Mencoba Memperbaiki Diri

Menguak Konspirasi Persia dalam Merusak Islam


Salamun alaikum,

Tulisan ini ditujukan kepada para pencari kebenaran, terutama kepada mereka yang telah muak dengan perpecahan muslimin.

Tulisan ini merupakan terjemahan dari artikel Dr. Shabir Ahmad dengan sedikit koreksi dan tambahan informasi dari saya sendiri.

Tulisan ini harus dibaca hingga selesai, bila tidak, lebih baik tidak usah membacanya sama sekali.

Setelah membaca seluruhnya, maka terpulang kepada anda untuk tidak setuju sama sekali atau setuju sebagian atau setuju semuanya.

Tulisan ini hanyalah kajian sejarah bukan Al-Quran yang terjamin kebenarannya dan keasliannya.

Bagaimanapun hanyalah Al-Quran satu-satunya furqon.

BAGIAN-9

Peringatan: Semua kritik dari pengarang diarahkan kepada para sejarawan, dan sama sekali tidak ditujukan kepada semua pribadi Islam yang terhormat sperti: Hazraat Ali, Fatima, Hasan dan Husain [R.A.] yang kepada mereka kita diperintahkan memberikan penghormatan dan penghargaan.

BEBERAPA TOKOH TERKEMUKA

Sekarang mari kita lihat fakta tersebut. Malangnya, dogma apapun yang ditanamkan sejak masa kanak-kanak, menjadi bagian yang melekat pada diri kita. Tentu saja, dogma-dogma tersebut terjalin secara emosional dengan kita. Itulah mengapa orang-orang pada umumnya cenderung untuk menghalangi pikiran mereka terhadap informasi baru dan bahkan menjadi tersinggung. Seorang Mullah akan dengan senang hati memberikan putusan hukum kafir. Sebuah syair mengatakan:

Aduhai, ratusan ribu macam persoalan semestinya dikatakan
Tetap tidak jadi dikatakan karena takut terhadap huru-hara massa

Bagaimanapun, menurut Al-Quran, merahasiakan kebenaran adalah suatu kesalahan besar (2:42, 140). Untuk memulainya, berikut adalah tahun kematian beberapa orang terkemuka:

Tahun Kelahiran dan Kematian Tokoh Sejarah:

Semua penanggalan yang diberikan di bawah hanyalah pendekatan dan dapat mengandung kesalahan dikarenakan adanya perbedaan dalam sejarah yang berbeda. Sebuah ringkasan kronologi meskipun bersifat kasar, bagaimanapun, penting bagi kita untuk kembali sebentar melihat ke belakang.

Masa Hidup:

No. Nama Masa hidup
1. Prophet Muhammad (S) 52 sebelum Hijrah – 10 AH 570-632 CE
2. Hazrat Abu-Bakr Siddiq 49 sebelum Hijrah -12 AH 573-634 CE
3. Hazrat Umar Farooq 39 sebelum Hijrah – 23 AH 583-644 CE
4. Hazrat Uthman 39 sebelum Hijrah – 35 AH 583-656 CE
5. Hazrat Ali ibn Abi-Talib 22 sebelum Hijrah – 40 AH 600-661 CE
6. Hazrat Mu’awiya 19 sebelum Hijrah – 60 AH 600-680 CE
7. Yazeed bin Mu’awiya 26 – 64 AH 645-683 CE

PARA IMAM SHI’AH (Tahun kematian diberikan dengan AH saja)

No. Nama Tahun Kematian Periode
01. Ali ibn Abi Talib 40 AH 600-661 CE
02. Hasan bin Ali 49 621-670
03. Husain bin of Ali 61 623-680
04. Zainul Abedin bin Husain 95 658-712
05. Muhammad Baqir bin Zainal Abidin 117 677-731
06. Ja’far Sadiq bin Baqir 148 699-765
07. Musa Kazim bin Ja’far 182 745-799
08. Ali Raza bin Musa Kazim 200 770-818
09. Muhammad Jawad Taqi bin Raza 220 809-834
10. Ali Hadi Naqi bin Taqi 254 829-868
11. Hasan Askari bin Naqi 260 846-874
12. Abul Qasim Muhammad Al-Muntazar Imam-uz-Zaman Al-Mahdi (jika memang pernah lahir) – tahun kelahirannya tidak diketahui secara tepat. Yaitu tahun 254 atau 255 AH. Dia menghilang pada umur 4 atau 5 tahun di Gua Samera di Iraq. 260 AH. 878 CE

Sekarang mari kita lihat kronologi para sejarawan yang pada awalnya menulis sejarah kita, termasuk peristiwa Karbala. Walaupun para sejarawam menangani disiplin informasi yang berbeda dengan Muhadhithin (para penulis Hadith), namun kedua kelompok tersebut melanggar batasan-batasan mereka kapan saja mereka inginkan. Oleh karena itu, kita menemukan sejarah bercampur dengan Hadith demikian juga sebaliknya. Volume yang luar biasa banyak ini dipenuhi dengan sejumlah pertentangan yang tiada akhir dalam diri mereka dan bertentangan satu dengan lainnya, karena buku-buku ini didasarkan pada informasi lisan. “Ia mendengar dari si-A yang mendengar dari si-B, dan dia mendengar dari si polan yang pada gilirannya mendengarnya dari ini dan itu dst”. Kemudian terdapat penjelasan dan analisa kredibilitas dan karakter orang-orang dalam ‘rantai periwayatan’ (sanad). Hal yang lucu adalah bahwa seorang pembawa cerita [perawi] yang dipercayai oleh sepuluh “ulama”, ternyata adalah seorang pendusta bagi sepuluh “ulama” yang lain.

SEJARAWAN & MUHADHITHIN YANG PALING TERKEMUKA

Para Pengarang dan Tahun Kematiannya:

• Imam Ibn Jareer Tabari 310 AH (923 CE) – penafsir Al-Quran dan sejarawan yang pertama.

Imam Fiqh (Ahli hukum- tahun kematian AH):

1. Imam Abu Hanifa 150 AH
2. Imam Malik Bin Anas 179 AH
3. Imam Shafi’i 204 AH
4. Imam Ahmad Bin Hanbal 241 AH

Imam Hadith Sunni:

1. Imam Muhammad Ismail Bukhari 256 AH (870 CE)
2. Imam Muslim Bin Hajjaj Al-Qasheeri 261 AH (875 CE)
3. Abu Abdullah Ibn Yazeed Ibn Majah 273 AH (886 CE)
4. Suleman Abu Dawood 275 AH (888 CE)
5. Imam Abu Musa Tirmizi 279 AH (883 CE)
6. Imam Abdur Rahman Nisai 303 AH (915 CE)

Imam Hadith Shi’ah:

1. Syaikh Muhammad Bin Yaqoob Bin Ishaq Al-Kulaini 329 AH (941 CE)
2. Syaikh Saduq Abu Ja’far Ibn Ali Ibn Babwayhi Al-Qummi 381 AH (993 CE)
3. Syekh Abu Ja’far Muhammad Ibn-Hasan Al-Toosi 460 AH (1071 CE)

Mullah yang dihormati Jalaluddin Rumi menulis tentang para Imam Fiqh:

Mereka memahat empat sekte keluar dari Deen (Agama) yang benar
Dan menciptakan sebuah celah di dalam Deen Nabi yang agung

Tetapi, berlawanan dengan Al-Qur-an, Rumi yang sama berkata:

Para sahabat begitu mencintai dunia ini yang
Mereka meninggalkan Mustafa (Nabi) tanpa peti mayat

“ILMU PENGETAHUAN” TENTANG ASMA-UR-RIJAAL

Ini adalah nama guru dari sejarah dan hadits kita. Hal ini penting diperhatikan bahwa sejarah Islam yang pertama ditulis oleh Tabari, sekitar 270 tahun setelah Nabi yang agung dan 230 tahun setelah peristiwa Karbala yang dianggap pernah terjadi.

Dan ia tidak mempunyai apapun di tangannya yang dapat digunakan sebagai rujukan karangannya. Pada kenyataannya, ia mengakui pada pembukaan bukunya yang berjudul “Induk dari semua Sejarah” bahwa ia hanya menulis berdasarkan apa yang diceriterakan oleh orang lain. Oleh karena itu, para pembawa ceritalah yang harus bertanggung jawab terhadap semua kesalahan yang ada.

Dari sudut pandang Shi’ah, sejarah dicatat pertama kali oleh Imam Kulaini yang lebih kemudian dibanding Tabari, dimulai pada abad keempat AH atau sekitar 240 tahun setelah peristiwa Karbala yang dianggap pernah terjadi. Tabari dan Kulaini membangun khayalan mereka atas dasar desas-desus/ kabar burung. “Ia mendengar dari si polan yang mendengar dari si polan, dan seterusnya.”

Di samping menjadi mudah tertipu, kita – Muslimin mempunyai karakter yang aneh. Karena menjadi “Ummah yang aneh”, kita malah bangga terhadap sesuatu yang kita seharusnya malu! Perbuatan memalukan tersebut adalah apa yang disebut “Ilmu pengetahuan” tentang nama-nama manusia (asma-Ur-Rijaal). Para Mullah menepuk dada mereka mengklaim bahwa Muslimin telah memelihara nama-nama dari sekitar 500,000 orang yang memproklamirkan dirinya sebagai perawi/ ulama. Dr. James Gibbs dari Britania Raya telah dengan tepat menyerang Muslimin atas kenyataan ini, “Muslimin mempunyai sebuah Buku yang hidup, tetapi sambil duduk di mesjid-mesjid, madrasah-madrasah dan biara-biara mereka, mereka terus bermain dengan catatan sejarah yang usang. Lima ratus ribu pemain hantu ini bertanggung jawab terhadap perpecahan di antara Muslimin.”

TAMBAHAN INFO TENTANG PARA SEJARAWAN KITA

Adalah penting untuk diketahui bahwa sejarawan kita ‘yang terkenal, berjumlah ratusan, hidup pada zaman setelah Tabari/ Kulaini (310/ 329 AH). Tidak ada yang sebelumnya! Apa yang terjadi pada catatan periode keemasan sejarah muslimin? Pada masa pemerintahan Khalifa Abbasiah Haroon ar-Rasheed (memerintah tahun 169-192 AH), ketika Khalifa Haroon ar-Rasheed meminta kepada Imam Ahmad bin Hambal (164-241AH) bukti yang mendukung salah satu dari teorinya, ia secuilpun tidak bisa mengemukakan penjelasan dengan bukti tertulis! Imam Hambal menurut laporan dicambuk oleh Mamoon ar-Rashid (memerintah tahun 197-217 AH) atas perdebatan yang tanpa makna tersebut, yaitu apakah Al-Quran itu makhluq (yang diciptakan) atau bukan. Tetapi tak satupun dari para “Imam” ini mengucapkan bahwa sistem kerajaan adalah tidak Islami. Maka, pemerintahan yang sewenang-wenang tetap berlanjut semakin kuat seiring dengan berjalannya waktu.

DUA TABARI ?

Seperti halnya Imam Abu Yusuf, salah seorang murid Imam Abu Hanifa, yang pernah menjadi ahli hukum (Faqeeh) kerajaan dinasti Ummayah, maka dengan cara yang sama Tabari telah menapakkan kakinya di lingkungan kerajaan Khalifah Mo’tamid (memerintah tahun 255-278 AH) pada tahun 270 AH. Imam Ibn Jareer bin Yazeed Tabari (222-310 AH), (nama yang dia pakai) dengan penuh keindahan disampaikan kepada Khalifa Al-Muqtadar Billah (memerintah tahun 294-319 AH). Pada banyak catatan nama sebenarnya yang dimiliki “Imam” ini adalah Ibn Jareer bin Rustam Ibn Tabari yang menyingkapkan bahwa dia adalah seorang Parsi. (Sebagai contoh, lihat Kitabul Istaqama, hal.137).

Hari ini terdapat laporan yang membingungkan tentang dia, apakah ia seorang Shiah atau Sunni, Khariji atau Rafidzi atau Majusi – pengikut Zoroaster (Muajjamil Adaba oleh Yaqoot Hamdi, 302 AH). Legenda juga menceritakan bahwa Imam Tabari bin Yazeed dan Imam Tabari bin Rustam adalah dua orang yang berbeda, meskipun keduanya lahir pada hari yang sama, keduanya adalah sejarawan, tinggal di kota yang sama, dan meninggal pada hari yang sama. Mereka berdua nampaknya sama dan berpakaian yang sama. [Mustahil merupakan sesuatu yang kebetulan]

PERSEKUTUAN ANTARA PARA MULLAH DAN RAJA

Singkatnya, selama masa pemerintahan Khalifah Muqtadir Billah (memerintah tahun 294-319 AH), delegasi kerajaan diberangkatkan ke Makkah, Madinah, Damascus, Qadisia, Koofa dan pusat provinsi lain. Isi perpustakaan mereka dimusnahkan dan diganti dengan buku-buku yang ditulis oleh orang-orang yang pada kenyataannya adalah para penjahat terhadap Islam. Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana Tabari dan “sarjana” lain yang seperti dia memperoleh kekuasaan sebesar ini.

SEMBILAN MUHADDITHIN ADALAH ORANG-ORANG PERSIA

Baiklah, adalah mengagumkan jika mengetahui bahwa semua dari enam orang yang disebut Muhadditheen Sunni dari Sahah Sitta (Sahih yang Enam – enam buku ‘resmi’ Hadith): Bukhari (w.256 AH), Muslim (w.261 AH), Ibn-Maja (w.273 AH), Abu Dawood (w.275 AH), Tirmizi (w.279 AH) dan Nasai (w.303 AH) datang dari Kerajaan Persia yang dikalahkan. Demikian juga, ketiga Muhadditheen Shia: al-Kulaini (w. 329 AH), Syekh Saddooq (w. 381 AH), Syekh Al-Toosi (w. 460 AH) dan Abu Ali Tabrasi (486/1093 – 548/1154) (para penulis empat buku ‘resmi’ Hadith Shia) berasal dari Persia. Tak satupun dari sembilan orang ini yang orang Arab.

ABU MUSLIM KHURASANI (80-137 AH/ 700-755 CE):

Para pengikut Majusi dari Persia telah menjadi sangat berpengaruh pada pemerintahan Abbasiah sejak dari awal. Pada kenyataannya, pendiri dinasti Abbasiah, Abu Muslim Khurasani adalah seorang yang bersemangat Majusi. Pada tahun 129 AH, dikarenakan tidak berkompetennya para penguasa Banu Umayyah yang terakhir dan adanya propaganda orang-orang Ajami (orang-orang Persia), kerusuhan telah terjadi diantara masyarakat Khorasan. Banyak dari massa yang menginginkan agar Muhammad Bin Ali bin Abdullah bin Abbas sebagai Khalifah.

Sebagaimana Imam Zainul Abedin, putranya – Imam Baqir – dan setelah dia putranya – Imam Ja’far Sadiq, semuanya telah sama sekali berhenti/ meninggalkan gelanggang politik. Sungguh menguntungkan bagi Abu Muslim Khorasani, karena Marwan II (memerintah tahun 125-132 AH), putra dari Marwan bin Hakam ternyata adalah seorang penguasa yang sangat tidak cakap. Abu Muslim menemukan pijakan yang kuat bagi dirinya. Imam Muhammad bin Ali meninggal pada tahun 126 AH dan para pengikutnya mengumumkan putranya Ibrahim sebagai Imam. Abu Muslim Khorasani berbicara kepada Imam Ibrahim untuk membunuh semua orang Arab di Khorasan, sebuah provinsi yang didominasi oleh orang-orang Persia. Tetapi, komplotan tersebut terungkap. Marwan II memenjarakan Imam Ibrahim dan kemudian membunuh dia. Saudaranya menggantikan Imam Ibrahim sebagai Imam, yaitu Imam Abul Abbas. Misi Abu Muslim adalah mencegah terjadinya konsolidasi pada pusat kekuasaan di antara para penguasa Arab, tentu saja di antara Muslimin secara keseluruhan. Akhirnya, pada tahun 132 AH gabungan angkatan perang Abu Muslim dan Imam Abul Abbas berhasil membinasakan rejim Ummayah. Marwan II dibunuh. Semua keturunan Banu Umayyah – kecuali wanita-wanita dan anak-anak – dilenyapkan. Hanya seorang pangeran yang bernama Abdur Rahman berhasil melarikan diri ke Andalusia (Spanyol). Dengan sebuah populasi muslim yang penting di Spanyol sejak penaklukannya oleh Musa bin Nusair dan Tariq bin Ziyad tahun 91 H/ 711 M, Pangeran Abdur Rahman mengatur dinasti Ummayah di Spanyol pada tahun 138–171 H/ 756-788 M.

Karena khawatir Abu Muslim bangkit untuk berkuasa, maka Abul Abbas membunuh dia. Meski demikian, orang-orang Persia masih tetap sangat kuat pada awal pemerintahan Abbasiah tersebut. Sesungguhnya, dari tahun 129 hingga 132 AH orang-orang Persia secara langsung menguasai Kerajaan Muslimin. (Tareekhul Islam oleh Dr. Hameeduddin)

HAROON AR-RASHEED DAN BARAMIKAH


Naiknya orang-orang Majusi (Zoroaster) ini bertahan sekitar 200 (dua ratus) tahun. Pengaruh mereka, sekalipun secara sembunyi-sembunyi, menjadi sangat kuat sedemikian rupa sehingga seorang raja yang kuat seperti Haroon Ar-Rasheed (berkuasa sekitar tahun 169-193 AH) pada saat itu mendapati dirinya tanpa daya melawan mereka. Ini merupakan sebuah fakta yang sedikit diketahui bahwa Haroonur Rasheed sendiri adalah putra seorang perempuan Persia yang bernama Khaizran.

Keluarga Persia Baramika telah menaiki kekuasaan yang tak terukur dalam Kekhalifahan sebagai para pejabat tinggi Haroon. Kebanyakan sejarawan mengakui bahwa pada tahun 187 AH, Haroon sebenarnya mempunyai kesempatan yang sangat baik untuk menaklukkan dengan mudah daerah yang pada saat ini disebut Cyprus dan Turki, termasuk Constantinople (Istanbul), pintu gerbang menuju Eropa. Seandainya dia melakukan hal itu, boleh jadi akan mencegah terjadinya Perang Salib yang mengerikan yang telah terjadi di kemudian hari. Bagaimanapun, orang-orang Majusi Baramika menjaga dia agar tetap sibuk dengan cerita Seribu Satu Malam dan bersenang-senang.

Menteri/ para pembantu Haroon seperti Khalid, Yahya, Fazal dan Jafar semuanya adalah orang-orang Baramika. Mereka mengganti bahasa Arab dengan bahasa Persia sebagai bahasa kerajaan. Perlu dicatat bahwa pada masa pemerintahan Harunlah perayaan festival agama Majusi yang bernama Nawroze diadakan dengan semangat besar menggantikan perayaan Eid Muslimin.

Bagaimanakah orang-orang seperti Al-Zuhri (w. 124AH), Ibnu Ishaq (85-143AH), Al-Waqidi (130-207AH), Ibnu Sa’ad (168-230AH), Tirmizi (209-279AH), Tabari (224-310AH), Kulaini (w. 329AH), Saddooq (301-381AH) dan lainnya memperoleh kekuasaan yang banyak?

Mereka tidak hanya menikmati kebebaskan istimewa dari para penguasa, tetapi mereka juga mempunyai monopoli di bidang tulis-menulis. Sebagai balasannya mereka dahulu memproklamirkan bahwa raja adalah bayang-bayang Tuhan yang ada di bumi dan memalsukan sejarah, Hadith dan penafsiran Quran yang akan mengesahkan raja yang sewenang-wenang, istana-istananya, para harem dan bermacam-macam kenikmatan kerajaan.

SEBUAH CONTOH:

Shah Abdul Aziz Dehli, (meninggal 1229 AH) memberikan sebuah contoh kekacauan ini di jurnalnya. Suatu hari Khalifa Mahdi Abbassi sedang melepaskan merpati untuk terbang. Muhaddith Ghias bin Mamoon melihat ini dan mengucapkan, “Rasool (S) telah berkata bahwa seni memanah, adu kecepatan kuda dan menerbangkan merpati adalah kemuliaan mukminiin.” Hadith yang dilaporkan tersebut menyebutkan adu kecepatan unta, bukannya menerbangkan merpati.

Khalifa Haroon Rasheed mempunyai kerajaan yang paling baik dan mempunyai angkatan perang yang paling kuat pada zamannya. Jika mau, ia bisa dengan mudah menundukkan Byzantium, berikut keseluruhan Kerajaan Romawi. Seandainya Ia melakukan tugas tersebut, maka tidak akan ada Perang salib di kemudian hari dan Islam bisa sudah merengkuh keseluruhan Eropa dengan kekuatan dan kemuliannya.

PENIPU LAIN: IBNU SHAHAB AL-ZUHRI

Sekarang mari kita mempelajari “Imam” Ibnu Shahab Al-Zuhri (w. 124 H/ 742 CE).
Hujjatullah Abdul Qadir Ali Al-Musvi, pengarang Mizanul Faris menyatakan bahwa nama yang sebenarnya dari Zuhri adalah Ibnu Shahab Toosi. Ia adalah salah satu dari ratusan ribu migran yang, setelah Arab menaklukkan Persia, telah menetap di kota-kota besar Iraqi seperti Koofa, Basra dan Baghdad. Beberapa buku sejarah telah menjuluki dia sebagai pendiri kedua theologi Shia. (pendiri pertamanya adalah Yahudi Abdullah bin Saba)

Di buku “Imam Zuhri dan Imam Tabari, Gambaran Sisi lain “, Allama Tamanna Imadi menyatakan bahwa peran Zuhri menonjol secara menyolok pada semua perbedaan antara sekte Shia dan Sunni hingga hari ini.

