Mencoba Memperbaiki Diri

Posts tagged “Puisi

Letih – Lelah

Beberapa hari ini, hati bagai teriris menapaki kembali perjalanan cinta yang penuh liku dan bercabang. Letih rasa hati mencoba merilis ulang, penggalan-pengalan kisah di masa lalu. Setiap potongan kisah yang disusun, malah membuat dada serasa sesak. Tak tersangkakan, ternyata banyak tabir yang terbuka justru ketika semua menjadi sangat terlambat. Andai waktu bisa di ulang kembali. Pasti rasa akan kutata lebih sederhana. Namun tidak menyisakan luka, tidak menderitakan, tidak pula melarakan.

Kini terlanjur sudah. Cerita cinta berceceran dan berserakan di antah berantah. Entah berapa banyak air mata yang telah terurai, atau sedu sedan rasa rindu dalam dendam. Berderet, bersama berlembar-lembar rayuan yang tertulis dalam kertas cinta berbau harum. Bergumul bersama slogan cinta kekanakan “sehidup-semati”-lah, “seia-sekata”-lah, “cinta yang tak pernah berakhir”-lah… atau apapun slogan yang terciptakan berdua dan tersimpan di buku diary, menambah beban rasa bersalah. (lebih…)


Cinta yang tak terucap

jangan sangsikan cinta. ini tulus. tak pernah usang. tak pernah berdebu. tercipta sejak dulu. sampai  kujamukan padamu.

jangan sangsikan rindu. ini rasa ingin bertemu. karena jarak dan waktu. telah menempatkanmu di balik hati yang biru.

terjemahkan saja isyarat cintaku. yang belum sempat terucap tadi pagi. ketika bertemu di tengah gerimis. ketika ku genggam erat jarimu. ketika batal kubisikan cinta karena malu.

nilai saja bahasa tubuhku. yang tiap lekuknya adalah simbol rasa. tentang cinta yang terkemas rapi. dan belum sempat kupersembahkan padamu.

hari ini. dipagi ini. digerimis ini. akan kucurahkan semua rasaku. akan ku tumpahkan semua rindu. agar tidak hanya kau. tapi dunia juga tahu. aku mencintaimu.

tapi cinta tetap tak terucap. hari ini kau tak kutemui. juga hari-hari setelah ini. dimanakah kau…???

ku sembunyikan rasa cinta bertahun lamanya. sementara kau sembunyikan leukemia di tubuhmu.


Letih

Merangkai kembali puing-puing rasa yang dulu terbina, sesulit menata hati yang terkoyak dan menjadikannya tak sekedar patah tapi lebur menjadi debu. Menyesakkan nafas bathin, ketika ku hapus namamu. Izin-kan ku turut mencampakkanmu, seperti kau mencampakkanku bertahun-tahun lamanya.

Kini, berjalan dalam kesendirian. Menyibak rimbunnya pepohonan beronak dan berduri. Menadahkan tangan, merangkul daun jatuh berguguran. Seakan berharap detik berhenti disini, saat ini. Dan mentari besok tak lagi menampakkan wujudnya.

Tak ada lagi ketegaran cinta yang mampu meluluhlantakkan segala aral melintang. Kerena tegar telah rapuh. Tak ada lagi senyum menyambut sebuah pertemuan. Karena rindu telah layu. Tak ada lagi makna kesetiaan atas nama cinta. Karena setia telah menjadi trauma.

Ingin rasanya ku dendamkan rasa ini pada seseorang yang lain, lalu kupatahkan hatinya. Agar ku tak merasa sengsara sendiri. Atau, kubagikan sejuta pesona seribu harap, pada wanita-wanita yang mengharapkan cinta. Kemudian ku gantung, tak berujung tak berpangkal. Agar mereka tahu bagaimana rasanya menanti sebuah ketidakpastian.

Tapi jangankan untuk berbuat, untuk bisa tetap berdiri saja dan tak terjatuh, rasanya sudah sulit. Lalu bagaimana bisa menyelesaikan hidup hingga berarti dan tak berarti mati ?

Dibutuhkan trik dan pemacu semangat yang tak biasa, agar bisa bangkit dari keterpurukan karena cinta yang membutakan.


Pelangi

ada pelangi di hariku,
dia hadir ketika hujan air mata berhenti mengalir,
mewarnai ruang hati,
yang dulu kelam dan berdebu.

ada warna baru di hidupku,
yang mencerahkan mata hati,
memberi nuansa berani,
bahwa hidup tak mesti berakhir di sini.

dikaulah pelangi hatiku,
merubah sendu jadi rindu,
memantikkan rasa yang telah tiada,
yang lama bersemayam dalam pusara.


Mendung

mengharap mentari di tengah rinai gerimis, sinarnya kuharap sampaikan pesan kerinduan untuk pertemuan kedua.

ku telah bangun cinta pada pertemuan pertama, saat cemara bisikan puisi tentang penantian tak bertepi.

ku telah rindu pada seulas senyum biasa, pada bibir merah tak bergincu, tak pula bernuansa genit.

akan kah mendung segera berlalu ?, ku harap hangat mentari mengucap selamat datang cinta.


Cinta Ikhlas

Ku cintaimu,
dari hulu sampai hilir, seperti air yang mengaliri sungai.
riaknya nyanyikan lagu cinta, tentang syair sang pujangga.

Ku cintaimu,
dari pagi sampai malam, lembutnya bak sinar rembulan.
menyinari segala bentuk kerinduan, yang tercipta pada jumpa pertama.

Ku cintaimu,
tanpa kata-kata, tanpa bait puisi,
tanpa ungkapan mesra, karena kau tak terlukiskan.

Ku cintaimu,
dengan sepenuh rasa ikhlas, hanya memberi,
sekedar mencipta rindu, tanpa dendam apalagi harap.

Ku cintaimu dengan ikhlas…

karena kau tak mungkin kumiliki…..



Rahasia Obat Hati

Aku termenung di sisi jendela yang masih terbuka. Malam bertambah larut, sementara gerimis tak juga beranjak pergi. Dia masih setia menemani dinginnya malam.

Memaknai jalur kehidupan yang telah ku tempuh, serasa meraut tajamnya bilah bambu. Tak sekedar membuat tanganku terluka, tapi menembus ke dasar hati yang selalu gundah-gulana.

Sebait kata dari kang ustadz tadi sore masih tergiang di telingaku. “Nikmati rasa sakitmu, sehingga hatimu terasa penuh dengan rasa ihklas”.

Ah, pandai nian kang ustadz berucap. Sehingga rasa sakitpun bisa di ubah menjadi rasa yang nikmat. Lalu hati menjadi lapang karena tak ada lagi tempat untuk kecewa. Semua telah penuh dengan rasa ikhlas.

Teringat tadi pagi, seseorang telah dengan tega mendzolimi. Di fitnahnya diri, yang tak berniat, apalagi berbuat. Sehingga tak hanya raga, tapi juga rasa merasa terhianati, merasa semua mata menghakimi. Hancur sudah, luluh lantak. Padahal hidup mesti terus di jalani.

Ini malam kembali hati introspeksi diri. Apakah kejadian tadi pagi, buah dari benih perilaku yang ku tanam sendiri? ataukah sekedar ujian peningkatan kadar keimanan yang tak jarang terabaikan? atau sebuah sentilan dari Sang Maha Pencipta? sehingga hati menjadi terluka… (lebih…)