Mencoba Memperbaiki Diri

Menjawab Kerancuan VCD Pelecehan Islam


Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad nabi dan rasul terakhir yang diutus Rabb alam semesta dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, supaya beliau menjadi rahmat bagi seluruh alam. Amma ba’du.

Kaum muslimin, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Di tengah masyarakat kita belakangan ini muncul sebuah VCD yang meresahkan. Di dalam VCD ini ditampilkan ceramah seorang murtad (sebagaimana tampak dari pengakuannya sendiri, entah itu jujur atau tidak) yang bernama Mohamad Ali Makrus Attamimi [jika benar dia berasal dari kabilah Tamim maka pengakuannya sebagai keturunan Nabi jelas sebuah kedustaan. Kabilah Tamim bukanlah kabilah Nabi, ed].

Seorang penyair mengatakan,

كُلٌّ يَدَّعِي وَصْلاً لِلَيْلَى

وَلَيْلَى لَا تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَا

Semua orang mengaku punya hubungan dengan Laila

Namun Laila tidak mengakui ucapan mereka

Disebutkan bahwa dia adalah mantan aktifis FPI, seorang keturunan habib (masih ada silsilah keturunan dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan juga pernah menjadi anggota Tim Pemburu Hantu Reality Show TV (Lativi) bahkan lebih parah lagi orang ini menyatakan sendiri bahwa dia pernah menjabat sebagai ‘penasehat paguyuban paranormal’ berarti sangat menggandrungi dunia perdukunan dan kesyrikan. Dan yang paling menyedihkan adalah disebutkan bahwa ‘dia menemukan kebenaran’ (artinya meninggalkan Islam dan memeluk agama Nashrani[1], wal ‘iyadzu billah!), padahal pada hakikatnya dia telah terseret dalam arus kesesatan yang nyata. Semoga Allah menyelamatkan kita dari tipu daya syaitan dan bala tentaranya. Karena kita yakin bahwa sesungguhnya tipu daya syaitan itu sangat lemah. Dengan bekal ilmu, kesabaran dan ketakwaan maka tipu daya mereka tidak akan bisa membahayakan kita barang sedikitpun.

Sebelum lebih jauh berbicara tentang kasus ini maka perlu kami ingatkan di sini bahwa berita-berita yang bertebaran di sekitar kita perlu diteliti dari mana datangnya. Apalagi jika berita ini datang dari orang kafir, maka berita mereka tidak layak untuk dipercaya, apalagi yang terkait dengan masalah agama. Karena Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat [49] : 6)

Syaikh As Sa’di dalam Taisir Karimir Rahman mengatakan,”Apabila seorang fasik (yang sering melakukan dosa besar sebagaimana ditafsirkan dalam Aysarut Tafasir, pen) menceritakan suatu berita, hendaklah diteliti terlebih dahulu dan tidak menelan mentah-mentah berita tersebut begitu saja karena hal ini dapat menimbulkan bahaya yang besar dan terjatuh dalam dosa. Jika berita dari orang fasik ini diterima seperti berita dari orang yang jujur dan adil maka akan timbul kerusakan jiwa dan harta tanpa alasan yang benar.” Oleh karena itu, setiap berita dari orang yang fasik hendaklah diteliti terlebih dahulu kebenarannya, jangan diterima terlebih dahulu apalagi berita dari orang kafir (Nashrani) yang lebih jelek dari orang yang melakukan dosa besar dan masih muslim. Perhatikanlah hal ini!

Kami sendiri pernah mengalami, pada suatu saat ada seorang tamu mengaku bernama Imron yang diundang oleh jama’ah pengajian di suatu masjid di Jogjakarta untuk menceritakan kisah masuk Islamnya. Orang ini mengaku sebagai muallaf yang sebelumnya telah menempuh pendidikan kependetaan di Sulawesi kemudian setelah dia menemukan Islam sebagai ajaran yang benar maka dia pun masuk Islam dan melarikan diri ke Jogjakarta, bahkan kemudian dia ditampung di sebuah pondok pesantren. Setelah berlalu beberapa waktu lamanya ternyata terbukti bahwa orang tersebut adalah orang Nashrani yang sengaja mengelabui kaum muslimin dan sedang mengadakan penelitian untuk kepentingan mereka.

Copyan VCD tersebut kami dapatkan dari seorang teman yang melaporkan bahwa video ini terbukti disebarkan dengan cara ‘ditanam’ di komputer-komputer yang ada di sebagian warnet. Di dalam VCD tersebut banyak terdapat kerancuan dan kekacauan pemahaman yang dilontarkan oleh orang yang mengaku keturunan habib ini. Dan di dalamnya terdapat pula pelecehan terhadap ajaran Islam. Mudah-mudahan melalui tulisan ini berdasarkan ilmu yang kami ketahui, Allah memudahkan kami untuk menjelaskan berbagai kerancuan pemikiran dan pelecehan yang dilakukan oleh orang yang mengaku sebagai habib ini. “Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal” (QS. Ali Imran [3] : 122)

Kerancuan Pertama

Dia menyatakan bahwa kata ‘muslim’ di dalam Al Qur’an (seperti dalam ayat wa laa tamuutunna illa wa antum muslimuun) itu lebih luas maknanya daripada sekedar orang yang beragama Islam. Menurutnya, muslim adalah karakter/sifat yang melekat pada setiap orang yang taat dan tunduk kepada perintah firman Tuhan, sedangkan Islam identik dengan agama. Sehingga firman Allah (yang artinya),”Janganlah kalian mati kecuali sebagai muslim.” tidak bisa dimaknai ‘janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam’. Dengan kata lain, dia ingin mengatakan bahwa yang bisa selamat bukan hanya pemeluk agama Islam. Oleh sebab itu dia menyebut penafsiran para ulama kita terhadap kata ‘muslim’ dalam Al Qur’an sebagai ‘orang yang beragama Islam’ adalah kekeliruan (salah kaprah) yang dibudayakan.

Bantahan :

Sesungguhnya perkataan orang ini tidak ada bedanya dengan perkataan orang-orang Liberal yang menafsirkan ‘muslim’ sebagai setiap orang yang pasrah kepada Dzat Yang Maha Benar yaitu Allah Ta’ala. Sehingga siapa pun orangnya –menurut mereka- asalkan dia pasrah kepada Allah maka dia adalah seorang muslim dan mendapatkan jaminan surga. Kalau kita mau secara ringkas membantahnya, maka dapat kita katakan bahwa sebenarnya perkataan semacam ini hanya muncul dari orang yang tidak faham kandungan Al Qur’an. Nah, apakah perkataan orang yang tidak paham isi Al Qur’an bisa dijadikan pegangan ?

Untuk lebih membuktikan kekeliruan fatal ini maka akan kami sebutkan beberapa ayat Al Qur’an beserta tafsiran para ahli tafsir yang bertolak belakang dengan penafsiran di atas.