Ia biasa memalsukan sebuah Hadith dan kemudian disebarkannya kepada pusat-pusat propaganda yang dari merekalah berita bohong tersebut menyebar ke keseluruhan dunia Islam. Beberapa ulama Shia mengakui bahwa dia adalah pengikut Shia, sementara yang lain berpendapat bahwa dia seorang Sunni (Mufti Muhammad Tahir Makki). Bagaimanapun, Ibn Shahab Zuhri (Toosi) adalah keturunan dari kerajaan Persia Sassanid dan berpaham Zoroastrian. Allama Imadi, Maulana Dost Muhammad Qureshi, Mufti Muhammad Tahir Makki dan Allama Mujeebi, semuanya dengan suara bulat menyatakan bahwa akal bulus Zoroastrian ini menampilkan dirinya seperti “Imam” yang dipercayai banyak orang hingga hari ini. Dialah orangnya yang:
Mengarang cerita untuk menimbulkan keraguan tentang pengumpulan dan keaslian AL-Quran.
• Yang memulai pembicaraan bahwa beberapa ayat Al-Quran membatalkan yang lain (konsep nasikh-mansukh).
• Memalsukan dugaan yang bodoh bahwa Al-Quran diwahyukan dengan tujuh versi “bacaan”.
• Dialah orangnya yang menyebutkan Hazrat Ayesha pada konteks Surah An-Noor. Hal ini telah menyediakan kesempatan terbuka bagi “Imam” Bukhari untuk memfitnah Ummul Mu’miniin (Ibu orang-orang beriman). Quran tidak pernah menyebut nama siapapun pada Surah tersebut.
• Dialah orang yang mengarang cerita perselisihan antar Sahabah Karam mengenai suksesi Nabi yang mulia di Saqeefa Bani Saa’idah.
• Cerita palsu tentang perdebatan antara Hazraat Ali, Abu Bakar dan Umar.
• Cerita yang disisipkan tentang penyiksaan terhadap Fatima binti Muhammad, perselisihan tentang Kebun Fadak, dan penganiayaan putri Nabi oleh Hazraat Abu Bakr dan Umar.
• Puncak dari semuanya adalah cerita dusta tentang pertempuran Jamal antara Hazrat Ali dan Hazrat Ayesha, Pertempuran Saffain antara Hazrat Ali dan Hazrat Muawiya, dan Pertempuran Nahrawan antara Hazrat Ali dan Khawarij adalah ciptaan pikiran Zuhri. Sesungguhnya, Pertempuran Jamal, Saffain, Nahrawan dan Karbala tidak pernah terjadi!

Zuhri sebenarnya bukan hanya menyebarkan cerita menghebohkan tersebut di atas. Ia juga mempunyai dukungan penuh dari para pengikutnya yang Zoroastrian. Motiv utama mereka yang tersembunyi adalah untuk memecah-belah muslimin menjadi beberapa sekte, sehingga mendorong mereka untuk berselisih satu sama lain dan menjadikannya meninggalkan Al-Quran.

Komplotan lain dari urusan yang jahat ini adalah orang-orang Yahudi yang diusir dari jazirah Arab pada zaman Nabi. Banyak di antara mereka memakai nama dan berkedok muslim dan menetap di pusat-pusat peradaban Islam untuk turut menikmati pemerintahan muslim yang makmur.

Kekuatan ke-3 yang aktif dalam usaha makar ini adalah Kekaisaran Byzantium (Romawi timur) yang telah ditaklukkan oleh muslimin pada masa pemerintahan Hazrat Umar. Syria, Mesir, Jerusalem, Alexandria dll telah jatuh ke tangan muslimin. Orang-orang Romawi juga memesongkan umat Islam karena ingin membalas dendam atas kekalahan mereka dari muslimin.

KEMAH-KEMAH MUSUH:

Yaitu pusat-pusat pergerakan pemikiran Zoroastrian, Yahudi dan Nasrani membentuk suatu koalisi melawan muslimin. Suatu penderitaan akan membangkitkan rasa senasib seperjuangan. Tiga perencana makar tersebut, yaitu dari unsur-unsur yang terkalahkan, mengadakan suatu rangkaian pertemuan rahasia di Koofa, Syria, Yemen dan Constantinople. (Lisanul Meezan)

Perlu diingat bahwa muslimin tidak menjajah kekaisaran Persia dan Romawi terhadap milik penduduk atau merampas tanah mereka. Di kedua adikuasa zaman itu, segelintir elit yang berkuasa menekan dan memperbudak masyarakan secara fisik, mental dan ekonomi. Laporan tentang kekejaman tersebut dan teriakan masyarakat meminta tolong mencapai ibukota adikuasa yang baru di Madinah. Nabi yang mulia telah memperingatkan kaisar yang lalim tersebut, bahwa jika mereka gagal mengubah dan mengembalikan hak-hak masyarakat, maka saatnya sudah dekat bahwa elit kekuasaan akan menghadapi kesulitan berhadapan dengan masyarakat. Hazraat Abu Bakr dan Umar hanyalah menegaskan kembali peringatan tersebut.

Perlu diingat kembali bahwa Al-Quran menjelaskan jihad dalam pengertian perang hanya dalam keadaan/ kondisi berikut:

• Ketika musuh secara phisik menyerang Muslimin.
• Ketika musuh mengusir Muslimin dari rumah dan negeri mereka.
• Ketika orang-orang yang tidak bersalah mendapatkan tekanan dan berteriak meminta tolong.

Dalam hati mereka, masyarakat Parsi dan Kristen bergembira sekali atas munculnya Islam sebab pertama kali bagi mereka menyaksikan indahnya kebebasan. Namun demikian, bagi mantan elit istana/ penguasa kondisi tersebut merupakan bencana.

Orang-orang Yahudi tidak pernah melupakan luka akibat pengusiran yang mereka alami pada masa lalu. Dalam hati mereka, unsur-unsur yang terkalahkan ini berkesimpulan bahwa tidaklah mungkin melawan muslimin di medan pertempuran. Oleh karena itu, mereka memecahkan persoalan tersebut dengan cara menabur benih perselisihan dan perpecahan antar muslimin. Cara yang terbaik untuk merealisasikan tujuan tersebut adalah menjadikan muslimin meninggalkan Al-Quran secara tanpa mereka sadari.. Selanjutnya, bentuk peperangan mereka adalah secara filosofis dan intelektual di mana orang-orang Arab yang lugu merasa tidak sedang berhadapan dengan musuh. Mereka adalah manusia yang suka bertindak, bukan tukang gosip.

HORMUZAN, PERANCANG MAKAR PERTAMA DALAM SEJARAH KITA:

Si Majusi Hormuzan pernah menjadi komandan militer Persia terakhir di bawah kekaisaran Yazdgard dan juga sebagai gubernur provinsi sebelah timur. Dialah aktor intelektual di balik pembunuhan Hazrat Umar Farooq. Sejarawan kita hanya meninggalkan kepada kita sekelumit komentar ringkas dalam memandang tragedi kejam ini, yaitu bahwa seorang budak Persia non-Muslim yang bernama Feroz Abululu yang menyerang Hazrat Umar dengan sebuah pisau sewaktu sholat fajar karena adanya masalah pribadi! (Tarikh Tabari)“.

• Feroz membunuh yang “kedua” (Hazrat Umar) karena yang belakangan ini biasa menganiayanya.” (Malhoof yang merujuk pada Tawus)
• Versi yang ketiga menyatakan bahwa Feroz Abululu biasa bekerja pada rumah Hazrat Mugheera. Ia adalah seorang pande besi dan tukang kayu. Pada suatu hari ia membawa keluhan di hadapan Hazrat Umar bahwa Hazrat Mugheera tidak membayar gaji dia secara mencukupi. Hazrat Umar mempelajari keluhannya dan memutuskan bahwa gaji dia sudah cukup, dan Abululu membunuh Hazrat Umar karena hal itu.

Bukankah hal itu terdengar terlalu sepele sebagai alasan untuk membunuh seorang Khalifah? Ini bukanlah sekedar pembunuhan kepada orang biasa, tetapi seorang Umar bin Khattab. Pembunuhan terhadap Umar Farooq adalah sesuatu hal yang besar! Pasti ada makar yang besar di belakang kejadian ini yang perlu diselidiki.

Abdullah bin Saba’ (yang juga disebut As-Saudah) adalah sebuah karakter yang misterius. Dengan Raa’in bin Saba’ sebagai nama aslinya, ia adalah seorang aktor intelektual Yahudi dengan rancangan jahat mengganggu otoritas pusat kekhalifahan. Pada masa Hazrat Uthman ia tampil ke kancah politik di Iraq dengan menyamar sebagai seprang muslim. Ia menciptakan dasar-dasar ajaran Syiah seperti:
• Tiap-tiap Nabi mempunyai seorang ahli waris yang ditetapkan (‘Wasi’) dan Hazrat Ali adalah ahli waris Nabi Muhammad (S) yang menerima warisan suksesi kepemimpinan, pengetahuan dan kebijaksanaan dan segala sesuatu yang Nabi tinggalkan.
• Kekhalifahan adalah hak Ilahiah Hazrat Ali dan Kalifah yang lain adalah perampas kuasa dan zalim. Dengan bekerjasama dengan orang-orang Yahudi, Nasrani dan Majusi, Abdullah bin Saba’ berhasil dalam rancangan jahatnya.
• Tokoh lainnya adalah seorang Kristen yang bernama Jafeena dari Hirah. Tadinya ia adalah pejabat keamanan kerajaan Romawi. Secara lahiriah ia memeluk Islam tetapi ia ditugaskan untuk menyewa pembunuh dan sebagai perancang pembunuhan Kalifah.
• Shahrbano putri Yazdgard: Seorang puteri raja Persia, ditangkap dan dibawa ke Madinah pada tahun 20 AH. Hazrat Hussain menikahinya dengan persetujuannya pada tahun 25 AH. (Usool Al-Kafi).

Ada laporan lain bahwa nama yang sebenarnya dari puteri Yazdgard yang menarik ini adalah Jehan Shah dan Hazrat Umar mengusulkan dua nama yang bagus untuknya, Salameh dan Shahrbano. (Kitab Ash-Shafi).

Riset kami menemukan bahwa nama asli dari puteri ini adalah Shahrzadi dan dia adalah anak perempuan dari Shahryar dan saudara perempuan dari Yazdgard. Tanpa memperhatikan bahwa perkawinan ini disetujui oleh para pemuka muslimin. Mereka mengharapkan bahwa perkawinan ini akan menciptakan niat yang baik antara bangsa Arab dan Ajami (non Arab). Bagaimanapun, sisa-sisa pejabat kerajaan Persia menganggap peristiwa ini sebagai suatu hinaan. Akumulasi api kebencian membara di hati mereka hingga akhirnya mereka berhasil membunuh Imam Hussain.

SEBUAH PENGAKUAN MENGEJUTKAN- HUSSEIN KAZIMZADA

Ini adalah sebuah gambaran yang jelas beberapa karakter buruk dari sejarah kita. Sekarang marilah kita lihat apa yang ditulis oleh seorang sejarawan Iran terkenal abad 20 di dalam bukunya yang berbahasa Persia dengan judul Tajalliat-E-Rooh-E-Iran dar Adwar-E-Tareekhi (Kemuliaan Semangat Iran di dalam Catatan Kejadian Sejarah):

“Sejak zaman Sa’ad bin Abi Waqas menaklukkan Persia (20 AH) atas perintah Khalifah kedua (Hazrat Umar), orang-orang Persia tetap memelihara semangat balas dendam di hati mereka. Mereka tidak pernah dapat melupakan bahwa segelintir orang-orang Arab telah mengakibatkan kerajaan mereka yang perkasa hancur dengan tiba-tiba. Nenek moyang kita menempuh satu-satunya jalan yang masih terbuka bagi mereka. Pertama-tama, mereka menghasut Abbasiah dari Banu Hashim untuk menghapuskan Dinasti Bani Umaiyyah yang telah berkuasa dari tahun 40 H/ 661 CE hingga 132 H/ 750 CE. Dengan tetap melakukan tujuan jangka panjang mereka dan tetap tekun dengan rencana mereka selama berabad-abad, pada saat yang paling tepat, akhirnya mereka mengundang Hulagu Khan dari Mongolia pada tahun 655 H/ 1258 CE dan menghancurkan kerajaan Arab Abbasiah. Dengan cara ini nenek moyang kita membalas dendam kekalahan mereka yang hina dan hilangnya kerajaan mereka di Qadisiyah pada tahun 16 H/ 637 CE di tangan orang-orang Arab.”

Ini adalah pembalasan dendam yang mereka lakukan kepada muslimin. Kami telah menyebutkan di atas karakter dasar dari drama yang mengerikan yang dirancang oleh mereka. Untuk membalas terhadap Islam sendiri, tokoh-tokoh ini mengganti Islam yang murni ajaran Nabi yang agung Muhammad dengan Islam Ajami. Fondasinya diletakkan selama masa pemerintahan Khalifa Haroon Ar-Rashid. Islam Ajami ini merajalela menjadi apa yang disebut dunia Islam hingga hari ini. Haroon lahir pada tahun 148 H/ 766 CE, dan memerintah selama perioda tahun 169-193AH (786-809 CE).

Ini adalah Islam yang sama, yang oleh Hussain Kazimzada dan Allama Iqbal disebut Islam Ajami. Tuan Syed Ahmad Khan menamainya Agama ciptaan, Allama Inayatullah Khan Al-Mashriqi menamainya Agama yang salah dari Maulvi. Saya menyebutnya N2I, Islam Nomor Dua seperti obat palsu yang dikenal sebagai obat no. 2 di anak benua Indo-Pakistan.

RAHASIA LAIN YANG TERUNGKAP: ABDUL JABBAR QARAMATI

Sebuah buku (dokumen tunggal tulisan tangan) yang ditulis oleh Abdul Jabbar Qaramati tertanggal 280 AH (sekitar zaman Kalifah Abbasiah Mo’tazid) tersimpan di musium Istanbul. Judulnya adalah Kitab-Al-Dalail Al-Nabawwut Syedna Muhammad. Buku ini menceritakan kepada kita bahwa:

« Meskipun hingga dua ratus lima puluh tahun sepeninggal Nabi kita, Dunia Islam dipersatukan seperti satu badan. Orang-orang Yahudi, Nasrani dan Majusi (Zoroastrian) tetap berusaha menabur benih perselisihan pada kelompok Muslimin. Strategi pemimpin mereka adalah serupa dengan Abdullah bin Saba dan Abu Muslim Khorasani, yang menghidupkan kembali perbedaan etnis antara Arab dan non Arab, yang semua ini telah dihapuskan oleh Al-Quran. »

Mereka menyebarkan kepercayaan bahwa Kalifah seharusnya dari keturunan Hazrat Ali. Pada sisi lain, para konspirator mendapat dukungan kekhalifahan dari keluarga Hazrat Ali dan pada saat yang sama, mereka membunuh para Imam secara berurutan, sedemikian rupa sehingga kaum muslimin juga tidak akan bisa bersatu di bawah keturunan Hazrat Ali juga. Rangkaian pembunuhan ini dilakukan oleh orang-orang dari aktor utama di belakangnya. Pembunuh Hazrat Ali, Jamshed Khurasani, adalah orang suruhan. Perlu dicatat bahwa Jamshed Khorasani adalah seorang Parsi tetapi buku sejarah kita (yang sebenarnya sejarawan Persia) menyebut dia sebagai Abdul Rahman Ibn Muljam Khariji.

Abdul Jabbar Qaramati menulis dalam buku ini bahwa pada saat kesyahidannya, Hazrat Ali adalah seorang Gubernur Iraq yang ditugaskan oleh Hazrat Uthman, sebagaimana ia telah ditugaskan oleh Hazrat Umar sebelumnya. Sebelum membunuh Hazrat Ali, Abdullah bin Saba telah membunuh Hazrat Uthman secara mendadak pada suatu malam di rumah pemerintahan.

Apa yang disebutkan oleh buku tulisan tangan Abdul Jabbar Qaramati ini telah pula dibuat oleh Dr. Hameeduddin, seorang sejarawan terkenal anak benua (Ph.D. dari Harvard) dalam bukunya yang berjudul Sejarah Islam (Terbitan Madinah) pada halaman 486. Perlu diperhatikan bahwa Qaramati tidak menyebutkan adanya huru-hara ribuan pemberontak yang masuk ke Madinah, ataupun adanya pengepungan rumah Khalifah Uthman. Hazrat Uthman sahid pada tahun 35 AH.

Hazrat Ali, hingga kesyahidannya pada tahun 40 AH/ 660 CE, sebelumnya adalah sebagai Gubernur Iraq yang diangkat oleh khalifah Umar dan Usman dan akhirnya sebagai Khalifah yang baru, Amirul mu’miniin.

Jadi, bagaimanakah perihal adanya pertempuran Jamal antara Hazrat Ali dan Hazrat Ayesha atau pertempuran Saffain antara Hazrat Ali dan Hazrat Muawiya, dan yang terakhir pertempuran Nahrwan antara Hazrat Ali dan Khawarij, semua cerita ini adalah pemalsuan yang luar biasa dari hasil karya pemikir yang briliant.

Sekarang mari kita perhatikan apa yang dinyatakan oleh Hujjatallah Abdul Qadir Ali Al-Moosvi dalam bukunya Meezanul Faris dan oleh Hur bin Abdul Rahman, Gubernur Andulusia (Spanyol), di buku hariannya, Muzakkrah Hur bin Abdul Rahman.

BAGIAN- 11

Secara umum, dongeng yang dipoles dengan agama menjadi sangat menakjubkan, yang seringkali kita gagal untuk menyadari adanya hinaan terhadap akal manusia. Orang tidak bisa mengukur dampak dongengan seperti ini, yaitu jika seseorang berhenti menggunakan akal pikirannya. Kebenaran memiliki kekuatan untuk menembus hati dan pikiran dan mengusir keragu-raguan dan kepalsuan. Sampai pada langkah ini, aku dengan kerendahan hati menyarankan agar bukuku, The Criminals of Islam (Penjahat-penjahat Islam), yang dengan jelas mengungkapkan bagaimana para perawi dan sejarawan kita telah merendahkan Islam menjadi suatu koleksi dongengan dan mitos.

RIWAYAT HIDUP HUR BIN ABDUR RAHMAN (MENINGGAL 115 H/ 734 M).

Kami telah menyebutkan sebelumnya dalam buku ini bahwa ketika Abu Muslim Khorasani meruntuhkan Kekhalifahan Arab Banu Umayyah, hanya satu anggota keluarga kerajaan yang berhasil meloloskan diri dari pembunuhan tersebut. Dia adalah seorang putra mahkota yang bernama Abdur Rahman. Ia berhasil mencapai Andulusia (Spanyol). Dengan orang-orang Arab yang telah berada di sana dalam jumlah yang besar, ia mendapat sambutan dan kelak akan menggantikan kepemimpinan Spanyol dan mengukuhkan berdirinya dinasti Umayyah di Spanyol. (132 AH/ 750 M).

Tolong perhatikan bahwa satu abad penanggalan sistem solar (matahari) mendekati sama dengan 103 tahun penanggalan sistem lunar (bulan) karena suatu tahun sistem lunar sekitar 354.5 hari.

Sebelum Abdur Rahman mencapai di sana, Musa bin Nusair dan Tariq bin Ziayd telah menaklukkan Spanyol pada tahun 92 AH/ 711 M pada masa pemerintahan Khalifa Bin Waleed Abdul Malik. Kemudian, selama periode yang pendek, dua tahun (99-101 AH) Umar bin Abdul Aziz adalah Kalifah pemerintahan Islam. Beliau adalah orang terkemuka yang sangat dihormati yang telah menyalakan kembali memori Khilafat-E-Rashida (Kalifah yang dipandu) dalam pikiran orang-orang. Khalifa ini menempatkan seorang yang berbakat, Hur bin Abdur Rahman sebagai Gubernur Spanyol. Seperti Muhammad bin Qasim di India, Hur membuktikan dirinya sebagai administrator handal kendati muda usianya. Ia mempengaruhi hati masyarakat Spanyol dengan karakternya yang tanpa cela dan kemampuannya sebagai seorang administrator. Adalah di bawah kepemimpinannya, angkatan perang muslimin menyeberangi perbatasan Spanyol melewati Perancis selatan dan menaklukkannya. (Sejarah Islam, oleh Dr. Hameeduddin, Madinah Publishing Company; Karachi, Halaman 299).

(CATATAN: Dalam hal ini Dr. Shabir telah keliru, karena Abdur Rahman yang melarikan diri dari Baghdad bukanlah AL-Hurr bin Abdur Rahman yang merupakan salah seorang yang pernah menjabat sebagai wali di Spanyol pada rentang tahun 97-101 H/ 716-719 CE. Al-Hur bin Abdurrahman menjadi Amir/ Wali menggantikan Ayub bin Habib al-Lajmi, sedangkan Abdur Rahman menjadi Amir pada periode 138-171 H/ 756-788 M setelah mengambil alih Wali Spanyol Yusuf Al-Fihri. Abdur Rahman yang ini dikenal sebagai Abdur Rahman Al Dakhel atau Abdur Rahman I).

Hur bin Abdur Rahman biasa memelihara sebuah buku harian tentang semua peristiwa di Arab. Sekitar dua orang ratus tahun kemudian, yaitu sekitar tahun 920 CE, seorang pegawai pemerintahan Spanyol, Simone Ashbillia menemukan buku harian ini. Ia menterjemahkan buku harian ini (yang masih tersisa darinya) ke dalam bahasa Spanyol. Pada tahun 1910, Dennis Montgomery, seorang sarjana Britania meneliti buku harian ini secara hati-hati dan menyimpulkan bahwa buku harian ini lengkapnya berisi lebih dari 300 halaman. Buku harian ini meliput peristiwa sekitar tahun 100 AH.

Yang mengejutkan adalah, ternyata kandungan dari buku harian ini mendukung riset yang dilakukan oleh sejarawan Iran Hussain Kazimzadeh dan Hujjatullah Abdul Qadir Ali Moosvi dengan Meezanil Faris-nya. Dan semua sumber ini bersesuaian dengan tulisan Abdul Jabbar Qaramati di arsip bersejarah Istanbul.

Beberapa Kutipan dari Catatan Harian Hur bin Abdur Rahman:

Muzakkarah Hurr bin Abdur Rahman
Buku harian Hurr bin Abdur Rahman

(Diterjemahkan dari bahasa Spanyol oleh Dennis Montgomery pada tahun 1910 dari arsip bersejarah di Barselona, Spanyol)

(Diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol dari bahasa Arab aslinya oleh Simone Ashbillia pada pada tahun 920 CE (306 H) di Gordova, Spanyol)

13 Safar, Al-Hijrah 100:

Mereka memanggilku Abu Nafe, Amir Hurr bin Abdur Rahman. Aku memanggil diriku Ibn Abduh. Malam ini tidak akan tidur. Harus bertemu dengan wakil-wakilku dari daerah. Tidak ada perencanaan berarti tidak ada operasi yang efektif. Tidak berbuat berarti tidak ada pencapaian. Baiklah Ibn Abduh! Akan kita lihat besok!

