Mencoba Memperbaiki Diri

Taqwa dan Wara


“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali imran : 120)

“Sesungguhnya barang siapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf : 90)

“Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertaqwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.” (QS. Ali imran : 125)

Kata sabar banyak dibarengi dengan kata taqwa di berbagai tempat dalam Al-Qur’an. Taqwa dan sabar adalah dua unsur fundamental yang mesti ada untuk melindungi seseorang dari kejahatan musuh-musuhnya. Oleh karena itu seseorang mesti berbaju besi taqwa dan berselimutkan sabar, demi kesempurnaan apa yang diminta dan demi mencapai tujuan.

AMBISI TERHADAP KEDUDUKAN DAN KEPEMIMPINAN

Islam telah menjelaskan dengan gamblang melalui Rasul-Nya, bahwasanya:

“Halal itu jelas dan haram itu juga jelas. Dan di antara keduanya ada syubhat (perkara-perkara yang masih samar dan meragukan). Barangsiapa berhati-hati (taqwa) dari syubhat, maka dia telah membersihkan diri bagi dien dan kehormatannya. Dan barangsiapa terjerumus ke dalam syubhat, maka dia seperti gembala yang menggembala di sekitar kawasan terlarang dan nyaris melanggar kawasan terlarang tersebut.” (HR. Bukhari)

Ruang lingkup wara’ adalah juga ruang lingkup syubhat. Taqwa dan wara’ pada diri seseorang bisa diketahui pada saat menghadapi perkara-perkara syubhat. Manakala ketaqwaan, kehati-hatian serta kewaspadaan itu berjalan secara kontinyu, maka saat itu pula sifat wara’ pada diri seseorang semakin meningkat dan tinggi.

Wara’ itu muncul pertama kalinya dalam dua persoalan; persoalan kepemimpinan dan persoalan harta.

Dalam sebuah hadits shahih dinyatakan:
“Tidaklah dua serigala lapar yang dilepas dalam kumpulan domba itu lebih merusak daripada ketamakan seseorang akan kedudukan dan harta terhadap agamanya.” (Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir. No. 5620)

Rasulullah SAW menyerupakan dua orang tersebut dengan dua serigala yang lapar, tamak kepada kedudukan adalah serigala dan tamak kepada harta adalah serigala yang lain. Kedua serigala ini bergerak mengendap di malam yang dingin untuk memangsa dien dan sifat wara’ seseorang.

Yang terakhir keluar dari hati manusia adalah kecintaan (ambisi) terhadap kepemimpinan dan kedudukan. Ambisi yang demikian itu merusakkan. Berapa banyak manusia yang terjerumus ke dalam jurang kebinasaan akibat ketamakan mereka terhadap kedudukan atau jabatan dan kepemimpinan. Wara’ dari emas dan perak lebih ringan di banding wara’ terhadap jabatan dan kepemimpinan. Sebab emas dan perak adalah alat yang dipergunakan untuk mencapai jabatan dan pangkat. Syahwat terakhir yang ingin nampak dari hati manusia adalah syahwat yang ingin nampak menonjol dan ingin memimpin. Berapa banyak harta benda yang di habiskan untuk mencapai ambisi tersebut. Berapa banyak kaum muslimin yang menemui kebinasaan, berapa banyak negara yang porak poranda, dan berapa banyak pula kerajaan yang lenyap? Semua itu akibat ketamakan seseorang atau dua orang atau tiga orang terhadap kepemimpinan, syahwat terakhir yang muncul dari hati seorang mumin adalah keinginannya untuk dikenal/terkenal.

(Sumber: buku Tarbiyah Jihadiyah 1 – DR. Abdullah Azzam)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s