Pertama; Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

"Ibrahim bukanlah seorang Yahudi ataupun Nasrani akan tetapi dia adalah seorang hanif dan muslim serta bukan termasuk golongan kaum musyrikin." (QS. Ali-‘Imran [3] : 67)

Ibnu Jarir Ath-Thabari mengatakan,”Ini merupakan pendustaan dari Allah ‘azza wa jalla terhadap klaim orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mendebat ajaran Nabi Ibrahim dan millahnya. Mereka mengklaim bahwa Nabi Ibrahim menganut agama yang mereka anut. Ayat ini juga menjadi penegasan sikap berlepas diri Ibrahim dari perbuatan mereka itu. Allah menegaskan bahwa sesungguhnya merekalah (Yahudi dan Nasrani) yang menyelisihi agama yang beliau bawa. Ini pun menjadi kata putus dari Allah ‘azza wa jalla bagi seluruh pemeluk Islam dan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan bahwa mereka itulah sebenarnya yang menganut ajaran agama Ibrahim dan berjalan di atas jalan dan syariat yang beliau gariskan dan bukannya para pemeluk agama-agama selain agama yang mereka peluk/Islam” (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Maktabah Syamilah)

Dari penafsiran di atas jelas bagi kita bahwa makna Islam yang dikehendaki oleh Al Qur’an yaitu mengikuti ajaran Nabi Ibrahim yang lurus yaitu menyembah Allah semata dan tidak berbuat syirik. Dan inilah ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para nabi yang lainnya. Dan itu berarti muslim adalah yang tidak menganut agama Yahudi maupun Nasrani namun mengikuti nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sudah Allah tegaskan pada ayat di atas dan diperjelas oleh ayat-ayat lainnya berikut ini.

Kedua; Allah jalla wa ‘ala berfirman,

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

"Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengikuti millah Ibrahim dengan hanif..." (QS. An-Nahl [16] : 123)

Imam ahli tafsir Ibnu Jari Ath-Thabari menafsirkan kata-kata ‘dengan hanif’ dalam ayat tersebut (QS. An-Nahl : 123) adalah dengan "istiqamah di atas agama Islam". Ibnu Katsir berkata bahwa makna kata hanif ialah almunharif qashdan ‘anisysyirki ilat tauhid : sengaja menjauhi dan meninggalkan syirik menuju tauhid. Al-Baghawi mengatakan bahwa makna hanif adalah,"muslim yang lurus berada di atas agama Islam." Al-Alusi mengatakan bahwa makna hanif adalah,"Berpaling dari semua agama yang batil menuju agama yang haq dan tidak bergeser darinya." Tafsiran serupa disampaikan oleh Asy-Syaukani  dalam Fathul Qadir. Syaikh As-Sa’di mengatakan bahwa makna haniif adalah muqbilan ‘alallah bil mahabbah wal inaabah wal ‘ubuudiyah mu’ridhan ‘an man siwaahu : menghadapkan jiwa raga kepada Allah dengan rasa cinta, taubat dan penghambaan serta berpaling dari segala sesembahan selain-Nya. Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazaa’iri mengatakan tentang makna hanif adalah condong kepada agama yang lurus yaitu Islam (Lihat Maktabah Syamilah)

Ketiga; Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ

"Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam…." (QS. Ali-‘Imraan [3] : 19)

Al-Baghawi mengatakan tentang makna ayat ini yaitu agama yang diridhai dan benar (hanya Islam). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna Islam di dalam ayat ini adalah mengikuti ajaran rasul Allah yang diutus kepada mereka di setiap masa sampai ditutupnya risalah dengan diutusnya Muhammad shallallahu a’alaihi wa sallam yang menutup semua jalan menuju Allah kecuali satu jalan yang dibentangkan oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu orang-orang sesudah diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menghadap Allah dalam keadaan menganut agama selain syari’at beliau maka tidak akan diterima. Ath-Thabari membawakan riwayat dari Qatadah yang menafsirkan ayat ini : Yang dimaksud Islam di sini adalah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah serta mengakui ajaran dari sisi Allah yang dibawa olehnya (Rasulullah). Itulah agama Allah yang disyari’atkan untuk diri-Nya. Dan dengan agama itulah Allah mengutus para rasul-Nya. Dan itu pulalah agama yang ditunjukkan oleh para wali-Nya (kepada umat manusia). Allah tidak menerima selain agama itu dan tidak akan memberikan balasan pahala kecuali dengannya. (Maktabah Syamilah)

Keempat; Allah juga berfirman,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Dan barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia akan termasuk golongan yang menderita kerugian." (QS. Ali-‘Imraan [3] : 85)

Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima oleh Allah. Imam Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa barangsiapa yang menempuh jalan selain yang disyari’atkan Allah maka tidak akan menerimanya. Imam Al-Baghawi menjelaskan bahwa ayat ini turun pada  kisah 12 orang yang murtad dari Islam dan keluar meninggalkan Madinah dan mendatangi Mekkah dalam keadaan sebagai orang kafir, diantara mereka ada Al-Harits bin Suwaid Al-Anshari. Syaikh As-Sa’di berkata : barangsiapa yang beragama kepada Allah dengan selain agama Islam yang telah diridhai Allah bagi hamba-hamba-Nya maka amalnya tertolak dan tidak diterima …(Maktabah Syamilah)

Dari keempat buah ayat di atas beserta tafsirannya, maka semakin jelaslah bagi kita bahwa jalan yang akan menyelamatkan umat manusia adalah berpegang teguh agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan agama-agama yang lain selain Islam. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata : Pengertian Islam dalam makna yang luas adalah beribadah kepada Allah dengan syari’at-Nya sejak masa Allah mengutus para Rasul hingga tegaknya hari kiamat. Pengertian Islam inilah yang dimaksud oleh Allah dalam banyak ayat yang menunjukkan bahwa syari’at-syari’at terdahulu semuanya juga disebut berislam kepada Allah ‘azza wa jalla, seperti firman Allah yang menceritakan tentang Ibrahim,"Wahai Rabb kami jadikanlah kami berdua orang yang muslim kepada-Mu dan juga anak keturunan Kami sebagai umat yang muslim kepada-Mu." (QS. Al-Baqarah [2] : 128)

Beliau melanjutkan: Adapun Islam dalam pengertian yang sempit semenjak pengutusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hanya mencakup agama yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu disebabkan agama yang beliau ajarkan menjadi penghapus seluruh agama terdahulu. Sehingga siapa saja (orang sesudah beliau) yang mengikuti beliau menjadi muslim dan siapa saja yang menentang beliau maka dia bukanlah muslim. Maka para pengikut rasul terdahulu adalah orang muslim di masa rasul mereka. Orang Yahudi adalah kaum muslimin di masa Musa ‘alaihis salam. Begitu pula orang Nasrani adalah kaum muslimin di masa Isa ‘alaihis salam. Adapun ketika Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diutus kemudian mereka mengingkari risalah beliau maka mereka bukan lagi kaum muslimin. Agama Islam dalam pengertian inilah agama yang sekarang diterima di sisi Allah dan akan bermanfaat bagi pemeluknya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,"Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam." (QS. Ali-‘Imraan [3] : 19) Dan Allah juga berfirman,"Dan barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia akan termasuk golongan yang menderita kerugian." (QS. Ali-‘Imraan [3] : 85) Seperti inilah keislaman yang dianugerahkan Allah kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta umatnya. Allah ta’ala berfirman,"Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku atasmu. Dan Aku pun ridha Islam sebagai agama bagimu." (QS. Al-Maa’idah [5]  : 3) (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal. 20-21)

Terakhir, seandainya istilah Islam bukanlah nama untuk sebuah agama formal namun sikap pasrah apapun agama formal yang dianut lalu apa makna dan terjemah hadits berikut ini,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ » .

