Mencoba Memperbaiki Diri

Posts tagged “Ibu

Ibu Bermata Satu

Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku
membencinya sungguh memalukan. Ia
menjadi juru masak di sekolah, untuk membiayai
keluarga. Suatu hari ketika aku masih SD, ibuku datang. Aku sangat malu.
Mengapa ia lakukan ini? Aku memandangnyadengan penuh kebencian dan
melarikan.

Keesokan harinya si sekolah
“Ibumu hanya punya satu mata?!?!” Ieeeeee,
jerit seorang temanku. Akuberharap ibuku lenyap dari muka bumi. Ujarku
pada ibu, “Bu. Mengapa Ibu tidak punya satu mata
lainnya? Kalau Ibu hanya ingin
membuatkuditertawak an, lebih baik Ibu mati saja!!!” Ibuku tidak
menyahut.

Aku merasa agak tidak enak, tapi pada saat
yang bersamaan, lega rasanya sudah mengungkapkan apa yang ingin sekali
kukatakan selama ini. Mungkinkarena Ibu tidak
menghukumku, tapi aku tak berpikir sama sekali bahwa perasaannya sangat terluka karenaku. (lebih…)

Iklan

Ibu

Waktu kamu berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu …. sebagai balasannya …. kau menangis sepanjang malam

Waktu kamu berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan, sebagai balasannya …. kamu kabur waktu dia memanggilmu

Waktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang …. sebagai balasannya …. kamu buang piring berisi makananmu ke lantai

Ibu

Ibu

Waktu kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil warna …. sebagai balasannya …. kamu corat coret tembok rumah dan meja makan

Waktu kamu berumur 5 tahun, dia membelikanmu baju-baju mahal dan indah …. sebagai balasannya …. kamu memakainya bermain di kubangan lumpur

Waktu berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah …. sebagai balasannya …. kamu berteriak “NGGAK MAU ….!”

Waktu berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola …. sebagai balasannya kamu melemparkan bola ke jendela tetangga (lebih…)


Terima Kasih Ibu

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki dari sebuah keluarga yang amat sederhana. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata, “Makanlah nak, aku tidak lapar.” Dan setelah aku dewasa aku baru tersadar bahwa saat itu ibu telah berbohong.

Ketika saya mulai menginjak remaja, ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya selalu gigih dalam membantu ayah mencari nafkah. Berusaha apa saja ia lakoni demi mendapatkan sejumlah uang. Namun pernah satu kali ia tak mendapatkan bayaran atas usahanya, ia hanya mendapatkan upah dengan beberapa ekor ikan segar yang dimasaknya menjadi sebuah hidangan yang menggugah selera.

Sewaktu memakan makanan itu, ibu duduk di samping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa makanan kami. Melihat itu tentu saja aku tak tega dan menyodorkan ikan bagianku kepadanya. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. “Makanlah nak, ibu tidak begitu suka dengan daging ikan,” tuturnya. Dan aku kembali menyadari bahwa ibu telah kembali berbohong. (lebih…)