Tanpa Tanggal:

Aku sedang meminta Amir-ul-Momineen (Umar bin Abdul Aziz) untuk membiarkan kami menetapkan empat angkatan perang di Andalusia (Spanyol) sama halnya Sayyedna Umar Farooq yang telah menetapkan dua garnisun baru di Koofah dan Basra. Kami tinggal di sini karena orang-orang di negeri ini mencintai kami. Mereka merasa dibebaskan. Terdapat kedamai total di Emirah (Pemerintahan) kami. Yahudi, Kristen, Muslimin, semuanya hidup harmonis dan tanpa ketakutan. Tidak ada kerusuhan berkaitan dengan segala hal, keagamaan atau yang lainnya.

26 SAFAR 100 AH:

Aku sangat berterima kasih atas kepercayaan Amir-ul-Momineen….. dan Amir-ul-Momineen Umar bin Abdul Aziz sudah menemukan tempat yang pas padaku. Aku secara penuh sadar akan fakta bahwa kami akan harus….. dan berubah baik menjadi lebih baik setiap hari. (Titik-titik….. menandai tidak dapat dibaca)

Tanpa Tanggal:

Serupa dengan komplotan pengikut Majusi (pengikut Zoroaster) yang telah menciptakan gangguan di Iraq sepanjang beberapa puluh tahun pertama Islam, dengan cara yang sama kita menghadapi persekongkolan ….. yang kadang-kadang meletus. Alasannya jelas. Kelompok kaya lokal dan para pemimpin yang kuat dari masa lalu membenci keadilan sosial di antara masyarakat.

17 Rajab, AH 100

Walaupun situasi di Spanyol sangat terkendali dan membaik setiap hari, aku masih merasakan bahwa Khilafah di Damascus seyogyanya menugaskan seorang gubernur yang lebih berkemampuan di tanah ini. Aku akan merasa terhormat bekerja di bawah perintah dari seorang gubernur seperti ini sebagai seorang pegawai biasa, seorang prajurit. Aku sudah menyatakan keinginan ini kepada Amir-ul-Momineen.

Tanpa Tanggal

Aku memahami bahwa mustahil untuk menemukan orang sekaliber Ali, Hasan dan Hussain (r.a.). Mereka, sebagai Emir (gubernur), telah sungguh-sungguh menjadikan Iraq sebuah surga di atas bumi. Ali dan Hussain (r.a.) yang mengorbankan hidup mereka di kantor mereka yang mulia sebagai Emir. Orang-orang pengikut Majusi (Jamsed Khurasani dan Jabaan bin Harmuzan) telah berpikir bahwa dengan membunuh dua orang mulia ini, Iraq akan ….. kepada Farisis (orang-orang Persia). Tetapi darah suci Emir Ali dan Emir Hussain tidaklah ditumpahkan dengan sia-sia. Para duta besar dari pusat (Khilafah) dan tempat lain melaporkan bahwa di Al-Hijrah 100 Koofa, Basra, dan ….. adalah bahkan lebih damai dan makmur dari pada Syria, Palestine dan Mesir.

Tanpa Tanggal (suatu hari di Al-Hijrah 101)

Ah! Amir-ul-Momineen Umar bin Abdul Aziz telah pergi. Semoga Allah memberkati dia! Ia benar-benar seorang yang berkeyakinan (Iman), berkarakter, berkemauan, dan mempunyai visi.

SEBUAH JIKA YANG BESAR DALAM SEJARAH!

Pada tahun 116 AH (732 CE) salah satu peristiwa yang paling utama dalam sejarah terjadi. Angkatan perang banu Umayyah maju dari Spanyol untuk memperkuat kemenangan mereka atas Perancis. Sebuah pertempuran terjadi pada suatu ekpedisi militer. Abdur Rahman Ghafiqi memerintahkan kekuatan Muslimin bertempur dengan penuh keberanian tetapi ia secara kebetulan terbunuh. Jika seandainya Muslimin menang pada pertempuran itu, maka Eropa dan Amerika hari ini telah menjadi benua Muslimin. Terdapat beberapa alasan atas kekalahan tersebut, tetapi nampak bahwa garnisun yang diusulkan oleh Hur bin Abdur Rahman masih sedang dibangun. Ketidak-mampuan untuk memperoleh bantuan kekuatan adalah salah satu dari penyebab Muslimin kalah pada perjalanan tersebut.

(CATATAN: mengenai hal ini kemungkinan Dr. Shabir telah melakukan kekeliruan. Pada tahun 719 CE/ 101 H Hur bin Abdurrahman telah digantikan oleh Al-Samh ibn Malik al-Khawlani, Amir ke-4, yang memindahkan kedudukan Gubernur dari Seville ke Córdoba. Abdur Rahman Al-Ghafiqi menggantikan Al-Samh sebagai Amir pada tahun 721 CE (menjabat pertama kali). Setelah itu terjadi penggantian Amir Spanyol sebanyak 7 kali dan Amir yang ke-8 dijabat lagi oleh Abdur Rahman Al-Ghafiqi selama periode tahun 730 – 732 CE).

IMAM HUSSAIN, GUBERNUR IRAQ ?

Hazrat Hussain sebagai Gubernur Iraq! Pembaca boleh jadi merasa ragu mengapa fakta penting ini tidak diketahui umum! Tidak diketahuinya secara luas hingga hari ini tentang hal tersebut dikarenakan catatan yang asli telah dimusnahkan pada jaman dinasti Abbassiah.

Mari kita ingat kembali bahwa Abbassiah yang terakhir, Kalifah Musta’sim Billah adalah seorang penguasa yang lemah dan tidak berkelayakan. Ia telah mendelegasikan kekuasaan kerajaannya kepada Perdana Menterinya Muayyaduddin Ibn-E-Alqami, sebuah nama yang tidak sebenarnya. Nama dia yang sebenarnya adalah Nasr Nawsher Alqami. Kebanyakan sejarawan melaporkan bahwa ia adalah seorang berpaham Shiah, tetapi yang lainnya mempertahankan pendapatnya bahwa ia adalah seorang pengikut Zoroaster. Sementara itu, Naseeruddin Toosi, seorang yang berpaham Shiah yang lain, adalah ketua penasehat Hulagu Khan (cucu lelaki dari Chengiz Khan) dari Mongolia. Karena roda kekuasaan Dinasti Abbasiah dikendalikan oleh orang-orang Persia (para Ajami), maka mereka memanfaatkan kesempatan ini dengan otoritas besar pemerintahan Abbasiah. Kita telah melihat pengaruh Abdullah bin Saba, ‘Imam’ Ibn Shahab Zuhri dan Abu Muslim Khurasani dalam merumuskan doktrin Shiah dan akhirnya berhasil merobohkan Dinasti Umayyah. Oleh karena itu, orang-orang Persia yang hanya mempunyai nama Islam dan Shiah mempunyai beberapa ambisi dan tujuan yang umum. (Ajaaeb-It-Tareekh oleh Yaqoot Hamdi).

Kami telah menyebutkan bahwa komplotan Majusi bergerak dengan tujuan untuk memperlemah pusat Kerajaan Muslimin dan tetap menjaga agar Muslimin menjauh dari Al-Quran. Kita telah melihat “capaian” mereka selama masa Khalifah Muqtadar Billah.

Bagaimana sejarah tersebut dibelokkan pada skala raksasa? Bagaimana cara orang-orang Persia menciptakan perselisihan di antara Muslimin? Silahkan baca bab berikutnya.

BAGIAN- 12

ARSIP KHILAFAT RASHIDIIN DAN GUBERNURAN HAZRAT HUSSAIN LENYAP.

Alqami, perdana menteri kalifah Abbasiah yang terakhir, dan Toosi, ketua penasehat dan perdana menteri Hulagu Khan adalah seorang pengikut Zoroaster yang berkedok Muslim (menurut beberapa laporan berpaham Shiah). Kerja sama/ kolaborasi mereka dan undangan rahasia dari Alqami menyiapkan jalan bagi invasi Mongol terhadap Kerajaan Muslimin. Hulagu Khan kemudian menggerebek Baghdad seperti angin topan pada tahun 1258 CE (655 H).

Singkatnya, kekhalifahan Abbasiah berakhir. Banyak Penulis sejarah yang telah melaporkan bahwa sangat banyak buku dimusnahkan dari perpustakaan Baghdad dan dilemparkan ke sungai Tigris sehingga airnya berubah menjadi hitam. Digambarkan bahwa orang-orang bisa menyeberangi sungai tersebut melalui jembatan dari buku-buku tersebut pada daerah sungai yang dangkal.

Hulago Khan, orang-orang istananya dan angkatan perangnya adalah penyembah berhala. Melakukan penaklukan telah menjadi hiburan mereka sejak masa Changez Khan. Mereka menyerbu banyak kerajaan, bangsa-bangsa, kota-kota besar dan kota-kota kecil, dan menghancurkannya. Mereka tidak mempunyai empati dan memusuhi pengetahuan dan literatur.

Lalu, mengapa mereka melemparkan buku-buku tersebut ke sungai?

Rancangannya adalah dengan mengisi perpustakaan ini dengan buku-buku yang mewakili paham Ajami yaitu Islam nomor dua. (Meezanul Faris). Dengan anjuran Alqami dan Toosi, angkatan perang Mongol tersebut mengambil langkah pemusnahan secara ekstrim terhadap semua buku yang mereka bisa pegang dengan tangan mereka, dari rumah-rumah, dari para sarjana dan dari institusi-institusi pendidikan. Untuk detailnyaa, silahkan dilihat “Tasweer Ka Dusra Rukh” (Sisi lain dari sebuah Gambaran) oleh Jame-ul-Uloom Allama MohiuddinTamanna Imadi.

Kami menemukan adanya acuan pada buku-buku sejarah yang diterima secara luas adanya beratus-ratus hasil karya yang lebih tua dari penulis zaman dahulu, tetapi buku-buku tersebut tidak ada lagi.

Apa yang terjadi pada buku-buku tersebut?

Terima kasih kita ucapkan kepada Muqatdar Billah dan Musta’sam Billah demikian juga Naseeruddin Toosi dan Nasr Nawsher Alqami, buku-buku yang telah diselamatkan adalah buku-buku seperti Sejarah karangan Tabari (yang dikenal sebagai Induk dari Sejarah-sejarah, Umm-Ut-Tawareekh, Tareekh-Ul-Umam Wal- Mulook, dan 30 volume Tafseer oleh “Imam” Ibn Jareer Rustam Tabari. (Ref. Mua’Jjamul Adaba). (CATATAN: Buku ini mempunyai peranan besar memecah belah muslimin hingga hari ini dan menjauhkan muslimin dari memahami Al-Quran secara semestinya).

Hasil karya dari sarjana besar seperti Abu muslim Isphahani dan Abul Qasim Balakhi, Aqeel bin Asad telah benar-benar dimusnahkan sepenuhnya yang hari ini nama mereka hanya dapat ditemukan sebagai acuan kecil dalam buku-buku dari pengarang yang lain.

SEWADAH DEBU

Pada zaman Hazrat Umar, Muslimin telah menaklukkan salah satu dari super power zaman itu, yaitu Persia, dengan sepenuhnya. Mereka juga menaklukkan separuh bagian timur dari super power lain, Byzantium (kota Yunani kuno), Kerajaan Romawi. Kerajaan Romawi bagian barat masih terselamatkan. Kita ingat bahwa ketika pada tahun 631 CE Khusro Parvez, Raja Persia, merobek-robek surat yang Nabi kirimkan kepadanya. Nabi yang agung, kemudian, telah memperkirakan bahwa Kerajaan Persia akan koyak berkeping-keping – berantakan seperti kertas tersebut.

Ada contoh lain perilaku Khusrau Parvez yang kurang ajar. Ia mengutus seorang dari para gubernurnya yang bernama Bazan kepada Nabi dengan pesan, “Wahai Mohammad! Sungguhpun kamu hanyalah seorang budak bagiku, namun kamu berani menasehatiku! Datanglah anda untuk menyerahkan diri, jika tidak aku akan datang sendiri untuk menangkap kamu.” Sambil tersenyum, Nabi yang agung berkata kepada Bazan, “Temui rajamu. Putranya Sherovia telah membunuh dia semalam!

Sekarang, Yazdgard menjadi pengganti yang ke lima dari Khusro Parvez. Ia adalah raja ketika Hazrat Saad bin Abi Waqas mengirim utusan ke sana untuk mengajak kepada Islam. Mereka menyampaikan sebuah pesan dari Khalifah di Madinah yang memperingatkan dia agar berhenti menekan masyarakatnya, jika tidak malapetakan akan datang menimpa dia dan kerajaannya. Sebelum memberikan jawaban kepada utusan tersebut, Yazdgard memerintahkan salah satu dari pengawalya untuk membawa sebuah wadah yang berisi debu. Sambil membawa wadah tersebut, Raja berkata kepada utusan tersebut, “Pergilah dan berikan ini kepada Pemimpinmu Sa’ad bin Abi Waqas.” Ketika menerima hadiah tersebut, Hazrat Sa’d berseru, “Sambutlah, wahai tentara Islam! Hari ini Raja Persia telah menyerahkan tanahnya kepada kita!”

RUNTUHNYA DINASTI SASSANID

Rangkaian pertempuran antara orang-orang Persia dengan Muslimin menjadikan kota Qadisia (14 AH/ 636 CE) dan ibukota Persia Madain (16 AH) di bawah kendali Hazrat Sa’d bin Abi Waqas. Kaisar Sassanid yang terakhir, Yazdgard melarikan diri dan menjalani hidupnya dalam pengembaraan dari satu tempat ke tempat lainnya. Ia mengakhiri pengembaraannya bersembunyi di suatu tempat penggilingan, sambil menjadi perampok muatan emas, seorang petani membunuh dia dengan kampaknya. Candi-candi api menjadi dingin dan sebagaimana yang diperkirakan oleh Nabi yang agung, gelang-gelang emas Cisra dibawa ke Madinah. Khalifah Hazrat Umar memberikan gelang tersebut kepada Saraqa bin Malik Ja’sham. Saraqa adalah orang yang digoda dengan hadiah seratus unta, jika bisa menawan Nabi (S) dan Abu Bakr Siddiq (ra) ketika Hijrah (migrasi ke Madinah). Pada saat yang lemah tersebut lima belas tahun sebelumnya, Nabi (S) telah berkata kepada Saraqa, “Aku melihat gelang Cisra menghiasi lenganmu.”

Kematian yang mengerikan dari raja yang terakhir dinasti Sassanid tersebut beritanya menyebar menimbulkan awan kesedihan di seluruh Persia. Mereka tidak memuja-muja raja mereka tetapi:
Tidak ada halangan yang masih ada pada jalan kelaliman
Ketika para budak menjadi tetap kecanduan kepada hal itu

PARA PUTERI PARSI

Dari sudut pandang orang-orang Persia kondisi mereka menjadi semakin buruk, karena tiga putri dari raja yang terakhir ditangkap selama pertempuran dan dibawa ke Madinah. Puteri Shahr Bano adalah salah satu dari mereka. Menurut riset kami, nama aslinya adalah Shahrzadi dan dia adalah putri Shahryar dan saudara perempuan dari Yazdgard. Ketika puteri tersebut dinikahkan dengan Imam Hussain, hal itu dianggap sebagai sebuah kehilangan ganda oleh sisa-sisa elit Persia. Ini terjadi pada tahun 25 AH. Dorongan mereka untuk melakukan balas dendam menjadi semakin kuat.

MAKAR AJAMI

Meezanil Faris oleh Hujjatullah Moosvi

RANCANGAN PARA PERMATA PERSIA

Para Permata: Seperti Sembilan Permata yang terkenal dari istana Raja Mughal Akbar, para raja Sassanid juga mempunyai duapuluh permata atau orang dekat istana. Lima belas darinya selamat dari pertempuran Qadisia dan Madain. Mereka semua, kemudian, mencari tempat perlindungan kepada Kaisar Cina Khaqan di Samarqand.

Mereka membuat rencana masa depan sebagai berikut:

• Ribuan dari orang-orang Persia ditempatkan di kota-kota besar utama dunia Islam seperti Mesir, Madinah, Makkah, Damascus, Baghdad, Basra, Koofa, San’aa dan Jerusalem. Mereka berpura-pura menjadi Muslimin. (Mizanul Faris, Hujjatullah Moosvi)
Misi mereka adalah memata-matai dunia Islam. Mereka lalu melaporkan kepada ‘lima belas permata’, yang disebut Asawarah (mereka yang memakai gelang emas kerajaan, sebuah tanda untuk membedakan bahwa mereka orang-orang istana Persia). Para penyusup ini dipersyaratkan mempunyai penguasaan atas bahasa Arab. Mereka harus mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang sejarah Roma dan Persia, demikian juga perihal tatakrama masyarakat Arab. Kebanyakan dari individu yang direkrut untuk menjadi mata-mata mempunyai ketrampilan dan pendidikan satu bidang tertentu atau lebih, seperti bahasa, menulis, akuntansi, kerajinan tangan, pandai besi, pengelasan, persenjataan dan pengobatan.
• Berdasarkan ketrampilan mereka tersebut, orang-orang Persia yang bertobat ini (yang sebenarnya para penyusup), memajukan bidang mereka masing-masing di kota-kota besar tempat tinggal mereka. Mereka harus memperoleh pekerjaan dan menembus ke dalam lapisan yang sensitip di pemerintah. Dan mereka berhasil melaksanakan rencana busuk mereka.
• ”Para permata’ tersebut paling efisien dan berhasil dalam kampanye mereka ketika sebagai pengungsi di kekaisaran Cina. Perlu diingat bahwa misi mereka adalah dua hal, pertama adalah memperlemah pusat pemerintahan Islam dengan membunuh para khalifah satu demi satu; dan yang kedua adalah mengasingkan Muslimin dari Al-Quran. Bazer yang berpengalaman dari Samarqand, yang dulunya seorang penasehat khusus Khusro Parvez, memimpin komite Asawirah tersebut. Kaum tua Marzaban, yang dulunya juga penasehat, adalah wakilnya. Kedua-duanya adalah politikus perencana yang sangat berpengalaman.

BAGIAN- 13

PEMBUNUHAN PARA KHALIFAH ISLAM

HAZRAT UMAR FAROOQ (23 H/ 644 CE):

Setelah kekalahan Persia di pertempuran Qadisia, Harmuzan, gubernur Tastar, dibawa ke Madinah sebagai narapidana (14 AH/ 635 CE). Tastar adalah provinsi Iran yang paling penting dan menjadi rumah angkatan perangnya yang paling besar. Ia diperkenalkan kepada Hazrat Umar, kemudian Khalifah Islam bertanya kepadanya, “Harmuzan! Kami orang Arab adalah penghuni padang pasir yang kamu menganggap terlalu rendah meski hanya dalam perkelahian. Kami dahulu biasa menjilat sebagian kecil dari pasukanmu. Sekarang kamu dapat melihat mahkota dan tahta Rajamu bersandar pada kaki kami sedangkan pemiliknya sedang melarikan diri mencari tempat untuk menyelamatkan jiwanya. Bagaimana hal ini bisa terjadi?” Harmuzan menjawab, “Tuan, sudah biasa terjadi suatu peperangan antara orang-orang Persia dengan orang-orang Arab. Namun sekarang Anda mempunyai Tuhan yang bersama Anda.”
Oleh karena kejahatan peperangannya, Harmuzan dihukum mati. Bagaimanapun, ia dapat menyelamatkan hidupnya melalui suatu tipu muslihat yang licik. Selama percakapan, ia meminta air minum. Ia diberikan air dalam sebuag gelas berbentuk piala dari emas yang didatangkan dari Tastar. Harmuzan meminta Hazrat Umar untuk menangguhkan hukuman untuk menjalani hidupnya sampai ia menghabiskan air minumannya. Permintaannya dikabulkan.

Bagai Sebuah Dongeng !

Terdengar seperti sebuah dongeng, begitu ia siap pada tempatnya untuk dieksekusi, Harmuzan menumpahkan air tersebut ke tanah. Ia belum minum dan oleh karena itu Pemerintah menangguhkan hukuman tanpa batas akhir. Anas bin Malik dan Ahnaf bin Qais yang hadir pada peristiwa itu, memastikan dengan bertanya; “Wahai Pemimpin orang beriman! Anda sudah tentu menangguhkan hukuman Harmuzan.” Atas kejadian ini, Hazrat Umar berkata kepada Harmuzan, “Harmuzan! Aku adalah seorang tawanan kepada kedermawanan dari muslimin ini.” Harmuzan akhirnya dibebaskan. Secara yang terlihat ia memeluk Islam dan berdiam di Madinah.

Sekarang kita akan melihat bahwa pembunuhan Hazrat Umar bukanlah tindakan perorangan Feroze Abululu, tetapi ia hanyalah bagian dari suatu komplotan “lima belas permata’.

Feroz Abululu oleh sejarah telah dijelaskan secara membingungkan, ada yang menyebutnya seorang Kristen dan ada yang menyebutnya sebagai seorang Majusi. Sebenarnya ia adalah seorang Majusi. Siapapun Feroz, ia hanyalah bertindak sebagai alat. Pertanyaan pentingnya adalah: siapa yang memanfaatkan alat itu. Pemimpin dari pion-pion ‘Permata’ Cisra di Madinah tidak lain adalah Harmuzan. Di Madinah, sahabat tetapnya adalah Jafeena Al-Khalil. Jafeena adalah seorang yang berpendirian Kristen dan seorang ahli Alkitab (Bible), bahasa Ibrani dan Arab. Ia adalah pion politis dari Kekaisaran Roma dan telah bertindak sebagai seorang pejabat di Damascus, Palestine dan Heerah. Sahabat ketiganya adalah seorang Yahudi bernama Saba bin Sham’oon. Ia adalah orang yang mempunyai anak bernama Abdullah Ibn Saba, yang akan segera muncul di kemudian hari dengan karakter buruknya di panggung sejarah. Ketiganya tinggal di Madinah sebagai muslimin. Ketiganya adalah dedengkotnya konsprirator dan pengatur makar yang pintar.