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Islam dibangun atas lima perkara: (1) syahahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, (2) menegakkan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji, dan (5) berpuasa di bulan Ramadhan.”  (HR Bukhari no. 8 dan Muslim no. 122)

Lalu adakah ajaran syahadat, shalat dst  sebagaimana dalam hadits di atas di agama-agama formal selain Islam?! (ed).

Kerancuan Kedua

Dia mengatakan pula Isa itu bukanlah nama, namun Isa adalah gelar sehingga Isa disebut ‘At Tauhid’ (satu-satunya) sehingga yang dituliskan oleh Al Qur’an adalah Al Masih Isa ‘alaihis salam. Dia mengatakan selanjutnya,”Al Masih adalah orang yang diurapi (diusap, pen) Tuhan, Isa adalah Esa, sedangkan ‘alaihis salam adalah pemberi/penjamin keselamatan (atau disebut Nabi pembawa Syafa’at). Sehingga kalau Al Masih Isa ‘alaihis salam diringkas jadi satu menjadi ‘Dialah orang yang diurapi (diusap, pen) Tuhan dan satu-satunya penjamin keselamatan (bukan salah satu penjamin keselamatan)’.”

Bantahan :

Setelah kami memeriksa di dalam Al Qur’an, ternyata tidak terdapat ayat yang menyebut Isa dengan Al Masih Isa ‘alaihis salam. Yang ada hanya menyebutnya dengan Al Masih Isa bin Maryam. Seperti terdapat pada tiga ayat yaitu Ali Imran : 45, An Nisa : 157, An Nisa : 171. Namun yang kami permasalahkan bukanlah penyebutan Isa dengan sebutan lengkap Al Masih Isa ‘alaihis salam. Yang kami permasalahkan pertama kali adalah penafsiran Isa dengan At Tauhid yang artinya satu-satunya.

Setelah kami periksa di kamus Bahasa Arab yaitu Al Qomus Al Muhith dan Al Mu’jamul Wasith, ternyata kata Isa tidak memiliki asal kata atau tidak digunakan kecuali sebagai nama. Karena dalam bahasa Arab, ada nama yang penggunaannya sebagai nama saja disebut dengan Al ‘Alam Al Murtajal seperti Sa’ad, Yusuf, Zainab, Mu’awiyah. Dan juga ada nama yang digunakan untuk selain nama disebut dengan Al ‘Alam Al Manqul seperti Mahmud (yang artinya dipuji), Karim (yang artinya mulia), Syarif (yang artinya mulia), Anwar (yang artinya cahaya). Dan nama Isa berarti termasuk Al ‘Alam Al Murtajal dan tidak digunakan atau tidak berasal dari kata lainnya.

Lalu apakah betul Isa berarti At Tauhid (satu-satunya)? Kami tidak tahu ‘Si Habib’ ini mendapatkan makna demikian dari mana. Atau mungkin dia ambil makna tersebut dari kata Esa dari bahasa Sansekerta yang artinya satu. Kalau betul dia mengambil dari kata Esa (yang mirip dengan Isa, namun sangat jauh maknanya), maka sungguh dia telah melakukan kesalahan yang fatal. Bagaimana mungkin bahasa Arab diartikan dengan bahasa Sansekerta?!

Kemudian permasalahan kedua adalah kalimat ‘alaihis salam yang diartikan pemberi/penjamin keselamatan (atau disebut Nabi pembawa Syafa’at). Kalau kami menilai, beliau tidak melalui jalan ilmiah dalam menafsirkan hal ini karena beliau tidak pernah menyebutkan sumber atau rujukan dari perkataannya.

Dalam kitab Ad Dalail wal Isyarot ‘ala Kasyfi Syubuhat, hal. 17 dikatakan bahwa kalimat ‘alaihis salam merupakan kalimat do’a yang digunakan untuk rasul wahyu dan rasul manusia. Rasul wahyu adalah Jibril ‘alaihis salam. Sedangkan rasul manusia adalah para rasul yaitu Nuh, Musa, Isa, dan lain-lain. Para ulama menyendirikan istilah ‘alaihis salam ini untuk rasul wahyu dan rasul manusia dan berbeda dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dipuji dengan shalawat dan salam (dengan digandengkan) [karena inilah yang Allah perintahkan dalam QS. Al Ahzab. Oleh karena itu orang yang hanya ber-shalawat atau hanya mendoakan keselamatan dinilai tidak melaksanakan perintah Allah dalam ayat tersebut, ed]. Sedangkan untuk Jibril dan Nabi lainnya hanya dipuji dengan As Salam saja. Inilah istilah umum yang telah dijalankan oleh para ulama sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa.

Lalu apa yang dimaksud dengan As Salam? Apakah pemberi keselamatan sebagaimana dikatakan oleh dia?

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin –semoga Allah merahmati beliau- dalam Syarhul Mumthi’ I/12 mengatakan,”As Salam adalah selamat dari berbagai kekurangan dan bencana.” Dalam Kamus Al Munawwir hal. 654, kata As Salam berasal dari kata kerja salima yang berarti selamat. Kata as salam sendiri termasuk mashdar yaitu kata kerja yang dibendakan sehingga as salam berarti keselamatan. Jadi secara bahasa ‘alaihis salam berarti ‘semoga keselamatan tercurah kepadanya’. Inilah pengertian yang tepat dan sangat jauh berbeda dengan apa yang dikatakan Si Habib ini, atau mungkin dia kurang memahami bahasa Arab.

Lalu apa makna shalawat? Syaikh Al Utsaimin dalam kitab yang sama mengatakan,”Sebagian ulama mengatakan bahwa makna shalawat dari Allah adalah rahmat, dari malaikat adalah ampunan (istighfar), sedangkan dari manusia adalah do’a. Namun yang tepat (benar) sebagaimana yang dikatakan Abul ‘Aliyah,’Shalawat dari Allah dari pujian-Nya kepada orang dishalawati di sisi para malaikat yang didekatkan. Dan ini meliputi lebih rahmat yang muthlaq.’ Oleh karena itu, makna shalawat kepada Nabi Muhammad adalah Allah memuji beliau di sisi para malaikat yang didekatkan.”

Apabila shalawat digabungkan dengan salam (shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka salam berarti menghilangkan dari beliau berbagai kekurangan dan shalawat berarti menetapkan bagi beliau kesempurnaan.

Dalam perkataan beliau selanjutnya, dia mengatakan bahwa Yesus adalah pemberi keselamatan yang berarti pemberi syafa’at sedangkan Nabi Muhammad adalah peminta syafa’at. Lalu beliau ajukan pertanyaan : Manakah yang dipilih, pemberi syafa’at (Yesus) atau orang yang hanya meminta syafa’at? Sungguh sangat keterlaluan. Sudah salah mengartikan, malah menyuruh orang awam yang kurang memahami bahasa Arab untuk menentukan pilihan : memilih Yesus sebagai pemberi syafa’at atau Muhammad sebagai peminta syafa’at. Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya musuh-musuh Islam.

