Mencoba Memperbaiki Diri

Dimungkinkan, Untuk Membangun Kekhalifahan Virtual


Nabi Adam a.s mempunyai satu apel . Ia hendak membaginya dengan Hawa istrinya yang tercinta. Dibagilah satu apel itu. Masing-masing mendapatkan ½ apel. Hitungan ini nyata, dalam arti satu apel dibagi 2 memang akan menghasilkan ½+1/2=1. Adam, setelah menghabiskan apelnya masih merenung. Renungannya kelak menjadi dasar-dasar penting bagaimana anak cucunya nanti memahami dan merasakan kehidupan, menyatakan impian-impiannya, dan meraihnya, baik dengan suka maupun duka.

Yang dipikirkan Adam saat itu memang termasuk aneh, ia bermimpi bisakah 1 apel kalau dibagi 2 menjadi 2 apel yang utuh bukan 2 kali ½ apel yang baru saja di habiskannya? Impian Adam ini kemudian berkembang menjadi konsepsi yang melandasi imajinasi kreatif kaumnya yang disebut realitas holografis dengan bantuan sistem desimal, biner dan huruf. Sampai akhir abad ke 19, impian Adam masih berada di wilayah holografis, wilayah mimpi. Namun setelah abad dijital barulah ditemukan cara untuk menyatakan impian Adam. Dimasa kini, impian Apel Holografis Adam kita pahami sebagai realitas ilmiah bagaimana pengetahuan kita tumbuh dan berkembang meluas ke segala arah dengan basis bilangan 2 alias biner. Di wilayah biner alias bit dijital. impian holografis Adam bisa menuju tak berhingga seperti halnya kita hari ini dengan ilmu pengetahuan yang berkembang yang anehnya menuju kepada kenyataan dunia holografis nampak semakin meluas sehingga nampak seperti tikar atau kertas A4 alias Dunia Pelat Datar.

Apel holografis Adam, kalau mau dinyatakan memerlukan sokongan apel yang nyata. Apel yang nyata tidak lain adalah sumber daya alam yang terbatas, sumber daya manusia, dan tentunya uang, sehingga perlu kompromi supaya impian holografis anak cucu Adam tidak menghancurkan realitas Apel sesungguhnya yang kalau dibagi dua ya menjadi ½ + ½=1. Kehidupan sampai hari ini berdiri diatas kenyataan apel Adam tersebut, yang nyata dan terbatas, dan yang holografis halusinatif tapi bisa meluas tanpa batas sesuai dengan hasrat nafsu kita sebagai gagasan-gagasan dan impian-impian yang ingin dinyatakan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita ketahui.

Dari Apel Holografis Adam Menjadi Negara Ideal

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), salah satu organisasi besar dibawah bendera Islam, baru-baru ini mengadakan hajatan dengan topik yang berhubungan dengan Kekhalifahan sebagai sistem sosial politik Umat Islam (Konferensi Kekhilafahan Internasional di Jakarta, Ahad (12/8)). Dalam pandangan kontemporer dewasa ini, Kekhalifahan banyak diharapkan merupakan sistem yang nyata sebagai suatu kesatuan “identitas” global dalam panji-panji Islam.

Kalau ditelisik dari sejarahnya, gagasan negara Ideal seperti Kekhalifahan bukanlah hal baru. Gagasan sejenis kekhalifahan telah muncul sejak 400 tahun SM. Plato dari Yunani mungkin boleh dikatakan sebagai filsuf yang pertama kali mempunyai gagasan tentang Negara Ideal. Sesuai dengan konteks zamannya, Ia memandang Negara Ideal sebagai suatu Negara Kota. Pada masa berikutnya, setelah Plato meninggal, gagasan Kota Ideal Plato diperluas oleh muridnya yaitu Aristoteles. Aristoteles bahkan bukan sekedar mengimpikan Kota Ideal, ia bahkan merencanakan terbentuknya Kekaisaran Semesta atau Negara Ideal dengan menggunakan akses sosial politiknya di Macedonia. Aleksander, Putra Mahkona Macedonia pun lahir dan dididik oleh Aristoletes dan melakukan petualangan militer sampai mencapai Pegunungan Indus. Persia, Mesir, Yunani dan negeri-negeri disekitar Timur Tengah pun takluk. Tapi, Aleksander tidak sampai memasuki kawasan India karena ia terpaksa mundur kembali. Aleksander, menurut beberapa sejarahwan tidak lain adalah Iskandar Dzulkarnain yang terekam riwayatnya di dalam al-Qur’an. Gagasan Plato dan Aristoteles, merupakan gagasan yang sampai hari ini sebenarnya masih menjadi bagian sejarah manusia yang mengimpikan kesempurnaan suatu kaum dalam suatu Negara Ideal.

