi dan mentadabburkan Al-Qur’an. Karena yang demikian sesuai dengan tabiat dasar Al-Quran yang mulia dan karakteristiknya yang unik. Dan ketahuilah bahwa yang demikian itu adalah “Realita pergerakan” sebagai kunci dalam berinteraksi dengan Al-Kitab yang mengagumkan dan mukjizat yang indah dan memberi petunjuk.

”Karena itu gerakan Islam akan selalu berhadapan –yang menjadi kebutuhan dan tuntutan- setiap kali berulang masa ini (masa penghalangan da’wah Islam di Mekkah antara tahun kesedihan dan Hijrah), seperti yang dihadapi gerakan Islam sekarang di era modern ini.

Dan yang demikian harus disertai dengan keadaan, situasi, kondisi, kebutuhan, dan tuntuan realita amaliyah seperti saat diturunkannya Al-Quran pertama kali. Dan hal tersebut guna mengetahui arah tujuan nash dan aspek-aspek petunjuk-petunjuknya, meneropong sentuhan-sentuhannya yang selalu bergerak di tengah kehidupan yang selalu berhadapan dengan realita sebagaimana makhluk hidup yang bergerak –berinteraksi dengannya atau berseberangan dengannya. Pandangan ini merupakan perkara yang sangat urgen guna memahami hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Quran dan merasakan kenikmatan bersamanya. Sebagaimana ia juga sangat penting untuk dapat memanfaatkan petunjuk-petunjuknya setiap kali berulang suasana dan situasi di masa sejarah yang akan datang, khususnya zaman yang sedang kita hadapi saat ini, saat kita bergelut dalam pergerakan da’wah islam.

Bahwa tidak akan ditemukan pandangan ini kecuali mereka yang bergerak secara pasti dengan agama ini dalam menghadapi dan memberantas kejahilian modern, karena umat akan menghadapi peristiwa, suasana dan situasi seperti yang di hadapi oleh generasi awal da’wah dan kaum kaum muslimin bersamanya. [10]

____________________________________

Maraji’

[1]. lihat: Muqaddimah Fi Zhilalil Quran dan Biodata Sayyid Qutb pada surat Al-A’raf.

[2]. Lihat: Al-Manhaj Al-Haraki Fi Az-Zhilal.

[3]. Lihat: Khasais At-Tashawur Al-Islami, Sayyid Qutb, hal. 7-8

[4]. Lihat: Fi Zhilalil Qur’an, jil. 2, hal. 1016-1017

[5]. Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 1, hal. 61

[6]. Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 1, hal. 348-349

[7]. Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil 3,  hal. 1453

[8]. Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 4, hal. 1864

[9]. Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 4, hal. 1948

[10]. Fi Zhilalil Quran, jil. 4, hal. 2121-2122

Bagi pembaca Al-Quran hendaknya lebih dahulu memperbaiki bacaannya, pemahamannya, dan bertadabbur di dalamnya, berhenti sejenak untuk menafsirkannya dengan singkat yang memiliki hubungan dengan petunjuk, memahami bagaimana berinteraksi dengannya, menelaan dan hidup dengannya..kaena itu hendaknya ia mengikuti –dalam bacaannya- petunjuk yang telah ditentukan yang memiliki langkah-langkah yang berjenjang dan jelas serta pase yang berkesinambungan. Disini kami mencoba menyebutkan langkah-langkah praktis agar dapat memahami dan berinteraksi dengan Al-Quran, dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan petunjuk.

1. Hendaknya memperhatikan lebih dahulu adab-adab tilawah –yaitu seperti yang telah kami jabarkan inti-intinya sebelumnya- merenungkannya, komitmen terhadapnya dan menerapkannya semaksimal mungkin, agar dia dapat masuk dan mengrungi alam Al-Quran, tentram hidup dibawah naungan dengan Al-Quran, menghadirkan nilai-nilai dan hakekat-hakekat yang terkandung di dalamnya, menyingkap petunjuk-petunjuk dan arahan-arahannya, merasakan naungan dan sentuhan-sentuhannya. Bagi siapa yang tidak komitmen dengan adab-adab tersebut, maka bagaimana bisa menyatu dengan Al-Quran ?.

2. Membaca surat, juz atau potongan ayat dengan tenang, khusu’ dan tadabbur; santai, tidak tergesa-gesa dan tidak terlalu keras. Jangan niatkan diri hanya ingin menyelesaikan bacaannya saja dan menghatamkan satu juz, atau tujuannya berapa halaman telah dibaca dan berapa ayat telah dilalui, dan berapa ganjaran yang telah dikumpulkan. Jangan menghayalkan akan perkara ini sehingga dirinya tidak melakukan tadabbur, atau bisa jadi ada tembok tinggi yang menghalangi cahaya Al-Quran yang akan masuk ke dalam hatinya.

