Mencoba Memperbaiki Diri

Melacak Upaya Penyesatan di Negeri Islam


Sejak Perang Dunia (PD) II, umat Islam telah dibelenggu dengan berbagai macam upaya penyesatan yang luar biasa. Upaya penyesatan ini telah dimulai sejak awal abad ke-19 melalui serangkaian intellectual struggle dengan sejumlah pemikiran seperti nasionalisme, patriotisme, modernisme, dan sebagainya.

Sekalipun demikian, upaya ini menggunakan political approach sejak Perang Dunia (PD) I, yakni ketika negara-negara Barat kafir melenyapkan negara Islam yang terakhir dan ketika Inggris—melalui Mustafa Kamal dan Ismet Enunu—berhasil menghapus keberadaan sistem khilafah, mencabik-cabik kaum Muslim, dan memperluas cengkeramannya—bersama-sama dengan Prancis—atas seluruh negeri Islam. Kini, kampanye penyesatan ini telah mencapai klimaksnya, yang nyaris memusnahkan umat Islam.

Pasca kemenangan negara-negara Barat kafir dalam PD I, mereka telah menguasai seluruh negeri Islam dan membagi umat Islam menjadi beberapa negeri berdasarkan etnik seperti Arab, Turki, Kurdi, dan Persia. Nama Iran diberikan pada wilayah Persia supaya bisa disatukan dengan orang-orang Iran dalam rangka menjauhkannya dari segala hal yang dapat dihubungkan dengan komunitas Muslim. Berbagai wilayah yang menggunakan bahasa Arab dipecah menjadi beberapa wilayah—Mesir, Irak, Yaman, Sudan, dan sebagainya—sebagai negara-negara kecil. Kemudian diciptakanlah nama baru untuk wilayah tersebut agar masing-masing penduduknya menjaga kepingan wilayahnya karena ketamakan mereka akan simbol dan apa yang disebut sebagai tanah air.

Wilayah Syam disebut Suriah; sebuah nama yang diadopsi dari khazanah Romawi yang belum pernah dikenal oleh kaum Muslim. Lalu, ada yang disebut Palestina; nama sebidang tanah kecil antara Gaza dan Jerico, yang memang telah didiami oleh orang-orang Palestin di masa silam. Beirut disebut dengan nama Lebanon; nama sebuah gunung di wilayah Syam yang terkenal dengan ketebalan saljuya. Melalui semua itu, upaya penyesatan yang keji telah berhasil memecah-belah persatuan umat Islam melalui tangan-tangan bodoh putra-putri mereka sendiri. Fanatisme rakyat Palestina, Lebanon, Suriah, dan Irak memang tidak lebih berbahaya dibandingkan dengan fanatisme orang-orang Arab, Kurdi, Turki, dan Persia. Namun demikian, keberhasilan upaya penyesatan ini memang sangat fantastik!

Ini merupakan penyesatan pasca PD I. Sementara itu, pasca PD II, upaya penyesatan tersebut jauh lebih berbahaya dan sangat busuk karena menggunakan berbagai ragam konspirasi yang sangat jorok. Dalam PD II, negara-negara Barat terpaksa membangun aliansi dengan Rusia untuk menekan Jerman. Hanya saja, Rusia mengemban ide penghapusan imperialisme dan ide konflik, yaitu memprovokasi konflik besar dan kecil serta menciptakan kekacauan dan kerusuhan untuk melawan kaum imperialis. Karena itu, kemenangan sekutu dalam PD II sejatinya juga identik dengan kemenangan Rusia. Sebab, Rusia memang sebelumnya hendak menggunakan ide konflik tersebut untuk melawan sekutu-sekutu imperialisnya. Konflik akan memposisikan sekutu secara terus-menerus dalam kesulitan serta menyibukkan mereka dalam peperangan dan kekacauan.

Kondisi ini akan memaksa sekutu untuk meninggalkan wilayah jajahan mereka serta menarik diri dari kebanyakan negeri yang pernah mereka kuasai di seluruh belahan dunia; khususnya Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Ini merupakan kekalahan besar sekutu, bahkan bisa berarti kehancuran mereka. Sebab, kekuatan mereka tidak lain selain karena praktik imperialismenya itu. Jika imperialisme tersebut lenyap, berarti kekuatan mereka juga hancur-lebur, dan mereka akan menjadi negara kedua di dunia. Karena itu, negara-negara Barat segera bersatu untuk melawan berbagai pemikiran yang merajalela di seluruh dunia yang menyerukan perlawanan terhadap kezaliman negara-negara Barat, pengusiran kaum imperialis, dan penghapusan imperialisme.