Kekhalifahan Menurut Al Qur’an

Ketika Allah menjadikan Adam sebagai Khalifah sebenarnya penunjukkan Ilahiyah ini berkaitan dengan Adam sebagai manusia individual yang berpengetahuan sempurna dalam kemandiriannya sebagai makhluk yang ummi (ummi=yang lahir dan dididik dengan sarana pengenalan menjadi pengamat alam atau naturalis). Pengetahuan Adam yang sempurna adalah pengetahuan yang merepresentasikan Allah, Rabbul ‘Aalamin, Pencipta, Pemelihara dan Pendidik semua makhluk sehingga Adam dikatakan sebagai wakilNya. Dengan kata lain, Adam adalah maujud dari al-Insaan Fii Ahsaani Taqwiim, sebaik-baiknya makhluk ciptaan Tuhan yang mengemban amanat langsung untuk menyampaikan Pengetahuan.

Ketika ia memahami secara utuh, maka pengetahuannya adalah Pengetahuan Tuhan sehingga ia adalah manusia yang pertama menerima wahyu-wahyu elementer yaitu asmaa-kullahaa. Secara lugas, dapat dikatakan kalau Adam adalah pembuat pertama sistem desimal dan huruf serta pengembangannya. Jadi, kontek Khalifah di muka bumi sebenarnya berkaitan dengan kemampuan Adam untuk memanfaatkan pengetahuan yang dipahaminya itu bagi kesejahteraan kaumnya di Bumi atau dimana saja (boleh saja di Planet lain kalau memang sanggup pergi kesana) sehingga dimungkinkan adanya suatu lompatan , peralihan, pergantian atau tranfsormasi besar dalam cara hidup manusia di Bumi dan cara mengelola Bumi. Pengertian demikian juga ditegaskan dalam beberapa ayat seperti diungkapkan secara tidak langsung oleh M. Quraish Shihab (MQS) dalam buku larisnya “Membumikan Al Qur’an” ketika menguraikan makna kata Khalifah.

Menurut MQS, kalau menelusuri berbagai kata yang berhubungan dengan kata Khalifah, maka al-Qur’an menyebutkannya di beberapa tempat sebagai kalimat tunggal yaitu Khalifah dalam QS 2: 30,36, 37, dan QS 38:22-25; dan bentuk plural menjadi Khalaif di Al-An’am 165, Yunus 14, 73, dan Fathir 39; dan Khulafa’ di surat Al-A’raf 7:69, 74, dan Al-Naml 27:62. Menurut hemat saya, kita perlu menguraikan pengertian Khalifah itu secara terintegrasi dalam suatu konteks yang lebih luas namun mempunyai fokus yang jelas tentang maksud dan tujuan dari seluruh ayat yang mengungkapkan pengertian Khalifah baik dalam bentuk tunggal maupun plural. Dengan cara pandang seperti itu, pengertian Khalifah maupun kata turunannya berhubungan dengan suatu keputusan mutlak yang tidak dapat dicegah karena berkaitan langsung dengan Kehendak Mutlak Tuhan, atau karena hak dan wewenang Tuhan sebagai al-Haqq. Karena itu pengertian Khalifah secara tunggal merujuk kepada pengertian seseorang yang mewarisi Pengetahuan Tuhan yang telah dinyatakan sejak Nabi Adam menerimanya, dan kemudian diteruskan oleh penggantinya yang dalam hal ini adalah mereka yang disebut Nabi dan Rasul yang jumlahnya sangat banyak namun di Al Qur’an hanya disebutkan dua puluh lima Nabi dan Rasul.

Dalam pengertian plural, sebagai pengganti yang lama dengan yang baru pengertian Khalifah berhubungan dengan perubahan zaman atau suatu Transformasi yang disebabkan juga oleh Kekuasaan Tuhan yang dinyatakan di Bumi akibat perubahan pola pikir karena pengajaran dan pendidikan para Nabi dan Rasul tersebut maupun akibat munculnya Kekuasaan Mutlak Tuhan. Contoh ini misalnya terekam pada pengertian kalimat yang menyatakan pergantian generasi dari Nabi Nuh a.s ke generasi selanjutnya. Kekuasaan Tuhan yang dinyatakan di Bumi bisa langsung berupa bencana alam semisal Banjir di era Nabi Nuh a.s, Tsunami Aceh, Gempa Jogja atau sebab-sebab lain yang muncul dari kelakuan manusia sendiri misalnya munculnya seorang penguasa yang terdidik secara khusus untuk mencapai suatu cita-cita tertentu seperti Aleksander Agung, Hitler, Soekarno, Soeharto ataupun penguasa-penguasa lainnya dengan berbagai dampak dan akibatnya. Transformasi besar dengan sarana yang sudah berkembang menjadi iptek hari ini merupakan suatu peluang peralihan yang dapat membuka berbagai kemungkinan. Termasuk disini yang saya maksud sebagai Kekhalifahan Virtual.