MERPATI POS

Kardinal Roma, Thomas Melon, pada abad ke-11 menulis bahwa pada puncak Kerajaan Islam, orang-orang Yahudi yang tinggal di Timur Tengah tidak mempunyai pusat kekuasaan yang kuat, tetapi mereka menghasilkan banyak kuasa melalui rencana rahasia mereka. Mereka telah mempunyai sebuah sistem komunikasi yang canggih. Orang-orang Nasrani dan Majusi mengambil keuntungan yang besar dari sistem komunikasi ini. Merpati yang terlatih akan terbang setiap hari antara Madinah, Koofa dan Samarqand. Aktivitas kurir merpati ini menghasilkan peristiwa yang mengerikan. Beberapa dari kejadian tersebut adalah:

Suatu hari Feroz Abululu kebetulan bertemu dengan Hazrat Umar. Ia berkata kepada Feroze, “Aku mendengar bahwa kamu dapat membuat alat penggilingan”. Feroz menjawab dengan pedas, “Wahai Pemimpin orang beriman! Aku akan membuat sebuah penggilingan yang mengesankan di Madinah yang akan tetap berputar selamanya.”

Sementara itu, Heraclius yang baru, Raja Byzantium, melarikan diri dari kekuatan Islam, bergabung dengan para pengungsi orang-orang istana Persia di Samarqand. Merpati pos dijaga tetap terbang antara Madinah dan Samarqand.

Ada seorang yang bernama Ka’ab Ahbar. Hingga hari ini tidaklah jelas apakah ia memeluk Islam atau tidak. Ia adalah seorang sarjana besar Taurat. Ketika Hazrat Umar tiba di Jerusalem pada penaklukannya (16 AH/ 635 CE), Kardinal dan Sri Paus Severinus mengundang dia untuk sholat pada Makam yang suci. Hazrat Umar dengan sopan menolak tawaran tersebut dengan berkata, “Aku khawatir nantinya Muslimin akan mulai mengubah gereja menjadi masjid.” Kemudian, ia melakukan sholatnya di atas tanah terbuka dekat reruntuhan Kuil Sulaeman. Ia tetap melakukan hal itu hingga ia tinggal di Jerusalem. Ka’ab Ahbar melepas sepatunya ketika mendekati Batu Jacob. Ka’ab menyarankan kepada Hazrat Umar untuk melakukan sholat pada tempat itu. Terhadap hal ini, Hazrat Umar berkata, “Apakah kamu masih mempunyai sisa-sisa Keyahudian dalam dirimu?”

Abdul Malik bin Marwan telah membangun sebuah kubah di atas Batu Jacob pada sekitar tahun 60 AH ketika membangun Masjidil Aqsa. Sekarang dikenal sebagai Kubah Batu (Qubbah-Tas-Sakhra).

Suatu ketika, Hazrat Abuzar Ghaffari dan Hazrat Umar sedang mendiskusikan tentang topik Zakat. Ka’ab Ahbar berkata sesuatu. Abuzar menegur dia, “Wahai Yahudi! Akankah kamu mengajar kami Islam?”

Berkata Abdur Rahman bin Abu Bakr, “Aku melihat Harmuzan yang Majusi, Jafeena yang Kristen, dan Feroz Abululu berbisik-bisi, pada hari sebelum Hazrat Umar dibunuh. Mereka mempunyai golok bermata ganda yang sama dengan yang kemudian ditemukan di dekat mayat Abululu.

Tiga hari sebelum pembunuhan tersebut, Ka’ab Ahbar berkata kepada Amirul Muminin – Hazrat Umar, bahwa ia akan mati dalam tiga hari. Abbas Mahmud Alakkad, seorang Sejarawan Mesir telah menulis bahwa Ka’ab Ahbar adalah seorang yang berpaham Yahudi dan ia adalah kaki tangan utama bersama-sama dengan Harmuzan dan Jafeenatil Khaleel berkomplot melakukan pembunhan tersebut. Pada malam sebelum pembunuhan Hazrat Umar Farooq, Ka’ab Ahbar berkata kepada Hazrat Umar, “Waktu telah berlalu bagi kamu.”

Abdul Qadir Ali Moosvi menulis, “Pada saat bencana ini, kekuasaan Islam dengan aman berdiri tegak dan mental yang terpelihara pada masyarakat dipastikan benar-benar damai dan bebas dari gangguan secara menyeluruh. Sekumpulan orang-orang yang bergabung dalam Iman Tuhan. Tak seorangpun akan membayangkan kemungkinan adanya komplotan yang mengerikan seperti itu. Jika memang pernah terjadi perselisihan antar kelompok Muslimin atau pernah terjadi pertumbahan berdarah selama lima puluh hingga seratus tahun pertama Negara Islam, pasti Muslimin tidak akan bisa membanjiri daerah seluas dua pertiga dunia. Mereka kepunyaan jaman Islam yang benar-benar diberkati. Al-Qur’an memberikan kesaksikan bahwa mereka yang benar-benar beriman akan berkasih-sayang satu sama lain. Allah ridho dengan mereka dan mereka ridho kepada-Nya, demikian pernyataan Al-Qur’an. Pada zaman kedamaian ini kelihatannya tidak ada peluang untuk melakukan gerakan makar di bawah tanah.”

TRAGEDI 23 H/ 644 CE

Dengan adanya panggilan untuk sholat fajar pada tanggal 26 Dzulhijjah 23 AH, para sahabat Nabi yang agung berkumpul di Masjid Nabawi. Harat Umar tiba untuk memimpin sholat tersebut. Tidak lama setelah ia bertakbeer kemudian seseorang tiba-tiba mendekati dia dari depan dan melukai dia dengan goloknya pada beberapa tempat. Orang-orang yang berkumpul tersebut mengejar dan menangkap Feroz Abululu. Bagaimanapun, si penyerang membunuh dirinya sendiri dengan golok miliknya. Bukti yang paling kuat yang berhubungan dengan kejahatanan tersebut telah hilang untuk selamanya. Jafeena dan Harmuzan dibunuh oleh amukan masa setelah itu. Yahudi Saba bin Shamoon melarikan diri dan bergabung dengan kelompok persekongkolannya di Samarqand. Ka’ab Ahbar tidak ditangkap karena ia dianggap sebagai muslim yang tidak bersalah. Ironisnya, orang ini selalu berkata bahwa ia tidak akan memeluk Islam hingga ia secara penuh yakin dengan melihat berkah yang banyak dari jalan hidup Islam.

Dengan pembunuhan terhadap Hazrat Umar, makar orang-orang Persia semakin meningkatkan usahanya untuk mengasingkan Muslimin dari Tuhan mereka yaitu dengan menjauhkan Muslimin dari Al-Quran. Umar Farooq adalah rintangan yang paling besar bagi usaha mereka. Ketika berita pembunuhan khalifah sampai ke Samarqand, orang-orang istana Persia menyalakan langit dengan sorak kegirangan dengan petasan luncur.

Hujjatullah Abdul Qadir Ali Al-Moosvi menulis di dalam bukunya Meezanul Faris bahwa mekanisme syura kekhalifahan demikian sangat berkompeten, sehingga tanpa memboroskan waktu kesyahidan tersebut, Hazrat Usman terpilih sebagai Khalifah yang baru melalui musyawaroh antar sahabat yang diberkati.

PEMBUNUHAN HAZRAT UTHMAN 35 H/ 656 CE

Kita telah melihat modus operandi Majusi, Yahudi, dan Nasrani di jaman Hazrat Umar.

Potongan-potongan yang terserak: Muzakkarah Hur bin Abdul Rahman (100-101H), Meezanul Faris, Fitnatul Kubra oleh Taha Hussain, Ajaibit Tareekh oleh Yaqoot Hamdi, Kitab Dalail-e-Nabawwut Syedna Muhammad oleh Abdul Jabbar Qaramati (280H), Tasweer Ka Doosra Rukh dan Intizar-E- Mahdi-O-Maseeh keduanya oleh Muhaddithul Asr Allama Tamanna Imadi. Mazhabi Dastanain Aur Unki Haqeeqat, oleh Allama Habibur Rahman Kandhalvi, Shahkar-e- Risalat oleh Allama Ghulam Ahmad Parvez, Tarikh-E-Islam oleh Dr. Oleh Dr. Hameeduddin, Profesor dari Harvard Universitas, dan banyak buku lainnya menyoroti sejarah abad pertama Islam mengukir guratan emas. Tetapi hal tersebut terserak seperti potongan teka-teki puzzle. Menggabungkan potongan-potongan informasi ini secara bersama-sama, gambaran yang muncul benar-benar mengagumkan walaupun disertai dengan tetesan darah yang suci.

Sebagaimana disebutkan di atas, setelah penaklukan Persia, ribuan orang yang berkedok muslimin menetap di luar, terutama di Iraq karena dekatnya Iraq dengan Persia. Mereka lebih mungkin ditemukan dan ditawan di ibukota kekhalifahan sehingga jumlah orang-orang Persia seperti ini lebih sedikit di Hejaz. Hazrat Umar tidak begitu sadar pada situasi ini. Maka, pada tahun 18 AH ia meminta bantuan dan menugaskan Hazrat Ali sebagai gubernur Iraq untuk pengawasan dan pendidikan unsur-unsur Persia ini.

Bertentangan dengan pernyataan sejarawan seperti Tabari, Ibn Hisham, dan Kulaini, semua dalam kedamaian dan ketenangan pada jaman Hazrat Uthman. Pasang naik Islam yang diberkati memberikan pengaruh pada semua aspek kehidupan yang menyertainya: di daratan, masyarakat dan hati. Hazrat Uthman mengendalikan dengan penuh kewaspadaan atas ibukota Madinah dan Hazrat Ali mengendalikan provinsi Iraq. Hazrat Muawiya di Syria dan Hazrat Umro bin Al-‘Aas di Mesir, semuanya terbukti sebagai gubernur yang handal. Tim kerja mereka dan para sahabat yang lain dengan karakter mereka yang patut dicontoh menambah semangat untuk bekerja keras karena Allah, sedang membawa Islam dari hari ke hari dari satu puncak kemuliaan kepada kemuliaan yang lain. Semboyan yang menyebar di seluruh kawasan adalah, “Kesucian adalah kenangan Anda!”. Pemimpin-pemimpin atau panutan-panutan Islam yang besar sangat mengetahui dengan baik bahwa penegakan perintah Al-Qur’an adalah prioritas utama Pemerintahan. Nabi yang agung telah melatih sendiri orang-orang istimewa ini dan mereka sangat berkasih sayang satu sama lain dan untuk kemanusiaan.

Mereka begitu berminat dan bersemangat untuk menyebarkan pesan-pesan Islam kepada seluruh penjuru dunia yang penguasa mereka tidak begitu peduli terhadap harkat dan martabat pribadi dari masyarakatnya. Keabadian dari Al-Quran memberikan kepada mereka kepercayaan diri secara ekstrim. Satu hal yang penting untuk dicatat adalah bahwa pada waktu itu jika orang-orang diajak kepada Islam, mereka tidak menolak seperti pada hari ini. Tidak ada tuduhan murtad dan pengucilan (Takfeer) terhadap masyarakat. Jadi, pada negara Islam setiap orang yang menyatakan Islam diterima sebagai seorang Muslim. Tak seorangpun ‘yang dibedah dadanya’ untuk melihat apakah seseorang itu munafik, Majusi, Yahudi atau Kristen dalam hati mereka. Para Sahabat Nabi yang agung, memperlihatkan watak yang membuat kagum seluruh dunia, tidak menempatkan para penjaga di pintu-pintu masuk/ keluar mereka.

Mengambil keuntungan dari situasi seperti ini, tetua Yahudi, Saba bin Shamoon yang mempunyai nama Islam Saba Assalameh, dan anaknya Abdullah bin Saba masuk ibukota Madinah dalam kegelapan dari jam-jam akhir malam dan membunuh Hazrat Uthman dengan pedang mereka ketika Beliau sedang membaca Al-Quran. Kedua pembunuh tersebut menghilang dalam kegelapan malam tanpa meninggalkan jejak. (35 AH)

PEMBUNUHAN HAZRAT ALI 661 CE

Ketika Hazrat Usman sahid, Hazrat Ali sedang menjabat gubernur Iraq.

Para wakil Hazrat Uthman dengan segera menerapkan perintah Al-Qur’an untuk bermusyawarah untuk menetapkan pemimpin baru. Sebuah pertemuan para Sahabah yang mulia dilaksanakan di Masjid Nabawi, Madinah. Dua resolusi telah dihasilkan- pertama, bahwa Khalifah berikutnya adalah Hazrat Ali – kedua, bahwa ibukota negara akan dipindahkan ke tempat di mana Hazrat Ali menjabat sebagai gubernur Iraq. Dalam pertemuan ini juga terlewatkan perihal perlunya keamanan pribadi untuk Khalifah Islam, hal ini dikarenakan para sahabat membenci, dalam keadaan apapun, ada jarak antara diri mereka dengan masyarakatnya. Bagi mereka menempatkan para penjaga/ pengawal di pintu gerbang adalah sesuatu kebiasaan yang aneh.

Bagaimanapun, kapala negara Islam tetap berlayar dengan baik walaupun di tengah gelombang kecil intrik dan konspirasi. Tetapi pada tanggal 18 Ramadhan 40 AH (661 CE) tangan-tangan dari orang-orang istana Persia menyerang lagi. Pada waktu fajar menyingsing, ketika Hazrat Ali sedang memimpin sholat di Koofa, seorang Majusi bernama Jamshed Khorasani, yang mempunyai nama Islam, menyerang secara tiba-tiba dari persembunyiannya dan menikam Beliau dengan senjata tajamnya – pisau bermata dua – beberapa kali. Pada hari ketiga setelah serangan ini, yaitu pada 20 Ramadhan, Khalifah yang keempat akhirnya gagal untuk bertahan terhadap luka yang dideritanya. Dalam buku sejarah konvensional kita, Jamshed Khorasani ini dikenal sebagai Abdur Rahman Ibnu Maljam Al-Khariji. Jamshed dengan cepat segera ditangkap oleh jamaah. Ia diadili dalam sidang pengadilan dan menerima hukuman mati.

HAZRAT HASAN, SEORANG GUBERNUR

Sekarang karena Koofa adalah ibukota negara, para anggota dewan Syura bertemu di sana. Hanya ada dua nama yang muncul pada pemilihan Khalifah tersebut, yaitu Hazrat Hasan bin Ali dan Amir Muawiya, gubernur Syria. Hazrat Hasan menolak untuk menerima menjadi Kalifah. Oleh karena itu, Hazrat Mu’awiya menduduki jabatan sebagai Khalifah yang baru. Ia telah mempunyai cukup modal yang besar seperti sejarah yang baik di bidang administrasi, ketajaman politis dan popularitas di tengah masyarakat. Namun demikian ia harus memenuhi persyaratan konstitusional berupa kesetiaan masyarakat.

Sekarang ibukota negara dipindah ke Damascus. Beberapa orang Suriah mulai berdiri sebagai pengawal dengan pakaian sipil tanpa sepengetahuan Khalifah. Ketika pada bulan Ramadhan 40 AH seseorang menyerang Hazrat Mu’awiya, seorang penjaga menebas kepala penyerbu di sana. Hazrat Muawiya hanya menderita luka-luka kecil.

Unsur-unsur yang membahayakan kepada Islam menjadi paham bahwa disain mereka tidak mungkin berhasil di Damascus yang sekarang sebagai ibukota negara. Maka, mereka mengalihkan perhatian mereka kembali lagi ke Iraq di mana Hazrat Hasan telah ditetapkan sebagai gubernur oleh Hazrat Mu’awiya. Karena penuh dengan rasa kasih dan kedermawanan, Hazrat Hasan menjadikan provinsinya bagaikan sebuah surga di atas bumi. Setelah menegakkan administrasi di Iraq pada setiap lapisan pemerintahan, ia berhenti dari jabatannya pada tahun 48 AH karena penyakit dan mengambil tempat kediaman di Madinah.

Imam Ghazali melaporkan bahwa Imam Hasan mempunyai dua ratus isteri. Pada beberapa referensi lain, termasuk dalam tulisan-tulisan Ghazali, dinyatakan bahwa ia biasa menikahi empat wanita baru dan menceraikan empat isterinya setiap minggu! Hanyalah orang-orang dengan tujuan untuk menghina Beliaulah yang tanpa merasa bersalah melempar tuduhan seperti itu pada Imam yang diakui oleh masyarakatnya.

Ada sebuah laporan yang diulang-ulang oleh Haq Ali Haq, seorang Presiden Jami’a Al-Azhar masa lalu, bahwa salah seorang isterinya, Ja’da, tidak setia dan Imam Hasan ingin menceraikannya. Bagaimanapun, sebelum ia melakukannya, istrinya meracuni dia dan ia langsung meninggal. Hal ini terjadi di Madinah pada tahun 49 AH (670 CE).

Penelitian Mahmood Ali Abbasi menyimpulkan bahwa Hazrat Hasan meninggal akibat TBC paru-paru di Madinah pada tahun 49 AH (670 CE).

BAGIAN- 14

Peringatan: Semua kritik dari pengarang diarahkan kepada para sejarawan, dan sama sekali tidak ditujukan kepada semua pribadi Islam yang terhormat sperti: Hazraat Ali, Fatima, Hasan dan Husain [R.A.] yang kepada mereka kita diperintahkan memberikan penghormatan dan penghargaan.

HAZRAT HUSSAIN:
Pemerintahan Keemasannya

Rombongan para musafir akan tetap pada tujuan mereka kendati menghadapi berbagai tantangan yang datang kepada mereka.

Setelah pengunduran diri Imam Hasan, Hazrat Mua’wiya menetapkan Hazrat Imam Hussain sebagai gubernur Iraq. Kalifah yang saleh melanjutkan semua keagungan. Untuk pertama kali dunia bersaksi bahwa di suatu pemerintahan seluas 3,5 juta mil persegi, tidak ada yang bisa menemukan seorangpun yang berkeinginan untuk menerima derma. Dan tidak ada seekor anjingpun mati disebabkan kelaparan pada daerah tersebut. Ini adalah zaman yang patut dicontoh ketika seorang gadis yang membawa barang barang perhiasan bisa bepergian sendiri di atas seekor unta atau kuda sepanjang perjalanan lebih dari seratus mil tanpa rasa takut, kecuali kepada Tuhan!

Harmuzan, seorang aktor intelektual di balik pembunuhan Hazrat Umar, menjadikan dirinya dibunuh pada tahun 23 AH. Anaknya, Jaban bin Harmuzan, telah bergabung dengan sanak keluarganya di  Koofa pada umur mudanya. Ini adalah Jaban bin Harmuzan yang sama yang pernah melakukan usaha pembunuhannya yang gagal kepada Hazrat Hasan pada tahun 46 AH (Meezanul Faris). Pada serangan itu, Hazrat Hasan telah menderita luka-luka serius pada pahanya, tetapi dapat disembuhkan. Di sini, perlu dicatat dengan baik bahwa setelah membunuh Hazrat Uthman, Saba bin Shamoon dan Abdullah bin Saba telah menghilang tanpa bekas. Menurut Hujjatullah Moosvi, mereka telah menghabiskan sisa umur mereka dalam penyamaran di Yemen. Jaban bin Harmuzan juga telah berhasil melarikan diri setelah menyerang Hazrat Hasan ketika orang-orang masih mencurigainya.

KESYAHIDAN IMAM HUSSAIN 680 CE

Hazrat Muawiya meninggal pada tahun 60 AH/ 680 CE. Pertemuan Dewan Syura untuk pemilihan khalifah yang baru sedang berlangsung di Damascus, Koofa dan Madinah, ketika Jaban dan kaki tangannya memasuki kantor Gubernur di Koofa dengan diselimuti gelap malam. Mereka membunuh Gubernur Hazrat Hussain dengan sebuah pukulan pedang yang memisahkan kepala dari badan Beliau. Karena tidakadanya tindakan pengamanan dan terjadi pada kegelapan malam, Jaban dan kaki tangannya dengan mudah meloloskan diri. Menurut Allama Masoodi, Jaban tetap aktif melawan Hazrat Abdulla bin Zubair sepanjang sisa umur hidupnya. Pada akhirnya, ia dibunuh ketika sedang mencoba membunuh, pada akhir hidupnya pada tahun 70 AH. Ia juga mempunyai nama Islam, Bilal bin Yousuf.

BEBERAPA KEANEHAN TENTANG SEJARAH KITA

Dalam mengungkapkan kenyataan tentang tragedi Karbala dan sejarah lainnya, saya telah mengambil bab-bab sejarah dari banyak sumber. Kendati singkat, banyak acuan telah diberikan. Penelitian ini memerlukan sejumlah besar potongan dan sedikit informasi yang terserak di sana-sini dan kemudian meletakkannya bersama-sama untuk mendapatkan gambaran secara keseluruhan. Pembaca mungkin akan bertanya mengapa tak seorangpun menulis buku seperti ini sebelumnya. Barangkali jawabannya telah diberikan dalam buku saya, The Criminal of Islam, “Aku benar-benar tidak tahu.” Secara singkat,  alasannya bisa jadi karena mudah tertipu, kepercayaan yang kurang/ tidak kritis kepada para sejarawan, tidakadanya waktu dan sumber daya untuk penelitian baru, keputus-asaan dalam membuat terobosan baru, rasa takut hidup yang menyimpang dari main-stream, takut terhadap tuduhan keagamaan dari para Mullah dan lain lain. Beberapa sarjana mungkin telah terikat pada topik lain yang lebih penting.

TABARI:

Sejarah tentang muslimin pertama yang pernah ada adalah yang ditulis oleh ‘Imam’ Tabari (839-923 CE)  pada rentang abad yang ketiga dan keempat AH. Ia meninggal pada tahun 310 AH.

Apa sumber yang  ia pakai? Ia tidak mempunyai begitu banyak sejenis catatan yang dijadikan rujukan. Apapun yang ia catat adalah bersumber atau atas dasar “mendengar dari seseorang”. Mendengar dari siapa? Mendengar dari seseorang yang mendengar dari orang lain dan seterusnya…

Tabari sendiri memasukkan di dalam bukunya sebuah penyangkalan sejak dini bahwa mereka yang  menyampaikan ceritera kepadanya harus dipersalahkan jika ditemukan adanya kemustahilan dalam tulisannya! Yang lebih buruk dari itu adalah bahwa Tabari menulis apa yang ia sukai … Ia menulis apapun termasuk yang disampaikan oleh orang-orang yang berpemahaman Majusi di dalam hatinya dan… ia pun menulis apapun yang para ulama kerajaan perintahkan. Puncak dari semua itu adalah, bahwa ia mencatat semua informasi dari orang-orang yang ke dalam pikirannya telah dirasuki paham-paham/ ajaran tertentu oleh keturunan intelektual Harmuzan, Jafeena dan Saba bin Sham’oon. Tabari sendiri adalah seorang yang mampu membuat cerita dan tukang cerita. Ia membebaskan raja dari kesulitan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Hanya sejarah dan pengungkapan yang seperti inilah yang sesuai dengan para raja Abbasiah yang akan menyucikan dan mengesahkan martabat raja mereka, membuka pintu kearah kekayaan dan kenikmatan dunia, memungkinkan mereka untuk menimbun kekayaan dan membantunya memelihara budak dan harem-harem wanita. Tabari memberikan mereka segalanya. Sebagai balasannya, mereka mengguyurkan kepadanya emas, penghormatan dan berbagai anugrah.