Dari sini, lahirlah kemudian gagasan untuk mengubah style penjajahan, yakni dengan cara meninggalkan imperialisme langsung (dirrect imperialism)—melalui militer, kekuatan fisik, dan pembumihangusan—sekaligus mengggantinya dengan imperialisme tak langsung (indirrect imperialism). Imperialisme tak langsung ini ditempuh dengan cara memberi kemerdekaan pada negara-negara jajahan yang dibelenggu dengan berbagai perjanjian dengan mengatasnamakan pertahanan dan aliansi; memberikan pinjaman dan bantuan dengan mengatasnamakan pembangunan (recovery); melalui agen dan orang-orang bayaran dengan mengatasnamakan persahabatan; serta melalui berbagai partai dan organisasi dengan mengatasnamakan demokrasi dan kebebasan. Semua ini merupakan upaya penyesatan yang mereka lakukan di Asia, Afrika, dan di Amerika Latin.

Mereka telah melakukan semua itu di negeri-negeri jajahan mereka, tak terkecuali di negeri Islam. Hanya saja, di negeri-negeri Islam, mereka tidak hanya melakukan upaya penyesatan seperti ini, sebab mereka takut Islam merasuk ke dalam sanubari umatnya dan berhasil menggerakkan hati mereka. Karena itu, mereka menciptakan upaya penyesatan terhadap kaum Muslim lebih dahsyat ketimbang apa yang telah mereka lakukan di negeri lain. Mereka telah menyesatkan kaum Musim dari kemerdekaan dan kebangkitan. Mereka telah menyesatkannya, sebelum dan setelahnya, dari Islam. Kemudian mereka membuat pos-pos non-Muslim di negeri Islam untuk dieksploitasi dan setiap saat akan tetap menjadi alat mereka untuk menyerang kaum Muslim.

Penyesatan dari kemerdekaan itu dengan jelas tampak melalui pencabikan negeri kaum Muslim menjadi beberapa negara; melalui para penguasa, politisi, dan partai politik bayaran yang nyatanya telah berkhianat kepada bangsanya; juga melalui berbagai pinjaman dan bantuan. Contohnya adalah slogan kemerdekaan yang menggema di negeri-negeri Islam antara dekade 1940 hingga 1960-an.

Bagaimana mungkin Irak bisa merdeka dari cengkeraman Inggris kalau penguasanya adalah keturunan Hashemi—yang notabene agen Inggris. Nuri as-Sa‘id, kala itu, adalah anak asuh dan sekutu Inggris; ‘Abd al-Karim Qasim juga agen Inggris. Sementara itu, ‘Abd as-Salam ‘Arif yang mengekor kepada Gamal Abdul Nasser adalah agen Amerika yang sangat berbahaya. ‘Abd ar-Rahman al-Bazzaz juga merupakan agen Inggris yang sangat berbahaya dan kotor. Demikian juga Mesir; bagaimana mungkin bisa merdeka kalau penguasanya kala itu adalah keluarga Muhammad ‘Ali yang merupakan agen Inggris yang sangat setia, sementara Gamal Abdul Nasser sendiri adalah kepala staf dinas intelijen Amerika. Lalu Yordania, bagaimana mungkin bisa merdeka kalau penguasanya telah diangkat oleh Inggris secara terang-terangan sebagai wakilnya di negeri tersebut, lalu mereka akan tetap mengendalikannya secara terang-terangan dalam hal-hal kecil maupun besar tanpa rasa malu dan peduli sedikit pun.

Demikianlah secara umum kondisi negeri negeri kaum Muslim. Karena itu, mustahil negeri-negeri tersebut mampu membebaskan diri dari perbudakan negara-negara Barat kafir selama upaya penyesatan politik tersebut ada, dengan menjadikan penggembala umat ini sebagai musang yang akan memangsa domba.

Sementara itu, penyesatan dari kebangkitan agaknya sulit dilihat dengan kasat mata, karena banyak orang telah tersesatkan dengan menyatakan, bahwa kebangkitan hanya bisa diraih melalui kemajuan ekonomi dan ketinggian akhlak. Banyak orang tertipu dengan propaganda tersebut sehingga kebanyakan negara kafir telah berhasil mengalihkan mereka dari kemajuan berpikir dan dari upaya memfokuskan orientasi yang benar dalam kehidupan ke arah upaya untuk meraih mimpi-mimpi ekonomi.