Kerancuan Ketiga

Dia mengatakan,”Hadirnya shalawat itu ada riwayatnya sendiri. Pada saat Muhammad berusia 61 tahun, beliau tidak bisa mendeteksi racun yang berada dalam tubuhnya. Nabi Muhammad diracuni oleh istrinya sendiri, yaitu istri yang ke-17 (total istri nabi adalah 22) selama dua tahun. Lalu beliau katakan,”Setelah [mungkin: telah, ed] diturunkan bahasa shalawat dengan bacaan ‘Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammadin’, kemudian Nabi Muhammad meninggal.”

Bantahan:

Orang yang mengaku Habib ini mengatakan bahwa Nabi pada usia 61 tahun pernah diracuni oleh istrinya sendiri lalu setelah dua tahun meninggal. Dalam kitab Ar Rohiqul Makhtum yang ditulis oleh Syaikh Al Mubarakfury (yang mendapatkan juara I dalam penulisan sejarah nabi), dikisahkan bahwa setelah perang Khaibar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diracuni oleh seorang wanita yang bernama Zainab binti Al Harits, istri Sallam bin Misykam. Wanita ini pernah memberikan daging domba yang telah dipanggang dan disisipkan racun pada bagian paha domba tersebut. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerimanya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menggigit dengan satu kunyahan. Namun kemudian beliau memuntahkannya lagi dan tidak menelannya. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tulang ini mengabarkan kepadaku bahwa di dalam daging ini telah disusupi racun.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil wanita tadi dan dia pun mengakuinya.

Kemudian dikisahkan lagi dalam kitab yang sama mengenai hari terakhir kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada hari Senin Tanggal 12 Rabi’ul Awwal 11 H, rasa sakit beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin parah. Ditambah lagi pengaruh racun yang disusupkan dalam daging oleh wanita Yahudi yang beliau makan sewaktu di Khaibar sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang sempat kucicipi di Khaibar. Inilah saatnya bagiku untuk merasakan bagaimana terputusnya nadiku karena racun tersebut.

Inilah kisah akhir kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang dapat kita lihat bahwa memang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diracuni, tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah diracuni oleh istri beliau sendiri. Beliau diracuni oleh Zainab binti Al Harits, istri Sallam bin Misykam, seorang wanita Yahudi.

Jika kita lihat dalam kitab Ar Rohiqul Makhtum, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Zainab itu ada 2, yaitu :

[1]   Zainab binti Khuzaimah bin Al Harits. Dia berasal dari Bani Hilal bin Amir bin Sha’sha’ah. Sebelumnya dia adalah istri Abdullah bin Jahsy, yang mati syahid pada perang Uhud, lalu dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun 4 H. Namun dia meninggal dua atau tiga bulan setelah pernikahan ini.

Komentar : Jika kita lihat nama wanita yang meracuni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mungkin hampir sama dengan nama istri beliau ini yaitu sama-sama ada Al Harits. Namun jika kita melihat pada tahun 4 H lebih beberapa bulan, istri beliau ini sudah meninggal. Bagaimana mungkin istri beliau ini meracuni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah mungkin dia meracuni Nabi tatkala dia sudah berada di kuburan? Ini sangat tidak mungkin! Padahal peristiwa peracunan tadi terjadi pada saat Nabi berusia 61 tahun (sekitar tahun 9 H) sebagaimana perkataan Si Habib ini. Namun perlu diketahui bahwasanya peracunan ini terjadi bukan pada saat Nabi berusia 61 tahun karena peracunan ini terjadi pada saat perang Khaibar. Sedangkan perang Khaibar sebagaimana dalam buku sejarah Nabi terjadi pada tahun 7 H, dan itu tatkala Nabi berusia sekitar 59 tahun.

[2]   Zainab binti Jahsy bin Rayyab. Dia berasal dari Bani Asad bin Khuzaimah dan putri bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Sebelumnya dia adalah istri Zaid bin Haritsah, yang dianggap sebagai putra beliau sendiri. Zaid menceraikannya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya pada bulan Sya’ban pada tahun 6 H.

Komentar : Kalau kita melihat dari nama istri Nabi yang kedua ini, jelas namanya berbeda dengan wanita yang meracuni Nabi. Maka sungguh ngawur orang yang menyatakan istri Nabi-lah yang meracuni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dia menyebutkan bahwa jumlah total istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 22. Menurut pendapat yang kuat, istri yang dinikahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada 11 :

[1]      Khadijah binti Khuwailid;

[2]      Saudah binti Zum’ah;

[3]      Aisyah binti Abu Bakar Ash Shidiq;

[4]      Hafshoh binti Umar bin Al Khaththab;

[5]      Zainab binti Khuzaimah;

[6]      Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah;

[7]      Zainab binti Jahsy bin Rayyab;

[8]      Juwairiyyah binti Al Harits;

[9]      Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan;

[10]  Shafiyah binti Huyai bin Akhthab;

[11]  Maimunah binti Al Harits.

Mereka inilah para wanita yang pernah dinikahi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan beliau hidup bersama mereka. Ada dua orang yang meninggal dunia semasa beliau masih hidup yaitu Khadijah dan Zainab binti Khuzaimah, yang berarti beliau meninggal dunia dengan meninggalkan sembilan janda.

Sedangkan dua wanita lainnya yang tidak hidup bersama beliau, salah seorang di antaranya berasal dari Bani Kilab dan satunya lagi berasal dari Kindah yang dikenal dengan nama Al Juwainiyah. Namun ada perbedaan pendapat dalam masalah ini.

Adapun wanita yang beliau nikahi bukan sebagai wanita merdeka adalah Mariyah Al Qibthiyah, yang dihadiahkan oleh Al Maquqis dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki anak dari wanita ini yang bernama Ibrahim. Namun Ibrahim meninggal semasa hidup beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah. Selain Mariyah adalah Raihanah binti Zaid An Nadhiriyah atau Al Qurzhiyah, yang sebelumnya termasuk tawanan Quraizhah. Beliau memilihnya untuk diri beliau sendiri. Ada yang berpendapat bahwa dia juga termasuk istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dimerdekakan lalu dinikahi. Pendapat pertama dipilih oleh Ibnul Qayyim. Sedangkan Abu Ubaidah menambahkan dua wanita lainnya.

Komentar : Jika kita melihat dari kitab sejarah Nabi ini terlihat bahwasanya total istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik wanita merdeka dan budak = 11 + 2 wanita yang tidak hidup bersama Nabi + 2 budak wanita + 2 wanita yang disebut Abu Ubaidah = 17 wanita. Lihatlah, jika kita tidak memperhatikan perselisihan yang ada, jumlah total istri Nabi adalah 17. Kami tidak mengetahui dari kitab mana beliau mengatakan pendapatnya itu.

Perlu diperhatikan bahwa dalam teks shalawat yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan tidak terdapat lafadz ‘sayyidina’. Agar lebih yakin dengan yang kami katakan, lihatlah fatwa dari komisi Fatwa di Saudi Arabia (Lajnah Daimah) berikut ini.