Dengan menyusun buku sejarah (13 volume) dan tafsir Al-Quran (30 volume) ia dimahkotai sebagai seorang Imam yang paling dihormati. Lalu, siapa yang mampu dan berani mengoreksi hasil karyanya yang luar biasa tersebut?

KULAINI:

Yang ini adalah Muhammad bin Yaqoob bin Ishaq Al-Kulaini. Sebagai seorang keturunan Majusi, hasil karyanya juga sungguh mengesankan (Meezanul Faris). Seperti Tabari, ia juga tidak mempunyai satupun sumber tertulis dalam membuat bukunya. Ia menulis semata-mata didasarkan atas hasil dengar-dengar dan hal itu dilakukan sudah sangat terlambat yaitu pada akhir abad ke-4 dan ke-5 AH.

Para pembaca yang berpandangan terbuka dapat membayangkan kenyataan apa yang dapat ditemukan dalam tulisannya yang semata-mata didasarkan atas pembicaraan yang terbawa angin, “Ia berkata anu karena ia mendengarnya dari seseorang yang mendengarnya dari dia, dan seterusnya dan sebagainya”.

Yang lebih penting adalah, pengujian secara obyektif untuk melihat kandungan dari tulisannya (dan juga sejarawan yang lain) selalu terbuka lebar bagi para pencari kebenaran. Tulisan mereka sangat penuh dengan kebohongan, kepalsuan, hal-hal yang tidak masuk akal dan motiv tersembunyi.

SIAPA YANG BERANI BERBICARA TENTANG KEBENARAN!

Tabari khususnya memperoleh pengaruh karena adanya dukungan kerajaan Abbasiah. Orang-orang yang tidak sependapat dengannya yang memberanikan diri berdebat dengan dia, maka para Qadzi (hakim) kerajaan akan memberikan label kepada orang seperti itu sebagai ahli bid’ah, seorang Mo’tazilah (orang yang berpendapat dengan cara berfikir yang rasional) dan bahkan akan dipancung. Dan tulisannya akan dilemparkan ke perapian. Inilah kenapa, seiring dengan berjalannya waktu, dengan tanpa rintangan tulisan-tulisan Tabari dan Muhaddithin pilihan kerajaan semakin banyak memperoleh justifikasi keaslian dan kesucian. Dengan lingkungan seperti ini, siapa yang mampu dan berani mengungkapkan kebenaran? Bagaimana seseorang berani berpendapat berbeda?

Menurut Allama Habibur Rahman Kandhalvi, para pegawai kunci Abbasiah dipegang oleh orang-orang Majusi. Para wanita mereka menduduki harem-harem Abbasiah. Dengan lingkungan yang seperti inilah penyimpangan yang serius diciptakan di bidang keimanan. Adalah benar-benar merupakan suatu kegemparan jika melaporkan suatu kebenaran yang sesungguhnya. Para sejarawan adalah orang-orang Majusi dan para penulis Hadith (perkataan dan perbuatan Nabi) dan Seerah (riwayat hidup Nabi) adalah orang-orang Yahudi dan Majusi.

Penulis pertama kronologi sejarah tentang peperangan Nabi yang agung dan riwayat hidupnya adalah seorang Majusi yang bernama Muhammad bin Ishaq bin Yassar. Ia juga telah dicatat sebagai orang Yahudi dalam beberapa laporan. Hasil kompilasinya sudah tidak ada! Tetapi versi yang diedit yang ditulis oleh Ibnu Hisham, yang berjudul ”Sirah”, didasarkan pada buku Ibnu Ishaq. Tipu dayanya adalah serupa dengan lainnya. Ia akan menguraikan beberapa baris dengan topik cerita yang bersifat memuji Nabi, dalam rangka untuk menetapkan kredibilitasnya terhadap Islam, yang kemudian diikuti dengan baris-baris atau paragraf narasi yang bersifat menghina. Kebanyakan dari sumbernya adalah Yahudi dan Majusi. Itulah mengapa Imam Malik telah menjuluki Muhammad bin Ishaq sebagai seorang pendusta. Antara Muhammad bin Ishaq dan turunannya yang pertama yang tersedia dari hasil karya Ibn Hisham, semua perawinya adalah orang-orang Persia dan Yahudi seperti Ziad Al-Bakai, Muslimatil Abrash dan Hameed Razi. Juga ada Waqidi, seorang Majusi tulen dan mempunyai reputasi sebagai pendusta terbesar pada zamannya (Mazhabi Dastanain aur Unki Haqeeqat oleh Allama Habib Kandhalwi).

Marilah kita lihat sebuah contoh mutiara laporan yang ditaburkan oleh karakter seperti ini: ”Siapa saja yang menyumbangkan dua unit doa sambil membayangkan kecantikan Puteri Shahr Bano, akan memperoleh tujuh puluh ribu istana baginya di Surga. Setiap dari istana-istana tersebut akan mempunyai tujuh puluh ribu kamar, setiap kamar tujuh puluh ribu singgasana dan setiap singgasana akan mempunyai tujuh puluh ribu bidadari yang siap jatuh dalam pelukan”.

Bencana lain yang ditimbulkan dari buku-buku seperti ini adalah tidakadanya garis pemisah yang jelas antara tiga disiplin ilmu, yaitu sejarah, tafsir (pengungkapan makna Al-Quran) dan Hadith (tradisi Nabi yang agung). Mereka semua dijalin dengan cara yang membingungkan. Dan mereka dipenuhi dengan pertentangan di sana sini.

Allama Shibli Nomani, pada halaman 27 Seeratun Nabi-nya telah memberikan suatu kutipan yang mengejutkan dari Imam Ahmad bin Hanbal, yang menyatakan bahwa “Tiga jenis buku benar-benar tidak ditemukan, yaitu: Mughazi, Malaham dan Tafseer” (Peperangan-peperangan yang dihadiri Nabi, Pergerakan-pergerakan kecil dan Pengungkapan makna Al-Quran).

SEMUA SAHABA KARAM – KECUALI LIMA – MENJADI AHLUL BID’AH!

Atau, masih adakah seorang saja yang muslim? Imam Bukhari telah menyatakan bahwa para Sahabat Nabi telah kembali menjadi murtad ketika Nabi meninggal (Kitabul Fatan). Tabari menulis: Rasul Allah berkata, “Sebagian dari sahabatku akan mengunjungiku di telaga. Allah akan menjauhkan mereka dari hadapanku. Aku akan berkata: Wahai Tuhanku! Mereka adalah para sahabatku. Tetapi aku akan diberitahu: Kamu tidak mengetahui perbuatan apa yang mereka lakukan sepeninggal kamu.”

Bagaikan bola yang menggelinding ke depan, Hafiz Ibn Hajr menyatakan, “Umro bin Sabit telah berkata bahwa semuanya, kecuali lima, menjadi ahli bid’ah setelah meninggalnya Nabi.”

Dan Ayatullah Aluzma Al-Hussaini menembakkan bola mencapai sasarannya. Ia menulis, “Mereka yang lima itu, yaitu yang tetap dalam kelompok Islam adalah Salman Farsi, Miqdad, Abu Zar, Ammar dan Hazeefa.”

DUA LAGI DISINGKIRKAN!

Namun tidak hanya sampai di situ, lebih lanjut “orang-orang yang selamat” dikurangi lagi menjadi tinggal tiga. Hazrat Ammar dan Hazrat Hazeefa juga dibuang dari wadah Islam. Akhirnya score dua gol! Apakah ini akhir dari permainan mereka? [Secara mencengangkan, para sejarawan dan kolektor Hadith yang brilian melupakan untuk memasukkan orang sekaliber Hazraat Ali, Fatima, Hasan dan Hussain dalam kelompok elit dari sedikit orang-orang yang mereka anggap setia dengan Islam. Apakah jalan sudah berujung? Ternyata belum]

SCORE GOL YANG LAIN – HANYA SEORANG MUSLIM YANG TERSISA:

Dikatakan oleh sejarawan kita bahwa jika keimanan Hazrat Salman Farsi dibandingkan dengan yang lain, maka keimanan Hazraat Miqdad dan Abu Zar Al-Ghaffari tidak akan sebanding dan, karena itulah maka mereka berdua perlu dianggap ahlul bid’ah juga! Maka, kesudahannya, setelah Nabi meninggal, hanya seorang Muslimin tetap setia di muka bumi ini, yaitu Salman Farsi. Ingat bahwa ia berasal dari Persia!

Imam Malik (salah seorang murid Al-Zuhri) dengan Muwatta yang terkenal itu tidak mau ketinggalan. Sesungguhnya ia mendahului kelompok tersebut di atas. Ia meletakkan dasar cerita tersebut dengan mencatat pada bab Kitabul Jihad, “Rasul Allah berkata tentang para syahid Uhud bahwa ia sendiri akan bersaksi kepada Allah tentang iman mereka. Hazrat Abu Bakr meminta keterangan tentang dirinya. Nabi berkata, “Aku tidak mengetahui bid’ah apa yang direncanakan setelah aku.”Hazrat Abu Bakr mulai menangis dan berteriak-teriak. Nabi tidak menghibur dia.” Paragrap yang terakhir ini disampaikan dengan singkat dalam buku “Saat Sahaba Kay Halaat-E-Zindagi”v(Kejadian dalam Hidup Tujuh Sahaba Vol. 3, hal. 19) karangan Ayatullah As-Syed Murtaza Hussain Nasir Ferozabadi terbitan Nasir Ptinting Press. Ia telah mengambil semua narasi dari enam buku “otentik” Ahadith dan sumber Sunni.

MUSLIMIN YANG MUDAH TERTIPU:

Adalah luar biasa bahwa kita Muslimin menganggap kumpulan dongeng ini merupakan buku-buku yang paling akurat, keaslian buku-buku tersebut menjadi yang kedua setelah Al-Quran. Hal ini, di samping hinaan yang memalukan kepada akal sehat, sekelompok orang memproklamirkan bahwa Bukhari dan Muslim adalah Kitab yang paling akurat, sementara yang lain setuju untuk menempatkan posisi istimewa ini kepada Tabari, Al-Kulaini dan buku-buku Syiah yang lain.

Mullah yang sangat terkenal seperti “Maulana” Maudoodi, sempat memperhatikan cerita kosong ini pada abad ke dua puluh, dengan menyatakan, “Jika kita membuang cerita ini, apa yang masih tersisa pada kita?” Baiklah, kita masih mewarisi Kitab Allah dan semua laporan yang lulus dengan Furqon ini untuk memilah dan memilih yang benar dari yang salah. Namun aturan yang sederhana ini gagal untuk meresap pada pikiran para Mullah yang tertutup. Sesungguhnya, bagi Muslimin hal ini merupakan sebuah tugas yang gampang. Apa yang para sejarawan dan Muhaddithin tulis, harus di-check kembali kebenarannya dengan Al-Quran. Sebagai contoh, apakah Al-Quran secara gamblang berkata bahwa para sahabat Nabi yang dihormati akan berpaling kepada bid’ah segera setelah Beliau meninggal dunia? Bukankah AL-Quran memberikan serangkaian penghargaan yang tinggi pada semua sahabat Nabi yang agung?

ORANG-ORANG MUNAFIK SUDAH DIKENAL:

Banyak sejarawan menyebutkan dalam karya-karya mereka bahwa bahkan pada masa hidup Nabi yang agung, kebanyakan dari sahabatnya adalah orang-orang munafik yang tidak dikenal (kecuali bagi para Penjahat Islam ini). Namun demikian Al-Quran ayat 3:179 dan 40:30 telah memberitahu kita bahwa orang-orang munafik telah diketahui dengan baik ketika mereka hidup bersama dengan Nabi.

BEBERAPA KRONOLOGI: ISLAM MURNI MENJADI ISLAM AJAMI MASA KINI

PENYAKIT QALA QALA QALA

Yang berikut adalah tahun kematian dari sebagian sejarawan dan para pengumpul Hadith. Hal ini akan membantu kita dalam menentukan siapa dan kapan Islam yang murni berubah menjadi Islam yang palsu, buatan manusia, Islam Ajami, Islam yang Nomor Dua.

Dua fakta harus selalu diingat.

  • Pertama, Nabi meninggal pada tahun 11 AH (632 CE).
  • Kedua, bahwa para pengarang tersebut (yang hidup lebih dari seabad setelah Nabi meninggal), pada saat mereka menulis, tidak satupun dari mereka mengacu pada tulisan ulama sebelumnya. Mereka semua menulis berdasarkan pada mendengar ucapan orang sezamannya, “Ia berkata ini atau sesuatu seperti ini, saya mendengar bahwa ia mendengar dari si Anu yang mendengar dari si Anu bahwa Nabi berkata ini atau begitu ….”- Itulah penyakit QALA QALA QALA.

Tolong Perhatian!

Sebelum kita lanjutkan, mari kita secara singkat menyelidiki apa kata Al-Quran terhadap para pemalsu ini:

6:112. Begitulah Kami mengadakan bagi tiap-tiap Nabi seorang musuh, syaitan-syaitan dari manusia dan jin, yang mewahyukan ucapan palsu yang indah-indah kepada satu sama lain, untuk menipu; dan sekiranya Pemelihara kamu menghendaki, tentu mereka tidak membuatnya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka mengada-adakan.

6:113. Dan supaya hati orang-orang yang tidak mempercayai akhirat condong kepadanya, dan supaya mereka sangat berpuas hati dengannya, dan supaya mereka memperoleh apa yang mereka peroleh.

22:52. Kami tidak mengutus seseorang Rasul, dan tidak juga seseorang Nabi sebelum kamu, melainkan bahawa apabila dia berkhayal, syaitan melemparkan ke dalam khayalannya; tetapi Allah menghapuskan apa yang dilempar syaitan, kemudian Allah menentukan ayat-ayat-Nya; Allah Mengetahui, Bijaksana. [Syaitan-syaitan manusia kemudian mencoba untuk mengubah ajaran-Nya setelah ia pergi. Allah, kemudian, mengirim Rasul (Pesuruh) yang lain untuk mengembalikan kemurnian Pesan-Nya 6:113. Hingga Pesan yang terakhir diwahyukan dan Allah sendiri yang menjamin pemeliharaan-Nya]

22:53. (Allah mengijinkan manusia-manusia syaitan ini untuk melanjutkan bujukan jahat mereka) Supaya Dia menjadikan apa yang syaitan lemparkan, (sebagai) satu cobaan bagi orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, dan orang-orang yang hati mereka keras; dan sesungguhnya orang-orang yang zalim adalah dalam permusuhan yang sangat. [Zulm= pengasingan diri dari sesuatu yang benar, 2:53. Bagian akhir dari ayat tersebut telah menjelaskan akifitas mereka]

22:54. Dan supaya orang-orang yang diberi pengetahuan mengetahui bahwa ia yang benar dari Pemelihara kamu, dan mempercayainya, dan hati mereka merendah kepada-Nya; dan sesungguhnya Allah selamanya memberi petunjuk kepada orang-orang yang percaya pada jalan lurus. (5:48,15:19)

22:55. Dan orang-orang yang tidak percaya tidak henti-hentinya dalam keragu-raguan padanya, sehingga ”Saat” datang kepada mereka dengan tiba-tiba, atau datang kepada mereka azab hari yang tandus.

Kita melihat bahwa Quran telah betul-betul memperingatkan dari awal kepada Muslimin tentang adanya komplotan/ konspirator sejarawan dan ahli hadits yang akan merusak Islam. Proses transisi dari Al-Islam, (DEENILLAH di  Al-Quran) menjadi IN2 (Islam Nomor Dua) adalah suatu penghancuran yaitu melalui komplotan tersembunyi.

Ketika komplotan tersebut telah mulai bekerja selama awal dinasti Abbasiah, mereka memerlukan waktu agar ajaran IN2 tersebar kepada masyarakat banyak. Metode mereka dengan cara memasukkan ajaran IN2 melalui tulisan, penggandaan, komunikasi dan penyebaran buku-buku, benar-benar lamban dan membosankan. Itulah mengapa Revolusi Islam terjadi dalam prosesnya selama berabad-abad. Kemunduran secara moral, sosial, ilmu pengetahuan dan politik kaum muslimin mulai terjadi sejak sekitar 800 tahun kemudian, yaitu pada abad ke-13 M, yaitu ditandai secara nyata dengan adanya serangan gencar oleh Hulago pada pusat kekhalifahan Baghdad pada tahun 1258 M atas undangan orang-orang Persia.

Berikut ini adalah daftar sebagian dari para komplotan/ konspirator yang paling utama (atau bisa jadi mereka adalah korban konspirasi juga?) yang telah memesongkan Islam dari DEEN kepada agama buatan sebagaimana yang kita lihat hari ini. Tahun kematian mereka diberi tanda *.

Perlu diketahui bahwa AH menunjukkan AL-HIJRAH, yaitu penanggalan sistim bulan kaum Muslimin yang dimulai sejak hijrah Nabi yang agung dari Makkah ke Madinah pada tahun  623 CE. Seratus tahun penanggalan Gregorian sama dengan 103 tahun sistem putaran bulan. Nabi yang agung menuju ke kehidupan berikutnya pada tahun 632 CE atau 9 AH.

MEREKA YANG ”BERCAHAYA”:

•   Imam Ibn Jareer at-Tabari 310* (penafsir al-Quran yang pertama dan sejarawan yang pertama)

IMAM HADITH SUNNI:
1.   Imam Muhammad Ismail Bukhari    256*
2.   Muslimin Imam Bin Hajjaj       261*
3.   Imam Abu Dawood          275*
4.   Imam Abu Abdullah bin Majah       273*
5.   Imam Abu Musa Tirmizi          279*
6.   Imam Abdur Rahman Nisai       303*
7.   Imam Malik bin Anas          179*

Imam Malik adalah juga seorang Muhaddith (Pengumpul Hadith). Anehnya, ia adalah satu-satunya Muhaddith yang berasal dari Arab (bukan Persia). Koleksinya, Muwatta tidak diperhitungkan kedalam anggota Sahah Sittah (Enam kebenaran)!

IMAM FIQH (AHLI HUKUM):
1.   Imam Malik bin Anas    179*
2.   Imam Abu Hanifa    150* (Tanpa buku)
3.   Imam Ahmad bin Hanbal 241*
4.   Imam Shafi’I       204*
5.   Imam Ja’Far Saadiq    145* (diterima oleh Shia- Tanpa buku)

IMAM HADITH SHIA:
1.   Muhammad Syekh Bin Yaqoob bin Ishaq Al-Kulaini 329* menulis Al-Kafi
2.   Syekh Saddooq Abu Jafar Muhammad Bin Ali Tabrasi 381* menulis Man Yazharal Faqeeh
3.   Syekh Abu Jafar Muhammad Ibn-Hasan Toosi 460* menulis Tehzeebul Ahkam dan Al-Istabsar

SEBUAH PERNYATAAN PRIBADI

Mungkin sudah saatnya untuk menyatakan dan menegaskan bahwa Shabbir tidak mempunyai sekte. Ia mengetahui dengan cukup baik bahwa sektarianisme adalah syirik (menyekutukan Allah dengan sesuatu merupakan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan) (QS, 30:31-32) dan bahwa Rasulullah yang agung tidak ada sangkut pautnya dengan sekte-sekte tersebut. (Al-Qur’an 6:159)

Aku dengan sungguh-sungguh sudah mencoba untuk menjadikan sesuatu itu mudah dan menghematkan waktu bagi para pembaca yang terhormat. Pembaca didukung untuk mempunyai pandangan yang ringkas terhadap sumber yang sangat banyak, yang mana buku-buku tersebut telah dianggap asli dan “suci”, untuk memastikan apa yang sebenarnya telah ditulis didalam buku-buku yang diskralkan tersebut.

Banyak dari para pembaca dan teman yang saya hormati sangat menginginkan bahwa Shabbir telah menkritisi semua agama dan sekte. Apakah ia tidak menyadari adanya semua resiko termasuk adanya hukuman dari pada mullah? Dengan mengenali adanya resiko, aku harus berterima kasih kepada mereka atas perhatiannya yang tulus. Sekalipun begitu, dogma yang sudah terbentuk secara mapan tidak bisa dilawan tanpa keberanian? Al-Quran memerintahkan kepada kita untuk tidak menyembunyikan kebenaran (2:42). Tolong ijinkan saya untuk menyatakan bahwa aku tengah menantang kepercayaan yang dipegang oleh anggota keluarga di mana aku dilahirkan dan kami telah melihat cahaya.

BAGIAN- 15

SESI TANYA – JAWAB

Pembaca yth.,

Selama menyusun buku ini bersama-sama, beberapa orang baik laki-laki maupun perempuan telah bertanya kepada saya beberapa pertanyaan sangat penting.

Pertanyaan (Q): Selamat bahwa Anda bukan kepunyaan sekte manapun, tetapi harus ada suatu kepercayaan dari yang lain yang boleh jadi memuakkan bagi kamu? Hassan Akhtar, Detroit.

Jawaban (A): Aku menyatakan dengan segenap jiwa saya, bahwa saya bukan kepunyaan sekte manapun. Penghormatan dan cinta kepada Al-Quran dan Nabi yang agung, cukup sebagai alasan yang masuk akal, dari sangkar pemikiran keberagamaan saya. Mengenai kepercayaan terhadap yang lain, saya kira saya tidak membawa rasa suka dan tidak suka secara pribadi. Menjadikan Kitab Allah sebagai Ukuran Yang terakhir, kita semua harus tidak mengindahkan dogma non-Qura’nic di mana saja kita temui.

Q. Terlepas dari sudut pandang Shi’ah, buku anda, Karbala: Fakta atau Fiksi?- tidak akan mendapatkan persetujuan dari alim ulama non-Shi’ah kita. Hafiz Ghulam Muhammad, Jacksonville.