Penyesatan kebangkitan identik dengan kemuliaan akhlak, misalnya, tampak di Malaysia. Ketika Anwar Ibrahim menjadi orang nomor dua di pemerintahan, pemerintah negeri jiran itu mengadopsi motto: Akhlak mulia, negara maju. Namun akhirnya, negeri-negeri tersebut terus berputar dalam lingkaran kosong (moved in circle), sehingga mereka tersesat dari jalan yang lurus, sementara energi mereka telah habis terkuras.

Penyesatan dari pemikiran Islam juga merupakan bencana dahsyat yang telah memisahkan kaum Muslim bak lautan yang tidak mungkin dijembatani serta mengkondisikan mereka sebagai dua kelompok yang terus berperang. Contohnya adalah seperti yang pernah dialami oleh Yaman Utara dan Selatan pada dekade 1990-an atau Indonesia dan Malaysia pada tahun 1962 hingga 1966 yang terkenal dengan Era Konfrontasi. Mereka telah disesatkan dari Islam sebagai pandangan hidup. Amerika, misalnya, telah memerintahkan agen-agennya untuk mengadaptasi sosialisme dan mengkondisikan atmosfir negeri Islam penuh dengan pemikiran sosialisme.

Gamal Abdul Nasser (Mesir), Ahmed Ben Bellah (Aljazair), dan Soekarno (Indonesia) adalah di antara orang-orang yang bekerja sebagai agen yang mengemban visi Amerika, yang menyerukan sosialisme. Sementara itu, Inggris telah memerintahkan agen-agennya untuk mengadaptasi Islam dan berusaha menciptakan suasana dengan menggunakan nama Islam. Raja Faisal (Arab Saudi), Raja Hussein (Yordania), Reza Pahlevi (Iran), dan Tengku Abdurrahman (Malaysia) adalah agen-agen Inggris yang menyerukan Islam untuk melawan front sosialis; namun hanya sekadar nama, sementara secara real pemikirannya kufur.

Dengan demikian, upaya penyesatan politik merupakan upaya paling jahat dan kotor. Dengan cara itu, negeri Islam akan terkotak dalam dua front yang terus bermusuhan karena faktor ideologi. Mereka memang dipersiapkan untuk berperang terus, bahkan untuk peperangan yang membinasakan. Rusia dan Amerika, kala itu, berada di satu pihak, sementara Inggris di pihak lain. Pada saat yang sama, kaum Muslim terus berperang antar sesama mereka sehingga mereka menjadi musuh abadi dan selamanya jauh dari Islam. Inilah upaya penyesatan yang terpenting.

Sementara itu, pos-pos yang mengerikan itu, antara lain, adalah entitas Yahudi yang sengaja diciptakan di tengah negeri Islam. Entitas ini kemudian disebut dengan nama Israel setelah nama ini gagal digunakan untuk menyebut Palestina dan diintegrasikan dengan sebagian kaum Muslim dan Kristen Arab. Hal yang sama terjadi pada kaum musyrik di bagian selatan Sudan, juga di sebagian wilayah di Nigeria; serta orang-orang Kristen di Timor Leste, dengan Uskup Bello-nya. Semuanya merupakan pos-pos Inggris, Amerika, dan negara-negara kafir lainnya agar kaum Muslim disibukkan dengannya, dan pada saat yang sama bisa menjadi alat untuk menghantam mereka.

Dari realitas sejarah di atas bisa disimpulkan, bahwa penjajahan, serangan, dan penguasaan terhadap umat Islam; perluasan cengkeraman atas wilayah mereka, serta penjarahan kekayaan alam mereka tujuannya bukanlah materi semata. Tujuan utama sekaligus motif dasarnya—setelah umat Islam benar-benar dikalahkan dalam medan pertempuran dan pemikiran—adalah menghalangi kebangkitan mereka untuk kedua kalinya sebagai pengemban risalah Islam ke seluruh dunia. Inilah hal yang paling mendasar, fundamental, dan akar seluruh persoalan di atas. Karena itu, persoalannya bukan hanya soal menjajah, tetapi menjatuhkan dan melenyapkan umat Islam dari eksistensinya sebagai umat Islam, yaitu kumpulan manusia yang disatukan oleh akidah yang sama, yakni akidah Islam, yang mampu memancarkan sistem bagi kehidupan mereka.

