Mencoba Memperbaiki Diri

Mencoba Memahami Takdir melalui Akal


Secara sederhana, Takdir dapat dijabarkan dalam dua istilah yaitu Qodho dan Qodr, yang dapat diartikan sebagai Ketentuan dan Ukuran. Untuk dapat memulai pembahasan ini, marilah kita bayangkan keberadaan sebuah pohon faktor. Pohon faktor ini berbentuk seperti segitiga, di puncaknya berdiri sebuah angka yang kita sebut ‘1’, yang merepresentasikan keberadaan kita saat ini. Bentuk segitiga ini adalah kerucut dengan puncak tunggal dan membesar di bawah, semakin ke bawah menjadi semakin besar, seiring dengan banyaknya pilihan probabilita dan konsekuensi dari tindakan.

takdir

takdir

Misalnya, kita berada dalam kondisi ‘haus’. ‘Haus’ = ‘1’ di puncak pohon faktor. Kita dapat memilih ‘minum’ (direpresentasikan dengan angka 2) atau ‘tidak minum’ (direpresentasikan dengan angka 2’). Misalnya, karena ‘haus’ (angka 1) maka kita memilih ‘minum’ (angka 2). Karena kita memilih ‘minum’ (angka 2), terjadi penjabaran faktor berikutnya menjadi pilihan minuman, yang dapat dicontohkan dengan beberapa angka; angka 3 = minum air putih, angka 3’ = minum teh, angka 3” = minum kopi, angka 3’” = minum soft drink berkarbonasi. Disini, di lapisan ‘angka 3’, kita bisa menambahkan pilihan sesuai selera kita – misalnya, ditambahkan dengan opsi ‘susu’, ‘wedang jahe’, ‘isotonik’, dan lain sebagainya. 

Taruhlah bahwa kita memilih ‘minum kopi’ (angka 3”). Pilihan ini pun masih bisa dijabarkan lebih lanjut di tataran angka 4 dengan contoh sebagai berikut : 4 = kopi hitam, 4’ = kopi susu, 4”’ = kopi three in one; dan seterusnya. Jika kita memilih ‘4’ yaitu ‘kopi hitam’, masih bisa dijabarkan lagi ke tataran angka 5; 5 = kopi hitam tanpa gula, 5’ = kopi hitam dengan gula. Dan seterusnya, dan seterusnya – masih bisa dijabarkan dan ditambahkan sesuai dengan selera kita.

1 (haus)2 (minum)      2’ (tidak minum)

3 (air putih)      3 ‘ (teh)   3 “ (kopi)   3”’(soft drink berkarbonasi)

4 (kopi hitam)   4’ (kopi susu)      4”(kopi three in one)   4”’(kopi jahe)

5 (tanpa gula)   5’(dengan gula)

Sekarang marilah kita bayangkan bahwa keseluruhan pohon faktor ini ‘terbungkus’ atau ‘berada di dalam’ sebuah universum (semesta) yang dinamakan ‘Takdir’. Apapun kejadian, pilihan, atau probabilita yang terjadi di dalam universum ini termasuk, berada di dalam, dan tidak terlepas dari semesta ‘Takdir Tuhan’. Adapun pilihan seperti ‘minum’, ‘kopi’, ‘kopi hitam dengan gula’ adalah apa yang dinamakan ‘Ketentuan’ (Qodho). Seberapa banyak kita bisa minum – yaitu ukuran dari usus kita, itulah yang dinamakan dengan ‘Ukuran’ (Qodr). Seberapapun hausnya kita, kita tidak akan dapat melampaui kapasitas usus kita;  misalnya karena kita haus berat, maka kita memaksakan untuk minum kopi hitam sebanyak satu gentong – akan terjadi sebuah mekanisme lain yang terjadi yaitu ‘kematian’ (saat dimana fisik dipaksa untuk melampaui mekanismenya sehingga fisik berhenti bekerja karena memang sudah tidak mampu lagi untuk melaksanakan tugasnya).