3. Berhenti sejenak di depan ayat yang dibacanya, dengan tenang dan penuh ketelitian serta -sebisa mungkin- diulang-ulang, agar dapat mengambil sebagian karunia Allah dari rahasia, ilmu, pengetahuan dan nilai-nilainya. Jangan membaca Al-Quran dengan matanya saja, atau dengan pendengaran dari telinganya saja, namun dibaca oleh seluruh anggota tubuhnya, didengar oleh perasaan dan indranya, dihidupkan dengan seluruh jiwa kemanusiaannya, berinteraksi dengannya untuk mendapatkan pengaruh darinya serta membuka segala sendi kehidupannya.

4. Dirinya harus betul-betul menghayati ayat yang dibaca, mengulangi bacaannya beberapa kali, jangan bosan dengan hal tersebut atau merasa letih, walaupun herus dilakukan dalam waktu lama dan diulang berpuluh-puluh kali. Banyak dari para ulama yang berlama-lama dalam mengamati satu ayat Al-Qur’an yang ada dihadapannya, membacanya di malam hari secara keseluruhan.

5. Menelaah dengan rinci konteks ayat : susunannya, alurnya, maknanya dan kapan dan dimana turunnya, kata-kata  yang asing dan I’rabnya, memperhatikan makna-maknanya, petunjuk-petunjuk dan arahan-arahannya. Dan tidak boleh meninggalkannya ke tempat lain kecuali setelah mendalami betul apa yang dibaca sebelumnya, dan bisa menafsirkan dan memahaminya.

6. Memperhatikan aspek realitas ayat, kesesuaiannya dengan realita dan solusi yang terdapat di dalamnya, dengan menjadikan ayat sebagai tolok ukur untuk menyelesaikan permasalahan hidup, timbangan yang memberikan solusi disekitar permasalahan dan apa yang berhubungan dengannya, cahaya yang menyinari jalan hidupnya. Sekiranya hal tersebut dapat dilakukan secara baik, niscaya dapat mudah mengambil intisari dari ayat yang tidak akan pernah habis, bahkan menambah keagungan Al-Quran.

7. Kembali kepada pemahaman para salafussolih –khususnya para sahabat- terhadap ayat, tadabbur mereka dan kehidupan mereka dengannya, menelaah penerimaan dan interaksi mereka dengan Al-Quran, memperhatikan kondisi, situasi, keadaan dan kebutuhan yang menjadi solusi darinya, merenungkan dan mentadabburkan dari apa yang diriwayatkan dari mereka tentang ungkapan-ungkapan dalam memahami dan menafsirkannya. (lihat materi ini pada judul: Al-Qur’an di mata para nabi, di mata para sahabat dan di mata para tabi’in)

7. Mengungkap pendapat sebagian para mufassirin terhadap ayat Al-Quran, memilih kitab-kitab tafsir yang bermutu dan ilmiyah, original, bagus, sistematis dan terpercaya. Sehingga dapat meluruskan pandangannya terhadap Al-Quran dan merasakan kenikmatan darinya, dan apa  yang telah dikeluarkan dari hukum-hukum, nilai-nilai, petunjuk-petunjuk dan sentuhan-sentuhannya, dan juga dapat menjauhi apa-apa yang bertentangan dengan dasar-dasar keilmuan yang telah ditetapkan oleh para ulama Al-Quran.

jika kita ingin mendapatkan nasehat dengan kitab-kitab tafsir yang berinteraksi dengan Al-Quran maka hendaknya menelaah pada pase pertama terhadap kitab yang ringkas yang memberikan makna ayat-ayat yang asing dalam alur Qurani. Sedangkan kitab tafsir yang baik pada masalah ini dan paling ringkas adalah “Kalimat Al-Quran tafsir dan bayan” Syekh Hasanin Makhluf.

Setelah membaca Al-Quran dan menelaah makna-maknanya dari kitab ini maka hendanya mencari buku tafsir kontemporer yang banyak memberikan apa yang menjadi tuntutan dalam ayat tersebut, dan hal ini tidak akan ditemui kecuali dalam kitab tafsir “Fi Dzilal Al-Quran” As-Syahid Sayyid Qutb. Kemudian menelaah juga kitab tafsir klasik yang banyak memberikan pemahaman tentang ayat-ayat, konteknya, i’rabnya, tempat turunnya dan hukum-hukumnya –dengan bermacam buku sesuai dengan zaman, pendidikan dan sekolah setiap para mufassir mereguk ilmu- bisa juga dengan memilih kitab “Tafsir Al-Quran Al-Adzim” Imam Ibnu Katsir, atau kitab “Al-Jami Li Ahkam Al-Quran” Imam Al-Qurtubi, atau kitab “Fathul Qodir” Imam Asy-Syaukani, atau kitab “Raghaib Al-Quran” Al-Qami An-Naisaburi atau kitab-kitab lainnya.

Al-Ikhwan.net

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s