A. Mendapatkan persetujuan dari seseorang bukanlah tujanku. Integritas dalam riset adalah yang paling penting bagiku. Selain sebagai dokter, aku adalah seorang siswa sejarah, psikologi, filosofi dan ilmu agama. Setelah melakukan riset menurut kemampuan terbaik yang kumiliki, saya menyajikan kesimpulan yang tulus dengan tetap menghormati yang lain. Tentu saja, seorang murid yang dapat berbuat keliru  seperti saya mungkin juga membuat kekeliruan. Shiah, non-Shiah dan yang lainnya mempunyai hak mutlak untuk menolak hasil riset saya.

Q. Sesuai dengan tema dari buku ini, aku ingin bertanya kenyataan dari Panjtan Pak (Lima Figur suci, Muhammad (S), Hazraat Ali, Fatima, Hasan dan Hussain). Humera Jaafri, Orlando.

A.   Banyak Muslimin dari berbagai sekte menganggap lima orang terkemuka yang agung ini sebagai Panjtan Pak. Kita tidak mempunyai keraguan tentang karakter mulia mereka. Namun demikian, istilah Panjtan Pak atau istilah lainnya tidak nampak di Quran, atau nama selain Muhammad tidak nampak di Kitab tersebut. Menurut Kitab Allah, kualitas pribadi tergantung pada perbuatan individu, bukan pada kekerabatan.

Q. Muslimin tetap mempermasalahkan tentang Tritunggal dalam ajaran Kristen. Bagaimana tentang Segilima mereka sendiri (Panjtan Pak)? Andrea Maseeh, Gujranwala.

A.   Perhatikan pertanyaan yang terakhir dan jawabannya. Ini adalah dogma yang non-Quranic. Bagi  Muslimin, tentu saja juga manusia seluruhnya, kewenangan terakhir tidak lain hanyalah Kitab Allah. Tidak ada ‘Segilima’ dalam Al-Quran.

Q. “Setelah mepelajari naskah dari buku ini”, Khateeb Muhammad Yaseen Jafri, seorang Muhaddith dari Multan berkata, “Bukumu akan sangat membantu menyingkirkan pernyataan melebih-lebihkan yang tak terbilang banyaknya dalam sejarah kita. Tetapi tolong ditinjauan ulang Ayat tentang ‘Tatheer’.”

A. Aku berterima kasih kepada Mr. Jafri yang terpandang, bahwa ia mempelajri naskah ini dan memberi nasihat yang berharga. Untuk memenuhi keinginannya aku sudah meninjau apa yang disebut Ayah Tatheer (33:33). Ayah 28 hingga ayat 34 dari Sura Ahzab tersebut semuanya ditujukan kepada isteri Rasul yang agung (Para ibu mukminin). Ayah 33 dan 34 berisi perintah khusus kepada para wanita mulia ini dan rumah tangga secara umum. Hazrat Ali bukanlah seseorang yang tinggal di dalamnya tetapi seorang menantu. Oleh karena itu, kita tidak menemukan apapun pada ayat ini untuk dikaitkan kepada Hazraat Ali, Fatima, Hasan dan Hussain. Semua narasi yang mengaitkan mereka dengan ayat ini muncul pada abad ketiga dan keempat AH oleh orang-orang untuk mengadu domba Muslimin.

Q. Yang terhormat Sheikhul-Hadith Mufti Muhammad Irshad Nizami juga telah dengan baik meninjau ulang secara kritis naskah ini. Ia berkata, “Acuan anda akurat. Usaha ini mungkin akan menciptakan dua jenis reaksi. Sebagian orang akan merasa mendapat serangan. Pada sisi lain, pemikir yang tidak memihak akan menemukan di dalamnya potensi untuk kembali kepada AL-Quran dan dengan begitu akan mempersatukan dua sekte utama Islam.”  Syekh Sahib, dengan penuh harapan, lebih lanjut  berkata, “Riset sejenis ini  semestinya telah dilakukan orang tua seperti aku. Sekarang pada saat umurku yang sudah senja (80 tahun lebih) aku merasakan bahwa aku akan mampu meinggalkan dunia ini dengan kepuasan, karena seseorang telah melakukan pekerjaan yang telah ditinggalkan selama berabad-abad. Tolong perhatikan dua persoalan atas nama saya karena mereka sering salah tafsir.

Satu:  “Ayah Tatheer” (33:33) hanya menyinggung kepada rumah tangga Nabi (Ahlul Bait) yaitu mereka yang tinggal di rumah Rasool (S), yaitu isterinya dan anak-anak mereka. Jika Hazrat Ali dimasukkan karena dia sepupu Nabi, lalu bagaimana dengan Hazrat Abbas bin Abdul Muttalib, paman Nabi, kenapa diabaikan? Kekerabatan seorang paman adalah lebih dekat dibandingkan dengan seorang sepupu. Dan, bagaimana dengan para putri Nabi selain dari Hazrat Fatima! Berdasarkan sejarah ini, banyak khalifah dari dinasti Abbasiah mengklaim bahwa pemerintahan mereka adalah sebagai pemerintahan Ahlul Bait. Para pendukung Abbasiah yang pertama, Khalifah Abul Abbas, menganggap dia sebagai Imam yang syah.

Dua: ”Al-Mawaddata fil Qurba” harus dengan tepat dipahami. Istilah ini pada ayat 42:23 bermakna menghormati orang-orang yang dekat. Ayat 42:23 ini adalah berita gembira dari Allah kepada para pelayanNya yang percaya dan hidup dengan kesalehan. Katakanlah, “Tidak ada imbalan yang aku minta kepadamu untuk ini selain dari bahwa kamu menunjukkan kasih sayang kepada orang-orang yang dekat dalam ikatan kemanusiaan” (dan dengan begitu mencari Jalan menuju Tuhanmu 25:57). Karena, seseorang yang bermanfaat bagi orang banyak, Kami akan menghadiahi dia tambahan kebaikan. Dan, sungguh, Allah bebas dari ketidaksempurnaan, sangat tanggap untuk berterima kasih.

Sebagian orang secara keliru menginterpretasikan ‘’Al-Mawaddata fil Qurba” seolah-olah Nabi yang agung meminta orang-orang untuk mencintai familinya sebagai imbalan atas jasa-jasanya. Penafsiran ini jelas keliru jika dikaitkan dengan semangat Al-Qur’an yang menyiratkan bahwa kekerabatan, ras, warna kulit dan ethnik tidak bisa dijadikan sebagai dasar untuk menentukan kemuliaan atau kebaikan seseorang.

Juga, istilah untuk famili/ keluarga adalah ”dzil Qurba” atau ”Aqraba”, bukan ”Fil Qurba”.

Hazraat Nooh, Hud, Lut, Saleh, Shoaib, dan semua Nabi yang lainnya mengatakan kepada kaumnya bahwa mereka tidak meminta imbalan jasa apapun atas pelayanan mereka. Maka, bagaimana bisa Nabi yang agung meminta suatu imbalan atas risalahnya? Al-Quran menolak konsep ini dengan menyatakan bahwa hanya karakter pribadi dari seorang individu yang bisa dijadikan ukuran kehormatan seseorang. Menjadi bapak Hazrat Ibrahim tidak memberikan manfaat bagi Azar, demikian juga menjadi keturunan seorang Nabi tidak bisa membantu anak Noah. Hubungan keluarga tidak memberikan jaminan keselamatan bagi isteri Hazraat Nooh dan Lut. Dengan cara yang sama, adalah dari keturunan Nabi juga seorang seperti Muhammad Ali Baab dilahirkan, yang pada faktanya meninggalkan Islam dan menemukan agama Bahai.”

Q. Bagaimana mungkin Nabi meninggalkan dunia ini tanpa menunjuk nama seorang pengganti?” Kazim Ali Zaidi

A. Surah Shoora menyuruh konsultasi timbal balik untuk menjalankan urusan orang-orang yang beriman.

Q. Saya berpikir Maudoodi Sahib benar ketika bertanya apa yang ditinggalkan kepada kita jika kita tidak menerima tulisan dari para sejarawan kita. Alhaj Muhammad Raghib Siddiqui, Lahore.

A. Muslimin secara unik meletakkan dirinya dengan membandingkan dengan orang yang lain. Mereka mempunyai Al-Quran yang akan memisahkan yang benar dari yang palsu. Kita semestinya menerima catatan dari sejarah dan hadits zaman dulu hanya jika sesuai dengan AL-Quran.

Q. Tetapi Al-Quran tidak diwahyukan selama peristiwa Jamal, Saffain dan Karbala ?

A. Benar. Namun demikian, bagaimana bisa para sejarawan tiga atau empat ratus tahun kemudian memberikan penjelasan yang lebih baik perihal karakter para Sahaba Karam dibandingkan dengan yang disampaikan Al-Quran?

Mr. Surjeet Singh Lamba dari Delhi, India, telah mengirimkan sebagian dari puisinya untuk dimasukkan ke dalam buku ini. (Terjemahan dari Urdu)
Siapa yang lebih besar keimanannya dibanding Siddique
Siapa yang lebih adil dibanding Farooq
Siapa yang lebih dermawan dibanding Uthman
Siapa yang lebih berani dibanding Ali Singa Allah
Jika seperti itu sifat para pelayan betapa besar Sultan jadinya

Ungkapan ringkas ini membawa sebuah pelajaran bagi kaum Muslimin yang senantiasa mengumumkan Sahaba Karam berdasarkan kepercayaan sektarian mereka yang patut disayangkan.

Q. Perjalanan episode Karbala yang berkaitan dengan masa lalu, selalu menciptakan keraguan. Bukumu telah melepaskan belenggu di pikiranku. Aku berdoa semoga bukumu menjadi sebuah basis untuk kesatuan di antara Muslimin! Prof. Abdul Hamid Mansoori, Patna (India)

A. Tentu saja, prioritas utama untuk Ummah adalah mempersatukan diri mereka di bawah panji Al-Qur’an. Yang kulakukan hanyalah sebuah usaha sederhana.

Q. Sebuah pemikiran yang kecil akan mengantarkan kita kepada memahami bahwa Islam itu datang untuk mengangkat ras manusia kepada kemuliaan yang baru, dan tidak untuk selalu meratap dan berduka cita atas kejadian berabad-abad yang lalu. Fuad Haufmann, Turkey.

A. Bahan pemikiran untuk masyarakat yang tajam pikiran.

Q. Menurut Imam Ja’far Sadiq dan Imam Ali Raza, Sufisme adalah bid’ah. Meskipun saya seorang pengikut Shiah, aku tidak mengetahui dasar pemikiran dari ajaran ini. Mrs. Amtul Quddus, Houston

A. Para ulama Athna Ashri menghormati para Sufi dan Sufisme sebagai olok-olok, tetapi untuk tujuan yang salah. Menurut mereka, seseorang yang tidak mampu mengenali Imam pada zamannya sama sekali tidak bisa menjadi orang yang bijaksana. Imam sekarang, menurut mereka,  Mahdi yang sedang bersembunyi.

Q. Aku pernah mendengar bahwa ada hubungan kekerabatan antara Yazeed Ibn Muawiya dan Hazrat Hussain? Feroz Malik, Faisalabad

A. Seorang kemenakan perempuan dari Imam Hussain adalah isteri Yazeed dan salah seorang dari isteri Imam Hussain, Rubab adalah kemenakan Yazeed.

Q. Meskipun seorang Zaidi, aku sudah membebaskan diriku dari bencana sektarianisme. Saya bukan seorang Sunni maupun Shi’i, tetapi hanyalah seorang Muslim. Tetapi untuk penelitian akademis, apakah prinsip utama pada sekte Shi’ah? Nawab Hussain Zaidi, Orlando

A. Quran menjadikan hal itu jelasa bahwa Nabi yang agung tidak ada kaitan apapun dengan mereka yang membagi-bagi Islam dalam berbagai sekte (6/159). Aku menghargai pemahamanmu. Quaid Azam  dilahirkan dalam sebuah keluarga Ismaili Khoja, tetapi ketika ia ditanya sekte apa yang ia punyai, maka ia menjawab, “Pertama ceritakan kepada kami sekte apa yang dipunyai Nabi dan para sahabatnya”. Lihatlah juga jawaban dari pertanyaan berikutnya.

Q. Apakah semua Shi’ah juga mempunyai sekte seperti Sunni? Niaz Ahmad Khan, Indiana.

A. Dikarenakan mengabaikan Al-Quran, maka terdapat sejumlah besar sekte dan sub-sekte di antara Muslimin yang pada awal abad 21 ini, yang dihitung oleh Alhaj Irshad Kareem Tughree dari Istanbul sebanyak 191 sekte! Berikut adalah beberapa sekte Shi’ah:
(i)   Shia Athna Ashree – Mereka yang mengakui adanya 12 Imam
(ii)   Kaisania – Mereka yang menghormati Muhammad Bin Hanfia, (yang meninggal pada tahun 84 AH) sebagai Imam yang syah dan Mahdi yang dijanjikan. Ia adalah putra Hanfia, isteri Hazrat Ali yang lain, di samping Fatima. Mukhtar Thaqafi mengikuti sekte ini.
(iii)   Zaidi – Mereka yang mengakui Zaid putra Imam Zainul Abedin (w.125 AH/ 739 CE) sebagai Imam yang terakhir. Oleh karena itu mereka disebut sebagai Syiah  “Lima Imami”  untuk membedakan dengan Syiah “Dua belas Imami”.
(iv)   Ismaili – Imam Zainul Abedin, Imam yang keempat mempunyai dua orang putra yaitu Baqir dan Zaid. Zaid tidak menerima Baqir sebagai Imam. Imam yang keenam Jafar Sadiq mempunyai dua putra yaitu Musa Kazim dan Ismail. Mereka yang menerima Ismail dan keturunannya sebagai Imam  disebut Ismaili. Pangeran Karim Agha Khan adalah Imam mereka yang ke-49. Pada sisi lain, mereka yang menerima Imamah Musa Kazim selanjutnya disebut pengikut 12 Imamah atau Asna Asharis.

Terlepas dari ini, terdapat sekte lain seperti Fatimi, non-Fatimi, Alavi, Khariji, Bohra, Khoja, Shaikhia, Durooz, Jabria, Qadaria, Tawwabin dan seterusnya.

Q. Bagaimana status Ahlus Sunna? Yang mana, di antara sekte yang tak terbilang banyaknya itu ada pada jalan yang lurus? Salma Abdur Razzaq, Miami

A. Ahlus Sunna (Sunni) juga telah melakukan pembagian-pembagian pada dirinya. Sebenarnya telah menipu masyarakat banyak, para alim ulama telah menguraikan sekte mereka sebagai ”Kelompok Pemikiran”. Ahlus Sunna mempunyai dua sekte utama, Muqallid dan Ghair Muqallid, yang berarti para penganut setia dan yang bukan penganut setia. Kemudian ada yang percaya pada Fiqh dan ada yang percaya pada Hadith. Ke bawahnya lagi, di antara Ahlul Hadith ada yang seperti Wahabi dan Wahabi yang lain. Di antara Ahlul Fiqh ada Hanafi, Hanbali, Maliki dan Shafi’i. Di antara Hanafi ada Deobandi dan Barelvi. Di antara Barelvi ada Raza Khani dan Tawheedi. Di antara Deobandis ada Qadeemi dan Jadeedi, Jalal Abadi dan Towni yang baru, dan seterusnya.

Sekte yang mana yang merupakan jalan yang lurus? Tidak ada sekte yang berada pada jalan yang lurus. Al-Quran mengumumkan bahwa tiap-tiap sekte adalah Mushrik dan mengasingkan dari Rasul yang agung. Al-Kitab menamai semua orang yang menyerahkan diri pada Allah sebagai Muslimin (22:78). Tidak ada ruang bagi seorang Muslim untuk berpecah-belah di dalam kerangka Al-Quran.

Q. “Perbedaan pendapat di antara Ummah adalah rahmat Allah”, mengutip suatu Hadith, Banday Ali Hussaini dari Kathiawar.

A. Banyak Ulama yang telah menerima Hadith ini sebagai palsu. Perpecahan atau Perselisihan adalah sebuah bencana dipandang dari sudut Al-Quran. Karakteristik utama dari Kitab Allah adalah bebas dari pertentangan.

Q. Bagaimana mungkin perpecahan sektarian kita diakhiri? M. Najeeb Chaudhry, Kot Radha Kishan.

A. Hanya ada satu cara. “Pegang kuat-kuat bersama-sama tali Allah (Al-Quran) dan jangan terbagi-bagi.” Hadith, sejarah, riwayat hidup dan hadits Nabi, semua harus diteliti dengan cermat berdasarkan Al-Quran, bukan sebaliknya, menjadikan AL-Quran tunduk kepadanya.
Penyair terkenal, Akbar Ilahabadi dengan sangat tepat menulis:
Karena menghancurkan dampak dari AL-Quran
Dibebankan kepada kita sepasukan para pembawa cerita

Q. Apakah Mahdi yang dinantikan oleh Sunni dan Shiah adalah orang yang sama atau dua orang yang berbeda? Maqbool Sherwani, Texas

A. Ada sejumlah kabar angin mengenai hal itu. Mahdi Qadiani datang dan meninggal pada tahun 1908. Menurut Dr. Israr Ahmad, Mahdi Sunni telah dilahirkan pada tahun 1962. Tetapi ia gagal ketika melakukan tindakan pertamanya selama Hajji tahun 2002 ketika ia telah berumur 40 tahun.

Secara umum, Mahdi Sunni dipercaya sebagai manusia yang akan dilahirkan, sedangkan Mahdi Shi’ah adalah orang yang telah dilahirkan dan pergi menyembunyikan diri (ghoib) pada tahun 878 CE dan sedang berkelana ke alam semesta dari persembunyiannya di gua Samera di Iraq.

Imam Zaid dan Ismail berturut-turut adalah Mahdi Syi’ah Zaidi dan Ismaili belum muncul untuk yang kedua kalinya. Muhammad bin Hanafia, yaitu Mahdi Syi’ah Kissania juga belum muncul hingga kini.

Terdapat juga seorang Mahdi pada zaman dinasti Abbasiah yang bernama Abdullah bin Maimoon. Dan Khalifah Abbassiah Mansoor menamai putranya Muhammad Abdullah Mahdi yang siap menerima sebagai Mahdi.

Pernah muncul seorang Mahdi dari Jaunpore di anak benua Indo-Pakistan. Mr. Sherwani! Aku telah melihat seorang Mahdi dirantai. Ada banyak Mahdi yang bisa dipilih dan anda dapat mengambil salah satunya. Tetapi Allama Iqbal berkata:
Lihatlah turunnya Tuhan pada menara hati mu
Lepaskan sekali waktu penantian terhadap Mahdi dan Yesus

Q. Mengapa tidak ada Imam dari antara keturunan Hazrat Hasan putra Ali, sedangkan, terdapat sangat banyak Imam di antara keturunan Hazrat Hussain? Nadira Khatoon, Montreal

A. Kendati pergerakan Kaissania, Zaidi, Alavi dan Ismaili, pada umumnya lebih percaya bahwa Imam adalah hanya dari keturunan Hazrat Hussain. Meskipun begitu, banyak juga orang-orang yang menerima Muhammad Nafs Zakiyah dan Ibrahim (keduanya cicit lelaki Hazrat Hasan), sebagai Imam terakhir. Ada orang yang percaya bahwa keduanya akan menjadi Mahdi di akhir zaman.

Q. Harmuzan dilaporkan telah berkata kepada Hazrat Umar bahwa Tuhan bersama kaum Muslimin. Lalu, apa yang telah para Majusi lakukan dalam rangka mengasingkan Tuhan dari Muslimin? Khan M. Bhutta, N. Carolina

A. Anda telah bertanya sebuah pertanyaan yang sangat penting. Panitia pusat Majusi Asavirah tentu saja membuat suatu rencana yang sangat cerdik untuk menjadikan Muslimin meninggalkan Al-Quran. Jika anda mendapati mereka terjerat hadits, mereka memberikan alasan, anda telah mengasingkan mereka dari Al-Quran, dan akhirnya, akan mengasingkan mereka dari Allah. Nabi yang agung telah melakukan pengamatan yang tajam mengenai ini, “Bangsa-bangsa zaman dulu binasa dikarenakan mereka meninggalkan Kitab Allah dengan memakai buatan manusia.”

Q. Berapa banyak Ahadith yang ada di buku Usul Kafi karangan Imam Yaqoob bin Ishaq Al-Kulaini dan berapa banyak darinya yang otentik? Kazim Syed Ali, Atlanta

A. Ini adalah jawaban dari penerjemah Usul-Kafi, Maulana Zafar Syed Hassan Amrohi dari kata pengantarnya pada vol. 1: “Ada 16,199 Ahadeeth di Al-kafi, darinya hanya 5072 yang otentik.”Yang mana yang 5072 itu?- Ia tidak mengatakannya.

Q. Terdapat suatu kesan umum bahwa kebijakan yang salah dan nepotismelah yang menyebabkan pembunuhan Hazrat Usman. Seberapa jauh kebenaran hal itu? Ini adalah apa yang Maudoodi menulis. (M. Kafeela Asghar, Muradabad)

A. Menurut Quran (9:51) Maulana (Wali kami) hanya pantas untuk Allah. Memanggil manusia dengan Maulana adalah serupa dengan syirik. Mullah Maudoodi terjerat dengan fiksi karangan Zuhri, Bukhari dan Tabari seperti seekor lalat terjebak jaring laba-laba. Fitnah kepada seorang sahabat besar Nabi (Hazrat Uthman) adalah suatu kejahatan, tidak lebih dari itu. Kampanye fitnah terhadap Sahaba Karam adalah sebuah konspirasi jahat para penjahat Islam. Al-Quran bersaksi bahwa semua sahabat Nabi (S) adalah orang-orang yang benar-benar beriman (8:74), mereka semua bersaudara satu sama lain (3:103), Allah ridhi/ disenangkan oleh mereka dan mereka juga disenangkan olehNya. (9:100)

Q. Buku ini memperlihatkan bahwa sesungguhnya peristiwa Karbala tidak terjadi. Apakah ini semata-mata fiksi? Ghazala Shaheen, New Jersey

A. Ya, tentu saja. Anda perlu membaca ulang buku ini.

Q. Mengapa di sana tidak disebut-sebut nama tokoh Mukhtar Saqafi? Dr. Farzand Ali, Toronto

A. Karena Mukhtar Saqafi tidak ada kaitannya dengan Hazrat Hussain. Di dalam buku sejarah buatan/ palsu, ia diceritakan telah melakukan pembalasan dendam kepada para pembunuh Karbala. Tetapi, ia mengakui Muhammad keturunan Hazrat Ali dari Hanafia, sebagai Imam Mahdi terakhir yang syah. Ia menganggap para Imam yang lain sebagai kehilangan jiwa dan para perampas kuasa. Menurut Hujjatullah Moosvi, (Meezanul Faris), Mus’ab bin Zubair telah memenggal kepala Saqafi untuk menyenangkan Hazrat Zainul Abedin karena ia menolak mengakui Zain sebagai Imam.

