Mencoba Memperbaiki Diri

Ikatan Itu Bernama Mitsaqan Ghalizha


Nabi berdiri di Mina, di masjid Kheif. Dia memandang ribuan jama’ah yang hadir untuk berhaji di sekitarnya. Kemudian bibirnya yang tidak bernah berdusta menyebutkan pujian kepada Allah. Lalu memulai khutbahnya.

“Wahai manusia,” kata Rasulullah berseru, “dengarkan penjelasanku baik-baik, karena aku tidak tahu apakah aku masih berjumpa lagi dengan kalian di tempat ini pada tahun yang akan datang”.

Suara Rasulullah bergetar. Para sahabat merasa akan ada yang hilang. Ada tangis yang terasa, tapi menahannya di tenggorokan. Ada kesedihan. Ucapan rasulullah kali ini, mengisyaratkan perpisahan. Tahun depan mungkin Rasulullah sudah tidak bersama mereka lagi. Betapa besar kehilangan kalau Rasulullah benar-benar dipanggil oleh Yang Mengutusnya, Allah Subhanahu wata’ala. Betapa besar kehilangan kalau kali ini adalah haji perpisahan, haji wada’, sedang wajah suci itu telah bertahun-tahun membimbing mereka sekaligus menanggung luka-luka dalam beberapa peperangan.

Para sahabat merasakan kesedihan itu. Kemudian Rasulullah berkata, “Apakah aku sudah menyampaikan risalah Tuhanku kepada kalian?”

Para sahabat menjawab dengan suara serentak, dengan gemuruh yang sama, dan dengan jawaban yang sama, “Benar, engkau sudah menyampaikan risalah kepada kami.”

Allahumma Isyhad. Ya Allah, saksikanlah!” Sebagian sahabat sudah tidak sanggup lagi menahan tangisan mereka> Mereka mengetahui bahwa tugas Nabi sudah berakhir.

“Wahai manusia,” begitu kata Nabi selanjutnya, “Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Tahukan kalian hari apakah ini?”

“Hari yang suci.”

“Negeri apakah ini?”

“Negeri yang suci.”

“Bulan apakah ini?”

“Bulan yang suci.”

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini,negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya adalah Adam , dan Adam terbuat dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa. Tidak ada kelebihan orang arab di atas orang asing kecuali karean taqwanya. Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”

Suara para sahabat bergemuruh. Mereka menjawab, “Benar.” Begitulah Rasulullah setiap kali menyampaikan satu bagian (maqtha’) nasehatnya, beliau mengakhirinya dengan “apakah aku sudah menyampaikan keada kalian?”; dan para sahabat menjawab serentak “benar”. Setipa beliau memulai bagian nasehatnya, beliau berkata, “Simaklah pembicaraanku, kalian akan memperoleh manfaan sesudah aku tiada. Pahamilajh baik-baik supaya kalian memperoleh kemenangan.”

Hari ini, Rasulullah telah tiada. Dan sekarang saya ingin menyampaikan salah satu pesan Rasulullah saat itu, ketika Anda sudah menguatkan hati untuk mengikat perjanjian yang sangat berat (mitsaqan ghalizha). Istri Anda mempunyai hak atas Anda karena perjanjian itu. Ia mempunyai hak yang suci, sama sucinya dengan hati ketika khatbah perpisahan itu diucapkan.

Ketika Anda sudah megikat perjanjian yang sangat berat, tahukah anda apa hak istri anda? Dan ketika anda menerima perjanjian berat dari suami Anda, tahukah Anda hak suami atas anda?

“Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaiman kalian mempunyai hak atas mereka ialah karena (para istri) tidak boleh mengijinkan orang yang tidak kalian senangi masuk kerumah kecuali kecuali dengan ijin kalian. Terlarang bagi mereka melakukankekejian. Jika mereka berbuat keji, bolehlah kalian menahan mereka dan menjahui tempat tidur mereka, serta memukul mereka dengan pukulan yang tidak melukai mereka. Jika mereka taat, maka kewajiban kalian adalah menjamin rezeki dan pakaian mereka sebaik-baiknya. Ketahuilah, kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan Kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan kalian untuk berbuat baik.”

“Aku wasiatkan kalian untuk selalu berbuat baik,” begitu kata-kata terakhir dari Rasulullah ketika mengingatkan kita tentang kewajiban di balik amanah pernikahan.Ada yang harus dijaga dalam perjanjian yang sangat berat itu (mitsaqan ghalizha). Harus ada yang diperjuangkan karena amanah itu.]

Ada yang besar dalam perjanjian berat ini. Hati yang menerima, jiwa yang rela, sikap yang menentramkan, dan kesediaan untuk berjuang bersama. Sudah siapkan kalian?

Perjanjian berat akan kalian ikrarkan. Allah dan para Malaikat akan menjadi saksi. Para tamu juga menjadi saksi. Ada yang menjadi saksi khusu ketika perjanjian berat itu diucapkan.

Akad nikah memang harus ada saksi. Tetapi, apakah saksi itu? Mengapa perjanjian berat tu memerlukan saksi? Padahal Allah Maha Tahu dan tidak ada yang bisa disembunyikan dari penglihatan-Nya.

Maha Besar Allah. Sungguh Allah tidak pernah dzalim kepada setiapmakhluk-Nya. Pernikahan memerlukan saksi untuk mengingatkan kepada kita tentang amanah dibaliknya. Mudah-mudahan kita selalu ingat dan tetap menjaganya sampai kelak bertemu dengan Allah di Hari Kiamat.

Jadi, ikatan pernikahan bukanlah ikatan main-main. Ada kesenangan-kesenangan di dalamnya yang boleh kita rasakan bersama, tetapi ada amanah di baliknya. Ada sebuah amanah besar.

anjar nugroho

Iklan

One response

  1. anonymous

    Subhanallaah 🙂 izin share akh

    31 Agustus 2011 pukul 06:57

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s