Upaya penyesatan di Dunia Islam sejatinya bertujuan untuk: (1) melenyapkan sisa-sisa pemikiran Islam; (2) melanggengkan cengkeraman negara-negara Barat kafir atas diri dan negeri mereka; (3) mengubah pandangan keislaman mereka secara fundamental; (4) menjerat masa depan mereka untuk selamanya di bawah kendali negara-negara imperialis kafir layaknya budak dengan tuannya atau Muslim yang dihinadinakan oleh orang kafir; yang bebas diperintah, ditekan, dan dipaksa sesuka hatinya. Semua itu adalah dalam rangka memusnahkan kaum Muslim dan melanggengkan cengkeraman kaum kafir atas negeri-negeri Islam.

Karena itu, selama kaum Muslim tidak menyadari upaya penyesatan ini dan tidak segera menghancurkannya, mereka akan dengan mudah dipunahkan, dan pembebasan negeri Islam akan menjadi semakin lebih sukar. Sejarah dan realitas penyesatan terhadap kaum Muslim telah cukup menjadi bukti, bahwa persoalan tersebut bukan soal eksploitasi dan penjarahan kekayaan alam semata.

Betapa tidak. Jerman, misalnya, pasca PD II, dan kemenangan dua musuh bebuyutannya, Blok Sosialis dan Blok Kapitalis, atas Jerman. Jerman, yang sebelumnya adalah bangsa besar dan kekuatan yang ditakuti, telah disikapi oleh dua kekuatan—Blok Sosialis dan Blok Kapitalis tersebut—dengan satu sikap: mempertahankan agar Jerman tidak bangkit kembali sebagai bangsa besar seperti sebelumnya sehingga bisa mengancam mereka. Blok Kapitalis mempunyai kepentingan agar Jerman bangkit sebagai kekuatan yang ditakuti untuk melawan komunisme serta menjadi benteng bagi Eropa dari serangan Rusia. Kepentingan ini sangat kasat mata, terutama setelah PD II hingga akhir dekade 1950-an.

Namun, upaya Rusia untuk terus melemahkan Jerman dan menghalangi kebangkitannya kembali sebagai bangsa besar, ketakutan Prancis terhadap Jerman, inkonsistensi sikap Inggris, dan ketakutan Amerika akan hilangnya perimbangan kekuatan antarnegara Eropa telah menyatukan suara negara dunia pertama itu untuk membendung Jerman agar tidak kembali sebagai bangsa besar. Ending-nya, Jerman tetap terkubur sebagai negara dan bangsa yang hanya bisa meratapi masa lalunya. Jadi, jelas motif utamanya bukanlah eksploitasi, perluasan cengkeraman, penjajahan, atau penjarahan kekayaan alam Jerman. Memang, semua itu secara real dihasilkan, namun motif utamanya adalah membendung ancaman Jerman serta memproteksi negeri, bangsa, dan negara mereka dari ancaman Jerman. Padahal, Jerman tidak mempunyai akidah yang bisa mengancam bangsa-bangsa tersebut, juga tidak mengemban misi agung ke seluruh dunia.

Lalu, bagaimana dengan umat Islam, yang notabene jauh lebih kuat dengan kuantitas dan kekayaan alam yang jauh lebih besar dibandingkan dengan Jerman. Mereka juga mempunyai pemikiran paling kuat dan mengemban misi teragung sepanjang sejarah. Tentu ambisi negara-negara kafir untuk mengubur hidup-hidup masa depan umat Islam dan memusnahkan eksistensi mereka jauh lebih besar dibandingkan dengan apa yang telah mereka lakukan terhadap Jerman.

Ini jelas tidak terbantahkan dan bahkan semakin kasat mata setelah Tragedi 11 September 2001. Melalui apa yang mereka sebut dengan the War againt Terorism, negara-nagara kafir yang dipimpin Amerika telah melakukan penyesatan opini dunia dengan mengulang-ulang kebohongan Terorisme sebagai the War againt Humanity yang dibalut dengan rekaya kotor dan jorok, padahal yang menjadi sasaran bidik mereka adalah Islam dan umatnya. Meski berulang-ulang the War againt Terorism dikatakan bukan perang melawan Islam dan umatnya, nyatanya yang menjadi sasaran dan korban perang tersebut adalah Islam dan umatnya yang direpresentasikan oleh gerakan Islam. Sasaran Amerika dan sekutunya memang bukan Islam dan umatnya secara langsung. Akan tetapi, dengan memberangus gerakan Islam, secara otomatis eksistensi Islam dan umatnya juga akan terberangus. Inilah bentuk penyesatan yang tengah mereka mainkan.

