Mencoba Memperbaiki Diri

Luntur Karena Futur


Seseorang yang berkumpul bersama penjual minyak tanah akan ikut tercium minyak tanah. Seseorang yang berkumpul bersama minyak wangi akan ikut tercium harumnya minyak wangi pula. Ketika kita berada pada lingkungan yang “save” maka kita bisa lebih terkondisikan supaya “save” pula. Ketika kita berada di lingkungan orang-orang yang shalih maka kita bisa ikutan shalih juga Insya Allah. Ketika kita berada di lingkungan orang-orang yang sering berbuat maksiat maka kita akan mudah pula terpengaruh berbuat maksiat pula.Tetapi seorang aktifis dakwah seharusnya bisa bersifat imun, bukan steril. Bersifat imun artinya dia punya pertahanan diri yang tinggi meskipun dia berada dimana saja. Bukan bersifat steril yang harus ditempatkan di tempat yang “aman”. Karena di semua tempat dimana disitu ada manusia, maka disitu adalah lahan dakwah yang berhak untuk kita tegakkan agama Allah disitu.

rose

Kita mungkin sering banget mendapatkan taujih tentang futur. Mulai dauroh, kajian, halaqah, sampai tausiyah dari situs-situs atau blog-blog Islam banyak sekali kita mendapatkan taujih tentang itu. Karena memang iman itu bisa naik bisa turun dan setiap orang bisa mengalaminya. Meskipun itu hal yang manusiawi bukan berarti trus dibiarkan dan diabaikan justru yang namanya penyakit harus diobati dan dicegah biar tidak terjadi.

Banyak sekali fenomena futur yang kita temui di sekitar kita, atau bahkan ada di antara kita yang sedang mengalaminya.

Ada ikhwah yang dulunya aktif banget di dakwah kampus, bahkan sksnya , prinsipnya dakwah oriented. Orang menyebutya melebihi sks kuliahnya aktifis kura-kura (kuliah rapat, kuliah rapat). Tetapi setelah lulus dia kini tak lagi berkecimpung dalam dakwah, alasannya sibuk dengan pekerjaannya yang tidak bisa disambi. Padahal dulu dia kadang harus absen kuliah untuk menghadiri syuro’, halaqah, aksi atau aktivitas lain yang urgent. Tetapi kini untuk menyempatkan hadir dalam aktifitas tarbiyah saja dia ga sempat karena alasan capek atau seribu alasan yang lain. Kalau dulu dia bisa gadhul bashar, menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis. Kini setelah bekerja sudah terbiasa bercanda atau bahkan makan siang berdua dengan rekan kerjanya (lawan jenis). Kalau dulu dia benar-benar ga mau untuk berjabat tangan dengan lawan jenis, kini di lingkungan kerja dia enggan menerapkan itu, pertama dengan alasan sungkan, kedua dengan alasan untuk kepentingan formal, ketiga dengan alasan gpp asal tidak ada perasaan apa-apa, selanjutnya dengan berbagai alasan dia akhirnya terbiasa untuk berjabat tangan atau menepuk pundak rekan kerjanya.

Ada pula akhwat yang dulu semasa di aktif di dakwah kampus, berjilbab lebar dan menutup auratnya dengan baik. Tetapi kini setelah lulus, kerja atau menikah, jilbabnya semakin lama semakin kecil jilbabnya yang lebar dan roknya dimusiumkan atau dikasihkan orang dan dia cukup pakai celana panjang, kemeja yang ”ngepres” dan jilbab gaul, dengan alasan menyesuaikan dengan lingkungan kerja. Kalau dulu kadang dimarahi ibunya gara-gara kelamaan pakai jilbab dan kaos kaki ketika disuruh ke warung , kini udah biasa kemana-mana ga pakai kaos kaki.

Bagi akhwat, mungkin awalnya kita akan merasa aneh ketika kita dengan penampilan berjilbab rapi (sesuai syariat) dan berada di lingkungan kerja dimana tidak ada yang seperti kita atau bahkan jarang ada wanita yang berjilbab. Mungkin awalnya kita akan dianggap ”makhluk aneh” hingga dipelototi dari ujung jilbab hingga ujung sepat Tapi Enjoy aja lagi…!! Percaya diri aja, asalkan kita bisa menyesuaikan. Asalkan kita bisa tetap berpakaian formal (tidak kedodoran), memakai rok, kemeja panjang dan jilbab yang longgar, insyaAllah gak bermasalah.