Dari ilustrasi sangat sederhana di atas, kita dapat melihat bahwa dalam semesta Takdir, kita diberikan sebuah ‘kuasa untuk memilih’ dari sedemikian banyak ranah probabilita ketentuan yang mungkin terjadi, dimana setiap pilihan mengandung konsekuensi; ada sebab, ada akibat. Berbagai pilihan dapat ditambahkan dalam ilustrasi diatas; misalnya, memilih ‘minum kopi hitam panas-panas’ dapat mengakibatkan konsekuensi ‘melepuhnya bibir dan gusi serta tenggorokan’, sehingga, alih-alih ‘rasa haus terpenuhi’, yang terjadi adalah ‘penderitaan’ (sudah haus, bibir melepuh pula, sehingga malah tidak dapat minum apapun). Atau konsekuensi lainnya; misalnya, karena kita kebanyakan minum kopi, timbullah apa yang dinamakan ‘sakit perut’ sehingga ‘harus ke belakang’. Atau, karena terlalu banyak minum kopi, bisa jadi muncul apa yang dinamakan ‘sakit kepala’. Ini hanyalah sebagai ilustrasi sederhana saja, dimana variabel dan perimeternya dapat diganti sekehendak anda.

‘Kuasa untuk memilih’ ini adalah sekedar ‘kuasa untuk memilih ketentuan’ belaka diantara sedemikian banyaknya ketentuan yang mungkin terjadi di dalam universum ‘Takdir Tuhan’, bukan untuk menciptakan sebuah ketentuan lain yang berada di luar universum ‘Takdir Tuhan’. Setiap saat ketika kita, manusia, memilih sebuah ‘ketentuan’ (Qodho), timbullah rangkaian konsekuensi dari ketentuan tersebut yang membawa kepada konsekuensi-konsekuensi lainnya; dimana antar konsekuensi itu bisa jadi berbenturan dengan pilihan orang lain. Misalnya, ketika saya memilih untuk ‘minum kopi hitam’, saya bisa meminta office boy saya (yang semula hendak pergi merokok) untuk membuatkan kopi tersebut alih-alih membuat sendiri minuman kopi hitam.

Dengan meminta orang lain membuatkan kopi untuk saya, saya bisa menghemat waktu saya; yang semula hendak dipakai untuk membuat kopi, bisa dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan, dan sebagai akibatnya, saya bisa mendapatkan promosi karir. Dengan meminta office boy saya untuk membuatkan kopi, si office boy tidak jadi pergi ke halaman belakang untuk merokok, dimana jika ia jadi pergi ke belakang, ia akan bertemu dengan kawan lamanya yang sedang menjaga counter handphone dan akan mengobrol tentang peluang bisnis jualan pulsa di kantor, dimana teman dari office boy ini akan menawarkan bagi si office boy untuk bertindak sebagai ‘kepanjangan tangan’ penjualan pulsa di kantor saya, sehingga si office boy dapat meraih komisi tertentu dari hasil penjualan pulsa tersebut.

Terdapat banyak sekali – jutaan, milyaran, triliunan, bahkan lebih – kemungkinan yang bisa terjadi dalam universum ‘Takdir Tuhan’. Kesemua probabilitas ini telah tercatat dalam sebuah Kitab Induk yang disebut dengan ‘Lauh Mahfudz’. Karena semua probabilitas ini telah tercatat dalam Kitab Induk, dan Kitab Induk ini termasuk dalam pengetahuan Tuhan, maka dapatlah kita katakan bahwa ‘pengetahuan Tuhan melampaui segala sesuatu, penglihatanNya melampaui semua konsekuensi, melampaui sebab-akibat (dimana kita, manusia, seringkali memiliki kesulitan untuk melihat akibat dari pilihan yang kita buat, bahka hanya untuk melihat melampaui konsekuensi/sebab-akibat di dalam tataran pertama saja seringkali kita tidak mampu), TakdirNya mencakup segala sesuatu’. Ibaratnya, kisah hidup kita adalah sebuah novel, dimana Tuhan sebagai Penguasa Sejati bisa melihat sampai ke akhir cerita. Kita, manusia, bergerak dalam lembaran huruf-huruf berurutan yang terjebak dalam dunia tulisan dua dimensi yang tidak sanggup melihat keseluruhan novel kisah hidup kita.