Sejarah juga telah mencatat, bagaimana negeri-negeri Arab dengan tokoh-tokohnya yang mayoritas Muslim kala itu bergabung dengan Inggris untuk memerangi Khilafah Utsmaniyah yang ketika itu diseret oleh Inggris agar bergabung dengan Jerman dalam PD I melalui upaya penyesatan serupa. Melalui penyesatan, bahwa peperangan tersebut bukan perang melawan Islam dan umatnya, akhirnya bukan hanya Khilafah Utsmaniyah yang terkubur, namun juga Islam dan seluruh umatnya. Karena itu, upaya penyesatan tersebut harus selalu diwaspadai.

Untuk meraih tujuan-tujuan di atas, ada beberapa bentuk dan pendekatan yang biasanya ditempuh dalam upaya penyesatan terhadap Islam dan kaum Muslim. Pertama, pendekatan pemikiran (intellectual approach), yang terlihat pada penyesatan akidah dan sistem pemerintahan. Kedua, pendekatan politik (political approach), yang terlihat melalui para agen dan partai-partai politik yang bekerja sebagai agen imperialis. Ketiga, pendekatan kebudayaan (cultural approach), yang terlihat melalui tsaqâfah yang merusak jiwa dan menjungkirbalikkan akal sehat sehingga menjadi idiot tanpa menyisakan sedikitpun manfaat bagi orang lain.

Slogan Islam yes, politik Islam no yang pernah dikembangkan oleh tokoh Muslim di negeri ini adalah contoh bentuk penyesatan yang dilakukan dengan menggunakan intellectual approach. Sebab, Islam tidak mengenal dikotomi antara agama dan politik atau antara agama dan negara. Politik dan negara adalah bagian dari ajaran Islam.

Sementara itu, penyesatan dengan menggunakan political approach tampak dengan kasat mata, misalnya, melalui apa yang oleh UNDP (United Nation Development Program) disebut dengan the Governance Reform Agenda (agenda reformasi pemerintah) yang berhasil mengadakan pemilu tahun 1999, membentuk legislatif baru, serta melahirkan tokoh dan partai politik karbitan yang—sama-sama diketahui umum—lebih loyal kepada kepentingan asing ketimbang bangsanya sendiri. Dalam hal ini, UNDP—yang notabene merupakan alat Amerika—menurut G. Ravi Rajan, penanggungjawab UNDP untuk wilayah Indonesia, telah menyediakan dana sebesar Rp. 2,7 triliun untuk program tersebut. Semua ini dilakukan agar upaya penyesatan melalui apa yang mereka sebut sebagai reformasi menuju transisi demokrasi atau Indonesia Baru itu berhasil. Padahal, maksudnya adalah melanggengkan cengkeraman Amerika dengan mengganti rezim yang tidak disukai rakyatnya dengan tokoh-tokoh yang konon menjadi pilihan rakyat, karena dipilih melalui pemilu yang ‘jurdil’, sekalipun masing-masing rezim dan penggantinya sama-sama merupakan agen negara imperialis itu. Semua ini merupakan bentuk penyesatan dengan menggunakan political approach.

Sedangkan penyesatan yang dilakukan dengan menggunakan cultural approach juga terlihat dengan kasatmata melalui permainan Jaringan Islam Liberal. Ini terlihat dengan gagasan pembukaan pintu ijtihad, namun tidak mau terikat dengan paradigma ijtihad yang dikembangan oleh para ulama kaum Muslim. Menurut mereka, gagasan ijtihad itu bebas mereka lakukan dengan cara mereka sendiri. Karena mereka tidak mewarisi paradigma berpikir ijtihad ulama Islam atau tradisi berpikir produktif mereka, maka potensi intelektual mereka pun mandul; selain menjadi kepanjangan mulut guru-guru mereka, yakni orang-orang kafir yang tidak mewarisi turats Islam selain kebencian dan kedengkian.