Tidak masalah pula ketika kita tidak berjabat tangan dengan lawan jenis baik itu rekan kerja, pimpinan, tamu, dll dengan tetap menghormati mereka, misal dengan memposisikan tangan kita dulu (kayak orang sunda) sebelum orang lain mengulurkan tangannya pada kita. Semuanya insya Allah bisa diatur yang penting kita bisa komitmen dengan nilai-nilai Islami.

Mungkin dengan penampilan kita, sikap kita awalnya akan dianggap aneh bagi orang lain di sekitar kita. Tapi asalkan kita tidak terlalu eksklusif dan sedikit demi sedikit menebarkan nilai-nilai Islam di lingkungan kita, Insya Allah orang lain akan mengerti bahkan bisa jadi mengikuti.

Kalau dulu semasa kuliah getol mengkritik dan mengecam pejabat yang korupsi, jangan sampai ketika nanti dapat jabatan tinggi jadi ga inget lagi apakah yang dimakan keluarganya halal atau haram. Kalau dulu anti banget ama uang sogokan jangan sampai ketika di lingkungan kerja jadi terbiasa dengan uang-uang yang tidak jelas asalnya.

Kalau kita melihat sosok aktifis dakwah kampus. Mereka punya prinsip-prinsip ideal yang menonjol. Aktifitas mereka di kampus tidak lepas dari dakwah. Mungkin banyak orang yang menganggap mereka adalah sosok idealis. ”Ah itu kan karena mereka masih muda, masih jadi mahasiswa, belum tahu realita kehidupan di luar” Memang mereka merasa nyaman berada di lingkungannya dan lebih mudah untuk istiqomah karena berada di lingkungan yang mendukung. Tetapi sebagai seorang aktifis dakwah seharusnya bisa tetap istiqomah kapanpun dan dimanapun dia berada. Prinsip-prinsip Islam dan nilai-nilai dakwah tidak seharusnya menjadi luntur ketika dia tidak berada di lingkungannya. Tidak luntur ketika dia lulus, ketika dia berada di lingkungan kerja atau terjun ke masyarakat.

Kita adalah da’i sebelum sesuatu. Karena itu seorang aktifis dakwah teruslah berakhlaq sebagai da’i, sebagai teladan, dia menjadi rahmat bagi orang-orang di sekitarnya. Ia harusnya bisa mewarnai bukannya malah luntur dan terwarnai.

Memang kita bukanlah bagian dari jamaah malaikat yang tidak luput dari kesalahan. Kita adalah manusia yang punya kecenderungan untuk kebaikan dan keburukan. Setiap dari kita bisa mengalami hal-hal di atas yang penyebab utamanya adalah futur, lemah iman. Perlu adanya orang-orang dan majelis yang mengingatkan kita, perlu ada yang memotiasi kita dan perlu adanya saudara-saudara seiman agar kita senantiasa merasakan nikmatnya iman, Islam dan ukhuwah.

Karena itulah begitu pentingnya tarbiyah untuk menjaga kestabilan keimanan kita dan agar kita tetap berada dalam kereta dakwah. Bukan hanya tarbiyah jama’i yang berupa majelis-majelis iman kita tetapi juga tak kalah pentingnya adalah tarbiyah dzatiyah kita dengan terus menjaga dan meningkatkan amalan yaumiahnya. Ungkapan syech Musthafa Masyhur yang sering kita dengar, “Tarbiyah bukan segala-galanya, akan tetapi segala sesuatunya berawal dari tarbiyah”. Mungkin maksud beliau adalah jika orang yang tarbiyah saja masih bisa tergelincir dari jalan Allah, apalagi yang tidak tarbiyah? Fungsi tarbiyah (jama’i) memang bukan segala-galanya dalam da’wah. Tarbiyah sebenarnya lebih berfungsi sebagai stimulus untuk meningkatkan dan memelihara iman kita. Sebagai stimulus (pencetus awal), mestinya seorang ikhwah melanjutkan tarbiyah (jama’i) dengan tarbiyah dzatiyah (mandiri).

Karena itu sebagai apapun diri kita saat ini, dimanapun kita saat ini, menjadi apapun diri kita saat ini, ingatlah bahwa kita adalah da’i sebelum sesuatu. Jangan menjadi luntur karena futur tapi segera bangkitlah diri kita, tidak ada kata terlambat untuk kebaikan.

Wallahu a’lam bishowab

generasighuraba

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s