السؤال الثالث من الفتوى رقم ( 4276 )

س3: هل يجوز أن نقول أثناء كلامنا على رسول الله صلى الله عليه وسلم: سيدنا محمد في غير المأثور عنه كالصلاة الإبراهيمية أو غير ذلك؟

Pertanyaan Ketiga dari Fatawa no. 4276

Soal : Bolehkan kita mengatakan dalam sanjungan kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Sayyidina Muhammad’ dalam shalawat yang ma’tsur sebagaimana shalawat Ibrahimiyyah atau selainnya?

ج3: الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم في التشهد لم يرد فيها – فيما نعلم – كلمة سيدنا أي: (اللهم صل على سيدنا محمد ..إلخ) وهكذا صفة الأذان والإقامة فلا يقال فيها سيدنا، لعدم ورود ذلك في الأحاديث الصحيحة التي علم فيها النبي صلى الله عليه وسلم أصحابه كيفية الصلاة عليه وكيفية الأذان والإقامة، ولأن العبادات توقيفية فلا يزاد فيها ما لم يشرعه الله سبحانه وتعالى، أما الإتيان بها في غير ذلك فلا بأس، لقوله صلى الله عليه وسلم: أخرجه أحمد 1 / 5، 281، 295، 3 / 2، 144، ومسلم 4 / 1782 برقم (2278)، وأبو داود 5 / 54 برقم (4673) والترمذي 4 / 622، 5 / 587 برقم (2434، 3615 ) وابن ماجه 2 / 1440 برقم (4308) . أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر

Jawab : Shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tasyahud, sepengetahuan kami tidak terdapat kalimat sayyidina yaitu ‘Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad …’. Begitu juga pada do’a sesudah adzan dan iqomah tidak terdapat pula kalimat sayyidina. Alasannya karena tidak ada dalil shohih (yang bisa diterima, pen) yang menyebutkan bahwa Nabi mengajarkan para sahabatnya mengenai tata cara shalawat kepada beliau atau pun adzan dan iqomah. Dan juga hal ini dikarenakan ibadah adalah tauqifiyyah (harus ada dalil untuk dilaksanakan, pen). Tidak boleh seseorang menambah ajaran yang bukan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun menggunakan lafadz sayyidina selain dari yang demikian maka tidaklah mengapa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر

Aku adalah sayyid anak Adam pada hari kiamat maka janganlah berbangga diri.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah).

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو … عضو … الرئيس

عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Kerancuan Keempat

Beliau juga mengatakan,”Saudara kita dari Bani Kedar (beliau menyebut umat Islam dengan istilah ini yang maksudnya adalah keledai liar, pen) juga menantikan Yesus. Dalam surat Az Zukhruf: 61 jelas di sana dikatakan,

وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (61)

(Namun beliau salah membaca ayat ini dengan menghilangkan huruf lam pada kata sa’ah dan menghilangkan kata biha serta menutup ayat dengan hadza shirothol mustaqim, pen). Beliau artikan,’Sesungguhnya Isa adalah (tanda kiamat) sebagai hakim yang adil, maka ikutilah aku (Isa). Aku adalah jalan yang lurus’. Jadi dalam ayat ini Al Qur’an memerintahkan untuk mengikuti Isa. Dan tidak ada satu pun ayat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad ngomong ikutilah aku. Tapi hanya ada satu kata dalam Al Qur’an yaitu ikutilah aku yaitu Isa.”

Bantahan:

Marilah kita lihat arti sebenarnya dari Surat Az Zukhruf ayat 61 (yang terdapat kesalahan bacaan dari beliau) dengan merujuk Al Qur’an terjemahan. Arti ayat tersebut adalah,”Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” Lalu bagaimana tafsir ulama mengenai ayat ini?

Ibnu Katsir dalam Tafsirul Qur’anil ‘Azhim mengatakan, ”Tafsir dari Ibnu Ishaq telah disebutkan, yaitu yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah diutusnya Isa ‘alaihis salam di mana beliau ‘alaihis salam akan menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta serta penyakit lainnya.” Kemudian selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan,”Yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah mengenai turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam sebelum hari kiamat. Sebagaimana terdapat pula dalam firman Allah,

وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepada Isa (‘alaihis salam) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisa’ [4] : 159).

Hal ini juga dikuatkan dengan qiro’ah (bacaan) lain dari ayat ini,

"وإنه لعَلَم للساعة"

Yang artinya ‘Sungguh Isa adalah sebagai tanda datangnya hari kiamat’ yaitu Isa sebagai tanda atau petunjuk akan terjadinya kiamat. Dan Mujahid berkata mengenai ayat ini bahwa sebagai tanda hari kiamat adalah keluarnya Isa bin Maryam sebelum hari kiamat. Demikianlah yag diriwayatkan dari Abu Huroiroh, Ibnu Abbas, Abul ‘Aliyah, Abu Malik, ‘Ikrimah, Qotadah, Adh Dhohak, dan selainnya. Juga terdapat hadits mutawatir (melalui banyak jalan periwayatan) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Isa ‘alaihis salam akan turun sebelum hari kiamat sebagai imam dan hakim yang adil.

Janganlah ragu-ragu dengan hari kiamat (bukan dengan Isa, pen). Sesungguhnya hari kiamat itu pasti terjadi dan bukan sesuatu yang mustahil. Ikutilah Aku mengenai yang Aku sampaikan kepada kalian dengannya (tentang turunnya Isa). Inilah jalan yang lurus.”

Pertanyaan : Apakah Yesus turun kembali untuk membela orang Nashrani?

Dijawab oleh Al Baghowi dalam tafsirnya, beliau berkata,

وروينا عن النبي صلى الله عليه وسلم: "ليوشكن أن ينزل فيكم ابن مريم حكمًا عادلا يكسر الصليب، ويقتل الخنزير ويضع الجزية، وتهلك في زمانه الملل كلها إلا الإسلام".

”Kami telah mendapatkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,’Sungguh hampir dekat waktunya turun di tengah-tengah kalian (Isa) bin Maryam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghilangkan jizyah (upeti, karena kafir dzimmi sudah tidak ada lagi. Semuanya muslim, ed). Akan dihancurkan seluruh agama di zaman beliau kecuali Islam’.”(HR. Bukhari)

Perhatikan Nabi Isa akan datang bukan untuk membela agama Nashrani, tetapi akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghancurkan agama tersebut.

Dan yang dimaksudkan bahwa beliau menjadi hakim yang adil adalah beliau menjadi hakim dengan menggunakan syari’at Islam, bukan dengan syari’at Nashrani atau syari’at yang baru. Karena tatkala Isa bin Maryam itu turun, syari’at Islam masih tetap berlaku dan tidak terhapus. Bahkan Nabi Isa akan menjadi salah seorang hakim umat ini. Yang menguatkan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan Thobroni, dari Abdullah bin Mughoffal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِل عِيسَى اِبْن مَرْيَم مُصَدِّقًا بِمُحَمَّدِ عَلَى مِلَّته

Isa bin Maryam akan turun dengan membenarkan agama yang dibawa Nabi Muhammad.” Lihatlah penjelasan tentang hal ini di Fathul Bari, Ibnu Hajar.