Pilihan Bebas Manusia

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, kita, manusia, memang memiliki ‘free will’ sebagai anugerah Tuhan kepada manusia sebagai khalifatullah fil ardhi (khalifah/pemimpin pengganti Tuhan di muka bumi). Namun ‘kehendak bebas’ ini hanya berarti ‘bebas memilih sebuah ketentuan diantara beberapa banyak ketentuan/Qodho Tuhan yang berlaku sebagai Hukum atau Sunnatulloh’. Bebas yang terbatas; bebas dalam keterbatasan dimensi universum Takdir Tuhan belaka (yang mana luas dari universum Takdir ini kita pun belum tahu). Ini adalah ‘peran serta’ manusia dalam menentukan pilihan hidupnya, sebagai sebuah anugerah dari Tuhan. Namun kebebasan ini pun tidak terlepas dari peranan kebebasan umat manusia lainnya, karena, suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar, kita semua terkait dalam sebuah ‘Jejaring Takdir Kehidupan’.

Berbicara dalam ranah Jejaring Takdir Kehidupan, dapatlah kita katakan bahwa ‘tidak ada yang kebetulan’ di dunia ini – semuanya adalah rangkaian sebab-akibat dalam sebuah hukum keteraturan yang saling berkait, berkelindan, dan saling mempengaruhi satu sama lainnya. Jika kita bisa mempercayai bahwa kepak sayap seekor kupu di langit Shenzhen dapat mempengaruhi iklim di Florida; maka apa sulitnya untuk percaya bahwa ‘seuntai doa, seuntai harap, sebuah kalimat dzikrulloh, dapat mempengaruhi keadaan diri kita, dan juga umat manusia sebagai sebuah keseluruhan’.

Ibarat seorang Gary Kasparov dapat berpikir delapan langkah ke depan (bahkan mungkin lebih) dalam universum lapangan catur, sehingga ia memiliki kemampuan untuk menentukan langkah-langkah yang dapat membawa dirinya ke dalam kemenangan, kitapun manusia memiliki kemampuan untuk ‘melihat ke depan’ guna ‘merajut langkah Takdir’ yang akan membawa kita kepada ‘Kemenangan Akhir’.

Seorang Gary Kasparov dapat memiliki kemampuan tersebut karena ia belajar, telah terbiasa, dan memahami pola keteraturan yang mungkin terjadi dalam universum permainan catur. Singkatnya, Gary Kasparov dapat meraih kemenangan karena ia ‘memiliki ilmunya’. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang Kasparov niscaya bisa kita lakukan pula, selama kita ‘memiliki ilmunya’. Syarat untuk memiliki ilmu adalah dengan ‘belajar’. Belajar dapat diperoleh dengan ‘membaca’. Ayat pertama dalam khazanah pengetahuan Tuhan yang diturunkan kepada Muhammad SAW adalah ‘Iqro!’. Bacalah! Bacalah, dengan Nama Tuhanmu Yang Maha Menciptakanmu. Kita, manusia, diperintahkan oleh Tuhan untuk membaca, sebagai prasyarat utama agar bisa belajar, agar memiliki ilmu yang dibutuhkan guna meraih ‘Kemenangan Akhir’. Siapapun yang hendak meraih sukses di akhirat hendaklah dengan ilmu, dan siapapun yang berkeinginan meraih sukses di dunia hendaklah dengan ilmu juga.

ini adalah pembahasan menurut saya pribadi, sehingga kebenaran dari pembahasan ini haruslah dikritisi.

al Haqqu mirrobbikum.
allohu a’lam bisshowab…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s