Q. Tiap-tiap sekte mempunyai penafsiran sendiri terhadap Al-Quran, jadi ..… Firdous Jabeen, Florida

A. Penafsiran berbeda hanya ketika kita memandang al-Quran dengan lensa mereka yang disebut para Imam dan tulisan mereka. Al-Quran berkata bahwa dia menguraikan secara terperinci segalanya (tibyanan likulli syai-in) dengan jelas dan tanpa keraguan apapaun. Tentu saja, mudah untuk memahaminya dan menjelaskan dirinya sendiri. Hanya mereka yang akan mampu menyentuh (memahami) Al-Quran yang suci, yaitu mereka yang mendekati Kitab tersebut dengan pikiran terbuka dan tidak memihak.

BAGIAN- 16

SHURA (DEWAN KONSULTATIF)

Setelah mempelajari Karbala Ki Haqiqat (Karbala: Fakta atau Fiksi?) selama sebulan, para anggota Shura yang berbeda-beda bertemu dua kali pada tanggal 8 dan 9 Juli 2000.

Berikut para anggota yang mengambil bagian:

Qari Ghulam Muhammad Malik,       London
Allama Zeeshan Qadri,              Hyderabad Deccan
Nuri Muslim Syed,           Damascus
Mrs. Mukhtar Begum,              Durban
Mrs. Batool Sultana,          Sweden
Hakeem Saadat Hassan Qarshi,      Chittagong
Dr. Shujauddin Kirmani,       Karachi
Maulvi Hafiz Muhammad Haq,       Patna
Mrs. Rabab Naqvi,          Qatar
Hassan Raza Akhtar,              Montreal.

Aku berhutang kepada pendapat yang dinyatakan oleh para anggota dewan dan yang lainnya. Berikut adalah ringkasan hasil kerja tersebut:

Qari Ghulam Muhammad Malik:
Setelah menulis buku tentang isu sensitip seperti ini, adalah mengejutkan bahwa Dr. Shabbir Ahmed belum dianugrahi fonis dari para mullah. Karbala Ki Haqeeqat adalah sebuah buku yang membuka mata. Sebuah buku yang sangat bagus dan enak dibaca. Buku ini sebaiknya menjangkau sebanyak-banyaknya kaum Muslimin.

Allama Zeeshan Qadri: Menceritakan kebenaran adalah melampaui tingkatan berbahaya, riset ini luar biasa.

Dr. Shabbir Ahmed: Saya meminta para anggota agar tetap mengarahkan pada kritikan.

Allama Zeeshan Qadri: Apa ada di sana untuk mengkritik? Orang tidak bisa menemukan sebuah persamaan tentang penyimpangan sektarian dalam buku anda manapun termasuk yang ini. Dan semua statemen telah didokumentasikan dengan bak. Aku berpikir buku ini akan tangguh berhadapan dengan mereka yang dengan teguh mengikuti nenek moyang mereka. Bagaimanapun, al-hamdulillah, Ummah Muslimin telah cukup sadar. Mengetahui kebenaran akan menjadi sebuah pelepasan yang besar bagi ratusan ribu orang.

Naskah ini telah disampaikan kepada Sayed Muhammad An-Noori dari Damascus, dengan tulisan tangan dalam Bahasa Inggris. Ia berkata, “Ini merupakan suatu hal yang baik bahwa buku ini telah diterbitkan sejauh ini dalam bahasa Urdu. Saya telah menempuh perjalanan secara luas dan menemukan bahwa orang-orang yang seharusnya paling berpandangan terbuka, yakni orang-orang Arab, ternyata adalah yang paling kaku pada hari ini. Mereka bereaksi secara buta sama sekali. Di  Syria para pemalas yang berjongkok di jalan-jalan baik yang memuliakan Hazrat Ali ataupun yang menghina dia juga bereaksi. Ada sebuah laporkan perkataan Nabi yang menyatakan bahwa orang-orang akan menjadi ekstrim dalam memuji dan menghina Hazrat Ali sebagaimana yang dilakukan bangsa Yahudi dan Nasrani terhadap Yesus Kristus. Bagi Muslimin, buku ini akan menjadi sebuah cara menuju keseimbangan dalam pemikiran mereka.”

Mrs. Mukhtar Begum adalah seorang Aktifis Islam di Durban, Afrika Selatan. Dia berkata, “Buku ini telah memenuhi suatu kebutuhan mendesak dari waktu kami.”

Mrs. Batool Sultana Agha Stockholm, Sweden: hanyalah orang-orang yang kekurangan visi dan kebijaksanaan yang dapat percaya kepada fiksi tentang Imam Mahdi. Aku bagaimanapun, takut akan reaksi yang emosional terhadap buku ini dan pengarangnya.”

Allama Zeeshan Qadri: Tidak ada pekerjaan tentang segala hal yang bermakna bisa dilakukan dalam kondisi ketakutan. Aku telah melihat sendiri buku Abdul Jabbar Qaramati di  Musium Istanbul pada tahun 1960 dan aku menulis beberapa komentar dalam bahasa Urdu dan Inggris untuk dipublikasikan. Namun tidak ada jurnal yang berani menerbitkan komentarku.

Dr. Shujauddin Kirmani,
seorang ahli ilmu agama dan psikolog di Karachi, berkata: Harus diingat bahwa di sejarah kita telah pernah ada zaman ketika para perawi, sarjana Hadith dan sejarawan, telah menggabungkan diri mereka dengan lingkungan kerajaan. Para raja akan memberi banyak penghargaan kepada mereka untuk tulisan yang menyenangkan mereka. Jadi, banyak dari para pengarang ini menari sesuai dengan irama musik para pelindung mereka.

Maulvi Hafiz Muhammad Haq: Hinaan kepada akal manusia telah diungkapkan dalam Karbala Ki Haqeeqat yang memungkinkan pembaca meneliti sendiri Kebenaran vs Kebohongan.

Mrs. Rabab Aqeel Naqvi: Apapun yang pernah kita dengar dan baca sejak masa kanak-kanak telah diruntuhkan. Argumentasi  dan acuan sedang menyilaukan mata kita. Dalam waktu beberapa jam aku telah melihat sekitar 90 buku berserak di sekitar Dr. Shabbir yang darinya acuan telah diambil oleh buku ini. Bahkan pengadaan dari buku yang jarang ini adalah suatu hal yang menakjubkan!

Dr. Shabbir Ahmed: Aku berhutang kepada para pembacaku yang tetap mengirimi aku buku-buku unik dan sulit ditemukan dari seluruh sudut dunia.

Mr. Hassan Raza Akhtar (Pustakawan): Aku dengan sepenuhnya setuju dengan Mrs. Rabab Naqvi. Sejak membaca buku ini, aku merasakan sedang hidup dalam suatu hidup yang baru. Begitu banyak kebingungan telah dibuka dari pikiranku.

Allama Zeeshan Qadri:
Aku lupa menyebutkan suatu hal yang sangat penting. Munajaat Zainul Abideen, sebuah buku yang menurut dugaan ditulis oleh Imam Zain pada zaman dahulu semasa hidupnya tidak menyebutkan sama sekali  tentang Karbala!

Dr. Shabbir Ahmed: Luar biasa! Aku berterima kasih kepada semua anggota Shura yang terhormat atas pendapat mereka. Bahkan buku-buku Hadith yang ditulis pada abad ke-2 dan ke-3 sekalipun tidak menyebutkan peristiwa itu sama sekali. Karbala Ki Haqeeqat adalah masalah yang rumit di mana ketidak sempurnaan mungkin ada dalam teks ini. In-sha-Allah dengan bantuan dan bimbingan anda, maka akan ada perbaikan pada edisi berikutnya.

BAGIAN- 17

REAKSI TERHADAP CETAKAN PERTAMA

Cetakan pertama dari buku ini telah diterbitkan pada bulan Agustus 2000. Lebih dari sepuluh ribu buku dari edisi ini telah terjual dan dibagi-bagikan secara cuma-cuma selama akhir delapan bulan. Berikut adalah ringkasan komentar terhadap versi bahasa Urdu dari Karbala: Fakta atau Fiksi?

Telah disebutkan oleh Al-Quran bahwa sektarianisme adalah serupa dengan Syirik (Politheisme). Seseorang yang mengidentifikasi dirinya dengan sebuah sekte maka putus semua ikatannya dengan Nabi yang agung. Meskipun demikian, kami telah mengamati sepenuhnya perbedaan reaksi pada buku kami dari kaum yang disebut Sunni dan Shi’ah.

Sunni secara berkelimpahan menerima buku tersebut. Mereka berkomentar sebagai berikut:
•   Setelah membaca buku ini kita merasakan bahwa kami telah dibangunkan dari tidur.
•   Ini merupakan sebuah pembebasan yang menyenangkan dari penipuan besar yang diputar oleh para sejarawan dan perawi terkemuka kita.
•   Kita pernah mendengar cerita Karbala sejak masa kanak-kanak. Tetapi dogma, cerita dan praktek tertentu tidak dengan tiba-tiba menjadikannya jelas.
•   Kita pernah membaca dan mendengarkan cerita aneh seperti itu yang nampak menghina akal sehat. Barangkali kita terlalu mudah tertipu.
•   Dalam mengemukakan cerita Karbala, Imam Tabari telah dengan sungguh-sungguh mencaci para Sahabat dan menghina Nabi yang agung.
•   Beberapa pembaca merasa seharusnya telah ada uraian yang lebih detail perihal Hazrat Hussain sebagai gubernur dan pembunuhannya oleh Jaban.
•   Beberapa pembaca yang lain berkomentar bahwa buku ini nampak berakhir secara tiba-tiba.

Komentar ini akan dimuat kedalam edisi berikutnya, In-sha-Allah.

Untuk menangkap kembali beberapa poin, adalah sangat sulit untuk memaafkan kepercayaan masa lampau kita. Dalam konteks ini adalah penting untuk menyebutkan bahwa tidak lain hanyalah Tabari bin Rustam yang menyusun cerita Karbala 240 tahun setelah pembunuhan Gubernur Imam Hussain. Dan ia menyandarkan dugaan kejadian Karbala kepada Abu Mukhnif yang meninggal 50-100 tahun sebelum Tabari dilahirkan. “Abu Mukhnif berkata ini dan menulis itu.” Tetapi ia telah meninggalkan tak satupun sisa catatan ! Dongeng yang kita dengar sejak masa kanak-kanak menjadi berurat berakar dalam kepribadian kita. Karenanya, kebanyakan orang tidak akan mendengarkan penjelasan apapun terhadap apa yang  telah mereka sanjung.

Aku dapat mengatakan berdasarkan pengalaman pribadi bahwa hanya sekitar sepuluh persen dari muslimin yang mempunyai fleksibilitas cukup untuk terpikat dengan gagasan baru di luar arus mayoritas. Cara berfikir yang revolusioner adalah terlalu besar untuk sukses. Secara kebetulan, selalu sebuah minoritas yang diperlukan untuk memecah berhala dari pola yang sudah terbentuk. Mayoritas tersebut kemudian akan mengikutinya.

Sepuluh persen dari pembaca Shii kita yang patut dimuliakan, baik lelaki maupun perempuan, telah berkata bahwa kebenaran telah terbit pada jiwa mereka. Maka, mulai sekarang mereka tidak akan melakukan Maatam (Memukul dada) pada bulan Muharram.

Duapuluh persen dari para pembaca Shii berseru bahwa studi ini nampak berdasarkan pada fakta, tetapi jalan apa yang sebaiknya ditempuh sekarang?! Aku telah menceritakan kepada mereka bahwa masalah ini adalah sederhana. Mereka semestinya merengkuh kembali Kitab Allah. Tidak ada penafsiran yang dibuat-buat dalam Kitab tersebut. Olok-olok terhadap Al-Quran yang disebut ‘maksud/ makna yang tersembunyi’ harus dibuang. Para Mullah baik masa kini atau zaman dulu dan bagaimanapun besarnya nama mereka semestinya tidak diikuti tanpa suatu pemeriksaan. Keyakinan yang buta merupakan bagian dari kekafiran. AL-Quran harus ditafsirkan dengan al-Quran sendiri dan bukan oleh sejarah, tradisi/ hadits dan dugaan dari Shan-An-Nuzool (keadaan seputar turunnya wahyu). Beberapa prinsip berikut adalah sangat jelas:

1.   Keturunan tidak akan menganugerahkan martabat pada siapapun. Di hadapan Allah terdapat satu-satunya kriteria untuk keunggulan, yaitu karakter. Apakah itu Umayyah atau Banu Hashim, jika kekhalifahan dengan cara pewarisan dari bapak kepada anak lalu kepada cucu, maka sistem seperti itu adalah kerajaan yang bertentangan dengan AL-Kitab.

2.   Menurut AL-Quran, semua persoalan Muslimin termasuk kekhalifahan semestinya ditetapkan melalui konsultasi timbal balik (musyawarah).

3.   Menjadi seorang penguasa pada Sistem yang ditetapkan secara Ilahiah adalah sebuah tanggung jawab yang luar biasa. Orang yang benar-benar beriman seperti para Sahabat tidak akan mendambakan kekuasaan maupun menuruti kesenangan diri dengan mengadakan peperangan untuk mendapatkan kekuasaan seperti halnya kebiasaan politisi masa kini. Dahulu mereka menganggap bahwa kekhalifahan adalah sebuah beban. Hazrat Ali dan keluarganya tidak akan mengharap-harapkan kekuasaan. Dalam penggambaran mereka yang tamak dan dahaga akan kekuasaan, berarti para sejarawan telah bersalah karena secara tidak langsung telah menghina mereka.

4.   Karena bagi seorang yang beriman, harta dan kekayaan adalah tak lain hanyalah hiburan yang cepat  berlalu. Mereka tidak akan merasa kehilangan atas sebidang tanah atau properti demikian juga mereka tidak akan mempedulikan kekuasaan.

5.   Selama masa kehadirannya, Nabi yang agung menghapuskan „thaar“, rantai balas dendam atas pembunuhan, generasi demi generasi. Al-Quran dengan kuat mengumumkan bahwa tidak ada seorangpun yang akan membawa beban orang lain dan semua orang akan bertanggung jawab atas tindakan dirinya sendiri. Sehingga anjuran untuk pembalasan dendam akan menghasilkan tidak lain hanyalah kedengkian dan rasa dendam. Di AL-Quran, prinsip Qisas (Hukum balas) secara spesifik diterapkan terhadap pelanggar melalui suatu pengadilan, bukan terhadap anak-anak pelanggar atau cucunya.

6.   Al-Quran menceritakan kepada kita untuk tidak mengikuti dugaan karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawaban (17:36). Nabi yang agung berkata, “Adalah cukup bagi seseorang untuk menjadi seorang pendusta ketika seseorang menyampaikan kepada orang lain apa yang telah ia dengar.” Cerita Karbala mengandung kabar burung dari Tabari yang hanya berdasarkan pada “Abu Mukhnif berkata ini, Abu Mukhnif berkata itu.” Dengan penyebaran yang intensif ini, ia mempromosikan persekongkolan musuh-musuh Islam. Apakah Karbala bukan sebuah cerita yang hanya berdasarkan pada kabar burung?

7.   Allah memerintahkan kepada mukminiin untuk tidak bersedih pada apa yang hilang (3:153). Sekarang, bukankah mempraktekkan upacara perkabungan, ratapan dan pemukulan dada secara nyata bertentangan dengan Al-Quran? Apakah Hazrat Hussain dan keluarganya memperkenalkan penggambaran duka cita dan ratapan seperti itu? Tidak, berdasarkan pada otoritas Al-Quran, para Sahabat sebagai mukminin adalah orang yang tidak takut atau berduka berlama-lama.

8.   Al-Quran berkata lebih dari sekali, “Kamu tidak akan pernah melihat Hukum Allah berubah”. Oleh karena itu, mukjizat pada para Imam tidak lebih dari sekedar dongeng belaka. Hukum sebab-akibat adalah salah satu dari hukum Ketuhanan yang tidak dapat diubah di alam semesta sebagaimana berulang-kali dinyatakan oleh AL-Quran.

9.   Menurut al-Quran, hakim yang paling akhir adalah Allah. Tidak seorangpun akan ditanya tentang apa yang dilakukan oleh generasi sebelumnya. ‘Mengkapling” surga dan neraka kepada para sahabat  Nabi, mengutuk orang-orang zaman dahulu; dan pendewaan kepada sebagian dari mereka, akan dapat  menciptakan perpecahan dan kebencian. “Mereka yang tinggal di masa lalu akan kehilangan masa depan,” kata Cisero.

10.   Al-Quran tidak memerintahkan kita untuk merahasiakan kebenaran. Oleh karena itu, prinsip palsu Taqiyyah (merahasiakan kebenaran dan memperlihatkan kebohongan) harus dibuang.

Beberapa ulama Shii mempertahankan pendapatnya bahwa kepala Hussain yang dipenggal membaca al-Quran dan hal itu merupakan mukjizat. Lebih lanjut, beberapa ulama lainnya menyatakan, “Kami menerima bahwa Imam (Mahdi) dilahirkan dari paha ibu mereka, atau kepala yang dipenggal membaca Al-Quran adalah hal yang tidak logis. Namun demikian, mempercayai hal itu memperkuat Iman.” Apakah hal itu benar-benar terjadi? Itu tidak lebih dari membuka sebuah kaleng cacing yang utuh dan secara intelektual kaum muda memperolok-olok dogma-dogma seperti ini sebagai lelucon.

Di tengah-tengah kegundahan para Mullah pada cetakan pertama, saya diingatkan oleh penyair terkemuka, Syekh S’adi, “Diam adalah bantahan yang terbaik kepada yang bodoh.”

Karya ini didasarkan pada menjadikan Kitab Allah sebagai ukuran, dan tulisan dari para alim ulama telah diteliti dengan Cahaya Al-Quran. Sekarang para pembaca dapat membentuk pendapat mereka sendiri.

Ketika baris-baris ini sedang ditulis, seorang yang lebih tua dari Texas telah mengomentari bahwa sebuah suara yang terasing dari suatu kebenaran akan dengan mudah ditenggelamkan dalam kegaduhan mesin propaganda yang hebat dari para alim ulama. Saya setuju bahwa para alim ulama kita selalu merupakan rintangan yang paling besar dalam perubahan. “Ulema” masa lampau adalah sumber mata pencaharian bagi para alim ulama masa kini. Namun demikian, hal ini dengan cepat akan berubah. Terutama sejak munculnya internet, Muslimin pada khususnya menemukan apa yang selama ini dirahasiakan dalam volume buku yang sangat besar atas nama Islam. Saya berkata dirahasiakan karena masyarakat awam jarang memperoleh buku yang sangat besar ini dan hanya para alim ulama kita yang mempunyai waktu dan akses untuk membacanya.

Kurang dari satu tahun, ratusan ribu individu di seluruh dunia telah setuju dengan riset saya yang sederhana tentang ”Karbala: Fakta atau Fiksi” dan juga buku ”Para Penjahat Islam”. Orang-orang ini datang dari berbagai sekte Islam. Sekarang mereka tidak lagi bertahan pada sekte apapun tetapi menyatakan diri mereka secara sederhana sebagai Muslimin. Yang menggembirakan adalah bahwa diantara mereka adalah para pengikut Shiah yang telah terbebaskan dari meratap dan memukul dada secara terus menerus.

Para pembaca yth.! Perlu ditegaskan kembali bahwa saya benar-benar menghormati Ahlul Bait (keluarga Nabi yang agung) lebih dari yang para sejarawan masa lalu yang secara de facto telah menghina mereka dengan berkedok penghormatan seperti yang sudah anda lihat.

Setiap langkah aku menyalakan sebuah lilin dengan darah jantungku
Seseorang boleh jadi mengikuti jalan kecil yang sama

BAGIAN- 18

PENGUNGKAPAN SELANJUTNYA

Marilah sekarang kita klarifikasi lebih lanjut tentang isu tertentu.

1. Tolong lihat kembali buku harian Hur bin Abdur Rahman pada Bab 11.

Manusia istimewa ini adalah salah seorang gubernur Andalusia (Spanyol) selama pemerintahan Hazrat Umar bin Abdul Aziz (99 – 101 AH). Buku hariannya menceritakan kepada kita bahwa:

Hazraat Ali, Hasan dan Hussain secara berturut-turut adalah para gubernur Iraq. Hazraat Ali dan Hussain mengorbankan hidup mereka di kantor bergengsi tersebut. Integritas, kewaspadaan dan kompetensi mereka telah mengubah Irak yang pada masa kini sedang tidak beruntung menjadi sebuah surga di atas bumi. Ketika Jamshed Khurasani membunuh Hazrat Ali dan Jaban bin Harmuzan membunuh Hazrat Hussain, para komplotan Persia dengan gembira mengira bahwa mereka telah memberikan pukulan fatal kepada Kekhalifahan Islam dan bahwa Iraq akan jatuh ke pangkuan mereka. Namun ternyata sebaliknya, darah Hazraat Ali dan Hussain tidak tumpah dengan sia-sia.
Kemudian, para kurir yang berasal dari Damascus (kota besar Kekhalifahan) menceritakan bahwa pada tahun 100 AH Kufa, Basra dan… (tidak dapat dibaca) di Iraq adalah lebih makmur dibandingkan dengan Syria, Palestine dan Mesir.”

2. Meezanul Faris (Timbangan Persia) karangan Abdul Qadir Ali Al-Mooosvi.

Kita sudah mencatat pada Bab 13 bahwa Hazrat Uthman menjadi Amirul Mu’mineen (Pemimpin orang-orang beriman) selama 12 tahun setelah kesyahidan Hazrat Umar pada tahun 23 AH. Selama masa pemerintahan Hazrat Usman sebagai Khalifah di Madinah, Hazrat Ali masih tetap sebagai gubernur Iraq yang ditetapkan oleh Kalifah dengan Koofa sebagai ibukota propinsi.

Sebuah buku yang bagus sekali, Meezanul Faris yang diterbitkan di Iran karangan Hujjatullah Abdul Qadir Ali Al-Mooosvi mempunyai dua bab yang terperinci yang menguraikan sebuah gambaran yang indah jaman Hazrat Usman yang dermawan. “Adalah sebuah model Negara dengan keadilan, persamaan hak, kedamaian, tenang, maju dan makmur yang patut dicontoh.” Buku Meezan menggunakan sumber masa lampau tentang sejarah Khilafat-Rashida (Kalifah yang dipandu). Banyak dari sumber ini telah ditemukan baru-baru ini di Istanbul dan Spanyol. Tidak terlalu mengejutkan, bahwa buku tersebut telah dibuang di Iran.