Bahkan Nabi Isa akan menjadi makmum di belakang imam kaum muslimin karena Allah memuliakan umat ini. Al Baghowi menceritakan dalam tafsirnya bahwa ketika Isa mendatangi Baitul Maqdis sedangkan orang-orang sedang melakukan shalat Ashar, maka Imam di masjid itu mundur dan menyuruh Isa untuk maju. Namun, Nabi Isa enggan, dan dia tetap shalat di belakang Imam tadi dengan syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Abu Daud dan Ahmad).

Lalu beliau mengartikan ayat itu dengan,’maka ikutilah aku (Isa). Aku adalah jalan yang lurus’. Waduh! Untuk mendukung pendapatnya dan pemikirannya, dia mengartikan ‘ikutilah Aku’ di sini dengan ‘ikutilah Isa’. Di dalam Al Qur’an Terjemahan saja tidak ditulis seperti itu, tetapi ikutilah Aku, Inilah jalan yang lurus’. Lihatlah kata ‘aku’ dalam Al Qur’an terjemahan ditulis dengan huruf kapital (bukan huruf kecil) yang berarti ‘ikutilah Allah’ dan bukan ikutilah Isa.

Agar lebih jelas, kita lihat tafsir dari para ulama ahli tafsir mengenai ayat ‘Ikutilah Aku

Ibnu Jarir Ath Thobary mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu Ta’atlah pada-Ku (Allah), lakukanlah segala sesuatu yang Aku perintahkan kepada kalian dan jauhilah yang Aku larang.” Ibnu Katsir mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu ikutilah yang Aku sampaikan kepada kalian dengannya.” Al Baghowi mengatakan,”Ibnu ‘Abbas berkata,’Janganlah mendustakan hari kiamat. Ikutilah Aku di atas tauhid. Inilah jalan yang lurus yang Aku berada di atas-Nya.” Dalam Tafsir Jalalain disebutkan,”Dan katakanlah kepada mereka, ikutilah Aku di atas tauhid. Inilah yang Aku perintahkan dengannya, yaitu jalan yang lurus.”

Syaikh As Sa’di mengatakan,”Ikutilah Aku dengan mengikuti yang Aku perintahkan pada kalian dan menjauhi yang Aku larang. Inilah jalan yang lurus yang mengantarkan kepada Allah ‘azza wa jalla.” Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu katakanlah kepada mereka, wahai rasul Kami, ikutilah Aku di atas tauhid dan petunjuk yang Aku datangkan pada kalian. Inilah jalan yang lurus yaitu Islam dan Tauhid yang akan memalingkan kalian dari was-was dan kesesatan.” Inilah tafsiran para ulama yang sangat jauh berbeda dengan tafsiran orang ini yang terlalu banyak membuat kesalahan dalam menafsirkan dan memahami Al Qur’an. ‘Ikutilah Aku’ dalam ayat ini bukan berarti ‘Ikutilah Isa’ tetapi Ikutilah Allah di atas tauhid sebagaimana menurut salah satu penafsiran ulama.

Kemudian beliau mengatakan,”Dan tidak ada satu pun ayat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad ngomong ikutilah aku. Tapi hanya ada satu kata dalam Al Qur’an yaitu ikutilah aku yaitu Isa.”

Baik, kami akan buktikan kedustaan beliau ini. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut, semoga menjadi perenungan bagi kita semua. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imron [3] : 31)

Bagaimana tafsiran ayat ini?

Al Baghowi dalam tafsirnya mengatakan,”Ayat ini diturunkan kepada Yahudi dan Nashrani yang mengatakan,’Kami adalah anak Allah dan yang paling dicintai-Nya’. Kemudian Adh-Dhohak mengatakan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiam di sekitar orang Quraisy yang sedang memajang berhala-berhala mereka di Masjidil Harom dan menggantungkan pada berhala-berhala itu telur burung unta dan di telinganya diberi shunuf (anting-anting) dan mereka sujud di hadapannya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,”Wahai orang-orang Quraisy, Demi Allah, sungguh kalian telah menyelisihi (mendurhakai) agama ayah kalian –yaitu Ibrahim dan Isma’il-. Kemudian orang Quraisy mengatakan,”Sesungguhnya kami menyembah berhala-berhala tersebut karena kecintaan kami kepada Allah untuk mendapatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Maka Allah Ta’ala mengatakan,”Katakanlah wahai Muhammad (kepada orang-orang musyrik, pen), jika kalian mencintai Allah dan menyembah berhala untuk mendekatkan diri kalian kepada-Nya, ikutilah aku (Muhammad, pen) maka Allah akan mencintai kalian.  Karena sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian dan sebagian hujjah (bukti) bagi kalian. Yaitu ikutilah syari’atku (syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen) dan sunnahku (jalan hidupku) maka Allah akan mencintai kalian. Maka kecintaan kaum mukminin kepada Allah adalah dengan mengikuti perintah Allah dan taat kepada-Nya dan mengharap ridho-Nya. Dan kecintaan Allah kepada kaum mukminin adalah pujian Allah kepada mereka, ganjaran untuk mereka, dan ampunan Allah untuk mereka. Oleh karena itu Allah mengatakan (yang artinya),” Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku”.

Setelah kita mencermati Surat Ali Imron ayat 31 ini dan tafsirnya, maka jelaslah bahwa di dalam Al Qur’an terdapat perintah untuk mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah sebagai bantahan kepada ‘habib’ ini yang menyatakan tidak ada satu ayat pun yang menyebutkan perintah untuk mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh klaim dan perkataan beliau ini hanya omong kosong belaka. Dan satu ayat ini saja sudah cukup sebagai bukti.

Oleh karena itu, kalau kaum Nashrani benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah perintah-Nya untuk mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan masuk ke dalam agama Islam ini. Karena Nabi kalian juga telah mengisahkan tentang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Allah firmankan,

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (6)

“Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata."” (QS. Ash Shof [61] : 6)

Begitu juga kitab kalian (Injil) telah menceritakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29)

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Muhammad [48] : 29).

Oleh karena itulah, masuklah dalam agama Islam karena agama inilah yang diterima di sisi Allah.

Kerancuan Kelima

Dia juga mengatakan,”Isi dalam Al Qur’an itu tidak ada satu pun yang salah, namun hanya terjadi kesalah pahaman. Contoh kecil adalah dalam perayaan Idul Adha. Menurut Islam yang disembelih adalah Ismail sedangkan menurut Kristen adalah Iskak (mungkin yang dimaksudkan adalah Ishaq, pen).” Kemudian dia mengatakan,”Mana dalilnya yang menyatakan bahwa yang disembelih adalah Ismail?” Lalu dia begitu tegasnya mengatakan,”Tidak ada satu pun ayat yang menyatakan bahwa yang disembelih adalah Ismail. Justru yang disembelih oleh Ibrahim adalah Ishaq walaupun pada akhirnya diganti domba. Di dalam kitab suci Al Qur’an, yang dikatakan disembelih adalah Ishaq bukan Ismail.”

Bantahan:

Kami begitu heran, kok dia begitu lancangnya menyatakan demikian sebagaimana dia menyatakan pula bahwa tidak ada satu ayat pun yang memerintahkan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena dia mengatakan dengan membawa nama Al Qur’an maka kami akan buktikan dengan membawa ayat dan tafsir mengenai hal ini. Marilah kita lihat tentang kisah Ibrahim, Isma’il dan Ishaq pada Surat Ash Shafaat ayat 100-113.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111) وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ (112) وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ (113)

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (yaitu Ismail). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.