Kekhalifatan Virtual, Sebuah Peluang Di Era Tauhid Base Society
(Knowledge Base Society)

Gagasan Kekhalifahan secara global lebih bermanfaat kalau dipahami sebagai gagasan ideal yang sifatnya simbolik. Karena dengan pemahaman demikian terbuka berbagai kemungkinan bagaimana Umat Islam memposisikan diri dalam perkembangan zaman dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya bagi kesejahteraan dirinya maupun kelanggengan komunitas dan prinsip-prinsip dasarnya sebagai gaya hidup yang patut dipertahankan sampai akhir zaman. Dengan kata lain, saya mengatakan bahwa tidak memungkinkan untuk merealisasikan Kekhalifahan secara harfiah sebagai kerajaan-kerajaan yang secara fisikal menguasai dan menyatukan negara-negara bangsa-bangsa didunia dalam suatu syarat tunggal, namun dimungkinkan membangun Kekhalifahan Virtual dalam suatu syarat tunggal.

Kekhalifahan sebagai satu realita komunitas virtual tidak terikat pada batasan fisik yang kaku. Dan karena itu dimungkinkan untuk dibangun dan dikembangkan sangat luas termasuk mengambil manfaat dari potensinya sebagai potensi yang bernilai ekonomi. Ada beberapa cara yang menurut saya mungkin dapat diwujudkan dengan gagasan Kekhalifan Virtual ini.

Pertama menggunakan jaringan Internet saat ini untuk kepentingan manusia yang menginformasikan dengan benar tentang Islam, baik maupun buruknya. Sebagai contoh praktis, Umat Islam perlu semacam Wikipedia yang secara sah diedit dengan teratur dan diakui kesahihannya sebagai referensi utama. Selain itu, lembaga yang memang punya wewenang harus sesegera mungkin menciptakan standardisasi al-Qur’an versi dijital supaya bisa didistribusikan di internet dengan aman dan tentunya gratis. Saat ini, ada banyak versi al-Qur’an dijital yang beredar dan sejauh ini tidak ada kontrolnya, apakah isinya benar atau ada kesalahan. Saya tidak tahu sejauh mana keaslian kitab-kitab Al Qur’an dijital yang beredar di Internet hari ini dan siapa pihak yang mempunyai kewenangan untuk mengontrol isi al-Qur’an yang beredar di abad dijital ini. Tanpa standardisasi format AQ maka dalam waktu mendatang orang akan kebingungan mana AQ yang benar dan sesuai dengan mushaf yang mana? Invasi situs Wikipedia oleh dinas intelijen luar negeri AS, CIA , FBI dan mungkin juga dari editornya yang kurang kompeten merupakan satu contoh saj abagaiman kalau informasi referensial di Internet tidak dikembalikan akan menjadi sumber disinformasi bagi pengguna internet yang awam (Antara 18/8/2007).

Cara kedua, lebih khusus dan sulit, yaitu membangun jaringan internet versi Umat Islam yang kompatibel dengan teknologi internet yang digunakan saat ini. Teknologi internet lokal lainnya yang dulu sempat terdengar mau dikembangkan adalah dari China. Teknologi internet semacam ini mirip huruf abjad dan huruf alfabet, satu sama lain berbeda namun dapat diterjemahkan. Saya membayangkan hal ini sebagai suatu fasilitas yang khusus dimana berbagai penerapan praktis ajaran Islam dapat dilakukan misalnya konten porno tidak ada, kekerasan disaring, virus dipersempit ruang geraknya, dan sisi-sisi buruk serta peluang buruk lainnya yang sekarang muncul di Internet saat ini diminimalisir. Gagasan ini membuka peluang untuk mendesain cara komunikasi dengan protokol yang berbeda dengan protokol yang sekarang, termasuk teknik penyaringan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Kalau hal ini bisa diwujudkan oleh Umat Islam, saya yakin akan terbuka “suatu transformasi besar” dimana terbuka berbagai peluang pengembangan iptek yang akan sangat berbeda dengan apa yang kita gunakan saat ini dengan kebutuhan yang juga dapat sama sekali berbeda dengan apa yang saat ini berkembang.

Isu Kekhalifahan, atau pun isu-isu lainnya, baik ideal maupun kompromistis, mau tak mau akan selalu dihadapi oleh Umat Islam. Karena itu yang diperlukan sebenarnya adalah suatu prakarsa dan tindakan bagaimana isu-isu yang muncul tidak menyebabkan kesalahpahaman, disintegrasi Umat Islam, maupun disintegrasi suatu negara bangsa. Tanpa mempertimbangkan banyak kemungkinan untuk bisa merealisasikan suatu gagasan dari al-Qur’an maupun sunnatulrasul dalam konteks sesuai dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan prinsip dasarnya sebagai ajaran Islam yang Rahmaatan Lil Aalamin, maka Umat Islam akan terjatuh ke dalam mimpi kosong dan fanatisme buta, emosi yang meluap tidak terkendali, yang justru dapat menyesatkan umat ke dalam jurang terdalam kehidupan yang mengerikan yaitu jalan Ghairullah (selain Allah) bukan Shirathaal Mustaqiim yang diridhoi Ilahi. Selain itu, perlu diingatkan juga bahwa Kekhalifahan sejati bukan di luar sana tetapi di dalam hati hambaNya yang ikhlas.

atmnd114912

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s