Mencoba Memperbaiki Diri

Konsep Pengobatan Islam


Oleh : Dokter Zaidul Akbar (Wakil Direktur IT HPA)

Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al-Ahzab [33]:21)
Islam telah datang ke muka bumi ini dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam(SAW) dengan membawa satu kesempurnaan dalam bidang dan sisi apapun dalam kehidupan manusia, termasuk juga dalam bidang  kesehatan.

Rasulullah sebagai uswatun hasanah (suritauladan baik) semua manusia, memang tidak di utus menjadi tabib atau dokter ke dunia ini. Namun apa yang beliau sampaikan ke pada umatnya, terutama dalam bidang kesehatan adalah suatu hal yang mempunyai khazanah ilmu pengetahuan yang sangat tinggi. Dari sinilah konsep Thibbun Nabawi (kedokteran nabi ) itu bermula. Sehingga oleh seorang ulama besar, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, khazanah-khazanah dalam bidang kesehatan ini dirangkum dalam sebuah buku yang bertajuk “Kitab Pengobatan Nabi”.

Konsep pengobatan dalam Thibbun Nabawi ini adalah suatu konsep yang akan terus update dengan masa kapan saja  dan dimana saja. Pasalnya, apa yang Nabi sampaikan adalah sesuatu yang memang AllahSubhanahu wa Ta’ala (SWT) bimbing melalui wahyu.

Konsep konsep pengobatan dalam Islam itu antara lain :
Pertama, Keyakinan. Ketika seseorang sakit, ia harus sangat menyakini bahwa sakit yang dialaminya tersebut berasal dari Allah SWT, dan Allah juga yang akan menyembuhkannya. Seperti dalam firman-Nya:
“Dan apabila aku sakit, dialah yang menyembuhkan aku..” (Asy-Syu’araa [36]:80)

Di samping itu ada juga Hadits yang berbunyi, “Lii Kulli Daa In dawaun.” Artinya:  “Setiap penyakit pasti ada obatnya.”

Dari kedua hujjah ini, seseorang yang menderita suatu penyakit, seyogyanya mempunyai suatu keyakinan yang sangat kuat bahwa tiada satu pun yang ada di dunia ini yang mampu menyembuhkan kecuali Allah ‘Azza wa Jalla melalui izin-Nya.

Seseorang yang menderita suatu penyakit haruslah mempunyai keyakinan yang sangat kuat bahwa semua penyakit pasti ada obatnya, karena demikianlah memang yang dikabarkan oleh Rasulullah mengenai hal tersebut, bahkan beliau menyebutkan hanya ada dua penyakit yang tidak bisa disembuhkan, yaitu: Mati dan Pikun.

Oleh Karena itu jika kita mendapatkan manusia yang mengatakan bahwa suatu penyakit tidak ada obatnya dan tidak bisa disembuhkan , maka ucapan  ini menjadi  bertentangan dengan apa  yang disampaikan oleh Rasulullah dan wajib bagi kita untuk menolaknya.

Kedua, Menggunakan obat yang halal dan thoyyib. “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya, dan menjadikan setiap penyakit pasti ada obatnya.Maka berobatlah kalian, tapi jangan dengan yang haram.”(Riwayat Abu Dawud)

Konsep kedua dalam pengobatan Islam adalah menggunakan obat  yang halal dan thoyyib. Ada hal yang penting dari apa yang disampaikan Rasulullah SAW melalui Hadits ini.

Dari sini dapat kita pahami bahwa tidak mungkin obat obat  yang digunakan seseorang adalah sesuatu yang haram, karena pastinya ketika Allah menciptakan suatu penyakit, Allah juga menurunkan obatnya, namun karena Allah Maha Suci (Al-Quddus), tidaklah mungkin Allah akan menurunkan penawarnya dari benda yang haram.

Hal ini patut kita cermati, karena kita sekarang banyak mendapati obat obatan yang digunakan pada masa kini, ternyata berasal dari barang haram, termasuk gelatin yang banyak sekali digunakan dalam dunia pengobatan masa kini yang ternyata berasal dari babi. Sebagai contoh, LPPOM –MUI banyak mendapatkan ternyata cangkang kapsul yang digunakan untuk obat, banyak dihasilkan dari gelatin babi.

Hal ini patut menjadi perhatian kita semua, karena perihal halal haram menjadi suatu hal yang sangat penting dalam Islam yang  bisa membuat amalan seseorang tidak diterima oleh Allah ‘Azza wa Jalla karena permasalahan haramnya obat yang dia minum.

Ketiga, Tidak membawa mudharat yang akan mencacatkan tubuh. Dalam pengobatan Islam, kita di anjurkan untuk tidak melakukan pengobatan yang kiranya pengobatan tersebut membawa kemudharatan yang justru menimbulkan masalah baru bagi seseorang.

Oleh karena itu dalam Thibbun Nabawi semampu mungkin kita menjaga tubuh yang sempurna ini dengan tidak melakukan tindakan tindakan yang dapat merusak tubuh kita.

Keempat, Tidak berbau takhayul, bid’ah, dan khurafat. Ketiga hal di atas selain harus dihindari juga bisa mengakibatkan pelakunya jatuh dalam jurang kekafiran. Dapat kita bayangkan dalam rangka berobat justru Akidah tergadai, hal ini tentunya sangat disesalkan.

Realita ini sangat sering kita lihat dalam dunia pengobatan sekarang, termasuk menggunakan media media tertentu dalam pengobatan yang tidak ada dalam tuntunan islam atau yang pernah di ajarkan Rasulullah.
Kelima, Mencari yang lebih baik. Dalam Thibbun Nabawi, seseorang dianjurkan untuk terus berikhtiar sampai penyakit itu sembuh atas izin Allah. Sesungguhnya Allah tidak hanya melihat kesembuhan yang akan dicapai, tapi proses menuju kesembuhan itupun akan dinilai oleh Nya, apakah ia melakukan hal yang dilarang untuk berobat. Jadi jika sembuh namun Akidah tergadai apalah artinya kesembuhan tersebut.

Adanya konsep pengobatan dalam Thibbun Nabawi ini menjadikan suatu  aturan bagi yang terlibat di sini, sehingga keberkahan dan kesempurnaan dari Thibbun Nabawi tersebut dapat terus dijaga. Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s