Lalu apakah betul anak yang disembelih adalah Ishaq? Hal ini sudah dijawab oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Mari kita lihat!

“Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar”. Anak ini adalah Ismail ‘alaihis salam. Karena Ismail adalah anak pertama Ibrahim ‘alaihis salam. Dan Ismail lebih tua daripada Ishaq dengan kesepakatan (ijma’) kaum muslimin dan ahlul kitab (Yahudi dan Nashrani, pen). Bahkan di dalam Kitab mereka (Taurat dan Injil, pen), Isma’il lahir pada saat Ibrahim berumur 86 tahun, sedangkan Ishaq lahir pada saat Ibrahim beumur 99 tahun. Menurut Ahlul Kitab, sesungguhnya Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya yang wahid (tunggal). Dan di naskah lain dikatakan ‘bikr (anak pertama)’. Lalu mereka melempar (menghilangkan) perkataan ini dengan melakukan kedustaan dan kebohongan, yaitu sengaja mengganti dengan nama Ishaq. Mereka tidak membolehkan (menyetujui) hal ini karena menyelisihi nash kitab mereka. Sesungguhnya mereka mengganti dengan nama Ishaq karena Ishaq adalah bapak mereka. Sedangkan Isma’il adalah bapak orang Arab. Oleh karena itu mereka dengki kepada orang Arab (umat Islam), lalu menambahkan demikian dan mereka merubah nama anak pertama Ibrahim ini.

Sebagian ulama juga telah berpendapat bahwa yang disembelih adalah Ishaq sebagaimana diceritakan dari beberapa salaf, bahkan dikatakan pula oleh beberapa orang sahabat. Dan pendapat ini tidaklah berlandaskan pada Kitab (Al Qur’an) maupun Sunnah. Aku menduga bahwa hal ini tidaklah didapatkan kecuali dari berita Ahli Kitab lalu diambil oleh kaum muslimin tanpa ada hajat (kebutuhan). Padahal Al Qur’an telah menjadi saksi dan petunjuk bahwa yang disembelih adalah Isma’il. Karena Ismail telah disebut dengan ‘seorang anak yang amat sabar’ dan sisebutkan bahwa dia disembelih. Kemudian dikatakan pada ayat berikutnya ‘Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh’. Dan tatkala malaikat memberi kabar mengenai kelahiran Ishaq, mereka mengatakan,

{ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ عَلِيمٍ }

“Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki yang alim” (QS. Al Hijr [15] : 53)

Kemudian Allah firmankan pula,

{ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ }

“Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan setelah Ishak  adalah Ya’qub.” (QS. Hud [11] : 71)

Yaitu akan lahir bagi Ibrahim dalam kehidupan Ibrahim dan Istrinya Ya’qub. Ya’qub inilah yang darinya akan lahir keturunan dan cucu Ibrahim. Dan telah lewat di atas bahwa tidak boleh setelah ini, Ibrahim diperintahkan menyembelih Ishaq padahal dia masih kecil (lihat umur Ishaq dan Ismail di atas selisih 13 tahun). Karena Allah Ta’ala telah menjanjikan bagi Ibrahim dan istrinya keturunan dan cucu. Bagaimana mungkin setelah ini, Ibrahim diperintahkan menyembelih Ishaq sedangkan dia masih kecil? Sedangkan Isma’il disifati dengan ‘hilm’ (sabar) di sini karena hal ini lebih sesuai dengan konteks ayat.” Demikianlah penjelasan dari Ibnu Katsir.

Tafsiran yang lainnya pula –yang insya Allah akan lebih memperjelas- adalah perkataan Syaikh Muhammad Amin Asy Syinqithi dalam tafsirnya Adwa’ul Bayan.

Beliau rahimahullah mengatakan,”Ketahuilah –semoga Allah memberi taufik kepadaku dan kepada engkau-. Sesungguhnya Al Qur’an Al ‘Azhim telah menunjukkan pada dua tempat bahwa yang disembelih adalah Isma’il dan bukanlah Ishaq. Yang pertama pada surat Ash Shoffaat dan yang kedua pada surat Hud.”

Yang pertama adalah pada surat Ash Shoffaat sebagaimana telah kami tunjukkan di atas dan yang kedua adalah surat Hud ayat 71 di atas. Ringkasnya, Syaikh Muhammad Asy Syinqithi menjelaskan bahwa :

# Yang menunjukkan bahwa Isma’il-lah yang disembelih adalah berdasarkan konteks ayat. Dapat kita lihat dari jalan cerita ayat ini. Pada awalnya Ibrahim dikabarkan akan mendapatkan anak yang amat sabar. Kemudian pada ayat 112, Ibrahim dikabarkan akan mendapatkan Ishaq yang akan lahir darinya cucu yaitu Ya’qub. Maka hal ini menunjukkan bahwa berita pertama adalah berbeda dengan berita kedua. Karena tidak boleh membawa maksud Al Qur’an bahwa berita pertama adalah mengenai Ishaq. Kemudian setelah disembelih, lalu pada akhir kisah disebut lagi ‘telah Kami kabarkan pada Ibrahim mengenai Ishaq’. Maka ini merupakan pengulangan tanpa ada faedah dan apa gunanya Allah menurunkannya berulang. Oleh karena itu, ayat ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa yang anak yang diberitakan pertama kali lalu disembelih adalah Isma’il. Sedangkan berita mengenai Ishaq adalah nash yang berdiri sendiri setelah itu.

# Adapun pada ayat kedua yaitu surat Hud ayat 17. Yaitu bahwasanya utusan Allah dari malaikat menyampaikan kabar gembira kepada Ibrahim mengenai Ishaq. Lalu Ishaq akan melahirkan Ya’qub. Maka sungguh tidak masuk akal, Ibrahim diperintahkan menyembelih Ishaq padahal dia masih kecil dan Ibrahim telah meyakini bahwa dia akan hidup hingga Ya’qub lahir.

Dari penjelasan ini, kita dapat lihat siapakah yang salah paham, Si Habib ini ataukah para ulama ahli tafsir. Tentu ulama ahli tafsir lebih berilmu dan lebih paham daripada dia.

 

Bentuk Pelecehan terhadap Umat Islam dalam VCD Ini

[1]      Menyebut umat Islam dengan Bani Kedar yang merupakan singkatan dari ‘kedelai liar’. Sungguh ini pelecehan yang sangat keterlaluan!

[2]      Orang kristen lahir dari perempuan-perempuan merdeka (berasal dari Istri Nabi Ibrahim yang bernama Sarah) jadi orang kristen adalah anak-anak Raja. Sedangkan umat Islam berasal dari perempuan-perempuan hamba (alias budak, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan keturunan Nabi Isma’il yang ibunya adalah Hajar yang merupakan budak).

[3]      Orang kristen adalah majikan sedangkan orang Islam adalah pembantu. Yang namanya pembantu pasti bangunnya lebih cepat dari majikan karena pembantu harus bersih-bersih dulu dan masak karena itulah tugas pembantu. Kenapa harus bayar pembantu kalau dia bangun belakangan? Oleh karena itu, orang Islam bangunnya lebih cepat yaitu pada waktu adzan shubuh sedangkan orang kristen masih kemul-kemulan.