3. Dalaail-an-Nabuwwah Syedina Muhammad (Analisa Logis Kenabian Muhammad, Pemimpin kita) oleh Abdul Jabbar Qaramati

Sekarang kita mengacu kembali pada Bab 9. Hanya satu naskah tulisan tangan dari buku Abdul Jabbar Qaramati yang ada di  Musium Istanbul.

Yang terhormat Pimpinan Dewan Konsultatif kita, Allama Zeeshan Qadri Naqshabandi telah mendapatkan kesempatan istimewa untuk melihat naskah buku unik ini. Pengarang dari naskah Arab ini, Abdul Jabbar Qaramati, sepertinya adalah seorang yang beriman dan benar-benar seorang pengagum Nabi yang agung. Meskipun demikian sekte ‘Qaramati” kemungkinan tidak lebih dari hanya sekedar kepercayaan yang diatributkan kepadanya untuk mencemari namanya, Abdul Jabbar nampak seperti orang yang sepenuhnya bebas dari semua sektarianisme.

Karena tinggal lama di Jordan, salah satu dari pembaca, Fouad Hoffmann (tidak ada hubungannya dengan Murad Hoffman), beliau mampu berbicara dan membaca Arab dengan fasih. Terjemahkan berikut ini adalah beberapa kutipan dari buku tersebut yang dicopy oleh Fouad Hoffmann:

“Apa yang bisa dijadikan sebagai sebuah argumentasi yang lebih baik untuk mendukung kebenaran dari Kenabian Muhammad (S) dibandingkan dengan fakta bahwa 250 tahun setelah Beliau meninggal, Beliau masih sebagai cahaya mercusuar bagai semuanya?”

“Ummah Muslimin mendapatkan hadiah seorang permata langka dalam pribadi yang terhormat Abu Bakr Siddiq. Salam hormat kepada Abu Bakr! Dialah yang menjaga Sistem tetap bersemangat setelah Nabi (S).”

“Salam hormat kepada Hazrat Umar- Ia memelihara Ummah Muslimin terhadap reaksi negatif atas malapetaka hilangnya Nabi dan penggantinya!”

“Salam hormat dalam kaitannya dengan Uthman yang dermawan, Uthman dua cahaya yang mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh yang terhormat Umar Farooq dari tahun 23 hingga 35 AH sedemikian baiknya sehingga Kekhalifahan tetap aktif bekerja dengan baik.” [Perhatikan hahwa dongeng yang dianggap terjadi tentang adanya pemberontakan sepanjang pemerintahan Hazrat Uthman secara pasti tidak dikemukakan oleh Qaramati. “ Tentang ”Dua cahaya” adalah julukan kepada Hazrat Uthman yang menunjukkan bahwa ia menikahi putri kedua Nabi yang agung setelah yang putri Nabi yang sebelumnya meninggal]

“Salam hormat kami kepada Ali Ibn Abi Talib- Ia masih tetap sebagai gubernur Iraq (13-40 AH), provinsi utama kami, yang dengan penuh kedamaian memimpin Kekhalifahan mulai dari tahun 35 hingga 40 AH.”

“Madinah, sebagai pusat Kekhalifahan, telah menjadi pusat kegiatan dari intrik (tipu daya) kaum Majusi dan Yahudi. Adalah strategi yang berpandangan jauh dari Hazrat Ali sehingga Beliau memindahkan ibukota negara Islam dari Madinah ke Koofa pada saat yang tepat.”

“Bahkan hingga hari ini (sekitar 280 AH) Dunia Islam dipersatukan seperti satu badan.”

BAGIAN- 19-

PENUTUP

Sebuah Kebaikan- Sebuah Buku- Sebuah Permintaan

1. KEBAIKAN

Para pembacaku yang terhormat masih tetap melakukan suatu kebaikan yang besar dengan cara mengirimi saya buku-buku, tulisan dan artikel yang langka, yang diluar jangkauanku. Atas sikap yang baik ini, saya tetap merasa berhutang kepada mereka.

2. SEBUAH BUKU

Ad-Deen Wad-Daulah (Agama dan Negara)
Karangan Ali bin Sahl Raban, yang ditulis pada tahun 205 AH.

Ketika baris-baris sedang ditulis, saya menerima dari seorang wanita Arab di Madinah, Versi bahasa Inggris sebuah buku Arab yang langka, Ad-Deen Wad-Daulah.

Pengarangnya lahir pada tahun 160 AH yang berarti bahwa ia mendahului sejarawan yang sangat terkenal Tabari yang baru lahir 64 tahun kemudian, yaitu tahun 224 AH. Penyelidikan awal buku tersebut mencerminkan bahwa pengarangnya benar-benar mencintai Nabi yang agung. Ia telah mengumpulkan ramalan dalam Alkitab (Bibel) tentang kedatangan Nabi Muhammad dengan referensi yang banyak dan ketrampilan yang baik sekali. Ali bin Sahl bin Raban adalah seorang sarjana Bibel dan mempunyai minat yang besar dan keahlian berdialog dengan Yahudi dan Kristen.

Pada prakata buku tersebut, Adil Nowaihidh dari Penerbit Darul Afaq dari Beirut berkata bahwa Ali bin Sahl bin Raban telah menyempurnakan dan bekerja dengan penuh keadilan terhadap masalah tersebut.

Bukunya berkata:

“Para Pengikut Nabi dan mereka yang memperkenalkan Islam kepada yang lain adalah orang-orang yang benar-benar sholeh.

Adalah dikarenakan kemuliaan Nabi yang agung sehingga individu-individu dengan status yang tinggi seperti Hazraat Abu Bakr, Umar Ibn Khattab, Uthman bin Affan, dan Ali bin Abi Talib menjadi bintang-bintang Ummah.

Ummah yang diberkati selanjutnya adalah para laki-laki dan wanita terhormat berikut:

Hasan bin Ali
Hussain bin Ali
Abdullah Bin Zubair
Abdul Malik
Waleed Bin Abdul Malik
Muhammad Bin Hanfia
Abdullah Bin Umar
Abdur Rahman bin Abu Bakr

Khadijah
Ayesha
Fatima
Zainab
Karimah [Isteri Umar bin Abdul Aziz]

Juga dikarenakan adanya pelatihan dari Nabi yang agung sehingga tidak ada perselisihan di antara Ummah Muslimin tersebut. Nama-nama di atas dan yang lainnya menyebar seperti bintang. Mereka semua telah hidup sebagai contoh bahwa, “Semua orang beriman adalah bersaudara satu sama lain” hingga hari ini (205 AH).

Tidak ada kekuasaan di atas bumi yang dapat menghentikan pergerakan cepat Islam. Dengan pesan yang mulia ini, tipu daya apapun yang pernah dicoba, mereka akan mati secara alami.”

PEPERANGAN JAMAL, SAFFAIN, NEHRWAN DAN KARBALA ADALAH FIKSI

Kutipan-kutipan dari Ad-Deen Wad-Daulah di atas dengan sangat jelas memperlihatkan bahwa laporan-laporan tentang adanya kerusuhan internal di kalangan pemerintahan Muslimin seperti peperangan Jamal, Saffain, Nehrwan, dan Karbala adalah tak lain hanyalah usaha menjijikkan yang bersifat memecah belah dari para sejarawan kita.

3. SEBUAH PERMINTAAN

Ijinkan saya untuk berkata lagi bahwa buku ini telah mengkritik sejarah dan para sejarawan. Saya tetap masih sangat menghormati para sahabat Rasul, dan kepada keluarganya. Keturunan harus dibedakan dengan keluarga. Ketika keluarga secara langsung diurus oleh Nabi yang agung, sedangkan keturunan tidak mempunyai keuntungan itu dan banyak di antara mereka telah menjadi jahat dalam karakter mereka sebagaimana yang diperlihatkan sepanjang sejarah.

Dengan kerendahan hati, saya sampaikan bahwa saya tidak menganggap penemuan atau pemikiran saya untuk dicatat dalam sebuah prasasti, tetapi riset saya ini saya lakukan dengan tulus hati. Dan saya terbuka bagi usul dan kritik. Tentu saja, saya menghormati hak-hak para pembaca untuk berbeda dengan saya. Tolong yakinlah bahwa Shabbir Ahmed tidak ada hubunganya dengan sekte apapaun. Buku saya Islam Kay Mujrim (Para Penjahat Islam) adalah bukti nyata di mana saya dengan kritis menguji kepercayaan yang non-Quranic dari semua sekte. Menurut Al-Quran, memilih sebuah sekte termasuk kategori musyrik (politheisme) dan mereka yang menjadi anggota sebuah sekte akan kehilangan ikatan dengan Nabi yang agung. Akhirnya, marilah kita simpulkan buku ini dengan sebuah perkataan Hazrat Ali:

“Jangan lihat siapa yang berkata, tetapi lihat apa yang dikatakan.”

Dengan hormat,

Shabbir Ahmed, M.D.

Iklan

9 responses

  1. abu fayeza

    Informasi yang sangat berharga, sudahkah ada buku terjemahan dalam bahasa indonesia?

    1 April 2010 pukul 04:30

  2. salam salam

    izin copy paste

    millah ibrahim

    29 Oktober 2009 pukul 15:44

  3. sangat mencengangkan tulisan ini…,
    tetapi saya jadi tertarik menilik lebih jauh tentang para kehidupan para muhadith

    17 April 2009 pukul 01:27

  4. joni

    Dikatakan bahwa dahulu, 1.400 tahun yang lalu, Umar Ibn Al Khattab, Kalifah Islam kedua, mengirim surat kepada Raja Yazdgrid III dari Persia untuk melakukan Bei’at (bergabung bersama Kalifah dan menerima Islam). Umar menulis, “Di jaman dahulu, kekuasaanmu mencapai separuh dunia yang dikenal, tapi apa yang terjadi sekarang? Tentaramu telah dikalahkan di semua pihak dan negaramu hampir runtuh. Aku menawarkan padamu jalan untuk menyelamatkan dirimu. Mulailah sembahyang pada Allah, Tuhan yang Esa, Tuhan satu2nya yang menciptkan seluruh alam semesta. Kami bawa pesan Allah padamu dan dunia. Sembahlah Allah, Tuhan yang sejati.”

    Dan reaksi Raja Yazdgird III kepada Umar :

    “Dalam nama Ahura Mazda, pencipta Kehidupan dan Kecerdasan:
    Kau, dalam suratmu menulis bahwa kau ingin mengarahkan kami kepada Tuhanmu tanpa tahu siapa kami sebenarnya dan siapa yang kami sembah. Sungguh mengherankan bahwa sbg orang yg berkedudukan sebagai Kalifah Arab, pengetahuanmu sama dengan Arab kelas rendah yang berkeliaran di padang pasir !

    ”Kau menganjurkan kami menyembah Tuhan yang esa tanpa tahu bahwa selama ribuan tahun masyarakat Persia telah menyembah Tuhan yang esa dan mereka menyembahNya lima kali sehari!

    “Kala kami telah mendirikan kebudayaan makmur dan luhur di dunia dgn menegakkan Pikiran2 Baik, Kata2 Baik, Perbuatan2 Baik dengan tangan2 kami sendiri, kau dan kakek moyangmu masih berkeliaran di padang pasir, memakan kadal, tidak punya apa2 untuk menafkahi dirimu dan kalian mengubur bayi2 perempuan kalian.” (Ini adalah tradisi Arab kuno, karena Arab lebih suka anak laki daripada anak perempuan.)

    ”Kalian pancung anak2 Tuhan, bahkan tawanan2 perang, memperkosa wanita, merampoki kafilah2, melakukan pembunuhan massal, menculik istri orang dan mencuri harta benda mereka ! Hati kalian terbuat dari batu, kami kutuk segala kekejian yang kalian lakukan. Bagaimana mungkin kau mengajari kami Jalan2 Tuhan jika kau melakukan perbuatan2 keji itu?”

    ”Apakah Allah yang memerintahmu untuk membunuh, merampoki dan menghancurkan itu ? Apakah kalian sebagai umat Allah yang melakukan ini dalam namaNya? Ataukah kalian berdua ?”

    ”Katakan pada kami. Dengan segala kekuatan miltermu, kelakuan barbarmu, pembunuhan dan perampokan dalam nama Allah yang Akbar, apakah yang telah kau ajarkan pada tentara Muslim ini? Pengetahuan apakah yang kausampaikan pada Muslim yang ingin kau paksa untuk ajarkan pada non-Muslim? Budaya apakah yang kau dapatkan dari Allahmu, sehingga kau berani2nya memaksakan itu kepada orang lain?”

    ”Aku mohon kau tetap bersama Allahmu yang Akbar di padang pasirmu dan tidak bergerak mendekat ke kota2 kami yang beradab, karena agamamu mengerikan dan kelakuanmu amat biadab!”

    15 April 2009 pukul 21:46

  5. Firmansyah

    ^_^

    17 November 2008 pukul 17:41

  6. Firmansyah

    Bismillahir Rahmanir Rahim

    –Dengan metode Penafsiran Anda, saya ingin bertanya bagaimana penafsiran Anda mengenai surat Al-Kaafiruun?

    –Coba Anda mengkaji isi perjanjian madinah, itupun kalu Anda sepakat dengan sejarah dan kebenaran tentang perjanjian itu.

    –Dengan kapasitas pengetahuan anda saat ini, maka Hati-hatilah dlm menyebarkan -berdakwah menurut Anda- informasi. Karena sesungguhnya anda belum benar2 memahami tentang syiah. Berikut saya sertakan beberapa pendapat ulama2 syiah..

    Fatwa ulama2 Syiah :

    1.Fatwa Allamah Hosein Fadhlullah tentang Penganut Madzhab-madzhab Islam
    Tuesday, 05 August 2008

    Bismillahir Rahmanir Rahim

    Secara singkat, Islam adalah pengucapan dua kalimat syahadat dan meyakini serta menjalankan keniscayaan dari keyakinan yang disebutkan dalam al-Quran al-Karim. Siapa saja yang mengucapkan dua kalimat syahadat dan konsekwen dengan ajarannya, berarti ia dihukumi sebagai muslim dan berhak atas hak-hak sebagai orang Islam.

    Ia harus menjalankan apa yang diwajibkan oleh agama Islam. Pengingkaran atas duriyat agama tidak membuat seseorang menjadi kafir, kecuali bila ia meyakini bahwa pengingkaran itu meniscayakan pengingkaran kepada Rasulullah SAW, dan secara aksioma biasanya hal itulah yang terjadi.

    Perbedaan pendapat yang biasa terjadi antara ulama yang disebabkan diantaranya karena tingkat kepercayaan kepada perawi atau pemahaman makna dari hadits atau perkara-perkara lainnya, semua itu bisa dibicarakan dan tidak membuat seseorang keluar dari agama.

    Mengingat adanya perbedaan pendapat tersebut, kami meyakini bahwa seluruh umat Islam dan pengikut berbagai madzhab semuanya adalah bagian dari umat Islam yang satu. Tidak ada alasan apapun untuk mengkafirkan mereka. Masalah yang ada harus diselesaikan melalui jalur dialog dan diskusi ilmiah, logis, dan bijak dengan bimbingan al-Quran.

    “Dan jika kalian berselisih atas sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul…”. [im/mt/taghrb]

    Wassalamu ’alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu

    2.Fatwa al-Marhum Syekh Ahmad Kaftaro, Suriah
    Tuesday, 05 August 2008

    Soal: Apakah madzhab-madzhab semisal Ja’fari, Zaidi, dan Ibadhi, termasuk masuk dalam kategori aliran Islam? Apa hukumnya menerima madzhab-madzhab seperti itu?

    Jawab: Membatasi fiqh Islam hanya pada Al-Qur’an dan Sunnah berarti melecehkan agama Islam dan membuat kesan bahwa Islam adalah agama yang picik dengan pandangan yang sempit dan tak mampu menjawab tuntutan kehidupan umat manusia.

    Tujuan dari pembentukan madzhab-madzhab fiqh secara praktiknya adalah untuk kemaslahatan dan kepentingan umat. Meski ada perbedaan dalam segi furu’ antara satu madzhab dengan yang lain, namun semuanya sepakat dalam masalah-maslah yang prinsipal.

    Faktanya, perbedaan dalam fiqh ini justeru memberikan kemudahan kepada umat dan memberikan jalan keluar dari kesulitan. Karenanya, diperbolehkan mengikuti salah satu dari madzhab-madzhab Islam yang ada, meskipun berujung pada praktik memilih yang termudah, ketika seseorang dalam keadaan darurat, atau keperluan mendesak, atau lemah dan udzur-udzur lainnya, dan hal ini diperbolehkan dalam madzhab Maliki dan Hanafi. Sebagaimana halnya diperbolehkan untuk mengamalkan madzhab yang memberikan kemudahan paling besar kepada pengikutnya. Agama Allah itu mudah, tidak sulit. Allah swt berfirman:

    “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesusahan kalian.”

    Madzhab Zaidi adalah salah satu madzhab utama dalam Islam. Apalagi kitab ulama besar Zaidi Imam Yahya bin Murtadha yang bernama kitab Al-Bahr Al-Zakhkhar Al-Jami’ li Madzahib Ulama’ al-Amshar, selain dapat disebut sebagai ensiklopedia fiqh komparatif juga tidak banyak perbedaannya dengan madzhab-madzhab Sunni. Perbedaannya hanya dalam masalah-masalah kecil semisal mengusap sepatu dalam berwudhu dan keharaman sembelihan non muslim.

    Madzhab Imamiyah atau Ja’fari adalah madzhab yang paling dekat dengan madzhab Syafi’i. Madzhab ini hanya dalam 17 perkara berbeda pendapat dengan fiqh Ahlussunnah.

    Madzhab Ibadhi, adalah madzhab yang paling dekat dengan madzhab Sunni dari sisi aqidah. Sumber utama yang mendasari fatwa-fatwanya adalah al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.

    Karena itu, perbedaan para fuqaha dalam furu’ harus dipandang sebagai hal yang wajar. Sebab kesemuanya berasal dari satu agama dan kebenaran hanya satu. Kesemuanya kembali kepada wahyu ilahi. Tidak pernah terdengar berita adanya perang yang melibatkan pengikut satu madzhab dengan pengikut madzhab lain. Sebab perbedaan dalam ijtihad keilmuan dan fiqh hanya kecil. Seperti disabdakan oleh Nabi SAW, seorang faqih akan diberi pahala dalam berijtihad. Jika ijtihadnya benar, ia mendapat dua pahala dan jika salah ia memperoleh satu pahala. Karena itu tidak diperbolehkan untuk mengatakan hal selain ini tentang madzhab-madzhab yang lain. Kesemuanya adalah madzhab-madzhab Islam dan fiqh mereka harus dihormati.[im/mt/taghrib]

    3.Fatwa Ayatullah Sayyid Ali Khamenei Tentang Pengikut Madzhab-madzhab Islam
    Saturday, 12 July 2008

    Bismillahir Rahmanir Rahim

    Soal: Mengingat adanya banyak dalil yang mewajibkan persatuan umat Islam, apa pandangan Ayatollah mengenai istilah-istilah umat Islam, apakah istilah ini mencakup para pemeluk berbagai madzhab dalam Islam baik dari empat madzhab Ahlusunnah wal jamaah maupun

    Zaidiyah, Dhahiriyah, Ibadhiyah dan lainnya yang kesemuanya meyakini ushulddin? Apakah boleh bagi seseorang untuk mengkafirkan kelompok dan madzhab lain? Dan untuk zaman ini, apa batas-batas seseorang dapat dikatakan telah keluar dari agama dan menjadi kafir?. Semoga Allah memberikan taufikNya kepada Anda untuk kebaikan Islam dan kaum muslimin, khususnya untuk orang-orang Syiah.

    Jawab: Dengan Nama Allah. Seluruh kelompok dan madzhab Islam termasuk dalam barisan besar umat Islam. Mereka semua memperoleh hak-hak yang didapatkan oleh kaum muslimin. Perpecahan antar kelompok dan golongan di tengah umat Islam selain bertolak belakang dengan ajaran dan perintah Al-Qur’an Al-Karim dan Sunnah Rasulullah SAW, juga dapat melemahkan kekuatan umat Islam. Kondisi ini akan menjadi peluang emas bagi musuh-musuh Islam. Karena itu perpecahan sangat dilarang. [im/mt/taghrib]

    4.Fatwa Ayatullah Sistani
    Soal: Apakah setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat, melaksanakan shalat menghadap kiblat dan mengikuti salah satu dari delapan madzhab yang ada (Hanafi, Syafi’i, Maliki, Hanbali, Ja’fari, Zaidi, Ibadhi dan Dhahiri) dianggap sebagai muslim sehingga darah, kehormatan dan hartanya harus dijaga?

    Jawab: Dengan nama Allah. Setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat dan tidak melakukan apapun yang bertentangan dengannya serta tidak memusuhi Ahlul Bait as, adalah muslim.

    …………….

    17 November 2008 pukul 17:31

  7. PM

    Aslmlk wr wb..

    Ternyata pengetahuan Dr. Shabir Ahmad dan Anda mengenai syiah masih sangat dangkal dan sangat jauh sekali dari “memahami aqidah dan hakekat syiah”.

    Sesuai dengan metode dan objektifitas yang Anda gunakan dalam pengkajian, maka Saya sarankan Anda mengkaji lagi mengenai hakikat syiah.

    Semoga kta di tunjukkan jalan orang orang lurus..

    17 November 2008 pukul 16:15

  8. Ali_Akbar

    Bismillahi…

    Setelah membaca artikel ini,,
    ALHAMDULILLAH.. saya telah di tunjukkan anjaran syiah..
    dan SANGAT BERHARAP MENJADI SEORANG SYI’I

    17 November 2008 pukul 01:10

  9. dengan sangat senang saya menyambut pemikiran yang anda tulis, memang saat ini banyak terjadi golongan pada diri Islam. hal ini sesui dengan surah 30 ayat 31-32..oya bila anda berkenan, boleh saya tahu alamat e-mail anda, tujuan saya adalah agar saya bisa sharing dengan anda tentang materi yang telah anda tulis. ini alamat e-mail saya w4hyu0@yahoo.co.id. thanks

    16 Oktober 2008 pukul 19:34

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s