Ketiga bentuk dan pendekatan yang digunakan negara-negara imperialis kafir dalam melakukan upaya penyesatan terhadap Islam dan umatnya merupakan senjata politik yang paling berbahaya. Dilihat dari bentuk dan pendekatannya, ketiga-tiganya bisa dibendung dan dihancurkan dengan aktivitas politik dan pemikiran (‘amaliyyah fikriyyah wa siyâsiyyah), antara lain, dengan cara:

Pertama, membangun pemahaman umat Islam yang sahih mengenai Islam—dari aspek akidah dan syariatnya sebagai konsepsi yang integral—yang mengatur seluruh permasalahan manusia, baik yang berhubungan dengan Penciptanya, sesamanya, maupun dirinya sendiri. Dengan kata lain, Islam adalah akidah dan sistem yang mengatur urusan ibadah, ekonomi, sosial, politik, pemerintahan, pendidikan dan sebagainya.

Hanya saja, konsepsi Islam ini tidak cukup hanya dipahami secara global. Artinya, umat Islam tidak cukup hanya mengetahui dan menyakini, bahwa Islam adalah akidah dan sistem yang mengatur urusan ibadah, ekonomi, sosial, politik, pemerintahan, pendidikan dan lain-lain. Lebih dari itu, mereka harus pula memahami, misalnya, bagaimana bentuk negara, sistem pemerintahanan, struktur negara, dan konstitusi syariat yang diajarkan oleh Islam. Pada saat yang sama, umat Islam juga harus memahami hakikat pemikiran kufur dan perbedaannya dengan Islam serta hukum menggunakan dan menyebarluaskannya. Jika konsepsi ini telah menjadi mindframe umat Islam, penyesatan dengan intellectual approach di atas akan bisa dihancurkan.

Kedua, membangun kesadaran politik umat Islam. Kesadaran ini terbentuk jika umat mempunyai: (1) Pandangan atau perhatian terhadap dunia secara keseluruhan, baik yang berkaitan dengan peristiwa, kejadian, maupun realitasnya; (2) Pandangan atau perhatian yang lahir dari sudut pandang yang khas, yaitu konsepsi Islam. Umat yang mempunyai kesadaran politik tidak hanya memperhatikan peristiwa besar yang terjadi di sekitarnya serta implikasi politik yang terjadi dari sana. Akan tetapi, perhatiannya juga meliputi setiap aktivitas politik yang dilakukan oleh tiap negara besar di dunia, baik terhadap negerinya maupun negeri Islam yang lainnya. Karena itu, mereka dituntut mempunyai political experience. Dengan political experience tersebut, mereka tidak akan membiarkan dirinya menjadi mangsa propaganda, provokasi, penyesatan, dan sebagainya. Karena itu pula, mereka harus mempunyai pemahaman politik yang benar, yang dibentuk melalui informasi politik dan aktivitas politik yang sahih.

Bagi umat Islam yang menghadapi ancaman pembumihangusan oleh umat dan bangsa lain, baik melalui penyesatan maupun manuver politik, maka aktivitas politik yang seharusnya mendapat perhatian besar adalah politik internasional atau luar negeri, khususnya politik negara-negara imperialis kafir di negeri-negeri Islam. Ini berarti, umat Islam juga dituntut untuk mengetahui kondisi hubungan internasional, misalnya bagaimana hubungan Amerika, Inggris, dan Uni Eropa dengan negeri-negeri Islam.

Tidak hanya itu, mereka juga harus terus memonitor hubungan tersebut dan harus mampu membedakan antara yang merupakan manuver politik dan yang bukan atau antara aksi dan target. Bahkan, mereka juga dituntut untuk mengetahui hakikat peristiwa yang terjadi di dunia. Misalnya, tidak cukup mereka hanya mengetahui bahwa the War againt Terorism adalah perang melawan jaringan al-Qaedah, tetapi mereka harus memahami, bahwa peperangan tersebut mempunyai dua wajah:
(1) untuk melumpuhkan kekuatan Islam dan umatnya yang direpresentasikan melalui gerakan Islam;
(2) untuk membersihkan sisa-sisa cengkeraman imperialis lain di seluruh dunia dan mengukuhkan hegemoni Amerika atas dunia.

Singkatnya, umat Islam harus mempunyai tradisi berpikir politik yang benar sehingga terhindar dari berbagai upaya penyesatan. Wallâhu a‘lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s