[4]      Air zam-zam itu tidak ada. Yang ada adalah air hasil penyulingan made in PDAM Saudi Arabia.

[5]      Hadirnya shalawat itu ada riwayatnya sendiri. Shalawat ini turun ketika Nabi Muhammad mau meninggal.

[6]      Umat Islam bangun pagi untuk shalat shubuh karena dua alasan : [a] Yesus itu dibangkitkan pada waktu shubuh dan [b] Yesus akan datang pada hari kiamat pada waktu shubuh. Itulah dua alasan kenapa umat Islam melakukan shalat pada waktu shubuh.

[7]      Sumur zam-zam itu ditulis dengan tatanan huruf alif lam mim. Alif adalah Allah, Lam itu air, sedangkan Mim adalah kehidupan.

[8]      Yesus ditulis di Al Qur’an 75% sedangkan Muhammad cuma 2%.

[9]      Orang yang naik haji kemudian keliling Ka’bah sebanyak 7x kemudian melempar jumroh dikatakan sebagai permainan anak kecil.

[10]  Hajar aswad itu dihuni oleh 8888 jin yang dikepalai oleh 1 jin yang bernama Hudha Al Fitiri. Cium hajar aswad dikatakan mencium jin dan ini dilakukan dengan rebutan. Pikiran orang yang mencium hajar aswad itu perlu dibawa ke pskiater, karena jin kok jadi rebutan untuk dicium.

 

PENANGKAL KRISTENISASI

 

Hanya Islam yang Benar

Allah ta’ala berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia, ”Dan barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat nanti dia pasti termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3] : 85). Al Alusi menerangkan di dalam tafsirnya bahwa ayat ini turun terkait dengan sekelompok orang yang murtad. Jumlah mereka ada 12 orang. Mereka meninggalkan Madinah dan mendatangi Mekah sebagai orang yang telah kafir. Di antara mereka terdapat Al Harits bin Suwaid Al Anshari. Di dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa siapa saja yang memilih ajaran selain syari’at Nabi Muhammad setelah beliau diutus maka ajaran itu tidak diterima oleh Allah (Ruhul ma’ani, Maktabah Syamilah)

Allah ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلا الإيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ ، صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ أَلا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الأمُورُ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.” (QS. Asy Syura [42] : 52-53)

Allah menyatakan kafirnya orang yang menganggap Nabi ‘Isa adalah titisan Allah. Allah berfirman yang artinya, “Sungguh telah kafir orang yang berkata bahwa Al Masih putera Maryam adalah Allah…” (QS. Al Maa’idah [5] : 17). Allah juga menolak mentah-mentah paham trinitas di dalam Kitab-Nya. Allah berfirman yang artinya, “Sungguh telah kafir orang yang mengatakan bahwa Allah adalah satu di antara tiga oknum…” (QS. Al Maa’idah [5] : 73).

Orang Kafir Kekal di Neraka

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab (Yahudi atau Nasrani) dan orang-orang musyrik pasti akan kekal berada di dalam neraka. Mereka itulah sejelek-jelek makhluk.” (QS. Al  Bayyinah [98] : 6). Ath Thabari menerangkan di dalam kitab tafsirnya bahwa yang dimaksud dengan ahli kitab adalah Yahudi dan Nasrani (Tafsir Ath Thabari, Maktabah Syamilah). Allah ta’ala pun menyatakan bahwa seandainya orang kafir memiliki kekayaan dua kali lipat isi bumi ini untuk dijadikan sebagai penebus siksa maka itu tidak akan diterima oleh Allah. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya seandainya orang-orang kafir itu mempunyai kekayaan sepenuh isi bumi dan yang semisalnya bersama itu demi menebus siksa pada hari kiamat maka hal itu tidak akan diterima dari mereka, dan mereka memang berhak menerima siksa yang sangat pedih.” (QS. Al Maa’idah [5] : 36)

Kaum muslimin sekalian, semoga Allah mencurahkan taufik-Nya kepada kita. Setelah kita perhatikan ayat-ayat di atas maka tidak ada lagi alasan bagi siapa pun untuk rela melepas aqidah Islam dari dalam dada. Bagaimana mungkin? Allah telah menyatakan bahwa Islam-lah agama yang benar. Allah telah menyatakan bahwa kerugian pasti didapatkan oleh selain pemeluk Islam. Dan Allah pun telah menyatakan bahwa agama Nasrani adalah agama kekafiran. Dan Allah pun menegaskan bahwa hukuman bagi orang kafir adalah kekal di dalam neraka. Lantas siapakah yang merelakan jiwa dan raganya untuk disiksa di dalam api neraka yang menyala-nyala ?! Wahai umat Islam, selamatkanlah diri kalian dari kehancuran.

Ancaman bagi orang yang meninggalkan kebenaran

Sungguh sangat mengerikan ancaman yang Allah tujukan kepada orang yang sengaja menentang Allah dan mengambil jalan lain di luar jalan orang-orang yang beriman. Allah ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

”Barang siapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti jalan selain jalannya kaum beriman maka niscaya Kami akan membiarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. An Nisaa’ [4] : 115)

Allah ta’ala juga berirman,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

”Maka hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisih urusan rasul, kalau-kalau tiba-tiba mereka itu tertimpa fitnah atau azab yang pedih.” (QS. An Nuur [24] : 63)

Maka dari itu, mengenali hakikat jalan lurus adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar. Jalan yang lurus itu adalah Shirathalladziina an’amta ‘alaihim. Jalan tersebut adalah jalan orang-orang yang mendapat karunia nikmat dari Allah. Ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin. Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan tersesat. Dengan demikian ada tiga buah jalan yang terbentang. Satu jalan menuju kebahagiaan, dan dua jalan yang lain berakhir dengan kesengsaraan. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan,”Jalan yang lurus ini adalah jalan orang-orang yang diberi kenikmatan khusus oleh Allah, yaitu jalan para nabi, orang-orang yang shiddiq, para syuhada dan orang-orang shalih. Bukan jalan orang yang dimurkai, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran namun sengaja mencampakkannya seperti halnya kaum Yahudi dan orang-orang semacam mereka. Dan jalan ini bukanlah  jalan yang ditempuh orang yang sesat; yaitu orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan mereka, seperti halnya kaum Nasrani dan orang-orang semacam mereka.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 39)

Dengan demikian jalan yang lurus adalah jalan Islam. Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat dari Maimun bin Mihran dari Ibnu ‘Abbas bahwa makna shirathal mustaqim adalah Islam, tafsiran serupa dikatakan oleh beberapa orang sahabat yang lain. Sedangkan menurut Mujahid yang dimaksud dengan shirathal mustaqim adalah kebenaran (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/36)

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Dan semoga Allah memperbaiki keadaan mereka, memberikan mereka bashiroh (ilmu dan keyakinan), dan menunjuki mereka kepada shirotol mustaqim yaitu jalan para Nabi, para shidiqin, para syuhada’, dan orang-orang sholih, sehingga mereka dapat terselamatkan pada hari yang tidak bermanfaat harta maupun anak kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Shalawat dan Salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s